Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Maaf
Dalam hening malam yang dibungkus aroma sisa semprotan nyamuk, tatapan mata mereka terkunci beberapa detik lebih lama. Tatapan Sam merambat turun ke bibir Tia yang sedikit terbuka, dan untuk sesaat, jarak belasan sentimeter itu terasa mengikis tajam. Namun sebelum ketegangan manis itu berubah menjadi sesuatu yang lebih jauh, Tia berdehem canggung, memalingkan wajahnya yang mendadak panas.
"M-Mas Sam... aku tidur duluan ya," bisik Tia gagap, berdiri terburu-buru dan hampir tersandung ujung karpet sebelum melesat masuk ke kamar.
Sam ditinggalkan sendirian di ruang tamu. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang, menatap pintu kamar yang tertutup rapat dengan senyuman tipis yang tak bisa dibendung.
Hari-hari berikutnya berlalu dalam irama hidup yang makin gila dan padat bagi Samsudin. Di bawah bimbingan telaten Hendra di dalam ruang kerja rahasia rumah sakit, Sam terbukti sebagai pembelajar yang luar biasa cepat. Naluri bertahannya di kandang buaya ternyata bertransfomasi menjadi ketajaman intuisi dalam membaca strategi bisnis. Dari membaca laporan arus kas, menganalisis saham properti, hingga mengeksekusi keputusan investasi, Sam mulai menguasai seluk-beluk Norman Corp.
Pagi itu, Sam akhirnya menyerahkan surat pengunduran dirinya di kantor Kebun Binatang Kota. Kawan-kawannya, Mamat, Bowo, dan Pak Budi, sempat heboh dan meledeknya habis-habisan, menuduh Sam hendak menjadi "suami penuh waktu" bagi Mbak-Mbak kantoran. Sam hanya tertawa lepas, memeluk ketiga temannya satu per satu, dan mengusap dagu Si Bejo untuk terakhir kalinya sebagai pawang resmi.
Namun, di balik lompatan besar dalam kariernya, kondisi kesehatan Papa Norman justru merosot tajam. Kanker paru-paru stadium akhir itu menggerogoti tubuh sang konglomerat tanpa ampun. Tim dokter terbaik yang didatangkan Hendra menggelengkan kepala, waktu Norman tinggal menghitung hari.
Menyadari ajalnya kian dekat, Norman memohon untuk dipindahkan dari ruang ICU ke kamar perawatan VIP biasa. Pria tua itu ingin menghabiskan sisa napasnya bukan dengan bising alarm mesin medis, melainkan dengan berbincang bersama putra tunggalnya.
Sam menyetujuinya. Saban siang hingga sore, di sela-sela mengurus dokumen perusahaan, Sam duduk setia di samping ranjang Norman.
"Din..." suara Norman terdengar sangat parau, tertahan masker oksigen. Jemari prianya yang kurus dan penuh memar bekas infus gemetaran meraih tangan Sam. "Papa... Papa minta maaf ya nak... Untuk sepuluh tahun yang terbuang, untuk air mata ibumu, untuk masa kecilmu yang keras..."
Sam menatap wajah ayahnya yang makin tirus. Dinding dendam di hatinya kini sudah runtuh sepenuhnya, berganti dengan rasa iba yang mendalam.
"Sudah, Pa. Jangan dibahas lagi," bisik Sam lembut, membalas genggaman tangan Norman. "Sam sudah memaafkan Papa. Papa fokus saja tenang ya."
Setetes air mata membasahi sudut mata Norman yang keriput. "Din... sebelum Papa tutup mata... apakah Papa... apakah Papa boleh bertemu dengan ibumu dan adik-adikmu? Papa cuma ingin berlutut... minta maaf langsung..."
Kalimat itu membuat Sam seketika bungkam. Bibirnya terkunci kaku.
Sam tahu betul karakter ibunya di kampung. Bagi ibunya, nama Norman adalah luka bernanah yang tak boleh disentuh. Ibunya sudah menganggap Norman mati sejak sepuluh tahun lalu, dan kini ibunya sangat mencintai serta setia mendampingi ayah tirinya yang sederhana. Mengajak ibunya bertemu Norman bukanlah hal yang mudah, bahkan bisa memicu luka lama yang sudah mengering.
"Sam...usahakan ya, Pa," sahut Sam pelan, tak tega memutus harapan terakhir pria tua yang sedang bertaruh nyawa itu. "Nanti Sam coba bicara baik-baik."
Sementara Sam sibuk bergulat dengan transisi bisnis dan penderitaan ayahnya di rumah sakit, kondisi Tia justru berada di titik terendah.
Setiap pagi, Tia tetap berpura-pura rapi mengenakan pakaian kantor lengkap dengan blazer dan sepatu hak tinggi. Ia pamit pada Sam dengan senyum ceria yang dipaksakan, pura-pura berangkat kerja. Padahal, begitu keluar dari gang kontrakan, Tia melangkah lunglai menuju kedai kopi murah atau perpustakaan daerah.
