Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Dingin Lagi 32.
Satu hal yang paling Langit benci di dunia ini adalah melihat Ulfa tersenyum. Bukan karena senyum itu jelek—demi Tuhan, senyum Ulfa itu candu—tapi karena senyum itu tidak ditujukan untuknya.
Menjelang maghrib selepas acara festival sekolah, Langit melihat lewat balik kaca buram ruang OSIS. Di dalam sana, Ulfa—istri rahasianya sekaligus Ketua OSIS kebanggaan SMA Bhineka—sedang tersenyum simpul. Di depannya, Elang, sang Wakil Ketua OSIS yang sok perhatian itu, sedang menyodorkan sebuah berkas sambil ikut terkekeh.
Dada Langit mendadak panas. Ada gemuruh aneh yang membakar egonya seketika. Langit merasa langit di luar sana pun ikut cemburu melihat binar di mata Ulfa yang bukan miliknya.
Tanpa ketuk pintu, Langit mendorong pintu OSIS dengan kasar. Brak!
Ulfa dan Elang terlonjak. Sebelum Elang sempat mengeluarkan kata-kata protes, Langit sudah mencengkeram pergelangan tangan Ulfa.
"Ikut gue," desis Langit dingin.
"Eh, Langit? Apa-apan sih! Lepasin! Gue mau pulang!" Ulfa memberontak, tapi cengkeraman Langit terlalu kokoh.
Langit tidak peduli. Dia menarik Ulfa membelah koridor yang mulai sepi menuju ke satu tempat yang paling jarang dilewati orang sore-sore begini. Ruang seni di ujung lantai tiga.
Begitu sampai di dalam, Langit menghempaskan pintu dan menguncinya dari dalam—setidaknya itu yang dia pikir dia lakukan pada selot pintunya, tanpa sadar bahwa kunci otomatis di bagian luar justru yang bermasalah. Dia berbalik, menatap Ulfa dengan napas memburu. ruang seni yang penuh kanvas kosong dan patung gips itu mendadak terasa menyempit oleh ketegangan mereka.
"Lo kesurupan ya, Lang?!" Ulfa menggosok pergelangan tangannya yang memerah. Matanya menyalang marah. "Gue ini Ketua OSIS, lo seenaknya narik gue di depan wakil gue! Mau ditaruh di mana muka gue?!"
"Muka lo? Terus muka gue lo taruh di mana, Ul?" Langit maju satu langkah, menatap Ulfa dengan pandangan mengintimidasi. "Lo senyum-senyum sama cowok lain di saat status lo itu istri gue. Lo pikir gue patung? Terus lu mau pulang bereng dia?"
Ulfa tertawa sinis, sebuah tawa hambar yang menyembunyikan rasa sakit di hatinya. "Istri? Oh, sekarang lo inget punya istri? Iya gue mau pulang bareng dia! Kemis kemarin ke mana aja waktu lo sibuk nganterin Zara pulang ke rumah? Lu ga inget tentang pipi lo?"
"Jangan bawa-bawa Zara! Ini urusan lo sama Elang!" Langit membentak, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu. Matanya beralih ke tangan Ulfa yang memegang sebuah kotak susu cokelat dan roti bantal rasa keju. Amarahnya makin menyala. "Dan apa itu? Lo bahkan nerima sogokan makanan murahan dari dia? Segitunya lo kelaparan sampai harus nerima pemberian si Elang?"
Ulfa mengerutkan kening, menatap susu kotak dan roti bantal di tangannya, lalu menatap Langit dengan tatapan tak percaya. "Gila ya lo. Ini dari Elang, maksud lo? Elang naruh ini di meja gue karena ada yang diam-diam naruh di atas meja pas gue tidur?! Dan lo bilang ini murahan?" Ulfa mengangkat susu cokelat itu ke depan muka Langit. "Ini susu kesukaan gue dari kecil, Lang! Dan roti bantal keju ini... ini merek yang selalu gue beli"
Langit tertegun. Lidahnya mendadak kelu. Susu dan roti itu...
"Lo mikir Elang yang ngasih?" Ulfa terkekeh perih, matanya mulai berkaca-kaca. "Elang itu bahkan nggak tahu soal susu dan roti ini, dan dia juga gak tahu kalau gue suka keju atau suka cokelat. Dia cuma nemu ini di meja kerja gue! Lo nuduh gue selingkuh cuma gara-gara makanan yang bahkan gue nggak tahu dari siapa?!"
