“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Ibu Kirei, yang hatinya terlalu tulus, mengangguk cepat. "Oalah, kasihan. Pakai saja bahan di dapur, Nak. Biar Tante yang jaga kasir dulu."
Celin melangkah ke dapur belakang, diikuti oleh Reja yang berjalan dengan langkah angkuh, seolah ia baru saja memenangkan sebuah wilayah jajahan.
Begitu mereka masuk ke area dapur yang sepi, Reja langsung menutup pintu kayu itu dengan tendangan pelan.
"Pinter banget ya lo acting di depan orang tua," sindir Reja sambil bersandar di meja stainless steel.
Celin tidak menyahut. Ia mengambil panci kecil, menyalakan kompor, dan mulai memotong sayuran dengan gerakan cepat. Tangannya yang masih terbalut perban di bawah lengan seragamnya terasa kaku, namun ia mengabaikannya.
"Gue mau tanya satu hal," Reja tiba-tiba bersuara, kali ini tanpa nada mengejek.
"Kenapa lo nggak pernah pake uang dari Papa?"
Pisau di tangan Celin terhenti sejenak. "Gue bukan barang yang setelah dibeli harus diberi makan biar nggak mati, Reja. Gue punya harga diri."
"Harga diri?" Reja tertawa hambar. "Harga diri lo udah lunas dibayar sama tumpukan kuitansi utang judi bokap lo. Pake uang itu, bego. Lo nggak perlu kerja kasar kayak gini sampai tangan lo makin hancur."
"Lo nggak akan pernah paham," Celin berbalik, menatap Reja dengan mata yang menyala. "Uang dari Papa lo itu adalah bukti kalau gue ini budak. Tapi uang dari cafe ini... uang ini bukti kalau gue masih manusia. Gue mau kasih makan bokap gue dari hasil keringat gue sendiri, bukan dari hasil 'jual diri' gue ke keluarga lo."
Reja tertegun. Ia melihat butiran keringat di dahi Celin dan bagaimana gadis itu tetap berdiri tegak meski bahunya nampak gemetar karena lelah.
Untuk sesaat, ada rasa asing yang menusuk dada Reja—rasa hormat yang tidak ingin ia akui.
Namun, suasana itu pecah saat pintu dapur terbuka sedikit. Rian berdiri di sana dengan wajah tegang.
"Celin, lo nggak apa-apa? Gue denger Reja di sini—" Kalimat Rian terputus saat ia melihat Reja berdiri hanya beberapa senti dari Celin.
Reja langsung berubah. Aura dinginnya kembali seketika. Ia menyambar pundak Celin dan menariknya ke dalam dekapannya secara paksa.
"Ngapain lo di sini, Ri? Mau pesen makanan juga atau mau nemenin Celin masak?"
Rian mengepalkan tangan. "Rej, jangan kasar sama dia."
"Kasar?" Reja terkekeh, tangannya justru semakin erat melingkar di bahu Celin, sengaja menekan tepat di luka yang belum kering.
Celin merintih tertahan, namun ia tidak mengeluarkan suara. "Gue cuma lagi nunggu makan malem yang dibuat khusus buat gue. Mending lo pergi sebelum gue anggap kehadiran lo di sini mengganggu."
Rian menatap Celin, mencari tanda agar ia harus bertindak. Namun, Celin hanya menggeleng lemah. Ia tahu, jika Rian bergerak sedikit saja, Reja akan meledak.
Setelah Rian pergi dengan wajah penuh amarah yang tertahan, Reja melepaskan Celin dengan kasar.
"Gue nggak selera makan lagi," ketus Reja. Ia menendang kursi plastik di dekatnya. "Beresin ini semua. Gue tunggu di motor. Sepuluh menit lo nggak keluar, gue seret lo dari dalem."
Celin berdiri mematung di dapur yang kini mendadak terasa sangat sempit. Ia mematikan kompor, menatap sup yang belum matang itu dengan pandangan kosong.
---
Malam harinya, di dalam kamar mansion, Reja tidak banyak bicara. Ia duduk di balkon sambil merokok, menatap gelapnya malam.
Sementara itu, Celin mencoba memejamkan mata di sofa, namun rasa sakit di pergelangan tangannya semakin menjadi-jadi. Perbannya kembali rembes karena tekanan tangan Reja di dapur tadi.
Tiba-tiba, Reja masuk dari balkon, mematikan rokoknya, dan berjalan ke arah sofa. Ia tidak membentak. Ia melemparkan sebuah kantong plastik dari apotek ke pangkuan Celin.
"Itu salep mahal. Pake," ucapnya dingin tanpa melihat wajah Celin.
"Makasih," bisik Celin lirih.
"Jangan geer. Gue cuma nggak mau lo pingsan di sekolah besok dan bikin repot gue," Reja berjalan menuju ranjangnya.
Pagi itu, suasana di mansion Bagaskara terasa lebih mencekam dari biasanya. Adrian sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis, menyisakan Reja, Celin, dan Livia di meja makan.
Livia sedari tadi hanya menatap Celin dengan pandangan menghina, seolah kehadiran gadis itu telah mengotori kemewahan ruang makan mereka.
"Reja, Mama dengar dari Tania kamu sering mengantar gadis ini ke cafe?" tanya Livia ketus sambil mengoles selai ke rotinya.