Di sana, seharian penuh Tia menatap layar laptopnya sampai matanya memerah. Ia mengirimkan puluhan lembar riwayat hidup (CV) setiap hari ke berbagai perusahaan, namun hasilnya nihil. Dari ratusan lamaran yang ia sebar, tidak ada satu pun panggilan wawancara yang mampir.
Statusnya sebagai staf admin senior berusia 35 tahun ternyata menjadi tembok tebal di mata para perekrut kerja yang lebih menyukai tenaga kerja muda dengan gaji rendah.
"Tuhan... aku harus gimana..." kata Tia sendirian di sudut kedai kopi yang bising.
Tia menelungkupkan wajahnya di atas meja kayu. Air matanya menetes pelan membasahi lembaran draf anggaran bulanan.
Beban hidupnya makin melilit leher:
Tabungan dan uang pesangon minimnya mulai terkikis untuk biaya makan sehari-hari.
Tanggal lima bulan depan sudah makin dekat, jatuh tempo cicilan paylater dan pinjaman online lima juta rupiah yang ia gunakan untuk modal nikah sewaan.
Dan yang paling menghimpit dadanya: tagihan cicilan "suami kredit" sebesar lima ratus ribu rupiah kepada Samsudin!
"Gimana aku bisa bayar Mas Sam lima ratus ribu..." tangis Tia pecah tanpa suara. "Kalau Mas Sam tahu aku nganggur dan tidak sanggup bayar, dia pasti mikir aku penipu... Dia pasti bakal pergi..."
Rasa takut kehilangan Samsudin mendadak terasa seribu kali lebih menyakitkan daripada rasa takut ditagih utang pinjol. Dalam beberapa minggu terakhir, keberadaan sosok pria tegap itu di rumahnya, yang selalu menyambutnya dengan senyuman hangat, yang selalu memasakkan teh manis, dan yang pasang badan mengusir kecoak terbang, telah menjadi poros kedamaian baru dalam hidup Tia.
Sore harinya, Tia berjalan gontai pulang menuju kontrakan. Ia berusaha mengusap bekas air mata di pipinya dan memoles ulang lipstiknya yang luntur. Di depan pintu rumah, Tia menarik napas panjang, memasang kembali "topeng wanita karier sukses"-nya, lalu mengetuk pintu.
Pintu terbuka. Samsudin berdiri di sana, mengenakan kaus santai dan menyambutnya dengan senyuman paling hangat yang sanggup meluruhkan seluruh rasa lelah Tia.
"Selamat sore, Mbak Tia," sapa Sam ramah, menyambar tas kantor Tia dengan gerakan lembut khas seorang suami yang perhatian. "Gimana pekerjaan di kantor hari ini? Lancar?"
Mendengar pertanyaan polos itu, dada Tia serasa dihantam batu besar. Rasanya ia ingin menangis dan bersandar di dada bidang Sam saat itu juga, menceritakan bahwa ia baru saja di-PHK dan terancam gulung tikar. Namun, gengsi dan ketakutan akan ditinggalkan membuat Tia menelan bulat-bulat kebenarannya.
"L-lancar kok, Mas Sam!" jawab Tia dengan senyum lebar yang dipaksakan, meski matanya tak bisa menutupi binar lelah yang teramat sangat. "Biasa... tumpukan berkas kantor banyak banget sampai kepalaku pusing."
Sam memperhatikan raut wajah Tia yang makin tirus dan lingkaran hitam di bawah matanya. Naluri pelindungnya bergetar. Sam tahu betul Tia sedang berbohong, tetapi ia memilih pura-pura percaya demi menjaga perasaan istrinya.
"Ya sudah, Mbak Tia mandi terus istirahat ya," ujar Sam lembut, mengusap pelan puncak kepala Tia, sebuah sentuhan spontan yang membuat jantung Tia berdesir hangat. "Aku sudah buatkan teh hangat manis di meja."
Tia menatap Sam dengan pandangan berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan. Di dalam hatinya, Tia bersumpah akan melakukan apa saja, mencari pekerjaan sampingan apa pun, menguras sisa barangnya, asal bisa melunasi cicilan lima ratus ribu per bulan agar Samsudin tetap berada di sisinya.
Sementara di sisi lain ruangan, Samsudin menatap Punggung Tia yang berjalan masuk ke kamar. Di dalam sakunya, ponsel Sam bergetar menampilkan pesan dari Hendra: [Laporan Keuangan Perusahaan & Pelunasan Anonim Utang Mbak Tia Sudah Siap, Mas Sam].
..._____...
*Guys, kalau mau cepat updatenya. Komen yang banyak ya. Kalau gak ada komen, mungkin 1 chapter perhari aja.
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran