NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyesal Jadi Istri Sergio

Kamar utama mansion Ziegler terasa begitu sunyi, hanya ditemani oleh suara deru AC yang berputar pelan dan cahaya lampu tidur temaram yang sengaja diredupkan. Di atas ranjang berukuran king size itu, Serena Amaryllis berbaring lemah dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.

​Gadis itu masih mendapatkan perawatan intensif pasca kejadian mengerikan di hutan belakang malam itu. Demam tinggi menyerang tubuhnya tanpa ampun, efek dari syok psikologis yang teramat berat dan kedinginan ekstrem yang menderanya semalaman.

​Sergio Maximilian Ziegler duduk di tepi ranjang, menatap lekat-lekat ke arah istrinya. Pria berdarah dingin itu benar-benar tidak menyangka bahwa insiden kemarin akan membuat Serena benar-benar tumbang separah ini. Padahal, beberapa hari lalu setelah latihan menembak, gadis itu masih terlihat begitu cerewet, ceria, dan penuh semangat protes. Namun hari ini, sejak sadar dari pingsannya, Serena memilih bungkam seribu bahasa, menatap kosong ke dinding kamar dengan tatapan hampa, seolah jiwanya tertinggal di tempat terkutuk itu.

​Di tangan Sergio, sebuah mangkuk bubur hangat dan segelas air putih tersaji di atas nampan kecil. Pria itu menghela napas pendek, mencoba menahan rasa bersalah dan kekhawatiran yang berkecamuk di dadanya dengan memasang topeng datarnya.

​"Makan," ucap Sergio singkat, menyendok sedikit bubur lalu mengarahkannya ke depan bibir Serena.

​Serena perlahan memalingkan wajahnya ke samping, menolak suapan tersebut. Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, suaranya terdengar serak dan parau.

"Aku benar-benar tidak lapar, Max..."

​Sergio menyipitkan mata birunya, menatap tajam ke arah istrinya. "Kamu belum makan apa pun sejak kemarin malam, Serena. Jangan mulai membantahku saat kondisi badanmu sedang hancur seperti ini," ujar Sergio dengan nada dominan yang sarat akan penekanan mutlak.

​Serena kembali menoleh, menatap suaminya dengan mata sayu yang dipenuhi air mata dan kilatan ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.

"Aku bilang aku tidak lapar, Sergio! Bagaimana bisa aku memasukkan makanan ke dalam perutku kalau di dalam kepalaku ini masih tergambar jelas bagaimana rupanya... bagaimana aku melihat sosok manusia yang tergantung dengan tubuh yang membusuk itu?!" suara Serena meninggi, terdengar bergetar hebat penuh keputusasaan.

"Bahkan... bahkan rasanya aroma busuk itu masih menempel dan memenuhi rongga pernapasanku sampai detik ini!" isapnya, menutup wajah dengan kedua tangannya karena ngeri.

​Sergio meletakkan mangkuk bubur di atas nakas dengan gerakan kasar hingga bunyinya berdenting nyaring. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, mencengkeram kedua bahu Serena dengan lembut namun tegas agar istrinya itu mau menatap matanya.

​"Dengarkan aku, Serena," suara bariton Sergio terdengar berat, berusaha menenangkan badai di kepala istrinya.

"Kejadian itu sudah berlalu. Aku sudah memerintahkan anak buah untuk membersihkan area hutan itu dan memindahkan segalanya. Kamu aman sekarang. Jadi, buang jauh-jauh bayangan itu dari kepalamu."

​"Semudah itu kamu bilang semuanya sudah berlalu, Max?!" seru Serena histeris, air matanya tumpah semakin deras, menepis tangan Sergio dari bahunya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

"Kamu menganggapnya sepele karena kamu hidup di dunia ini! Kamu terbiasa melihat kematian, mayat, dan darah di mana-mana! Tapi aku tidak, Sergio! Aku dibesarkan di dunia yang normal!"

​Sergio tertegun sejenak, menatap lekat-lekat ke arah istrinya yang kini meluapkan segala emosi tertahannya.

​"Kamu pikir aku mau membawamu ke hutan itu untuk menyiksamu, hah?!" bentak Sergio tertahan, rahangnya mengeras.

"Aku melakukan itu semua agar kamu memiliki kemampuan untuk bertahan hidup! Di dunia yang kumiliki, musuh-musuhku tidak akan memandang apakah kamu wanita lemah atau bukan! Jika kamu tidak terbiasa melihat kekejaman, maka nyawamu sendiri yang akan melayang dalam sekejap!"

​"Kalau begitu, kenapa dari awal kamu menikahi ku?!" teriak Serena di sela-sela isak tangisnya, napasnya memburu sesak.

"Kenapa kamu tidak membiarkanku tetap hidup tenang bersama keluargaku di rumah, meskipun ayahku kasar dan ibu tiriku matre?! Setidaknya di sana aku tidak perlu melihat mayat membusuk tergantung di pohon setiap kali aku berjalan di hutan!"

​Mendengar penyebutan tentang keluarga Serena sorot mata Sergio mendadak berubah semakin tajam. Pria itu mendengus dingin.

​"Keluargamu tidak pernah peduli padamu, Serena!" cerca Sergio tanpa ampun, sengaja membuka luka lama untuk menyadarkan istrinya.

