NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Sang CEO Posesif

Pernikahan Kontrak Sang CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"

Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.

Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.

Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

diantara dinginnya dinding

Rasa pusing yang sangat menyakitkan di kepala Naura saat kesadarannya perlahan-lahan kembali. Efek kloroform dosis tinggi yang didekapkan ke hidungnya di rumah sakit tadi masih menyisakan rasa mual yang pekat di tenggorokan. Dia mencoba menggerakkan tangannya untuk memijat pelipis, namun suara gemerincing besi seketika memecah keheningan ruangan.

Kring... kring...

Mata Naura terbelalak sempurna, mengabaikan rasa pusing yang masih mendera. Kedua pergelangan tangannya telah terikat erat oleh rantai besi kecil yang dikunci pada sandaran sebuah kursi kayu tempat dia didudukkan. Pandangan matanya menyapu sekeliling ruangan yang remang-remang. Bau debu, kayu lapuk, dan kelembapan menusuk hidungnya. Tempat itu tampak seperti gudang atau rumah terbengkalai di pinggiran kota yang jauh dari keramaian.

"Ah, mainan kesayangan kakak sepupuku akhirnya sudah bangun."

Sebuah suara yang sangat familier dan sarat akan nada sinis terdengar dari arah sudut ruangan yang gelap. Langkah kaki yang santai melangkah mendekat, menembus temaram cahaya lilin yang bergoyang ditiup angin malam.

Gavin Mahendra berdiri di hadapan Naura. Setelan pakaian kasual mewahnya kini tampak sedikit kotor, namun seulas senyuman iblis yang penuh kemenangan terukir lebar di wajah tampannya yang kini terlihat mengerikan. Di belakangnya, Anton berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan beringas.

"Gavin..." desis Naura, suaranya terdengar serak dan lemah karena efek bius. Dia mencoba menegakkan bahunya, menolak untuk terlihat gemetar di hadapan pria yang telah menghancurkan ketenangannya. "Kau... kau benar-benar gila! Lepaskan aku sekarang juga! Jika Adrian tahu apa yang kau lakukan, dia tidak akan pernah melepaskanmu!"

Mendengar nama Adrian disebut, seringai di wajah Gavin mendadak hilang, digantikan oleh kilat kemarahan dan dendam yang membara. Pria licik itu melangkah maju, mencengkeram rahang Naura dengan sangat kasar menggunakan jemari tangannya yang dingin, memaksa Naura mendongak menatap matanya yang memancarkan kegilaan.

"Adrian?! Jangan sebut nama bajingan itu di depanku, jalang!" raung Gavin, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Hari ini, kakak sepupuku yang agung itu telah merebut seluruh hidupku! Dia memecat orang-orangku, memblokir seluruh rekeningku, dan membuat Kakek membuangku seperti sampah jalanan! Aku kehilangan segalanya hanya karena sandiwara pernikahan kontrak murahan kalian!"

Gavin melepaskan cengkeramannya pada rahang Naura dengan sentakan kasar hingga kepala Naura terayun ke samping. Pria itu tertawa terkekeh, sebuah tawa yang terdengar sangat frustrasi.

"Tapi sekarang... roda berputar, Naura manis," bisik Gavin lagi, merundukkan tubuhnya sedikit hingga wajah mereka sejajar. Dia mengulurkan jarinya untuk mengusap helai rambut hitam Naura yang berantakan, namun Naura dengan cepat memalingkan wajahnya penuh rasa jijik. Gavin tidak peduli, dia justru menyeringai puas. "Adrian mungkin mengira dia adalah pemenang di Mahendra Group. Tapi dia tidak tahu, bahwa jantung dan kelemahan terbesarnya saat ini sedang aku Sandra. Mari kita lihat, apakah dia masih bisa bersikap angkuh saat aku meminta seluruh tahta perusahaan sebagai tebusan untuk nyawamu!"

Naura menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai rasa takut yang mulai merayap di dadanya. Di tengah kepanikan ini, jemari tangannya yang terikat di belakang kursi secara tidak sengaja menyentuh batu permata safir dari kalung pemberian Adrian yang masih melingkar aman di lehernya. Mengingat jaminan dan tatapan mata penuh perlindungan dari Adrian sebelum keberangkatannya tadi pagi, keberanian Naura kembali bangkit berlipat ganda.

"Kau salah besar, Gavin," ucap Naura dengan nada suara yang tenang, tegas, dan menantang langsung mata gila Gavin. "Pernikahanku dengan Adrian bukan lagi sebuah sandiwara kontrak. Kami saling mencintai. jika kau berpikir bisa menggunakan aku untuk membuat Adrian berlutut... kau hanya sedang mempercepat hari kematianmu sendiri. Suamiku tidak akan pernah membiarkanmu menang."

