NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 - BAYANGAN DI BAWAH PAYUNG HITAM

Deru motor-motor tanpa plat nomor itu memantul di dinding-dinding beton gang sempit, menciptakan gema bising yang memekakkan telinga. Lampu-lampu sorot kendaraan sengaja dinyalakan terang, menyorot lurus ke arah pintu darurat bunker tempat kami berdiri.

Adrian tidak membuang waktu sedetik pun dalam keraguan. Tangannya yang kokoh langsung menarik lenganku, mendesak tubuhku ke balik dinding beton sudut gang seketika sebelum deretan peluru pertama menyayat udara dan menghantam dinding bata di atas kepala kami.

BZZT! DAK! DAK! DAK!

Pecahan semen dan debu berhamburan jatuh ke pundak mantelku. Bastian bergerak sigap di sisi sebelah kiri, melepaskan tembakan balasan dari laras pendek senjatanya untuk memecah konsentrasi kelompok motor yang mulai mengepung dari arah utara.

"Mereka sengaja menggiring kita ke titik jebakan ini," suara Bastian terdengar tajam di tengah bisingnya deru mesin yang memutar roda di atas aspal basah. Ia merunduk rendah, mengganti magasin senjatanya dengan gerakan cepat terlatih. "Jumlah mereka minimal dua peleton. Kita terkunci di lorong mati."

Aku merapat ke dinding semen yang dingin. Napasku memburu, namun kepalaku bekerja berkali-kali lebih cepat daripada detak jantungku. Sosok pria berpayung hitam di ujung gang tadi masih membekas jelas di balik kelopak matanya. Cincin perak berlambang burung rajawali yang mencengkeram belati. Lambang yang sama persis dengan yang tertera di dokumen rahasia militer peninggalan masa lalu.

Adrian melirik sekilas ke arahku, memastikan tidak ada serpihan peluru yang mengenaiku. Sorot mata pria itu menggelap, memancarkan amarah dingin yang tertahan di balik rahangnya yang mengetat. Tanpa ragu, tangan kirinya merogoh jaket taktisnya dan melemparkan sebuah granat kejut ke tengah jalanan gang.

BLAR!

Cahaya putih menyilaukan meledak hebat diiringi suara dentuman tuli, membuat barisan motor terdepan kehilangan kendali, saling bertabrakan dan terjatuh di atas aspal basah. Teriakan kesakitan dan derit ban memekik nyaring.

"Manfaatkan celah itu!" geram Adrian rendah, tangannya menggenggam pergelangan tanganku erat-erat, menarikku berlari keluar dari lorong sempit menuju mobil lapis baja Varell yang terparkir dua puluh meter di tikungan berikutnya.

Namun, langkah kami terhenti kaku saat bayangan tinggi melangkah dari balik pilar lampu jalan.

Pria berpayung hitam itu tidak bergerak panik meskipun kekacauan baru saja terjadi di hadapannya. Payungnya diangkat sedikit, memperlihatkan separuh wajah bagian bawah yang dihiasi garis rahang tegas dengan guratan bekas luka tipis di dekat dagunya. Ia berdiri menghalangi satu-satunya jalur akses kendaraan kami.

"Nadia Arlena," panggil pria itu dengan suara berat yang tenang, memotong bisingnya suara mesin motor yang mulai bangkit kembali. "Tampaknya darah ibumu mewarisi ketegasan yang sama... sekaligus kecerobohan yang sama."

Aku menghentikan langkahku secara mendadak. Seluruh aliran darah di tubuhku terasa membeku seketika. Suara itu. Suara parau yang dulu menggema di lantai atas gedung pencakar langit tempat malam berdarah itu merenggut segalanya dariku.

"Darmawan..." bisikku, nama itu meluncur dari bibirku bagaikan desis ular beracun.

Pria itu—Darmawan Santosa, tangan kanan terpercaya yang dulu berdiri di samping Edward Arlena sebelum berkhianat dan menghilang dari muka bumi—tersenyum tipis. Senyuman penuh ejekan yang menghidupkan kembali setiap detik kengerian sembilan belas tahun lalu.

Adrian melangkah maju menempatkan dirinya tepat di depanku, menghalangi pandangan pria itu dengan tubuh tegapnya. Laras pistol di tangan Adrian terarah lurus ke dada Darmawan tanpa sedikit pun keraguan. "Kau memilih waktu yang salah untuk keluar dari lubang persembunyianmu, tua bangka."

Darmawan melirik sekilas ke arah laras pistol yang menempel di hadapannya, namun ia tidak menunjukkan rasa gentar barang sedikit pun. Sebaliknya, ia justru merogoh saku jasnya yang rapi, lalu melempar sebuah benda kecil berukuran seukuran jempol ke atas genangan air di dekat sepatu Adrian.

Benda itu mendarat dengan bunyi plap yang lemah. Sebuah pemicu digital kecil dengan lampu LED hijau yang berkedip pelan.

"Tuan Varell, perusahaan Anda mungkin menguasai bursa saham Eropa dan armada tanker di seluruh lautan," ucap Darmawan tenang, suaranya terdengar begitu santai di tengah kepungan anak buahnya yang mulai merapat kembali. "Tapi di Jakarta, permainan ini diatur oleh aturan yang tidak bisa kau beli dengan uang triliunan euro."

Darmawan melirik ke arahku, matanya menatap tajam menembus bahu bidang Adrian. "Kau pikir dokumen di kastel Nice itu adalah akhir dari segalanya, Nadia? Ayah angkatmu, Edward, tidak pernah berniat menyelamatkanmu. Dia sengaja membiarkanmu hidup sebagai umpan... untuk menguji apakah darah Valois di dalam dirimu cukup kuat untuk menghancurkan dewan kami dari dalam."

DEG.

Kalimat itu menghantam kepalaku bagaikan hantaman palu baja besar. Pengkhianatan baru yang jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah kubayangkan. Edward Arlena—pria yang membesarkanku setelah malam pembakaran itu—bukanlah penyelamat. Ia adalah bagian dari permainan besar ini.

Sebelum aku sempat memproses kebenaran pahit di balik kata-kata itu, lampu LED hijau pada pemicu di genangan air tiba-tiba berubah menjadi merah pekat.

BIP!

"Tunduk!" teriak Adrian histeris, langsung membanting tubuhku ke lantai aspal basah dan menubrukku dengan seluruh perlindungan tubuhnya saat ledakan api yang memekakkan telinga merobek mobil lapis baja kami berkeping-keping.

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!