NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kak Ethan langsung melangkah lebar menerobos masuk ke dalam rumah. Derap langkah kakinya yang berat menggema kasar di atas lantai marmer, memancarkan aura kemarahan yang begitu pekat dan mengerikan. Pria itu tidak berkata apa-apa lagi, tetapi rahangnya yang mengatup rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang kaku sudah cukup menjadi pertanda bahwa badai kehancuran akan segera dimulai.

Plak!

Sebuah tamparan keras yang teramat bertenaga mendarat telak di pipi kiri Kak Charles sebelum pria itu sempat melepaskan cengkeramannya dari pundakku. Hantaman itu begitu kuat hingga membuat tubuh Kak Charles tersentak mundur beberapa langkah, menabrak vas bunga besar di sudut lorong.

Bugh!

Belum sempat Kak Charles menguasai rasa syoknya, Kak Ethan sudah kembali merangsek maju. Ia mencengkeram kerah kemeja Charles dengan satu tangan, lalu melayangkan satu pukulan mentah tepat ke arah rahang adiknya. Charles terjerembab ke lantai, memegangi sudut bibirnya yang pecah dan mulai mengeluarkan darah segar.

"Kak Ethan, cukup!" jerit Kak Aaron panik, langsung berlari maju mencoba menahan tubuh kakak sulungnya yang tampak seperti singa kelaparan. Namun, satu tatapan mata elang Kak Ethan yang sedingin es seketika membuat langkah Kak Aaron terhenti kaku di tempatnya berdiri.

"Diam, Aaron! Jangan berani-berani kamu maju sejengkal pun!" bentak Kak Ethan dengan suara baritonnya yang menggelegar hebat, meruntuhkan seluruh keberanian di dalam ruangan tersebut.

Pria itu berbalik menatap Kak Charles yang masih terkapar di lantai dengan napas tersengal-sengal. Napas Kak Ethan memburu hebat, dan sepasang matanya memerah sempurna oleh luapan murka yang luar biasa besar.

"Berani sekali kamu melanggar perintah mutlak dariku, Charles?!" cecar Kak Ethan, suaranya naik beberapa oktav memotong keheningan malam. "Sudah kukatakan dengan jelas sebelum aku pergi dinas, Bella adalah tanggung jawabku! Aku yang menyuruhnya pindah ke lantai dua! Tapi begitu aku membalikkan badan, kamu justru memperlakukannya seperti binatang dan mencoba membuangnya ke jalanan?! Di mana otak dan hatimu sebagai seorang kakak, hah?!"

Charles terkapar di atas lantai marmer, memegangi rahangnya yang berdenyut nyeri. Setetes darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Ia mendongak, menatap kakak sulungnya dengan sepasang mata elang yang dipenuhi rasa syok dan tidak percaya.

"Kak Ethan memukulku...?" tanya Kak Charles parau, mencoba menetralkan deru napasnya yang memburu akibat hantaman rasa sakit fisik yang mendadak. Gengsi besarnya runtuh dalam sekejap. "Kenapa... kenapa Kakak tega memukulku? Dari dulu Kakak tidak pernah sekali pun melayangkan tangan padaku. Tapi kenapa sekarang Kakak langsung memukulku tepat setelah Kakak pulang dinas, hah?!"

"Pukulan hari ini masih terbilang ringan, Charles!" bentak Kak Ethan dengan suara baritonnya yang menggelegar hebat, meruntuhkan sisa keberanian di ruang tamu. Ia melangkah satu kali lagi ke depan, menudingkan telunjuknya tepat di hadapan wajah Charles dengan sorot mata penuh amarah murka. "Kalau bukan karena kamu adalah adik kandungku sendiri, aku sudah membuangmu dan mencoret namamu dari silsilah keluarga Adipta sejak kemarin!"

Napas Kak Ethan kian memburu hebat, urat-urat di lehernya menegang kaku karena didera rasa penyesalan dan kemarahan yang mendalam akibat melihat penganiayaan fisik yang menimpa adik perempuan mereka.

