Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Malam itu, jarum jam baru saja menunjuk angka dua dini hari. Hujan gerimis turun bagai tirai es yang membungkus distrik pinggiran kota. Di bawah pendar lampu jalan yang berkedip redup, jalanan di depan gedung apartemen usang tempat Amanda tinggal tampak lengang.
Namun, kesunyian itu hanyalah sebuah ilusi.
Dalam kegelapan malam, tiga unit SUV G-Class hitam antipeluru meluncur tanpa suara, membelah genangan air bak hantu. Kendaraan monster itu berhenti tepat di titik-titik buta kamera pengawas. Dari dalam, belasan pria berpakaian taktis serba hitam bergerak turun. Mereka adalah Unit Delta—pasukan pembunuh elite milik The Iron Crown.
Flop, tangan kanan Aldebaran yang terkenal karena senyum psikopatnya saat mencabut nyawa, berjalan santai menembus rintik hujan. Dalam hitungan kurang dari lima menit, ia dan timnya telah melumpuhkan empat orang mata-mata dari klan The Dragon Black yang bersembunyi di dalam van van van penyadap di seberang jalan. Tidak ada suara tembakan. Hanya bunyi kebas dari pisau lipat dan patahan leher yang berbunyi krek pelan di tengah suara hujan.
"Area bersih, Tuan," lapor Flop melalui alat komunikasi nirkabel di telinganya, menatap jijik pada mayat anak buah Alan yang kini diseret ke gang gelap. "Tikus-tikus Alan sudah tertidur lelap. Mereka sama sekali tidak menyadari kedatangan kita."
Pintu SUV utama di tengah formasi terbuka.
Sepatu pantofel kulit buatan Italia mendarat di aspal yang basah. Aldebaran Hendrick melangkah keluar. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang dibalut mantel panjang berbahan cashmere gelap, kerahnya ditegakkan menghalau angin malam. Aura yang menguar dari tubuhnya begitu pekat, menekan oksigen di sekitarnya.
Ia mendongak, menatap jendela lantai tiga apartemen yang lampunya masih menyala redup. Seringai iblis terukir di sudut bibirnya.
Alan, kau bajingan bodoh, batin Aldebaran meremehkan. Pemimpin musuhnya itu mungkin mengira bisa memainkan perang psikologis dengan mengirimkan foto-foto provokasi, berencana menculik Amanda keesokan harinya saat wanita itu lengah. Alan pikir dirinya punya waktu.
Tapi Aldebaran tidak pernah bermain sesuai aturan. Sang Raja Kegelapan mengambil langkah pertamanya di luar papan catur. Ia akan merenggut paksa Ratu dan Putrinya malam ini juga, tepat di bawah hidung musuh-musuhnya.
"Amankan seluruh perimeter gedung. Jangan biarkan lalat mana pun masuk atau keluar," titah Aldebaran dengan suara bariton yang berat dan mematikan. "Dante, ikut aku."
Di lantai tiga, Amanda baru saja menyeduh secangkir teh chamomile. Matanya terasa pedas setelah berjam-jam berkutat dengan revisi laporan kantor. Ia melirik ke arah pintu kamar yang setengah terbuka; dari celahnya, ia bisa melihat Lily tertidur pulas dengan napas teratur sambil memeluk boneka kelincinya.
Amanda menyesap tehnya, membiarkan kehangatan mengalir di kerongkongannya. Ia menghela napas panjang. Aneh, perasaannya malam ini sangat tidak enak. Jantungnya sedari tadi berdebar dengan ritme yang tidak wajar, seolah insting primitifnya sedang meneriakkan tanda bahaya.
Tiba-tiba, terdengar bunyi klik yang sangat pelan dari arah pintu depan. Bukan suara ketukan. Melainkan suara mekanis anak kunci yang diputar paksa dari luar.
Amanda membeku. Cangkir teh di tangannya sedikit bergetar, membuat permukaannya beriak.
Detik berikutnya, gagang pintu berputar perlahan. Pintu usang apartemennya terbuka tanpa suara derit sedikit pun. Udara dingin dari lorong seketika menyerbu masuk, membawa aroma yang seketika membuat darah Amanda membeku.
Aroma musk, cedarwood, dan sedikit jejak tembakau mahal. Aroma yang selama lima tahun ini mengendap di mimpi buruknya.
Sosok tinggi besar melangkah masuk ke dalam ruang tamu kecilnya yang temaram. Siluetnya menutupi pendar lampu lorong di belakangnya. Pria itu menutup pintu kembali dengan tenang, seolah ia baru saja pulang ke rumahnya sendiri. Dante, sang asisten berwajah dingin, berdiri bersiaga di luar pintu.
Cangkir di tangan Amanda terlepas.
Prang!