"Jangan biarkan dia terlalu banyak keluar. Dia itu tanggung jawab kita, jangan sampai dia berulah di luar sana dan mencoreng nama baik Papa kamu."
Reja hanya diam, tangannya sibuk memotong omelet dengan gerakan mekanis. Ia melirik Celin yang sedang menunduk, menyembunyikan wajah pucatnya.
"Reja tahu apa yang harus dilakukan, Ma," jawab Reja pendek.
Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Reja langsung mencengkeram kemudi dengan kuat. "Lo denger kan? Tania mulai lapor ke nyokap gue. Kalau lo nggak mau drama ini makin panjang, jauhi Kirei dan cafe itu untuk sementara."
"Gue nggak bisa, Reja. Gue butuh uang itu!" bantah Celin.
"GUE KAN UDAH BILANG PAKE UANG DARI PAPA!" bentak Reja, membuat Celin tersentak. "Apa sih susahnya jadi orang yang penurut? Lo mau gue seret bokap lo ke penjara hari ini juga?!"
Celin memalingkan wajah, menatap jendela yang mulai dibasahi rintik hujan. "Hati lo itu terbuat dari apa? Kenapa lo hobi banget ngancem orang pake penderitaan orang lain?"
Reja tidak menjawab. Ia menginjak gas lebih dalam, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Di sekolah, Celin mencoba menghindari Rian sekuat tenaga. Namun, Rian bukanlah orang yang mudah menyerah. Saat jam istirahat, Rian menarik Celin ke deretan rak buku paling belakang di perpustakaan, tempat yang paling sunyi.
"Celin, gue perlu tanya sesuatu sama lo," bisik Rian dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan.
Celin mencoba memalingkan wajah, namun Rian menghalangi jalannya. "Apa lagi, Ri? Gue harus balik ke kelas."
"Gue liat Reja anter lo ke sekolah tadi pagi. Dan kemarin sore di cafe... Reja nungguin lo sampai tutup," Rian menatap mata Celin lekat-lekat.
"Celin, jujur sama gue. Lo punya hubungan apa sama Reja? Atau lo ada masalah sama dia?" Celin membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.
"Nggak ada, Ri. Gue cuma... Papa Reja minta dia jagain gue karena gue anak beasiswa yang sering pulang malem. Itu aja."
"Jangan bohong, Celin!" Rian sedikit menaikkan suaranya. "Gue kenal Reja sejak kecil. Dia bukan tipe cowok yang mau jadi supir buat orang lain kalau nggak ada 'sesuatu'. Gue takut lo kejebak permainan dia."
Rian memegang bahu Celin, tatapannya berubah menjadi peringatan yang sangat dalam. "Dengerin gue, Celin. Jangan pernah punya urusan, apalagi punya hubungan sama Reja. Dia itu bahaya. Dia punya segalanya buat hancurin orang tanpa ngerasa bersalah sedikit pun. Kalau lo ada utang atau apa pun, bilang sama gue, biar gue yang cari jalan keluarnya. Tapi tolong... menjauh dari Reja."
Celin hanya bisa menunduk, air mata hampir jatuh. 'Terlambat, Ri. Gue udah terjebak di tengah-tengah neraka itu,' batinnya menjerit.
"Gue oke, Ri. Makasih peringatannya," ucap Celin lirih sambil melepaskan tangan Rian dari bahunya. Tepat saat itu, bayangan seseorang muncul di antara celah rak buku.
"Wah, reuni dua anak jenius ternyata seru juga ya," suara berat Reja memecah ketegangan.
Reja berjalan mendekat dengan tangan di saku celana, wajahnya tampak santai namun matanya berkilat tajam. Ia menatap Rian, lalu beralih ke Celin.
"Lagi bahas apa nih? Serius banget sampai nggak denger bel masuk," sindir Reja.
Rian tidak mundur. Ia berdiri tegak menghadap Reja. "Gue cuma lagi ngingetin Celin supaya nggak usah deket-deket sama orang kayak lo, Rej. Lo cuma bakal bikin hidup dia susah."
Reja tertawa hambar, suara tawanya terdengar sangat kering. Ia merangkul pundak Rian, sahabatnya itu, namun matanya tetap mengunci Celin. "Ri, Ri... lo terlalu baik. Celin ini udah aman di bawah perlindungan keluarga gue. Iya kan, Celin?"
Celin hanya bisa mengangguk kecil, tubuhnya gemetar. Ia tahu Reja sedang memperingatkannya lewat tatapan itu.
"Balik ke kelas sana, Ri. Gue mau ngomong sebentar sama partner belajar lo ini," perintah Reja.
Rian menatap Celin sekali lagi, seolah mencari tanda agar ia tidak pergi. Namun Celin memberikan isyarat lewat mata agar Rian segera meninggalkan tempat itu.
Begitu Rian hilang di balik rak buku, Reja langsung menyentakkan tubuh Celin ke dinding rak. "Pinter banget lo," desis Reja tepat di depan wajah Celin. "Lo denger apa kata dia tadi? Dia bilang gue bahaya. Dia bilang jangan punya hubungan sama gue."
Reja mencengkeram rahang Celin, memaksanya mendongak. "Harusnya lo kasih tahu dia. Kasih tahu dia kalau lo bukan cuma punya hubungan sama gue, tapi lo itu milik gue seutuhnya. Kenapa lo diem aja? Takut pahlawan lo itu kecewa?"
Bersambung...