Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kampung Pandean
Wajah Raka tidak bergerak.
Itu hal paling sulit yang pernah ia lakukan. Setiap otot di tubuhnya menjerit ingin berlari, tetapi ia tahu satu hal: Hendar sedang menunggu reaksinya. Kalau ia panik, Hendar menang.
"Mas sering mengunjungi tempat-tempat kecil," katanya, suaranya datar. Ia sendiri heran betapa tenangnya itu terdengar.
"Aku suka mengenal rakyat biasa." Hendar tersenyum tanpa menoleh. "Kau tahu, kalau mau menyelamatkan sebuah negeri, kau harus tahu siapa yang tinggal di dalamnya."
"Tentu."
"Kau akan memikirkan tawaranku?"
"Saya akan memikirkannya." Raka mengangguk sopan, lalu menambahkan sesuatu yang membuatnya hampir muntah karena kebohongannya sendiri: "Terima kasih sudah memberi saya waktu, Mas."
"Itu gunanya teman."
Raka membungkuk singkat, berbalik, dan berjalan menjauhi kolam dengan langkah terukur. Sepuluh langkah. Dua puluh. Ia menahan diri sampai tikungan taman, tempat dinding bata menutupi pandangan dari kolam.
Lalu ia berlari.
Wirabhaya sedang mengasah kerisnya di serambi pasanggrahan ketika Raka menerobos masuk dengan napas terengah-engah. Tarub, di sampingnya, sudah setengah bangkit begitu melihat wajah Raka.
"Dia tahu," kata Raka tanpa basa-basi. "Hendar. Dia tahu soal Kampung Pandean."
Wirabhaya langsung berdiri. Keris di tangannya meluncur masuk sarung dengan bunyi tajam. "Sekar?"
"Dia menyebut nama kampung itu. Dia bilang dia sudah ke sana kemarin."
"Tarub, siapkan kuda."
"Siap, Gusti."
"Mpu?" tanya Raka.
"Aku akan memberi tahu beliau. Pergilah ke gerbang, kita berangkat sekarang." Wirabhaya menyambar ikat kepalanya. "Dan Raka. Kau ikut. Tetap di belakangku."
"Saya tidak berniat jadi pahlawan."
"Bagus. Pahlawan cepat mati."
Kampung Pandean berada di sisi barat kota, deretan bengkel kecil dengan tungku-tungku yang sudah menyala sejak subuh. Asap hitam mengepul dari cerobong-cerobong bata, dan dentang palu menghantam logam menggema di antara rumah-rumah. Udara berbau arang, besi panas, dan keringat.
Mereka tiba tepat saat matahari menyembul di atas atap-atap. Wirabhaya menarik tali kudanya begitu mereka masuk ke gang utama, matanya langsung menyapu sekitar.
"Di sana," bisik Tarub.
Di ujung gang, di depan sebuah bengkel besar dengan papan kayu bertuliskan aksara kuno, empat prajurit berselempang merah berdiri membentuk setengah lingkaran. Di tengah mereka, seorang lelaki ramping dengan bekas luka di dagu sedang berbicara pelan pada seseorang di dalam pintu.
Raka mengenalinya dari ciri-ciri yang disebutkan Tarub semalam. Lurah Prajurit Anggada.
Dan di ambang pintu bengkel, berdiri seorang lelaki besar berotot dengan apron kulit hangus, lengan penuh bekas luka bakar, memegang sebuah penjepit besi sepanjang hasta seperti tongkat. Wajahnya keras, rahangnya mengatup rapat.
"Aku sudah bilang, Gusti," katanya dengan suara berat. "Tak ada orang bernama Sekar di sini."
"Kami hanya ingin berbicara baik-baik, Paman," kata Anggada lembut. "Tabib memintaku mengundang gadis itu untuk perawatan. Dia mendengar gadis itu sakit."
"Gadis ini sehat."
"Kalau begitu tak ada salahnya kami melihat sendiri."
"Ada salahnya, kalau kau berani melangkahi pintuku."
Wirabhaya turun dari kudanya dan berjalan ke depan dengan langkah santai yang jelas disengaja. Raka mengikutinya, jantungnya berdetak keras. Tarub tetap di atas kuda, tombaknya diletakkan melintang di pangkuan.
