Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma opor
Dapur berukuran luas dengan interior modern itu dipenuhi uap gurih opor ayam yang mengepul dari panci besar. Sejak pukul empat pagi, ketika langit di luar jendela masih pekat dan dingin kota belum pudar, Maya sudah bergelut di depan kompor.
Tangannya memotong bumbu, mengulek rempah, dan memastikan tidak ada satu pun hidangan yang terlewat untuk acara syukuran keluarga siang nanti.
Maya menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju. Tubuhnya lelah, tapi bibirnya mengukir senyum tipis. Tiga tahun lalu, saat dia diboyong dari desanya yang tenang ke rumah megah ini, Maya berjanji pada dirinya sendiri: dia akan menjadi menantu yang berbakti. Dia percaya, ketulusan dan kerja keras seorang gadis desa pasti bisa meluluhkan hati keluarga suaminya.
Langkah kaki ber-hak tinggi yang beradu dengan lantai granit memecah keheningan dapur. Bu Rika, ibu mertuanya, masuk dengan pakaian rapi dan perhiasan emas yang berkilau di pergelangan tangan.
"Maya! Opornya sudah matang belum?" suara Bu Rika terdengar melengking, tanpa ada nada ramah sedikit pun.
"Sudah, Bu. Tinggal diangkat," jawab Maya lembut sambil mengaduk kuah santan untuk terakhir kali. "Sambal goreng ati sama kerupuknya juga sudah siap di meja."
Bu Rika mendekati panci, mengambil sendok, dan mencicipi kuah opor tersebut. Dahinya seketika berkerut dalam. Dengan gerakan kasar, dia melempar sendok itu kembali ke atas meja hingga menimbulkan bunyi berdenting yang keras.
"Hambar! Kurang gurih!" cetus Bu Rika tajam. "Kamu ini sudah tiga tahun tinggal di kota, tapi lidah dan cara masakmu masih saja seperti orang kampung! Kalau tidak bisa masak enak, minimal rasanya sesuai standar keluarga ini!"
Dada Maya berdesir perih. Padahal rasanya sudah dia sesuaikan dengan takaran yang biasa. "Maaf, Bu... nanti Maya tambahkan sedikit bumbu lagi."
"Sudah, tidak usah! Nanti malah makin merusak rasa," potong Bu Rika cepat. Matanya menatap Maya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Ingat ya, hari ini Santi mau datang. Santi itu orang kaya, lidahnya terbiasa makan di restoran mahal. Jangan bikin malu Ibu di depan mereka!"
Santi adalah menantu kesayangan Bu Rika istri dari anak sulungnya. Berasal dari keluarga berada di pusat kota, Santi selalu disambut bagai ratu setiap kali berkunjung. Apapun yang dikatakan Santi selalu benar, dan apapun yang dibawakan Santi selalu dipuji setinggi langit. Sangat berbeda dengan Maya, yang setiap usahanya hanya dipandang sebelah mata.
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Suara tawa renyah memecah suasana rumah.
"Ibu! Santi datang!" seru sebuah suara yang sangat dihafal Maya.
Raut wajah Bu Rika yang tadinya keruh seketika berubah cerah benderang. Seperti ada saklar yang ditekan, senyum hangat langsung terukir di wajah wanita paruh baya itu. Tanpa memedulikan Maya yang masih berdiri di depan kompor, Bu Rika setengah berlari menuju ruang tamu.
"Santi... ayo masuk, Sayang! Duh, kangen sekali Ibu sama kamu," sambut Bu Rika manis, suaranya dipenuhi nada manja yang tak pernah sekalipun didengar oleh Maya.
Maya melangkah pelan keluar dari dapur, menyeka tangannya pada celemek. Di ruang tamu, Santi tampak anggun dengan gaun bermerek dan tas kulit mahal. Di sampingnya, suaminya membawa beberapa kantong belanjaan.
"Ini Santi bawakan bolu kemasan dari toko yang lagi hits di pusat kota, Bu. Antrenya panjang banget," kata Santi sambil menyerahkan kotak hadiah ber pita emas.
"Ya ampun, Santi... kamu repot-repot sekali. Pembawaanmu itu lho, selalu tahu cara menyenangkan hati Ibu," puji Bu Rika semringah, mencium kedua pipi menantu kesayangannya itu.
Pada saat yang sama, Arya suami Maya baru saja turun dari lantai dua setelah selesai bersiap-siap. Mata Arya sempat bertemu dengan mata Maya yang tampak lelah. Ada rasa kasihan di matanya, tetapi Arya hanya diam dan memilih berjalan mendekati ibunya.
"Eh, Arya. Lihat ini, Mbakmu bawa oleh-oleh mahal," ujar Bu Rika pada anak tengahnya.
Maya mencoba mendekati mereka, berusaha bersikap sopan sebagai tuan rumah. "Mbak Santi, Mas... mau diminumkan apa? Biar Maya buatkan."
Santi menoleh sebentar, melirik Maya dengan senyum tipis yang terkesan formal. "Apa saja, May. Teh hangat boleh."
Belum sempat Maya melangkah ke dapur, Bu Rika sudah menyela dengan nada dingin. "Maya, sekalian potongin kue yang dibawakan Santi. Terus itu, baju-baju kotor di kamar mandi atas tolong sekalian kamu cuci. Mumpung Santi ada di sini, Ibu mau ngobrol santai sama dia."
Maya terpaku di tempatnya. Mencuci baju? Di saat semua orang duduk dan mengobrol di ruang tamu?
Dia menatap Arya, berharap suaminya akan bersuara sekadar mengatakan bahwa Maya sudah bekerja keras sejak subuh memersiapkan makan siang. Namun, Arya hanya menunduk, pura-pura sibuk memeriksa ponselnya. Tidak ada pembelaan. Tidak ada kata-kata manis seperti yang didapatkan Santi.
Di balik senyum tipis yang dipaksakan, Maya mengangguk pelan. "Baik, Bu."
Saat membalikkan badan menuju dapur, satu tetes air mata jatuh di pipi Maya tanpa sanggup dia tahan. Tiga tahun dia bertahan dalam rumah ini, menelan tiap cemoohan, menjadi pelayan tanpa gaji demi menjaga nama baik rumah tangga dan rasa hormat pada suami.
Namun hari ini, di balik aroma opor yang memenuhi rumah, Maya mulai bertanya-tanya pada hatinya sendiri: Sampai kapan kesabaran ini harus membunuh diriku sendiri secara perlahan?