Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHANGATAN BARU DI MANSION.
Lusi menatap Abiyan dengan mata membelalak penuh ketidak percayaan. Bukannya mereda, emosinya justru makin meledak. Ia menudingkan telunjuknya tepat di depan wajah Abiyan yang masih bersikap tenang di atas kursi roda.
"Bohong! Kamu pasti bohong, Byan!" bentak Lusi dengan suara melengking. "Ibu tahu kamu sengaja menyembunyikan Ayahmu! Kamu dalang di balik hilangnya Abraham! Jangan pikir Ibu tidak bisa melaporkan kamu ke polisi atas tuduhan penculikan, ya!"
Gilang yang berdiri di samping ibunya ikut melipat tangan di dada, memasang wajah mengintimidasi. "Gua saranin lu jujur aja, Byan. Daripada nama lu makin hancur di mata media."
Lusi mendengus kasar, lalu memajukan langkahnya dengan nada suara yang mendadak berubah licik. "Tapi... Ibu masih punya kebaikan hati. Kalau kamu bersedia memberikan sebagian saham milik Ayahmu yang ada di Zimraan Group kepada Gilang, Ibu tidak akan menuntut kamu ke jalur hukum. Gimana?"
Abiyan menyunggingkan senyum dingin yang sangat menusuk. Akhirnya, kedok wanita itu terbuka lebar di depan matanya sendiri. Lusi panik bukan karena mengkhawatirkan keselamatan Abraham, melainkan takut jika Abraham hilang atau mendadak meninggal sebelum sempat membagikan warisan sahamnya. Berdasarkan hukum dan legalitas perusahaan, jika terjadi hal buruk pada Abraham, seluruh hak saham utama di Zimraan Group otomatis jatuh ke tangan Abiyan sebagai anak sulung laki-laki yang sah.
Inayah yang berdiri memegang dorongan kursi roda Abiyan tidak sanggup lagi menahan gemas. Keningnya berkerut galak, tangannya berkacak pinggang seraya melangkah maju menutupi Abiyan.
"EH, MAK LAMPIR!" semprot Inayah dengan gaya Betawinya yang kental dan tanpa ampun. "Kagak punya otak lu ya?! Laki hilang bukannya dicari ke kantor polisi atau dirawat kenangannya, malah sibuk minta jatah saham! Muka lu terbuat dari semen cor-coran apa gimana sih, hah?! Kagak ada malu-malunya banget jadi manusia!"
Lusi terperanjat hebat mendapati dirinya disemprot habis-habisan oleh wanita yang ia anggap tak selevel. Wajahnya merah padam. "Kurang ajar kamu ya! Wanita kampung kagak usah ikut campur urusan keluarga saya!"
Melihat Lusi membentak istrinya, raut wajah Abiyan seketika berubah sangat kelam dan tajam. "Cukup, Lusi!"
Suara Abiyan menggelegar dingin, membuat Lusi dan Gilang terkejut. "Dasar wanita serakah yang tidak memiliki rasa malu sedikit pun! Jadi kamu cuma khawatir suamimu hilang karena beliau belum sempat membuat surat wasiat untuk anakmu?"
Abiyan menatap Lusi dengan tatapan penuh kemarahan yang tertahan. "Tapi Anda tidak perlu khawatir. Suami Anda belum mati! Dia pasti sudah berada di rumah tua. Jadi sebaiknya Anda dan anak Anda pergi dari sini sekarang juga sebelum saya panggilkan sekuriti untuk melempar kalian berdua!"
Mendengar kata rumah tua, yang merujuk pada kediaman Kakek Sudirja tempat Abraham selama ini tinggal sebelum menikah lagi, Lusi seketika bungkam. Ia panik menyadari Abraham mungkin memang kembali ke sana. Tanpa membuang waktu lagi, Lusi menyambar lengan Gilang.
"Ayo Gilang, kita ke rumah tua sekarang!" seru Lusi panik, bergegas masuk ke dalam mobil SUV-nya dan tancap gas meninggalkan pekarangan mansion.
Setelah mobil Lusi menghilang di balik gerbang, Inayah menghela napas panjang. Ia menatap raut wajah suaminya yang masih mengeras kaku. Dengan lembut, Inayah menepuk-nepuk bahu Abiyan.
"Udeh Bang... tenangin pikiran lu," bisik Inayah penuh kehangatan. "Orang model begitu mah pasti kagak bakal tenang hidupnya. Karma kagak pernah salah alamat, tinggal tunggu tanggal mainnya aja."
Abiyan mendongak, menatap mata bening istrinya. Rasa hangat mendadak mengalir, mengikis habis sisa-sisa amarah di dadanya.
Inayah langsung memutar kursi roda Abiyan, mendorongnya memasuki pintu utama mansion yang megah. "Yuk masuk! Lupakan hal-hal busuk begitu, kagak penting!"