"Lurah Anggada," sapa Wirabhaya, suaranya ringan, nyaris ramah. "Pagi-pagi sudah bekerja keras."
Anggada menoleh. Untuk sesaat, sesuatu melintas di wajahnya, kejutan, yang cepat dipadamkan, lalu berganti senyum hormat yang sempurna.
"Gusti Wirabhaya. Kebetulan sekali."
"Memang." Wirabhaya berhenti beberapa langkah darinya. "Apa yang membawamu ke sini?"
"Perintah dari Tabib Agung, Gusti. Ada seorang gadis desa yang konon menderita penyakit aneh. Beliau ingin merawatnya."
"Gadis yang mana?"
"Yang tinggal di bengkel ini."
"Oh." Wirabhaya mengangguk perlahan. "Gadis itu sudah berada di bawah perlindungan Bhayangkara sejak kemarin. Atas perintah langsung, dariku."
Senyum Anggada tak berubah, tapi matanya menyipit sedikit. "Atas dasar apa, Gusti?"
"Atas dasar aku yang memerintah." Wirabhaya menatapnya lurus. Tak ada kemarahan di wajahnya, hanya ketenangan yang sedingin baja. "Apakah itu cukup, Lurah?"
Hening menegang. Empat prajurit di belakang Anggada saling melirik, ragu. Mereka tahu siapa yang lebih tinggi pangkatnya.
"Tentu cukup, Gusti," kata Anggada akhirnya, sedikit membungkuk. "Saya tak bermaksud melanggar. Tapi Tabib Agung akan kecewa."
"Aku yang akan menjelaskan padanya."
"Baik." Anggada menegakkan tubuh. Ia menatap Wirabhaya lama, dan Raka melihat sesuatu yang tak terduga di matanya, bukan kemarahan, bukan ketakutan, tetapi sesuatu yang hampir menyerupai penyesalan. "Kalau begitu kami mohon diri."
Ia memberi isyarat. Para prajurit mundur satu per satu. Ketika melewati Raka, Anggada berhenti sejenak, menatapnya dari kepala sampai kaki, dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar Raka:
"Orang-orang yang kau lindungi akan tersakiti oleh kebenaran yang tak sanggup kau tanggung, Cantrik."
Lalu ia pergi, langkahnya ringan, tak tergesa, seperti seseorang yang tidak merasa kalah.
"Kalian boleh masuk," kata lelaki besar itu setelah punggung terakhir prajurit menghilang di tikungan. Ia menurunkan penjepitnya perlahan. "Tapi aku harap kalian bukan musuh."
"Bukan, Paman Landep," kata Wirabhaya, membungkuk hormat. "Kami datang menolong."
Bengkel itu penuh panas dan bau logam. Di sudut, di antara tumpukan arang dan pelana yang belum selesai, Sekar berdiri dengan sebilah sabit di tangan, wajahnya pucat tapi matanya menyala. Begitu melihat Raka, bahunya turun sedikit, dan ia menurunkan senjatanya.
"Kau terlambat," katanya.
"Maaf."
"Kalau mereka maju satu langkah lagi, aku sudah melempar sabit ini ke kepala orang itu."
"Aku percaya."
Sekar menarik napas panjang, tangannya yang gemetar menyembunyikan sabit di balik kain. Untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Lalu, tanpa mengatakan apa-apa, ia merogoh balik kainnya dan mengeluarkan sesuatu.
Sehelai potongan lontar kecil, tak lebih panjang dari jari. Ujungnya sedikit hangus, tepinya terkelupas.
"Dia datang kemarin," kata Sekar pelan. "Orang yang kalian sebut Tabib. Dia menyembuhkan cucu Paman Landep yang demam, lalu pergi tanpa meminta bayaran. Tapi sebelum pergi, dia menyelipkan ini di tanganku."
"Apa isinya?" tanya Raka.
"Aku tak sanggup membaca seluruhnya." Sekar menyerahkannya dengan hati-hati. "Tapi kata terakhirnya... kau baca saja."
Raka mengambilnya dan mengarahkannya ke cahaya tungku. Tulisan di atasnya rapi, aksara Jawa Kuna yang halus, jelas ditulis oleh tangan yang terlatih. Hanya dua baris. Ia membacanya perlahan, dan seiring tiap kata, darahnya membeku.
Dharma bukan namanya. Dan kau bukan anak desa.
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