'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Keluarga Nelson.
...~•Happy Reading•~...
Nelson terus memperhatikan sebelah kanan, karena dia ingat rumah Kakeknya berada di sebelah kanan jalan.
'Oh, itu rumah Kakek. Masih di pinggir jalan, walau halaman depannya sudah berkurang luas.' Nelson berkata dalam hati, melihat warna cat rumah Kakeknya tidak berubah, walau sedikit halaman sudah dijadikan jalan raya.
Dia belok ke samping rumah yang dikenal, lalu mematikan mesin dan mendorong motor masuk ke belakang bangunan tempat penyimpanan kayu. Tempat yang sangat familier dan disukai, kalau ke tempat Kakeknya.
Setelah memarkirkan motor, dia melayangkan pandangan di belakang rumah Kakeknya yang luas, teduh dan sejuk dengan pohon-pohon besar. Keadaan rumah tetap tenang, karena jarak dengan rumah tetangga yang berjauhan.
'Kenapa sepi sekali? Apa Kakek belum bangun? Padahal hari sudah terang.' Nelson bertanya sebab, bukan kebiasaan Kakeknya yang suka bangun pagi.
Dia melihat sekitar, lalu melihat jam tangan. 'Ternyata belum jam 7.' Nelson membatin dan baru menyadari, dia tiba lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.
Dia menuju pintu belakang untuk mengetuk beberapa kali. Ketika tidak ada sahutan dari dalam, dia mengunci motor lalu menurunkan barang yang dibawa.
Semua dia letakan di atas tempat dari papan kayu lebar yang disusun rapi seperti meja persegi panjang di bawah pohon. Tempat yang digunakan untuk duduk santai, berhadapan dengan tempat penyimpanan kayu.
Setelah lama menunggu, dia menyadari tidak ada aktivitas dalam rumah. Melihat suasana yang sangat tenang, sejuk dan sepi, dia menunggu Kakeknya sambil berbaring beralaskan backpacker.
Kemudian dia mengirim pesan kepada Papa Mamanya, kalau sudah tiba di rumah Kakek, lalu mengnonaktifkan ponsel. 'Kini waktunya hibernasi. Fokus pada persiapan ujian, Kakek dan keluarga Om Ridho.' Nelson membatin sambil memejamkan mata.
'Semoga Om Ridho bisa bersikap baik, gak mencampur adukkan persoalannya dengan Papa dan melampiaskan padaku.' Nelson berharap adik Papanya bisa bersikap bijak. Agar niatnya untuk menyepi bisa terwujud. Bukan menemukan persoalan baru dalam keluarga dan menciptakan konflik batin lain baginya.
Sambil menengadah melihat ranting pohon dan dedaunan yang rimbun, dia berdoa dan berharap ada kedamaian, juga ketenangan yang diperoleh di tempat Kakeknya. 'Terima kasih, Tuhan. Aku sudah tiba dengan selamat. Tolong berkati rencanaku selanjutnya.'
Nelson mengambil topi untuk menutupi wajahnya dari daun yang berguguran dan memejamkan mata yang mulai sepat. Tanpa bisa ditahan, rasa lelah dan kantuk membuatnya tertidur pulas.
Beberapa waktu kemudian. "Nel, kau'kah ini?" Sayup sayup terdengar suara disertai tepukan di pipi. Perlahan Nelson membuka mata. Antara sadar dan tidak, dia melihat Kakeknya berdiri di sampingnya.
"Kapan Kakek datang ke sini?" Nelson mengira, dia sedang tidur di rumahnya. Kakek Samy tersenyum melihat daun kering jatuh menyentuh wajahnya.
Nelson melihat Kakeknya tanpa bergerak, hanya menatap lurus, karena baru saja tertidur dan tiba-tiba dikagetkan oleh tepukan di pipi. Sehingga kesadarannya belum kembali dan lambat sempurna.
"Hahaha... Kau datang lihat Kakek atau kau jalan dalam mimpi?" Kakek Samy tertawa melihat matanya terbuka, tapi tidak menyadari di mana.
Sontak Nelson bangun duduk. "Oh, iya. Aku datang ke tempat Kakek." Nelson melihat sekitar yang sudah terang dan cahaya menembus dari antara dedaunan.
Dia duduk diam sejenak untuk menyatukan kesadaran sebelum kembali melihat sosok Kakek yang dirindukan. "Kakek baru bangun? Atau Kakek kurang sehat?" Tanya Nelson sambil mencari topinya.
Kakeknya mengangkat topi di tangan. "Kakek sehat. Kenapa tidur di zebo?" Kakeknya menunjuk tempat kayu, dimana Nelson duduk dan meletakan bawaannya.