Begitu mereka menginjakkan kaki di area ruang tengah mansion, Pak Dirman, kepala pelayan senior di mansion tersebut, bergegas menghampiri dengan sikap hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda, Nyonya Muda," sapa Pak Dirman ramah. "Ada yang bisa saya siapkan untuk makan siang?"
Belum sempat Abiyan menjawab, Inayah sudah menyelonong melintasi ruang tengah menuju area dapur utama yang sangat luas. "Aduh Pak Dirman, kagak usah repot-repot! Kalau lagi suasana hati panas begini, paling enak tuh masak dan makan makanan pedas!"
Inayah membuka pintu kulkas dua pintu berukuran jumbo yang berdiri di sudut dapur. Begitu pintu terbuka, matanya berbinar-binar melihat deretan bahan makanan, daging segar, sayuran premium, dan bumbu dapur yang tertata sangat rapi dan penuh.
"SWITT-WWIIIITTT!"
Inayah bersiul nyaring seraya menepuk kedua tangannya gembira. "Yang kaya begini nih! Bikin gua semangat masak kalau bahan makanan lengkap begini! Wihhh, ada daging sapi segar! Enaknya disemur pedas manis kali ya? Terus pakai sambal terasi sama lalapan! Mantap betul!"
Dengan penuh semangat, Inayah mengeluarkan berbagai bahan makanan, sayuran, dan bumbu-bumbu dari dalam kulkas, menumpuknya di atas meja marmer dapur. Sepanjang proses memilih bahan, mulutnya kagak berhenti mengoceh heboh seraya bernyanyi-nyanyi kecil.
Abiyan yang didorong masuk ke area dapur oleh Bara hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia dan Pak Dirman saling pandang, tersenyum geli melihat kelakuan Nyonya Muda mereka yang sangat ekspresif. Hanya karena melihat isi kulkas yang penuh, kebahagiaan wanita itu meluap-luap tanpa batas.
Abiyan memberi isyarat pelan pada Pak Dirman seraya berbisik. "Pak Dirman, pastikan isi kulkas di mansion ini tidak pernah kosong sedikit pun. Dan satu lagi... suruh orang untuk mengisi penuh isi kulkas di rumah sederhana Naya di pinggir kota. Waktu Kakek dan Nenek datang ke sana kemarin, isi kulkasnya cuma ada makanan yang kurang sehat."
Pak Dirman tersenyum hangat seraya membungkuk. "Baik, Tuan Muda. Segera saya atur."
Sementara itu di meja racik, Inayah mulai memotong daging dan mengulek bumbu dibantu oleh dua orang pelayan wanita di dapur. Sambil mengulek cabai dan bawang dengan lincah, Inayah mulai bersenandung keras dengan nada lagu populer yang liriknya ia ubah sendiri.
"Enaknya jadi orang kayaaaa~ Masak apa aja tinggal ambeeeelll~ Kulkas gede isinya daginggg~ Kagak pusing mikirin tanggall tuaaaa~" senandung Inayah santai sambil bergoyang kecil.
Para pelayan dapur menutup mulut mereka, menahan tawa geli melihat kepolosan dan keceriaan Nyonya baru mereka. Abiyan yang menyaksikan pemandangan itu menyandarkan punggungnya di kursi roda. Seluruh kekesalan akibat tingkah Lusi tadi lenyap total tanpa bekas, berganti dengan perasaan damai dan bahagia yang membuncah di dadanya.
Satu jam berlalu, aroma harum semur daging pedas manis, tumis kangkung terasi, dan sambal ulek menyengat di udara. Inayah merapikan hasil masakannya dalam porsi yang sangat besar di meja makan utama.
Inayah menepuk tangannya. "Selesai! Ayo Mas, makan!"
Inayah kemudian menoleh ke arah Bara, Pak Dirman, serta tiga pelayan dapur yang masih berdiri bersiap di sudut ruangan.
"Eh, Pak Dirman, Bang Bara, Mbak-Mbak sekalian! Ayo sini duduk bareng! Kita makan ramai-ramai!" ajak Inayah heboh seraya menarik kursi makan. "Gua masak banyak banget nih, kagak bakal habis kalau cuma berdua sama Mas Abiyan!"
Para pelayan sempat ragu dan saling pandang, merasa canggung dengan hirarki mansion. Namun, Abiyan memberikan anggukan pelan seraya memberi kode isyarat bahwa mereka harus menuruti setiap perkataan dan perintah istrinya.
"Ayo duduk, perintah Nyonya tidak boleh dibantah," ujar Abiyan tenang seraya tersenyum tipis.
Akhirnya, mereka semua duduk bersama di meja makan megah tersebut. Suasana makan siang yang tadinya kaku dan formal seketika berubah menjadi sangat hangat, dipenuhi dengan canda tawa, cerita konyol Inayah, dan pujian atas kelezatan masakan sang Nyonya Muda. Para pelayan mansion dalam hati mulai mengagumi dan menyayangi sosok Nyonya baru mereka, seorang wanita sederhana yang membawa jiwa dan kehangatan sejati ke dalam mansion yang tadinya dingin.
thank thort 💪💪