Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Seminggu telah berlalu sejak tragedi gempa bumi yang mengguncang SMA Nusa Bangsa. Luka fisik yang memar dan remuk pada tubuh kedua siswi itu perlahan membaik, meski goresan takdir yang tertukar kini resmi dimulai di dunia nyata. Pagi itu, gerbang sekolah kembali dibuka lebar. Namun, atmosfer di koridor utama mendadak terasa begitu berbeda sebuah pergeseran realita yang membuat seluruh penghuni sekolah terperangah.
Dari arah gerbang utama, raga Lexa melangkah masuk. Namun, pemandangan yang tersaji benar-benar merusak ekspektasi semua orang. Sang ratu sekolah yang biasanya tampil mencolok dengan seragam yang dipotong sangat pas di badan, riasan wajah tebal, perhiasan emas yang gemerlap, serta aroma parfum mahal yang menusuk hidung, kini hadir dalam bentuk yang sangat bersahaja.
Maya yang berada di dalam raga Lexa tampil benar-benar seadanya. Wajah cantiknya bersih tanpa polesan makeup sedikit pun, rambut panjangnya diikat rapi ke belakang dengan karet rambut sederhana, dan seragam sekolahnya dipakai secara rapi serta sopan sesuai aturan standar. Tidak ada gelang mewah, tidak ada sepatu hak tinggi, dan tidak ada tas desainer berharga puluhan juta. Ia berjalan dengan gestur tubuh yang tenang, menunduk santun saat berpapasan dengan guru, serta menyunggingkan senyum tipis yang sejuk dipandang kepada siswa-siswa yang dilaluinya.
Siswa-siswa yang berdiri di sepanjang koridor seketika membisu, saling sikut dan berbisik-bisik penuh keheranan.
"Eh, itu beneran si Lexa?!" bisik seorang siswi kelas sebelas dengan mata membelalak tak percaya. "Kok beda banget? Mana riasan mencoloknya? Mana perhiasannya?"
"Iya, aneh banget! Gaya jalannya juga beda, nggak angkuh kayak biasanya. Muka dia polos begitu malah kelihatan cantik alami dan anggun banget," timpal temannya yang lain dengan raut terpukau.
Sementara itu, beberapa meter di belakangnya, sebuah penderitaan batin yang amat dalam sedang dirasakan oleh jiwa Lexa yang kini terperangkap di dalam raga Maya.
Pagi tadi di rumah papan kusam milik ibu penjual sayur, Lexa hampir saja meledakkan histerianya saat berdiri di depan cermin retak. Ia menatap jijik pada seragam sekolah kusam milik Maya yang warnanya sudah memudar dan sedikit kekuningan. Baju itu baunya khas sabun cuci murah. Tidak ada riasan mahal, tidak ada cat kuku bermerek, tidak ada catokan rambut, dan tentu saja tidak ada mobil jemputan pribadi.
Awalnya, Lexa menolak keras untuk memakai pakaian lusuh tersebut. Ia menangis dan membuang seragam itu ke lantai. Namun, ibu Maya dengan sabar merapikan kembali baju tersebut dan mengingatkannya bahwa jika ia tidak sekolah, beasiswa dan piala yang baru saja diraihnya bisa bermasalah. Tanpa pilihan lain, dengan amarah dan rasa gengsi yang terkoyak-koyak, Lexa terpaksa membungkus tubuhnya dengan pakaian kusam itu dan berjalan kaki menembus debu jalanan menuju sekolah.
Kini, melangkah di koridor sekolah sebagai "Maya si anak penjual sayur", Lexa merasakan penderitaan yang tak pernah ia bayangkan. Ia harus berjalan kaki, membawa tas kain berat, dan merasakan tatapan iba atau cibiran halus dari siswa lain. Rasa iri dan dengki membakar dadanya saat melihat raganya sendiri yang kini dihuni Maya ditatap dengan penuh rasa kagum oleh orang-orang.