"Lihat kelakuanmu, Charles! Dan lihat bagaimana kondisi Bella sekarang!" cecar Kak Ethan, suaranya naik beberapa oktav memotong keheningan malam. "Apa kamu sudah pantas disebut sebagai seorang kakak yang begitu tega menyeret dan memukul adiknya sendiri?! Di saat aku memukulmu satu kali, kamu begitu tidak terima dan langsung protes padaku! Tapi kenapa... kenapa di saat kamu menyiksa dan memukul Bella selama bertahun-tahu, dia hanya diam saja tanpa pernah membalasmu?!"

Aku masih terduduk lemas di dekat ambang pintu yang terbuka, memegangi pundakku yang masih terasa sangat ngilu akibat cengkeraman kasar Kak Charles tadi. Air mata hangat menderas membasahi pipiku yang kian memucat.

Kak Ethan membelanya... Kak Ethan membela pembawa sial ini?!

Kalimat tidak terima yang mendadak dilontarkan oleh Kak Charles dengan nada berapi-api itu laksana hantaman belati yang kembali merobek paksa luka lama di dadaku. Di tengah rasa sakit fisik yang mendera tubuh ringkihku, jiwaku serasa bergetar hebat mendengarkan pembelaan mutlak dari Kak Ethan. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun hidup terasing dan dikutuk di dalam kegelapan gudang lantai tiga, ada sosok pria tegap yang berdiri paling depan laksana tameng pelindung sejati yang sudi berdarah-darah demi membelaku dari ketidakadilan keluarga kami sendiri.

"Kak Ethan membelanya?! Kak Ethan membela anak pembawa sial ini?!" tuduh Charles berapi-api, menudingkan telunjuknya yang gemetar karena emosi tepat ke arah wajah Bella. Napasnya memburu, menolak untuk memercayai apa yang baru saja disaksikannya.

"Kak Charles, jaga ucapanmu terhadap Kak Bella!" seru Olivia lantang, memotong makian tersebut tanpa rasa takut sedikit pun. Ia melangkah maju, kembali memosisikan tubuh kecilnya di depan Bella laksana tameng pelindung.

"Diam, Olivia!" bentak Charles, menepis peringatan adik bungsunya. Ia kembali menatap Kak Ethan dengan sepasang mata elang yang memerah sempurna karena duka dan ego yang terluka. "Apa di mata Kak Ethan ... aku sebagai adik laki-lakimu kalah berharga dibanding si pembawa sial ini, hah?!"

"Jaga mulutmu, Charles!" Suara bariton Kak Ethan menyambar keras, menggelegar hebat memutus kalimat Charles seketika. Pria itu melangkah satu kali lagi ke depan dengan aura intimidasi yang kian mencekam. "Bella tidak pernah macam-macam dan tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun di rumah ini! Sekarang, aku yang mau bertanya padamu ... masalah apa yang pernah diperbuat Bella kepada kita selama ini, hah?!"

Pertanyaan retorik yang teramat tajam dari Kak Ethan seketika laksana hantaman badai yang membekukan seluruh isi ruangan. Ruang tamu yang megah itu mendadak diselimuti oleh keheningan mati yang mencekam.

Aku masih terduduk lemas di dekat ambang pintu, meremas kain sweter tipisku dengan jemari yang bergetar hebat. Air mata hangat menderas membasahi pipiku yang kian memucat, tetapi di dalam rongga dadaku, ada rasa haru yang luar biasa besar yang membuncah tanpa suara.

Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Kak Charles dan Kak Aaron seketika terbelalak kaget laksana dihantam oleh petir di siang bolong. Rahang mereka mengatup begitu rapat dan lidah mereka mendadak kelu. Selama dua puluh tahun di bawah doktrin takhayul kesialan masa lalu, jajaran kakak laki-lakiku selalu mengira bahwa Kak Ethan adalah orang pertama yang paling membenciku. Mengetahui bahwa malam ini sang kepala keluarga Adipta Group justru berdiri paling depan untuk menelanjangi kesalahan mereka dan membela keberadaanku secara mutlak, membuat seluruh pondasi keangkuhan mereka runtuh berkeping-keping dalam hitungan detik.

