Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Motor ojek online yang ditumpangi Nadia berhenti tepat di depan rumah ibunya. Nadia turun, menyerahkan helm, lalu melangkah masuk ke halaman rumah yang semula ia harapkan bisa menjadi tempat menenangkan diri.
Saat menginjakkan kaki di teras, langkah Nadia terhenti sejenak. Di sana, duduk seorang pria tegap berbalut seragam tentara. Pria itu adalah Tristan, kekasih dari adiknya, Vidya.
Mendengar langkah kaki mendekat, Tristan berdiri dan tersenyum sopan.
"Pagi, Mbak," sapa Tristan ramah.
Nadia berusaha mengulas senyum terbaiknya. "Pagi, Tristan. Udah pulang tugas kamu?"
"Udah, Mbak. Baru kemarin sore nyampe," jawab Tristan. "Ini mau jemput Vidya sekalian antar dia kerja ke rumah sakit."
Nadia mengangguk paham. "Oh, mau berangkat dinas... Vidya nya udah siap di dalam?"
"Lagi siap-siap, Mbak," jawab Tristan terkekeh pelan.
Nadia mengangguk singkat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Di area ruang makan, tampak Mayang. Sedang menikmati sarapan pagi bersama Vidya yang sudah rapi dengan seragam perawatnya.
Melihat kehadiran putri sulungnya, Mayang menghentikan suapannya dan menoleh heran. "Tumben datang pagi-pagi gini, Nad? Mantu Ibu mana? Kalian nggak datang bersama?"
Nadia berusaha menata raut wajahnya agar tampak tenang. "Nggak, Bu... Aku datang sendiri."
Vidya yang sedang mengoles selai ke rotinya ikut menoleh, menatap kakaknya heran. "Tumben amat datang jam segini, Kak?"
"Kakak mau ambil motor," jawab Nadia singkat.
Mendengar hal itu, nada suara Mayang langsung meninggi tak terima. "Mau ambil motor?! Buat apa lagi, Nadia? Kamu itu sudah nikah sama orang kaya, hidup sudah enak ada mobil dan sopir! Untuk apa lagi motor tua itu kamu ambil?!"
"Nadia butuh buat bolak-balik ke toko, Bu. Lagipula itu kan motor Nadia sendiri," jawab Nadia pelan.
"Tapi gengsi dong sama mertua dan suamimu!" cetus Mayang tak mau kalah, memotong kasar. "Punya suami pengusaha sukses, masa istrinya masih keluyuran naik motor matic tua? Nanti dikira Arvin nggak menafkahi kamu!"
Vidya yang sedang memegang roti meletakkan pisaunya dan menoleh dengan wajah tidak senang.
"Lagian Kak Nadia gimana sih? Kan kemarin aku udah bilang, motor itu rencananya mau tak jual!" potong Vidya dengan nada sewot.
"Uangnya mau buat aku tambah-tambah beli laptop baru buat kerjaan rumah sakit. Kak Nadia kan udah enak dinikahi orang kaya, masa motor tua gitu aja masih mau diambil lagi?"
Nadia membeku di tempatnya. Ia menatap ibu dan adiknya bergantian dengan dada yang semakin bergemuruh hebat. Di saat ia membutuhkan tempat bersandar dari luka yang diberikan Arvin, keluarga kandungnya sendiri justru hanya memandangnya sebagai ladang fasilitas.
"Tapi itu motor beli pakai uang Kakak sendiri, Vid..." lirih Nadia.
"Alah, perhitungan banget sama adik sendiri!" timpal Mayang.
"Suamimu itu uangnya nggak bakal habis tujuh turunan, Nadia! Kasihkan saja motor itu sama adikmu, jangan bikin malu keluarga gara-gara kamu pelit!"
Nadia tak menjawab sepatah kata pun. Lidahnya kelu untuk sekadar berdebat, sementara dadanya terasa teremas begitu sesak. Tanpa memedulikan tatapan menuntut dari ibu dan adiknya, ia membalikkan badan dan melangkah cepat menuju kamar lamanya.
Ia membuka laci meja kecil di sudut kamar, mengambil kunci motor matic miliknya, lalu segera berbalik keluar.
"Nadia! Mau ke mana kamu?!" teriak Mayang saat melihat Nadia berjalan tergesa menembus ruang makan menuju pintu depan.
"Nadia! Dengarin Ibu kalau diajak omong! Jangan kurang ajar kamu ya!"
Mayang terus memanggil-manggil nama putri sulungnya dengan nada melengking, namun Nadia melangkah makin lebar, mengabaikan panggilan itu sepenuhnya.
Saat melewati teras, Tristan sempat menatap Nadia bingung, namun Nadia hanya mengangguk singkat tanpa henti. Ia dengan cepat menghampiri motor tua miliknya yang terparkir di halaman, menyalakan mesinnya, dan langsung tancap gas meninggalkan pekarangan rumah.
......................
Arvin baru saja keluar dari ruang rapat. Bagas, berjalan tepat di sampingnya seraya memeriksa beberapa dokumen di tangannya.
"Vin, tadi papa kamu telepon ke HRD," ujar Bagas memberitahu. "Dia nyuruh kamu angkat teleponnya."