Pecahan beling dan cairan teh panas berserakan di atas lantai kayu, tapi Amanda bahkan tidak merasakan panasnya di kulit kaki telanjangnya. Matanya terbelalak lebar, napasnya tercekat di tenggorokan melihat siapa yang kini berdiri menjulang hanya beberapa langkah di hadapannya.
Mata kelam itu. Rahang tegas yang kokoh itu. Dan cincin perak berkepala tengkorak yang melingkar di jarinya.
Pria itu... pria dari kelab malam lima tahun yang lalu. Pria yang merenggut malamnya, meninggalkannya dengan janin di dalam rahim. Pria yang mewariskan mata tajam itu pada Lily.
"K-kau..." Suara Amanda hanya keluar sebagai cicitan tertahan. Kakinya gemetar hebat, memaksanya melangkah mundur hingga punggungnya menabrak meja dapur. Ketakutan yang amat sangat melumpuhkan seluruh sistem sarafnya.
Aldebaran menghentikan langkahnya. Matanya yang setajam silet menyapu seluruh ruangan kecil itu dengan kilat merendahkan, sebelum akhirnya mengunci tatapan pada wajah pucat pasi Amanda. Ia menelusuri wajah wanita itu—lekuk lehernya, bibirnya yang bergetar, hingga ke bagian belakang telinga kirinya tempat tanda lahir itu berada.
"Tempat ini terlalu kecil dan kumuh untuk menampung milikku," suara berat Aldebaran memecah keheningan, menggetarkan lantai papan di bawah kaki Amanda. Pria itu menyeringai, sebuah senyum yang sama sekali tidak memancarkan kehangatan, melainkan janji akan sebuah kekejaman. "Lama tidak berjumpa, Nona Millen. Atau... haruskah aku memanggilmu ibu dari anakku?"
"J-jangan mendekat!" Amanda meraih pisau buah yang tergeletak di meja dapur dengan tangan gemetar parah, mengarahkannya ke depan dengan putus asa. Matanya memerah, menahan air mata kepanikan. "Siapa kau?! Mau apa kau ke mari?! Pergi, atau aku akan berteriak!"
Alih-alih gentar, Aldebaran justru tertawa rendah. Tawa yang terdengar sangat gelap dan berwibawa. Dengan gerakan yang begitu cepat hingga mata Amanda tak mampu menangkapnya, Aldebaran maju memangkas jarak.
Hanya dengan satu putaran pelan di pergelangan tangan Amanda, pisau buah itu berdenting jatuh ke lantai. Tangan besar Aldebaran kini melingkar erat di pinggang ramping Amanda, menarik tubuh wanita itu hingga menabrak dada bidangnya yang sekeras baja.
Napas Amanda tertahan. Aroma pria itu mengintimidasinya secara brutal, merasuk ke dalam paru-parunya.
"Berteriaklah sesukamu, Sayang. Tidak akan ada satu pun tetanggamu yang berani keluar," bisik Aldebaran tepat di depan bibir Amanda, membiarkan napas hangatnya menyapu wajah wanita yang tengah memejamkan mata ketakutan itu. "Aku Aldebaran Hendrick. Dan malam ini, aku datang untuk mengambil kembali apa yang seharusnya berada di ranjangku, dan di dalam istanaku. Bukan bermain-main di taman bersama bajingan murahan dari Sinaloa atau Dragon Black."
Mata Amanda terbuka lebar mendengar nama-nama yang sama sekali asing di telinganya. "A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti—lepaskan aku!"
"Ssst..." Aldebaran mengangkat satu tangannya, ibu jarinya mengusap bibir bawah Amanda yang bergetar dengan kelembutan yang sangat kontradiktif dengan aura membunuhnya. "Kau tidak perlu mengerti sekarang. Yang perlu kau tahu hanyalah... Alan yang dengan bodohnya mendekati putriku, saat ini anak buahnya sedang membusuk di selokan depan gedungmu. Dan sekarang, giliran kalian berdua ikut denganku."
Bulu kuduk Amanda meremang. Putriku. Dia bilang, putriku. Pria ini tahu. Pria iblis ini tahu tentang Lily!
"Tidak!" Beruang betina di dalam diri Amanda seketika terbangun. Ia meronta hebat, memukul dada Aldebaran dengan sekuat tenaga meski rasanya seperti memukul dinding beton. "Kau tidak boleh menyentuhnya! Dia putriku! Kau pria asing! Jangan sentuh anakku!"
Aldebaran mencengkeram kedua pergelangan tangan Amanda dengan satu tangannya, menguncinya dengan mudah. Matanya menggelap, menyorotkan kepemilikan yang absolut.