Di tengah keheningan yang mencekam, aku meremas sweter tipisku kuat-kuat. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku memberanikan diri untuk membuka suara, memecah konfrontasi di antara kakak-kakak laki-lakiku.

"Kak Ethan ... maafkan Bella," ucapku teramat lirih dengan nada gugup dan tubuh yang gemetar ketakutan. Air mata hangat kian deras membasahi pipiku. "Maaf karena Bella sudah membuat masalah. Bella ... Bella telah mengacaukan kerja sama besar keluarga Adipta."

Mendengar pengakuanku, Kak Ethan seketika mengalihkan pandangan tajamnya dariku. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap lurus ke arah Kak Aaron dan Kak Charles bergantian dengan sorot mata elang yang kian menggelap penuh tuntutan.

"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?" tanya Kak Ethan dengan nada suara bariton yang berat dan penuh tekanan, menuntut penjelasan dari semua orang di ruangan itu.

"Seminggu yang lalu di acara perjamuan keluarga Adipta, Bella tiba-tiba datang menghampiri Paman Hendra!" adu Kak Charles dengan berapi-api dan penuh luapan emosi, melangkah maju seolah mendapat angin untuk memojokkanku. "Dia mengutuk Paman Hendra akan meninggal dunia dalam waktu lima hari! Sama seperti dulu saat dia mengutuk Kakek, Papa, dan Mama! Dia kembali mengutuk Paman Hendra dengan mengatakan hal gila yang sama, padahal saat itu kami sedang menandatangani kontrak kerja sama penting dengan perusahaan kita!"

Mendengar tuduhan kejam yang meluncur dari bibir Charles, Kak Ethan tidak langsung mengamuk. Pria itu menarik napas pendek, lalu perlahan kembali memalingkan wajahnya menatapku lekat-lekat.

"Apa yang dikatakan Charles itu benar, Bella?" tanya Kak Ethan, suaranya mendadak melunak, sarat akan tuntutan kebenaran yang teramat dalam.

Aku mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Kak Ethan tanpa ada niat untuk mundur lagi. "Aku mengatakan kebenaran, Kak. Bella tidak berbohong ... Bella benar-benar melihat tanda itu," ucapku tegas penuh penekanan pada Kak Ethan.

Di sudut ruangan, Kak Aaron hanya bisa terbungkam kaku dan diam mendengarkan percakapan kami dengan wajah yang kian memucat pasi. Sementara itu, Olivia yang berdiri di sampingku tampak begitu kebingungan. Kening adik bungsuku itu berkerut dalam, menatap kami satu per satu dengan binar mata yang dipenuhi tanda tanya besar karena sama sekali tidak memahami rahasia ghaib masa lalu apa yang sebenarnya sedang kami bahas di tengah ruang tamu ini.

"Kak Ethan, benar kan apa yang aku katakan?! Cepat usir dia dari sini sekarang juga!" cecar Charles dengan napas yang memburu hebat, menudingkan telunjuknya yang gemetar karena emosi tepat ke arah Bella. Pria itu menolak untuk memikirkan hal lain, logikanya telah sepenuhnya dikuasai oleh kepanikan. "Gara-gara ulah gilanya, pasti saat ini Paman Hendra akan marah besar pada kita! Paman tidak akan pernah sudi lagi bekerja sama dengan keluarga kita, dan kehancuran keluarga Adipta akan berada di tangan si pembawa sial ini!"

"Diam, Charles!" bentak Kak Ethan dengan suara bariton yang menggelegar hebat, seketika memotong rentetan makian Charles.

Aura intimidasi dari sang kepala keluarga Adipta Group itu mendadak memancar begitu pekat, mengunci seluruh pergerakan di dalam ruang tamu yang megah. Kak Ethan melangkah satu kali lagi ke depan, menatap Charles dan Aaron bergantian dengan sorot mata elang yang sedingin es.