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Naura, meninggalkan bekas kemerahan yang perih di kulit halusnya. Naura meringis pelan, memalingkan wajahnya kembali ke depan dengan tatapan mata bulatnya yang tetap memancarkan binar ketegasan, sama sekali tidak meneteskan air mata kelemahan di depan musuhnya.

"Jaga mulutmu, jalang miskin!" bentak Gavin, napasnya memburu karena emosi yang tersulut oleh keteguhan hati Naura. Dia berbalik menatap Anton. "Anton! Hubungi nomor pribadi Adrian sekarang juga! Aktifkan panggilan video. Aku ingin melihat bagaimana wajah sang CEO agung itu runtuh saat melihat istrinya tercintanya dipenuhi luka!"

"Dimengerti, Tuan Muda Gavin," jawab Anton dengan seringai liciknya, merogoh gawai genggamnya untuk mulai melakukan panggilan ke nomor pribadi sang CEO Mahendra Group.

-------

Sementara itu, di dalam sebuah mobil SUV hitam yang sedang melaju kencang membelah jalanan kota jakarta dengan kecepatan penuh, atmosfer di dalam kabin terasa sangat mencekam hingga ke titik beku.

Adrian Mahendra duduk di kursi penumpang dengan setelan jas hitamnya yang kini memancarkan aura kegelapan yang mematikan. Di pangkuannya, sebuah laptop canggih menampilkan sebuah peta digital kota Jakarta dengan sebuah titik koordinat berwarna merah yang berkedip-kedip, bergerak menuju sebuah kawasan pergudangan tua di pinggiran Jakarta Barat.

Titik merah itu adalah sinyal GPS dari kalung safir yang melingkar di leher Naura.

Di sampingnya, gawai pribadinya mendadak bergetar hebat menampilkan sebuah panggilan video dari nomor yang tidak dikenal. Adrian menyipitkan mata elangnya yang tajam, langsung menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut.

Layar itu seketika menampilkan wajah gila Gavin yang sedang menyeringai puas, dengan latar belakang ruangan remang-remang yang menampilkan sosok Naura yang terikat di atas kursi dengan sudut bibir yang sedikit berdarah akibat tamparan tadi.

"Halo, Kak Sepupu yang terhormat... bagaimana kabarmu di kursi CEO-mu yang empuk itu?" suara Gavin terdengar memprovokasi dari pelantang gawai. "Kurasa kau sudah menyadari bahwa mainan kesayanganmu ini hilang dari rumah sakit, bukan? Jika kau ingin istrimu yang cantik ini kembali dalam keadaan bernapas, siapkan dokumen penyerahan seluruh saham pribadimu di Mahendra Group atas namaku dalam waktu dua jam! Jika kau menolak atau mencoba melibatkan polisi... aku tidak akan segan-segan mengirimkan potongan jari istrimu ini ke depan pintu mansionmu!"

Adrian menatap layar gawainya dengan ekspresi wajah yang luar biasa tenang, sebuah ketenangan yang justru ratusan kali lebih mengerikan daripada amukan badai terbesar. Sepasang mata elangnya berkilat penuh hawa membunuh yang sangat pekat, mengunci pandangan matanya pada sosok Naura.

"Adrian... jangan turuti kemauannya! Aku tidak apa-apa! Jangan berikan apa pun pada pria gila ini!" teriak Naura dari belakang Gavin, mencoba memberikan peringatan sebelum anak buah Anton kembali membekap mulutnya.

Mendengar suara Naura, sudut mata Adrian berkedut tipis menahan amarah iblis yang siap meledak. Dia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke arah kamera dengan nada suara yang rendah, berat, dan dipenuhi dengan aura mematikan yang membuat Gavin di seberang telepon mendadak merinding halus.

"Gavin Mahendra," desis Adrian, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti vonis mati yang tidak terbantahkan. "Kau telah melakukan kesalahan terbesar di dalam hidupmu yang menyedihkan ini dengan menyentuh wanita milikku. Nikmati menit-menit terakhir kemenangan semu di kepalamu itu... karena aku bersumpah demi namaku, aku tidak akan hanya menjebloskanmu ke dalam penjara, tapi aku sendiri yang akan memastikan kau memohon kematian di bawah tanganku sebelum malam ini berakhir."

Tanpa menunggu balasan dari Gavin, Adrian langsung memutuskan panggilan video tersebut secara sepihak. Dia menutup laptop militernya dengan sentakan keras, lalu menoleh ke arah tim paramiliter Mahendra Group yang berada di dalam mobil bersamanya.

"Lokasi sudah terkunci sempurna, Tuan. Jarak kita hanya tersisa sepuluh menit lagi dari markas penyekapan," lapor kepala tim keamanan dengan sigap.

Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat, membetulkan letak jam tangan mewahnya dengan kilat mata yang sepenuhnya telah dipenuhi oleh kegelapan, untuk menjemput sang belahan jiwa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!