"Zebo?" Tanya Nelson sambil melihat tempat duduknya.
"Kalau sudah ada penutup atas, baru dibilang gazebo." Ucap Kakek Samy dengan wajah tersenyum bisa melihat cucu lelaki tertuanya.
"Oh, begitu. Tumben, Kakek bangun siang." Nelson mengambil topi dari tangan Kakeknya.
"Kakek sudah bangun dari pagi. Ini baru pulang dari kebun."
"Kakek sudah ke kebun sepagi ini?" Nelson bertanya seakan tidak percaya, Kakeknya sudah pulang dari kebun.
Kakek Samy mengangguk pelan lalu melihat sekitar mencari, sebab melihat ada motor di dekat tempat penampungan kayu. "Kau datang dengan siapa?"
"Sendiri, Kek." Jawab Nelson singkat. Dia bisa melihat wajah ingin tahu Kakeknya.
"Sendiri naik motor ke sini? Papamu ijinkan?" Kakek Samy terkejut seakan tidak percaya. Mengingat Nelson adalah anak kesayangan Papa Mamanya.
"Iya, Kek. Nel kan, sudah besar, sudah kuliah, sudah naik motor ke mana-mana...." Nelson menjelaskan, agar Papanya tidak dimarahi dan dia tidak diijinkan lagi datang sendiri. Padahal dia sudah bertekad akan datang kembali.
Kakek Samy mengangguk, lalu duduk di sampingnya. "Kau datang pagi-pagi begini untuk makan durian?" Tanya Kakek Samy lagi.
"Gak, Kek. Cuma kangen sama Kakek. Takut panas di jalan, jadi datang pagi..." Nelson menjelaskan mengapa dia datang sangat pagi. "Apa sekarang lagi musim durian, Kek?"
"Iya. Durian mulai jatuh dua hari lalu." Kakeknya menjawab dengan hati senang, karna Nelson datang untuknya dan bertepatan dengan musim durian.
"Pantas di kota belum ada yang jual durian." Nelson makin senang. "Ini yang dibilang pucuk dicinta, kesukaan tiba." Mata Nelson berbinar, membayangkan akan makan durian dari kebun Kakeknya.
"Sarapan dulu, baru makan durian. Supaya perut gak kaget dan sakit." Kakek Samy menepuk bahu Nelson.
"Aku sudah sarapan sebelum berangkat ke sini, Kek. Tapi Mama bawain bekal untuk makan di jalan kalau lapar, cuma Papa larang berhenti. Jadi aku makan sekarang sama Kakek, biar gak rusak." Nelson menjelaskan dengan hati senang.
"Kau makan saja. Nanti Kakek panggil Tine bikin minuman panas." Kakeknya berdiri dan berteriak memanggil Tine beberapa kali.
Nelson terkejut mendengar teriakan Kakeknya. "Emang Tine tinggal di mana, Kek? Kok Kakek berteriak?" Tanya Nelson sambil melihat sekitar. Dia tahu, rumah Omnya agak jauh dari rumah Kakeknya.
"Tine ada tinggal dengan Kakek. Itu lihat, dia baru bangun." Kakek Samy menunjuk ke arah seorang gadis yang keluar dengan mengenakan kaos dan celana longgar.
"Kakeeek, mengapa teriak pagi-pagi seperti di hutan?" Tine protes sambil jalan oleng dan menggaruk kepala. Nelson mau tertawa, tapi ditahan.
"Memang kau tinggal di kota? Bikin minuman panas buat Kak Nel." Teriak Kakek Samy sambil menggeleng lihat yang dilakukan cucu perempuannya.
"Kak Nel siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" Tine kesal. "Masih pagi cari minuman panas di rumah orang. Apa gak ada minuman di rumahnya?" Tine makin kesal, mengetahui dia dibangunkan karena ada yang bertamu pagi-pagi.
Nelson tersenyum dengar protes Tine. "Mentang-mentang sudah besar, mulai gak sopan sama kakak." Nelson ikut teriak. Sontak Tine mengangkat wajah sambil mengucek mata.
Ketika bisa fokus, mata Tine terbuka lebar bahkan terbelalak melihat siapa yang menegur. "Kak Nel, Om Esra? Kakak datang kapan? Mengapa kakak gak senggol mimpiku?" Tine tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat Nelson duduk di atas zebo.
Kakek Samy terharu melihat wajah ceria Tine dan Nelson, seakan tidak ada persoalan di antara kedua orang tua mereka.
...~•••~...
...~•○♡○•~...