"Masalah ini ... biar aku sendiri yang mengurus semuanya. Kalian tidak usah ikut campur lagi!" perintah Kak Ethan mutlak tanpa menerima bantahan sedikit pun.

"Sekarang, kalian kembali dan beristirahatlah ke kamar masing-masing," perintah Kak Ethan mutlak. Suara baritonnya yang berat seketika memotong sisa ketegangan yang masih menggantung pekat di ruang tamu.

Mendengar titah dari sang kepala keluarga, Kak Charles hanya bisa mendengus kasar seraya memalingkan wajahnya yang masih memar akibat pukulan tadi. Sementara Kak Aaron tetap berdiri kaku di sudut ruangan, terbungkam oleh rasa bersalah yang amat dalam.

"Kak, ayo naik ke atas bareng Olivia," ajak Olivia lembut. Ia berlutut di sampingku, lalu membantu memapah tubuh ringkihku untuk bangkit berdiri dari lantai marmer yang dingin.

Aku mencoba mengulas senyuman tipis meski sekujur tubuhku masih terasa agak lemas. "Mmm ... iya, Olivia," jawabku pelan.

Kami berdua berjalan beriringan menaiki anak tangga marmer, meninggalkan keheningan lantai bawah yang mencekam. Namun, tepat saat aku hendak membuka daun pintu putih kamar baruku di lantai dua, aku menyadari langkah kaki Olivia tidak berhenti menuju kamarnya sendiri. Adik bungsuku itu justru ikut berdiri di ambang pintuku dengan raut wajah penuh harap.

"Kenapa kamu ikut ke sini, Olivia?" tanyaku lembut bercampur heran.

"Aku mau mengobrol dengan Kak Bella di dalam kamar. Bisa kan, Kak?" tanya Olivia balik, menatapku lekat-lekat dengan sepasang mata bulatnya yang jernih dan penuh kerinduan.

Melihat binar ketulusan di wajah polosnya, aku tidak tega untuk menolak. Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan seraya membuka pintu lebih lebar, membiarkannya melangkah masuk ke dalam ruang pribadiku yang hangat. Aku tahu, rentetan rahasia supranatural yang baru saja meledak di ruang tamu tadi pasti telah memicu segudang pertanyaan besar di dalam kepala kecil adik bungsu kesayanganku ini.

Aku menutup pintu kamar perlahan, lalu melangkah menuju sofa empuk di sudut ruangan. Olivia mengikutiku dari belakang, lalu duduk tepat di sampingku. Keheningan kamar baru ini terasa begitu menenangkan, sangat kontras dengan badai amarah yang baru saja kami lewati di lantai bawah.

Aku menatap adik bungsuku, bersiap andai ia menuntut penjelasan tentang ramalan kematian atau takhayul ghaib yang merusak suasana meja makan tadi. Namun, dugaan ku keliru. Olivia sama sekali tidak membahas hal mistis tersebut. Sepasang mata bulatnya yang jernih justru kembali berkaca-kaca menatap pundak dan pergelangan tanganku yang memerah.

Ia meraih jemariku, menggenggamnya dengan teramat erat.

"Kak Bella ...," ucap Olivia, suaranya bergetar menahan tangis yang kembali membubung di dada. "Olivia mohon, Kakak jangan memasukkan ke dalam hati ya, apa yang dikatakan oleh Kak Charles tadi. Kak Charles benar-benar sudah keterlaluan dan bertindak sangat kasar pada Kakak."

Setitik air mata penyesalan perlahan luruh melewati pipi polos adik kecilku. Rasa bersalah yang amat besar terpancar jelas dari raut wajahnya.