"Dia memiliki darahku yang mengalir di nadinya, Amanda," geram Aldebaran dengan nada posesif yang mematikan. "Kau menyembunyikan pewaris The Iron Crown selama lima tahun dariku. Untuk itu, kau akan dihukum nanti. Tapi sekarang, musuh-musuhku sedang menargetkan nyawa kalian. Dan aku tidak akan membiarkan sehelai rambut pun jatuh dari kepala putriku."
Tanpa melepaskan cengkeramannya pada Amanda, Aldebaran menoleh ke arah pintu kamar yang setengah terbuka.
Amanda menjerit tertahan saat Aldebaran menyeretnya perlahan menuju kamar itu. Di atas ranjang kecil, Lily tertidur dengan sangat damai, pipi gembulnya merona, sama sekali tidak terganggu oleh keributan kecil di luar.
Aldebaran melepaskan Amanda sejenak, membuat wanita itu terhuyung mundur. Sang raja mafia, pria yang tak pernah ragu memenggal kepala musuhnya tanpa berkedip, kini berdiri membeku menatap sosok mungil di atas ranjang. Tangannya yang biasa memegang senjata pembunuh, kini terulur perlahan, sedikit gemetar, membelai rambut pirang kecokelatan Lily dengan sentuhan yang luar biasa rapuh dan lembut.
Ada keheningan magis yang terjadi selama beberapa sekon. Rahang Aldebaran yang mengeras perlahan mengendur. Untuk pertama kalinya dalam hidup, monster berdarah dingin itu merasakan ikatan emosional yang menyentak dadanya dengan sangat keras.
Darah dagingku, batin Aldebaran.
Amanda bersiap menerjang maju untuk merebut putrinya, namun suara Dante yang masuk ke dalam ruangan menghentikannya.
"Tuan, kita harus bergerak. Pasukan Alan tampaknya menyadari hilangnya komunikasi dari mata-mata mereka. Mereka sedang menuju kemari."
Tatapan lembut Aldebaran lenyap seketika, berganti kembali menjadi pembunuh berdarah dingin. Ia menoleh menatap Amanda.
"Kemasi barang yang penting. Hanya lima menit," perintahnya mutlak.
"Aku tidak mau ikut denganmu!" bentak Amanda berurai air mata.
"Kalau begitu, aku hanya akan membawa anak ini," balas Aldebaran kejam, mulai membungkukkan badan seolah hendak mengangkat Lily.
"Jangan! Brengsek, kau monster!" isak Amanda frustrasi. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Kekuatan pria ini tidak tertandingi, dan entah bahaya apa lagi di luar sana yang dibicarakan oleh asistennya tadi. Dengan tangan gemetar dan air mata yang terus mengalir, Amanda menyambar tas ransel, memasukkan beberapa potong baju Lily, dokumen penting, dan dompetnya secara asal-asalan.
Aldebaran menyeringai puas melihat penyerahan diri wanita itu. Dengan gerakan perlahan agar tidak membangunkan, ia mengangkat tubuh kecil Lily ke dalam dekapannya. Kepala Lily otomatis bersandar di dada bidangnya yang nyaman, tangan kecil anak itu meremas mantel cashmere Aldebaran dalam tidurnya. Hati Aldebaran berdesir hebat merasakan beban mungil dan hangat di pelukannya.
"Jalan," titah Aldebaran pada Amanda, matanya mengisyaratkan bahwa jika wanita itu mencoba kabur, akibatnya akan sangat fatal.
Mereka turun melewati lorong yang gelap, diapit oleh Flop dan Dante yang memegang senjata api laras pendek dalam siaga penuh. Saat keluar dari gedung, Amanda memejamkan mata ngeri melihat ada noda darah segar yang bercampur dengan air hujan di aspal, tepat di samping SUV hitam yang terbuka pintunya.
Aldebaran menyuruh Amanda masuk lebih dulu, lalu ia menyusul dengan Lily yang masih terlelap dalam gendongannya. Pintu berlapis baja itu ditutup dengan suara dentuman berat, memisahkan mereka dari dunia luar yang dingin.
Mesin menderu buas. Konvoi SUV itu melaju kencang meninggalkan area pinggiran kota yang kumuh, menembus kabut malam, membawa Amanda dan Lily masuk ke dalam jantung kekuasaan The Iron Crown.
Di kursi belakang yang gelap, Aldebaran menatap Amanda yang duduk meringkuk di sudut jok kulit sambil menangis dalam diam. Sang mafia merapatkan pelukannya pada tubuh Lily, seringai puas nan arogan terukir di wajah tampannya dalam kegelapan.
Pion telah berpindah tangan. Sang Ratu telah kembali ke sangkarnya. Dan besok pagi, saat Alan datang untuk mengambil mangsanya, pemimpin The Dragon Black itu hanya akan menemukan abu.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