"Mereka bahkan menjualmu kepadaku tanpa ragu demi kepentingan bisnis dan uang! Jangan pernah sebut-sebut rumah itu lagi seolah-olah itu adalah tempat yang aman untukmu!"

​"Iya... kamu benar..." cicit Serena lirih dengan senyuman miris di bibirnya yang pucat, suaranya melemah drastis hingga hampir tak terdengar.

"Aku memang tidak punya siapa-siapa... Aku sebatang kara di dunia mafia ini... Menikah denganmu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, Sergio..."

​Deg!

​Jantung Sergio serasa dihantam palu mendengarnya. Kalimat terakhir yang keluar dari bibir Serena terasa begitu menyayat hati, memicu ego dan dominasi seorang Sergio Maximilian Ziegler yang tidak pernah terima ditolak atau diremehkan oleh siapapun terutama oleh istrinya sendiri.

​Tanpa aba-aba, Sergio langsung merangsek maju, mengurung tubuh lemah Serena di atas ranjang dengan kedua lengan kekarnya menopang di sisi kiri dan kanan tubuh gadis itu. Wajah tampannya berada tepat beberapa sentimeter di depan wajah Serena.

​"Katakan sekali lagi kalimat itu, Serena," bisik Sergio dengan suara bariton yang sangat rendah, dingin, dan mengancam, membuat bulu kuduk merinding.

"Katakan kalau menikah denganku adalah sebuah kesalahan, dan lihat apa yang akan kulakukan padamu sekarang."

​Serena mendongak, menatap mata biru terang suaminya yang menyala penuh amarah dan kepemilikan mutlak. Meskipun tubuhnya sedang demam dan lemas, keberanian kecil muncul di dadanya karena rasa frustrasi yang sudah memuncak.

​"Memang benar! Menikah dengan pemimpin mafia yang kejam sepertimu adalah kesalahan besar!" tantang Serena nekat, menatap lurus mata suaminya tanpa gentar meskipun air matanya terus menetes.

"Kamu egois, Sergio! Kamu memaksa duniamu masuk ke dalam hidupku! Kamu menyiksaku secara mental! Kalau aku tahu akhirnya akan jadi seperti ini, aku lebih baik mati di hutan malam itu daripada harus hidup di bawah tekananmu setiap hari!"

​Plak!

Sergio cengkeraman tangan Serena dan tiba-tiba merengkuh tengkuk Serena, lalu langsung membungkam bibir gadis itu dengan ciuman yang sarat akan amarah, dominasi, dan rasa frustrasi yang luar biasa.

​Ciuman itu sama sekali tidak lembut. Sergio melumat bibir Serena dengan penuh tuntutan, menyalurkan seluruh emosi, kemarahan, dan rasa tidak terima atas perkataan istrinya. Ia ingin menghapus kata-kata penyesalan itu dari benak Serena dengan cara yang paling mutlak.

​Serena sempat meronta-ronta lemah, memukul-mukul dada bidang suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki.

"Emmppthh...! Lepas... Se-hnnkh..." protesnya di sela ciuman, namun cengkeraman tangan Sergio di tengkuk dan pinggangnya terlalu kuat untuk dilawan.

​Lama-kelamaan, seiring dengan ciuman dalam yang terus dilayangkan Sergio untuk meredam tangisannya, tenaga Serena perlahan habis. Perlawanannya melemah. Isak tangis di tenggorokannya berubah menjadi desahan tertahan ketika kehangatan tubuh suaminya perlahan merayap masuk, mengikis rasa dingin dan takut yang sedari tadi membekukan jiwanya.

​Merasa perlawanan istrinya telah mereda sepenuhnya, Sergio perlahan melonggarkan ciumannya. Pria itu menarik wajahnya sedikit, membiarkan Serena mengambil napas dengan dada yang naik turun tak beraturan. Bibir gadis itu tampak merah bengkak dan basah.

​Sergio menatap lekat-lekat ke dalam mata cokelat Serena yang kini tampak sayu dan kehabisan tenaga. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Serena, membisikkan kalimat dengan suara rendah yang penuh otoritas mutlak.

​"Jangan pernah berani mengucapkan kata-kata ingin mati atau ingin pergi dariku lagi, Serena," bisik Sergio tajam namun sarat akan keperihan tersembunyi di dalamnya.

"Kamu sudah menjadi istriku, dan sampai kapan pun, hidupmu adalah milikku. Di dunia ini, tidak ada tempat bagimu untuk lari dariku."

​Serena terpejam sejenak, air matanya kembali menetes di atas bantal. Ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk mendebat atau membantah ucapan suaminya. Tubuhnya yang lemas akibat demam tinggi akhirnya menyerah pada keadaan.

​Melihat mata Serena yang perlahan-lahan mulai tertutup rapat karena kelelahan luar biasa, Sergio menghela napas panjang. Pria itu merapikan selimut istrinya, lalu dengan gerakan lembut yang kontras dengan sikap kasarnya tadi, ia mengecup kening Serena yang masih terasa panas oleh demam.

​"Istirahatlah... Aku ada di sini," bisik Sergio pelan, menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya di atas ranjang, menemani malam panjang itu dengan kesadaran penuh bahwa dunianya kini sepenuhnya terikat pada wanita rapuh namun keras kepala yang ada di dalam pelukannya.

Bersambung

1
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!