NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

#Keriuhan Altar dan Teduhnya Serambi Ta'aruf

Dentuman musik jazz yang mengalun dari live band berpadu harmonis dengan suara tawa dan denting gelas kristal. Malam ini, pelataran taman terbuka sebuah hotel bintang lima di pusat ibu kota telah disulap menjadi taman peri. Ribuan lampu fairy lights menggantung di dahan-dahan pohon ek raksasa, menerangi hamparan mawar putih dan peony yang menjadi dekorasi utama.

Di tengah lantai dansa, di bawah sorot lampu temaram, Karin dan Andrew tengah berdansa.

Karin, yang biasanya tampil pecicilan dengan gaya tomboy, malam ini menjelma menjadi seorang ratu. Balutan gaun pengantin A-line berwarna champagne dengan detail lace yang rumit menyapu rerumputan. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang merona bahagia.

Di hadapannya, Andrew—sang playboy sekolah yang dulu tak pernah serius—kini menatap Karin dengan sorot pemujaan yang tak bisa disembunyikan. Balutan tuksedo hitam pekat membuatnya terlihat jauh lebih berwibawa, meski senyum tengil itu masih bertengger di bibirnya.

"Masih nggak nyangka gue, Yang," bisik Andrew, menarik pinggang Karin sedikit lebih rapat. "Dari teman berantem di kantin, sekarang lo resmi jadi Nyonya Andrew. Sumpah, ini kayak plot twist sinetron azab yang happy ending."

Karin mendengus geli, memukul pelan dada bidang suaminya. "Sembarangan lo nyamain kisah cinta kita sama sinetron azab! Awas aja ya, kalau habis nikah kelakuan petakilan lo kumat, gue kunciin lo di luar rumah!"

"Ampun, Bu Bos. Hati gue udah lo gembok duluan, kuncinya udah gue buang ke laut," kekeh Andrew, sebelum akhirnya mendaratkan kecupan lembut di kening Karin, memicu riuh tepuk tangan dari para tamu.

Di sudut ruangan yang tak terlalu jauh dari lantai dansa, Nadiva berdiri bersandar nyaman di dada bidang suaminya. Lengan kokoh Dereen melingkar posesif di pinggangnya. Nadiva tersenyum lebar melihat kedua sahabatnya itu akhirnya berlabuh di dermaga yang sama.

"Dunia beneran udah gila," gumam Dereen dengan nada baritonnya yang berat, dagunya bersandar manja di puncak kepala Nadiva yang berbalut pashmina satin. "Andrew yang otaknya setengah matang itu akhirnya bisa commit seumur hidup. Gue harus ngasih dia bonus saham lebih bulan ini sebagai kado pernikahan."

Nadiva terkekeh pelan, mengusap rahang tegas suaminya dengan ujung jari. "Itu namanya the power of love, Kak. Dulu kan Kakak juga sama gilanya. Tukang bully, bos tirani, tukang maksa... eh, sekarang malah jadi suami yang kalau malam minta disuapin makan."

Dereen mendengus pelan, menundukkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Mata kelamnya berkilat jahil. "Gue cuma manja ke istri gue sendiri. Lagian, mantan babu gue ini ternyata seribu kali lebih manis kalau udah jadi istri." Pria itu mengecup pipi chubby Nadiva kilat, tak peduli meski mereka sedang berada di tengah pesta.

Nadiva merona hebat, buru-buru mencubit perut suaminya. "Malu dilihat orang, ih!"

Dereen hanya tertawa renyah, merengkuh istrinya semakin erat. Keduanya kembali menatap ke arah lantai dansa. Dalam keramaian yang membahagiakan itu, Nadiva tiba-tiba merasakan sedikit kehampaan. Matanya menyapu meja bundar VIP tempat teman-teman SMA mereka berkumpul, menyadari ada satu kursi yang kosong.

Semoga Kak Mex juga segera nemuin kebahagiaannya, batin Nadiva tulus, mengirimkan sebuah doa yang mengudara menembus gemerlap malam ibu kota.

Ratusan kilometer dari ingar-bingar Jakarta, sebuah ketenangan yang tak terlukiskan tengah menyelimuti kawasan Wonosobo, Jawa Tengah.

Udara dingin pegunungan khas daerah itu berembus masuk melalui kisi-kisi jendela kayu berukir kaligrafi. Di dalam ndalem—kediaman utama pengasuh pesantren yang asri dan sejuk—aroma teh melati yang baru diseduh menguar, memberikan sensasi hangat yang menenangkan dada.

Mex duduk bersila di atas karpet permadani merah kecokelatan. Pria kalem itu mengenakan kemeja koko putih lengan panjang yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana bahan hitam dan sebuah peci menutupi rambut hitamnya yang sedikit memanjang. Wajahnya terlihat jauh lebih bercahaya, memancarkan wibawa dan kedamaian seorang pria yang telah berdamai dengan masa lalunya.

Di hadapannya, duduk Kiai Hasyim, sang pengasuh pesantren tempat Mex menimba ilmu selama beberapa tahun terakhir. Pria sepuh berwajah teduh itu menyesap tehnya perlahan, lalu menatap Mex dengan senyum bijaksana.