Arvin mendesah pelan, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Masalah di rumah belum selesai, dan kini sang ayah ikut menambah beban pikirannya.
Setibanya di ruang kerja, Arvin melangkah menuju meja kebesarannya dan mendudukkan diri. Ia mengambil ponsel di atas meja, lalu mendial nomor sang papa yang saat ini menetap di luar negeri.
Begitu panggilan terhubung, suara tegang Haris panggilan terhubung, suara tegang Haris langsung menyambar tanpa basa-basi dari balik telepon.
"Arvin! Mana yang lebih penting, pekerjaan kamu atau mengangkat telepon dari Papa?!" semprot Haris.
Arvin menghela napas panjang, bersandar di kursi kerjanya. "Aku baru selesai meeting, Pa. Ada apa?" jawabnya seadanya.
"Bagaimana keadaan cucu-cucu Papa? Damian, Jovan, sama Kenzo sehat?" tanya Haris, beralih menanyakan ketiga cucunya.
"Mereka sehat, Pa. Semuanya baik-baik saja," sahut Arvin singkat.
"Lalu bagaimana dengan menantu baru Papa? Nadia?" lanjut Haris. Suaranya terdengar sedikit melunak. "Kamu sudah sampaikan belum permintaan maaf Papa sama Mama karena tidak bisa datang waktu pernikahan kalian kemarin?"
"Sudah, Pa," bohong Arvin, padahal ia sama sekali belum pernah menyampaikan pesan itu.
"Bagus kalau begitu," balas Haris. "Papa sama Mama rencana pulang ke Indonesia. Besok kami sampai."
Arvin mendadak tersentak hingga menegakkan posisinya. "Besok, Pa? Kenapa mendadak sekali?"
"Mendadak bagaimana? Papa sama Mama kan memang mau melihat kehidupan kamu sama Nadia dan cucu-cucu Papa," tegas Haris dari seberang telepon.
"Siapkan rumah. Jangan sampai ada hal yang bikin Mama kamu kecewa."
"Tapi, Pa...."
"Tidak ada tapi-tapi. Papa tutup teleponnya, mau boarding dulu," potong Haris sepihak sebelum akhirnya menyudahi panggilan secara mendadak.
Tut... tut... tut...
Arvin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memijat keningnya yang mendadak makin pening. Hubungannya dengan Nadia sedang berada di titik terendah, Jovan masih menaruh kebencian besar pada Nadia, dan besok kedua orang tuanya yang serba menuntut itu justru akan datang.
Bagas menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja Arvin, melipat kedua tangan di dada sambil menatap sahabatnya itu dengan hembusan napas berat.
"Kamu itu sudah menikah lagi. Nadia itu istri kamu sekarang, bukan orang luar atau sekadar pengasuh anak-anakmu."
Arvin diam, membuang pandangan ke arah jendela ruang kerjanya.
"Cobalah buat buka hatimu untuk Nadia, Vin," lanjut Bagas. "Belajar saling memahami, nikmati hidupmu yang baru. Nikmati surga dunia bersama dia... Aku yakin banget, sampai detik ini kalian berdua bahkan belum pernah merasakannya, kan?"
Arvin refleks menoleh tajam ke arah Bagas. Tebakan sahabatnya itu tepat sasaran dan membuat tenggorokannya mendadak terasa kering. Pernikahan mereka yang berlandaskan kebutuhan sosok ibu untuk anak-anaknya membuat hubungan fisik maupun emosional di antara mereka sama sekali belum pernah tersentuh.
Arvin terdiam beberapa saat, membuang muka kembali ke arah jendela kaca yang menampilkan deretan gedung tinggi di luar sana.
"Hubungan kami tidak se sederhana itu, Gas," bisik Arvin pelan.
"Anak-anak... terutama Jovan, belum bisa menerima Nadia. Dan jujur, semalam aku sempat kelepasan. Aku membentaknya dan... menamparnya."
Bagas membelalakkan mata, memajukan tubuhnya terkejut. "Kamu gila, Vin?! Kamu nampar Nadia?!"
Arvin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, merutuki kebodohannya sendiri. "Aku emosi, Gas. Kenzo luka-luka dan Nadia nuduh Jovan yang bikin Kenzo jatuh. Aku pusing, serba salah. Tapi tadi pagi Nadia benar-benar dingin sama aku. Dia bahkan menolak aku antar dan memilih naik ojek."
Bagas menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya dengan tindakan sahabatnya. "Pantas saja Nadia begitu! Mana ada wanita yang tahan diperlakukan seperti itu? Kamu meminta dia jadi ibu buat tiga anakmu yang karakternya beda-beda, tapi kamu sendiri tidak pernah berdiri di sampingnya untuk membela dia!"
Bagas menepuk bahu Arvin cukup keras, mencoba menyadarkan pria yang sedang kalut itu.
"Sekarang orang tuamu mau datang besok. Kamu tahu sendiri kan gimana telitinya Mama dan Papamu? Kalau mereka sampai melihat hubungan kalian yang dingin begini, makin habis kamu, Vin," lanjut Bagas tegas.
"Saran aku, mending kamu turunkan gengsimu. Pulang kerja nanti, datangi toko Nadia. Minta maaf dengan sungguh-sungguh."