Langit memalingkan wajah, menahan gejolak di dadanya. Sialan. Makanan itu memang bukan dari Elang. Makanan itu dari dia. Langit sendiri yang membelinya tadi pagi secara diam-diam, menaruhnya di meja kerja Ulfa dengan secarik memo tanpa nama karena dia tahu Ulfa sering melewatkan sarapan kalau sudah sibuk urusan OSIS. Dia cemburu pada hantu yang dia ciptakan sendiri. Dia cemburu pada kebaikan yang dia lakukan sendiri tapi salah sasaran dalam pikirannya yang kalut.
Namun, ego cowok itu terlalu tinggi untuk mengaku.
"Gue nggak peduli siapa yang ngasih!" Langit mengalihkan topik, suaranya naik satu oktav. "Yang gue tanya, kenapa lo harus seakrab itu sama Elang? Lo senyum-senyum seolah dunia cuma milik lo berdua! Gue ini suami lo, Ulfa! Meskipun pernikahan ini karena wasiat, meskipun kita backstreet di sekolah, gue punya hak atas lo!"
Ulfa melangkah maju, menantang tatapan Langit. Jarak mereka begitu dekat hingga Langit bisa mencium aroma vanila dari rambut Ulfa yang berantakan.
"Hak? Lo bicara soal hak?" Ulfa menunjuk dada Langit dengan jari telunjuknya, menekan kuat-kutan di sana. "Kalau lo punya hak atas gue, terus siapa yang punya hak atas Zara? Dia pacar lo, kan? Semua orang di sekolah ini tahu Langit itu punya Zara! Kalian pegangan tangan di koridor, lo beliin dia minum pas olahraga, lo selalu ada buat dia!"
Suara Ulfa bergetar, pertahanan yang dia bangun berbulan-bulan runtuh juga siang ini di ruang seni yang berdebu. "Gue diam, Lang. Gue diam waktu hati gue hancur liat lo dicium cewek lain di depan mata gue, sementara gue harus pura-pura nggak kenal lo. Gue profesional jadi Ketua OSIS, Elang itu partner kerja gue! Dia cuma bangunin gue, suruh gue pulang, Tapi lo? Lo bawa pacar lo masuk ke kehidupan kita, terus lo nuntut gue buat jaga jarak sama cowok lain?!"
"Zara itu beda, Ul! Dia pacar gue sebelum kita dijodohin!" balas Langit, membela diri mati-matian meski hatinya sendiri terasa teriris melihat air mata yang akhirnya lolos di pipi istrinya.
"Kalau gitu lepasin gue, Langit!" tangis Ulfa pecah. Roti dan susu di tangannya terjatuh ke lantai, menggelinding pasrah. "Lepasin gue kalau lo nggak bisa adil! Jangan kurung gue di aturan lo yang egois sementara lo bebas terbang sama cewek lain!"
Langit terdiam. Kata 'lepasin' itu mendadak menghantam jantungnya dengan telak. Ada rasa takut luar biasa yang menjalar di nadinya. Dia tidak ingin melepaskan Ulfa. Tidak akan pernah.
Di luar ruangan, langkah kaki berat seorang penjaga sekolah terdengar mendekat. Pak jono, si penjaga sekolah tua, berjalan sambil menenteng seikat kunci besar. Dia melihat pintu ruang seni yang tertutup rapat dari luar. Melalui celah kaca kecil yang tertutup tirai setengah, ruangan itu tampak gelap dan tidak ada suara
Karena sekarang Ulfa dan Langit mendadak membeku di dalam, saling menatap dengan napas tertahan mendengar suara langkah di luar.
Klek. Srek.
Pak Jono memutar kunci gembok luar, memasang slot pengaman tambahan yang biasa digunakan untuk mengunci ruangan mati saat jam pelajaran menjelang usai. Dia mengira ruangan itu kosong seperti biasanya.
Di dalam ruangan, Langit dan Ulfa tersentak. Langit langsung berbalik dan memutar kenop pintu dari dalam.
Clek. Clek.
Pintunya macet. Tidak bisa dibuka. Dikunci dari luar.
Langit menggedor pintu. "Pak! Pak Jono! Ada orang di dalam, Pak!"
Namun, suara langkah Pak Jono sudah menjauh, terendam oleh suara bel pergantian jam yang berdering nyaring di seluruh penjuru sekolah. Mereka terjebak. Berdua saja, di dalam ruang seni yang dingin, dengan sisa-sisa amarah dan perasaan yang hancur berantakan.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