"Nak Mex," panggil Kiai Hasyim dengan suara seraknya yang khas. "Abah sudah melihat ketekunanmu, akhlakmu, dan caramu mencari rida Allah sejak hari pertama kamu menginjakkan kaki di pesantren ini. Masa lalumu adalah milikmu, tapi masa depanmu... Abah yakin, terang benderang."

Mex menundukkan pandangannya dengan takzim. "Alhamdulillah, Abah. Semua ini karena bimbingan Abah dan kehendak Allah yang menuntun saya ke jalan ini."

"Maka dari itu," Kiai Hasyim meletakkan cangkirnya, pandangannya beralih pada sebuah tabir kayu berukir yang membelah ruangan itu menjadi dua bagian. "Abah percaya untuk mempertemukanmu dengan putri Abah."

Jantung Mex berdegup sedikit lebih cepat, namun anehnya, tak ada rasa sesak atau keputusasaan seperti yang ia rasakan bertahun-tahun silam saat mencintai dalam diam. Degup ini berbeda. Ini adalah getaran fitrah, sebuah ketegangan manis yang diliputi rasa harap dan rida Tuhan.

Di balik tabir kayu itu, duduk Ning Zahra—putri bungsu Kiai Hasyim. Siluetnya tak terlihat jelas, hanya terdengar suara gemerisik halus dari kain gamisnya saat wanita itu bergerak pelan.

"Assalamualaikum, Mas Mex," sapa sebuah suara dari balik tabir. Suaranya mengalun sangat lembut, jernih, dan menenangkan, persis seperti semilir angin pegunungan Wonosobo di luar sana.

"Wa'alaikumsalam warahmatullah, Ning Zahra," balas Mex dengan suara baritonnya yang tenang.

Keheningan yang syahdu sempat menjeda percakapan mereka, hanya diisi oleh suara jangkrik dari halaman pesantren. Ini adalah momen ta'aruf mereka yang pertama, di bawah pengawasan langsung sang ayah.

"Saya sudah membaca profil yang Mas Mex berikan," ucap Zahra, nada suaranya terdengar hati-hati namun cerdas. "Mas Mex menulis bahwa Mas adalah seorang mualaf, dan pernah memiliki luka di masa lalu sebelum menemukan Islam. Boleh saya tahu, apa yang Mas Mex cari dalam sebuah pernikahan saat ini?"

Pertanyaan itu menukik langsung pada inti. Tidak ada basa-basi.

Mex menarik napas panjang. Matanya menerawang sejenak, mengingat kembali masa-masa remajanya yang penuh pencarian. Masa di mana ia berlindung di balik kalung salib peraknya, mencintai Nadiva dalam kesunyian, dan akhirnya merelakan gadis itu demi kebahagiaan sahabatnya sendiri. Luka itu sudah lama mengering, bahkan tak meninggalkan bekas sedikit pun, tergantikan oleh hidayah yang tak ternilai harganya.

"Saya pernah mencari rumah pada manusia, Ning," jawab Mex jujur, suaranya mantap dan penuh kepastian. "Dan saat itu saya sadar, manusia terlalu rapuh untuk dijadikan tempat bersandar. Hidayah Allah datang menyelamatkan saya dari kekosongan itu."

Mex membenarkan letak duduknya, menatap ke arah tabir dengan keikhlasan yang murni. "Saat ini, yang saya cari dalam pernikahan bukanlah seseorang untuk menyembuhkan luka, karena saya sudah utuh. Yang saya cari adalah seorang teman perjalanan. Seseorang yang bersedia saya gandeng tangannya untuk sama-sama berjalan mencari rida Allah, saling mengingatkan saat iman sedang turun, dan bersama-sama membangun surga sebelum surga yang sesungguhnya."

Di balik tabir, Zahra menundukkan wajahnya. Tangannya yang bertumpu di atas pangkuan sedikit bergetar. Jawaban pria di seberang tabir itu tak hanya menyentuh akalnya, tapi juga menggetarkan hatinya. Ada ketulusan luar biasa dari setiap kata yang diucapkan Mex.

Kiai Hasyim yang duduk mengamati interaksi itu tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Ia tahu, ia tak salah memilihkan calon pendamping untuk putrinya.

"Jika Allah menakdirkan," suara Zahra kembali terdengar, kali ini sedikit lebih pelan dan merona, "apakah Mas Mex bersedia membimbing saya yang juga masih banyak kurangnya ini?"

Mex tersenyum. Sebuah senyum yang teramat lega, seolah sisa-sisa beban dari masa lalunya kini telah terangkat sepenuhnya. Angin malam Wonosobo kembali berembus masuk, membawa aroma kesejukan yang menandai lembaran baru.

"Insyaallah, Ning Zahra. Dengan segala kerendahan hati, saya bersedia."

Di dua tempat yang berbeda, di bawah langit yang sama, kelima anak manusia itu akhirnya menemukan pelabuhan mereka masing-masing. Badai masa muda, cinta yang bertepuk sebelah tangan, perbedaan kasta, dan persilangan keyakinan, telah usai. Semesta akhirnya berkonspirasi memeluk mereka dalam happy ending yang sudah tertulis indah di Lauhulmahfuz.

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!