"Kurang ajar! Harusnya gue yang ada di raga itu! Kenapa si anak penjual sayur kotor itu malah kelihatan anggun pakai raga gue, sementara gue harus menderita pakai baju sampah ini?!"
geram Lexa di dalam hatinya, meremas tali tas kainnya dengan jemari yang gemetar oleh amarah.
Kehebohan di koridor makin memuncak saat kabar perubahan sikap Lexa menyebar cepat. Siswa-siswa sibuk mengamati gerak-gerik sang ratu sekolah yang baru pulih dari musibah tersebut.
Di depan mading sekolah, seorang siswa laki-laki dari pengurus OSIS memberanikan diri mendekati Maya yang sedang merapikan tali tasnya. Siswa itu tampak agak ragu dan canggung, mengingat reputasi Lexa yang dulu sangat galak dan suka membentak siapa saja yang mengajaknya bicara tanpa alasan penting.
"Emm... Lexa?" sapa siswa itu hati-hati.
Maya menghentikan gerakannya, memutar tubuhnya perlahan, lalu menatap siswa itu dengan binar mata yang jernih dan tenang. "Iya? Ada apa?" jawab Maya dengan nada suara yang begitu halus, lembut, dan sangat sopan.
Siswa OSIS itu sempat tersentak kaget mendengar kelembutan nada suara yang tak pernah keluar dari bibir sang ratu sekolah sebelumnya. Ia menelan ludah, lalu memberanikan diri bertanya, "Gue... gue cuma mau nanya keadaan lu. Kata orang-orang lu sempat kritis tertimpa lemari pas gempa kemarin. Lu... lu udah nggak apa-apa? Ada yang sakit?"
Siswa-siswa di sekitar mading seketika menahan napas, bersiap-siap jika Lexa akan menyemprot siswa OSIS itu dengan kalimat pedas seperti "Bukan urusan lu!" atau "Ngapain lu kepo?!".
Namun, reaksi yang keluar dari raga Lexa justru membuat semua orang di lorong itu melongo tak percaya.
Maya menyunggingkan senyum tulus yang begitu hangat sebuah senyuman yang memancarkan ketenangan jiwa yang belum pernah terlihat di wajah cantik itu. Tidak ada raut keangkuhan, tidak ada nada diskriminasi, dan tidak ada pandangan merendahkan sedikit pun.
"Terima kasih banyak ya sudah menanyakan keadaan aku," jawab Lexa dengan tulus, menatap lurus mata siswa itu tanpa rasa sombong. " aku sudah jauh lebih baik. Cuma masih sedikit lemas saja, tapi sudah bisa ikut belajar lagi kok. Terima kasih ya atas kepeduliannya."
Suara tenang dan penuh kesopanan itu menggema pelan di koridor yang mendadak hening.
Siswa OSIS itu membeku di tempatnya, matanya berkedip berulang kali seolah sedang bermimpi. Siswa-siswa lain di sekeliling mereka terperanjat shock, saling pandang dengan mulut ternganga kecil. Perubahan 180 derajat ini benar-benar tidak masuk akal bagi mereka. Ratu sekolah yang dulu dikenal angkuh, kejam, dan suka merendahkan siswa lain berdasarkan status sosial, kini berubah menjadi sosok yang begitu hangat, bersahaja, dan rendah hati.
Di sudut lorong yang jauh, Lexa yang menyaksikan interaksi itu dari dalam raga Maya mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Airmata kekalahan dan kepahitan menetes di pipi kusamnya. Ia menyaksikan bagaimana sosok dirinya yang baru ini mulai dicintai dan dihormati oleh semua orang bukan karena uang papanya, melainkan karena kebaikan jiwa Maya.Sementara dirinya sendiri, kini harus melangkah menuju kelas dengan pakaian lusuh, menanggung beban karma dan menyadari bahwa takdir telah membalikkan kehidupan mereka secara mutlak.