Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Ketukan Di Tengah malam
Daffa berhenti melangkah. Pengumuman itu seketika membuat aliran darahnya seolah berhenti berdesir. Rahangnya mengetat keras hingga otot-otot di pipinya menonjol.
"Calon istri...?" ulangnya lirih, lalu menatap tajam ke arah Aura, seolah ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
Aura menepis tatapan intimidasi itu. Ia menunduk dalam-dalam, berusaha melepaskan genggaman tangan Darrel yang melingkar erat di pinggangnya.
Sofie berjalan mendekati mereka, disusul oleh kakek Robert Gorge yang berjalan perlahan dengan tongkat emasnya.
"Bukankah Kakek menyuruhku membawa calon istri ke acara ini? Dan aku sudah membawanya, Kek," ujar Darrel tanpa ragu, mempertahankan senyum kemenangan tipis di bibirnya.
Daffa tersenyum sinis, lalu membuang pandangannya sesaat. Sebenarnya ia ingin sekali merangsek maju dan memisahkan mereka berdua saat itu juga, namun akal sehatnya menahan diri. Melakukan keributan di hadapan para wartawan dan kakeknya sama saja dengan menghancurkan reputasinya sendiri dalam sekejap.
Tongkat berlapis emas milik Robert Gorge mengetuk pelan lantai marmer. Pria tua itu menatap Aura dari ujung kepala hingga kaki—menilai dan menimbang pantas atau tidaknya wanita itu bersanding dengan cucu bungsunya.
"Dia Aura Clarissa, seorang penulis, Kek. Aku sudah lama berhubungan dengannya dan kami merasa cocok," tandas Darrel mantap seraya menatap Aura lekat, meniru persis gestur seorang kekasih yang penuh perhatian.
Aura hanya bisa diam membeku. Ia sama sekali tidak berani menyangkal di hadapan keluarga besar Gorge dan para tamu terhormat yang memusatkan perhatian ke arah mereka. Kilatan cahaya kamera wartawan terus bersahutan, mengabadikan detik-detik menegangkan itu.
Daffa berdecih pelan di samping istrinya. Ia hendak melangkah maju untuk menyela, namun Sofie dengan sigap menarik lengan suaminya untuk menjauh dari area tersebut. Daffa terpaksa menurut, meski sorot matanya menyiratkan amarah yang siap meledak sewaktu-waktu.
"Baguslah kalau kamu sudah punya calon," tanggap Robert Gorge datar. Tanpa komentar panjang, tongkat emas itu membawanya berputar arah, menjauhi kerumunan kecil tersebut.
Begitu kakek dan keluarga itu berlalu, Aura langsung menghempaskan lengan Darrel sekuat tenaga.
"Puas Anda, Pak Darrel yang terhormat?!" desis Aura penuh kemarahan dan kekecewaan, lalu berbalik pergi dengan langkah lebar meninggalkan keramaian aula.
Darrel tak tinggal diam. Ia membuntuti langkah wanita itu dari belakang. "Maafkan saya, Nona Aura. Saya rasa hanya Anda satu-satunya orang yang bisa membantu saya saat ini!" teriak Darrel setengah mengejar di koridor sepi.
Darrel mempercepat langkahnya, lalu menahan pergelangan tangan Aura agar gadis itu berhenti berjalan. Wajah Aura sudah basah oleh air mata, riasan tipis di wajahnya luntur oleh kesedihan yang menumpuk.
"Apa kita pernah benar-benar bertemu di sebuah kelab malam besar di pinggir kota?" tanya Darrel spontan, didorong rasa penasaran yang sudah mencapai puncaknya—lebih memilih mengorek rahasia itu ketimbang meminta maaf secara tulus atas tindakan sepihaknya.
Aura mengusap kasar air matanya yang terus meleleh. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia menepis tangan Darrel dengan kasar. Tepat pada detik itu, sebuah taksi pesanan daring yang ia panggil berhenti tepat di depan lobi.
"Jangan pernah menghubungi saya lagi!" ucap Aura penuh penekanan, suaranya bergetar hebat diiringi isakan tangis yang sudah tak mampu ia tahan.
Darrel berdiri mematung di lobby. Ia mengusap kasar rambutnya sendiri, diliputi rasa sesal yang mendalam karena menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mengungkap siapa sebenarnya wanita di hadapannya itu—dan mengapa satu tubuh mampu menyimpan dua jiwa yang begitu bertolak belakang.
Sesampainya di apartemen, Aura langsung merosot jatuh terduduk di lantai, bersandar pada sofa ruangannya. Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, menumpahkan segala tangis dan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Tindakan nekat Darrel hari ini telah menghancurkan zona amannya. Bagaimana jika esok hari ada yang mengorek status hubungannya dengan keluarga konglomerat itu? Bagaimana jika Darrel sebenarnya pria berbahaya? Atau jangan-jangan, pria itu sama manipulatifnya dengan Daffa?
Ribuan ketakutan berkecamuk di kepalanya. Jam di dinding menunjukkan pukul 22.00 malam.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan piyama tidur, Aura duduk di tepi ranjang. Ia membuka laci nakas dan mengambil botol kecil berisi obat penenang dari dokternya. Demi meredam kecemasan luar biasa hari ini, ia memutuskan untuk menelan tiga butir sekaligus bersama segelas air putih, lalu membaringkan tubuhnya yang lemas ke atas kasur.
Pukul 23.00—tepat satu jam setelah ia tertidur lelap.
Ponsel di atas nakas berdering nyaring. Getarannya berulang kali memecah sunyi kamar tersebut, hingga tangan lemas Aura meraba-raba meja dan mengangkat panggilan itu dengan sisa kesadaran yang hampir habis.
"Buka pintu. Saya di luar."
Suara berat yang amat ia kenal membuat mata Aura seketika terbuka lebar. Ia terduduk dengan napas tercekat saat melihat nama Daffa tertera jelas menyala di layar ponselnya.