"Aku minta maaf ya, Kak ... maaf karena tidak bisa melindungi Kakak dengan benar dari amukan Kak Charles tadi," ratap Olivia parau, menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas tautan tangan kami. "Kakak baru saja sembuh dan keluar dari rumah sakit, tapi mereka justru memperlakukan Kakak sekasar ini. Tolong jangan marahi Kak Charles ya, Kak ... tapi tolong jangan juga denga-rkan kata-kata kejamnya."

Mendengar ketulusan dan kepedulian murni yang mengalir dari bibirnya, dadaku mendadak terasa begitu sesak dihantam oleh rasa haru yang luar biasa besar. Air mata hangat yang sejak tadi sekuat tenaga kubendung akhirnya ikut luruh membasahi pipiku yang memucat.

Olivia memilih untuk menutup matanya dari rahasia ghaib yang menakutkan itu, murni karena baginya, keselamatan fisik dan ketenangan batin kakak perempuannya jauh lebih penting dari apa pun. Aku mengulas segaris senyuman tipis yang paling tulus, lalu mengulurkan tangan kiriku yang polos untuk mengusap pelan air mata di pipi adik bungsu kesayanganku ini, membiarkan kehangatan baru di kamar lantai dua ini perlahan-lahan menyembuhkan luka lama di dalam hati kami.

Aku mengulas senyuman lembut, lalu mengusap sisa air mata di pipi adik kecilku dengan ujung jemariku. Aku sengaja mengalihkan pembicaraan agar suasana haru dan ketegangan akibat amukan Kak Charles di lantai bawah tadi tidak kian berlarut-larut. Aku tidak ingin melihat wajah polos Olivia terus-menerus dirundung kesedihan.

"Sudah, Olivia ... jangan menangis lagi. Kakak tidak apa-apa, kok," ucapku lirih, mencoba membuat nadaku sehangat mungkin untuk menenangkannya. "Oh iya, bagaimana dengan kuliahmu hari ini? Apa semuanya berjalan dengan lancar?"

Mendengar pertanyaanku, Olivia sempat mengerjapkan matanya yang masih sedikit sembab. Ia tertegun sejenak, tampak terkejut karena di tengah rasa sakit fisik akibat diseret tadi, hal pertama yang kupikirkan justru adalah pendidikan dan masa depannya.

Raut wajah cemasnya perlahan memudar, digantikan oleh binar mata yang kembali ceria khas dirinya.

"Kuliah Olivia lancar kok, Kak!" seru Olivia penuh semangat, buru-buru membetulkan posisi duduknya di atas sofa agar lebih dekat denganku. "Hari ini dosennya cuma menjelaskan materi pengantar untuk tugas besar minggu depan. Makanya tadi setelah kelas selesai, Olivia langsung buru-buru pulang menggunakan mobil jemputan karena tidak sabar ingin menemui Kak Bella di kamar baru ini!"

Melihat binar kebahagiaan yang kembali terpancar dari wajah adik bungsuku, dadaku mendadak terasa begitu hangat. Rasa lelah dan kram samar di lambungku seolah perlahan terkikis oleh perhatian murninya. Olivia adalah bintang keberuntungan di rumah ini, dan aku bersumpah di dalam hati akan terus menjaga senyuman manisnya agar tidak pernah terenggut oleh pekatnya kutukan masa lalu keluarga kami.

1
falea sezi
kakak bangsat🤣
falea sezi
moga bella g meninggal ya😕
Cholifah Umro
Bab ini kok ada bawangnya y thor ... berasa ikut merasakan sakit hatinya Bella ...😭😭...lanjut thor
Cholifah Umro
gak sabar nunggu apa yg ditulis mamanya buat bella ...biar mata kakak ke2 dan ke3 terbuka klo bela gak salah ... lanjut thor👍
my queen 👸: makasih comment nya ya kk... di tunggu lanjutannya
total 1 replies
Cholifah Umro
bagus cerita family
my queen 👸: terima kasih banyak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Cholifah Umro
ceritanya bagus
Cholifah Umro
lanjut thor
Cholifah Umro
Udah Bella biarin saja... gak usah cari masalah
my queen 👸: terima kasih kk uda mampir
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!