Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan Manis untuk Sang Parasit
Umpan Manis untuk Sang Parasit
Elena menarik napas dalam-dalam, menatap bayangan dirinya di cermin besar kamar penthouse-nya. Gaun sutra tidur berwarna merah muda yang longgar digantinya dengan gaun terusan formal berwarna hitam pekat, dipadukan dengan jaket kulit hitam premium yang memberikan kesan tegas. Cincin safir biru warisan mendiang ibunya melingkar kokoh di jemarinya. Tidak ada lagi Elena yang naif. Yang ada hanya seorang predator yang siap berburu.
Dengan langkah anggun dan ritmis, ia menuruni tangga melingkar berbahan marmer putih menuju ruang tamu utama mansion keluarga William.
Di ujung tangga, seorang pria berjas abu-abu potong rapi sedang berdiri membelakanginya, tampak mengagumi lukisan minyak klasik karya maestro dunia yang terpajang di dinding. Di tangannya, ada sebuket besar mawar merah segar. Gavin.
"Elena!"
Mendengar suara langkah kaki, Gavin berbalik. Wajahnya yang tampan langsung dihiasi senyum hangat yang dulu selalu sukses membuat jantung Elena berdegup kencang. Ia melangkah maju dengan percaya diri, menyodorkan buket mawar tersebut. "Bunga terindah untuk Nona Muda tercinta dari William Group. Kamu terlihat sedikit pucat hari ini, Sayang. Apa kamu kurang tidur?"
Elena memandang buket mawar di tangan Gavin. Di kehidupan lalunya, bunga ini terasa seperti lambang cinta romantis. Kini, warna merah kelopaknya justru mengingatkannya pada genangan darah di lantai penjara dan api yang menguliti tubuhnya.
Bukannya menerima bunga itu, Elena hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Taruh saja di meja, Gavin. Kepalaku sedang agak pusing hari ini, aroma bunga yang terlalu menyengat bisa membuatku mual."
Gavin sedikit tersentak. Perubahan sikap Elena yang biasanya langsung menghambur ke pelukannya terasa janggal. Namun, sebagai seorang manipulator ulung, ia segera menyembunyikan keterkejutannya dengan tawa kecil yang terdengar tulus. "Ah, maafkan aku. Aku akan meminta pelayanmu menaruhnya di vas sudut ruangan."
Setelah menyerahkan bunga itu kepada pelayan, Gavin duduk di sofa beludru seberang Elena. Ia memajukan tubuhnya, menatap Elena dengan pandangan penuh perhatian yang palsu. "Sebenarnya, selain ingin mengajakmu berjalan-jalan ke taman kota, ada hal penting yang ingin kubicarakan. Ini mengenai proyek investasi real estate di distrik utara yang pernah kita bahas. Perusahaan ayahku membutuhkan sedikit tambahan likuiditas untuk mengamankan tender itu, dan aku berharap..."
"Kamu butuh suntikan dana dari William Group?" potong Elena cepat, langsung menusuk ke inti tujuan Gavin.
Gavin tertegun sejenak oleh kelugasan Elena, tetapi matanya langsung berbinar serakah. "Benar, Sayang. Jika William Group mau menjadi investor utama lewat pengaruhmu, proyek ini pasti akan sukses besar. Dan tentu saja, ini semua demi masa depan kita berdua setelah menikah nanti."
Demi masa depanmu dan Shena, batin Elena berbisik sinis. Di kehidupan lalu, investasi inilah awal mula Gavin menggerogoti saham William Group hingga akhirnya melakukan akuisisi paksa dan mendepak ayahnya dari kursi komisaris.
Elena menyandangkan tubuhnya ke sandaran sofa mewah, melipat kakinya dengan elegan. "Tentu saja, Gavin. Sebagai tunanganmu, aku pasti akan membantumu."
Mendengar hal itu, Gavin menghela napas lega. Ia mengira Elena masih berada di dalam genggaman kelingkingnya.
Namun, senyum dingin Elena kian melebar saat ia melanjutkan kalimatnya. "Kebetulan, lusa malam keluargaku akan mengadakan perjamuan makan malam privat untuk merayakan akuisisi anak perusahaan baru. Semua petinggi bisnis dan investor papan atas akan hadir di sini. Datanglah, dan bawalah seluruh dokumen proposal investasimu. Aku akan langsung mengenalkanmu pada ayahku di depan para kolega."
Mata Gavin melebar gembira. "Benarkah, Elena? Kamu memang yang terbaik!"
"Tentu saja," jawab Elena pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi marmer dengan santai. "Bersiaplah dengan baik, Gavin. Pastikan proposalmu tanpa celah sedikit pun."
Gavin tidak pernah tahu, bahwa perjamuan makan malam mewah lusa nanti bukanlah panggung bagi kesuksesannya, melainkan awal dari perangkap maut yang telah disiapkan Elena untuk mempermalukan dan menghancurkan reputasi bisnisnya di hadapan seluruh kalangan elite kota.