NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Transfer Api Neraka, Dapatnya Malah Petani Singkong

Brama Kumbara tidak berhenti bicara sejak pertama kali matanya yang kecil menangkap sosok Arjuna yang duduk bersila di tengah kebunnya.

"Ini … kebun singkong milikku," ucapnya dengan nafas yang sudah tersengal sejak kalimat pertama, "Sudah tiga … generasi keluargaku … menanam di sini. Lalu kau datang … duduk begitu saja … merusak aura tanahnya … dengan energimu yang … tidak karuan itu—"

Arjuna tidak membuka mata. "Singkongmu tidak rusak."

"Tidak rusak?!" Brama Kumbara melangkah maju satu langkah dengan cangkul yang terangkat setinggi bahunya, namun nafasnya habis di tengah gerakan itu dan ia terpaksa berhenti untuk mengambil nafas selama tiga detik penuh, "Kau tidak tahu … betapa sensitifnya … tanaman singkong terhadap … energi Ether asing yang—"

"Diam!"

Brama Kumbara terdiam satu detik. Kemudian mulutnya terbuka lagi.

"Kau berani … menyuruhku diam … di kebunku sendiri? Aku sudah … bangun sejak subuh … mencangkul enam petak … menyiram dua belas baris … dan sekarang kau—"

Dari dalam dantian Arjuna, Dragon Soul Vein: Fire bergejolak dengan intensitas yang melampaui semua denyutan sebelumnya. Panas yang membakar setiap meridiannya meledak ke seluruh tubuh seolah tidak mau menunggu lebih lama.

Panel sistem melayang di hadapan Arjuna dengan cahaya merah yang berkedip cepat.

[Peringatan Kritis: Dragon Soul Vein Fire tidak stabil]

[Batas Waktu Dipersingkat: 5 Menit]

[Hukuman Gagal: Wadah Induk Rusak Permanen]

Arjuna membuka mata.

Brama Kumbara masih bicara.

"Dan lagi … tanah di sektor timur kebunku … belum aku pupuk sejak minggu lalu … kalau energimu meresap ke sana … singkong di baris ketujuh bisa—"

"Tutup mulutmu!”

Brama Kumbara terdiam untuk kedua kalinya. Kali ini lebih lama, karena nafasnya memang sudah habis sepenuhnya dari kalimat sebelumnya.

Arjuna bangkit dengan satu gerakan, dan melangkah tepat di hadapan Brama Kumbara sebelum petani itu sempat mengambil nafas untuk melanjutkan komplainnya.

"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan," ucap Arjuna dengan nada yang tidak mengandung pilihan, "Kau akan merasakan sesuatu yang sangat panas. Jangan lawan!"

"Apa maksud— hei tunggu— kau melakukan apa—"

Tangan Arjuna sudah menyentuh titik inti dantian Brama Kumbara dengan tekanan yang sangat presisi. Siluet merah membara Dragon Soul Vein: Fire terlepas dari lingkaran tujuh siluet di dalam dantian Arjuna, dan meresap masuk ke dalam tubuh Brama Kumbara dalam satu gerakan.

"Transfer!"

Brama Kumbara membeku.

Cahaya merah membara meledak dari seluruh tubuhnya. Tanah di bawah kakinya menghitam, dan retak membentuk pola api yang menjalar ke segala arah. Cangkulnya jatuh ke tanah dengan suara nyaring yang memecah keheningan hutan kristal.

Kemudian seluruh tubuhnya ambruk.

Arjuna menangkap tubuh yang sangat berat itu dengan kedua tangan, dan hampir ikut terdorong ke belakang. Karena bobotnya yang jauh melampaui ekspektasi apapun.

Panel sistem melayang seketika.

[Misi Selesai]

[Brama Kumbara: Wadah Induk Terbuka — Mortal Frame Realm: Morning Star]

[Hadiah: Artefak Batara Niskala telah ditransfer ke inventaris sistem]

Arjuna menurunkan tubuh Brama Kumbara ke tanah dengan perlahan.

Ia memandang petani gemuk putih yang tergeletak di antara singkong-singkongnya sendiri dengan nafas yang kini jauh lebih tenang dari sebelumnya. Karena kesadarannya sudah pergi sepenuhnya.

Kemudian Brama Kumbara membuka mata.

Ia menatap langit malam di atas hutan kristal selama beberapa detik dengan ekspresi yang tidak bisa langsung dibaca. Kemudian ia duduk tegak dengan gerakan yang mengejutkan untuk seseorang yang baru saja pingsan.

Tangannya bergerak ke perutnya.

"Lapar," ucapnya dengan nada yang sangat datar dan sangat tidak selaras dengan fakta bahwa ia baru saja pertama kali memiliki wadah induk dalam hidupnya. “Sa-sangat lapar.”

***

Istana Prefektur Draconis berdiri di jantung kota raja dengan arsitektur panel logam hitam dan kristal biru kehijauan yang memancarkan aura Dragonoid dari setiap sudutnya. 

Tiga belas menara melingkari bangunan utama, masing-masing memancarkan lambang tiga belas klan yang berada di bawah naungan Kaisar Maharaja Durgandha.

Arjuna, dan Dyah Ayu melangkah masuk ke aula utama dengan Brama Kumbara yang tersengal-sengal di belakang mereka.

"Kenapa … jalannya … jauh sekali," gumam Brama Kumbara dengan nafas yang sudah habis sejak pintu gerbang istana, "Aku … lapar lagi."

Dyah Ayu meliriknya dengan ekspresi yang tidak bisa ditentukan.

"Kau baru makan tadi."

"Itu … tadi."

Di dalam aula utama, tiga belas jenderal klan Dragonoid sudah berdiri dalam formasi yang memancarkan tekanan kolektif dari ranah-ranah tinggi mereka. 

Dewan pemerintah istana duduk di barisan kursi yang melingkari area demonstrasi. 

Kaisar Maharaja Durgandha duduk di singgasana utama dengan mata emas tua yang memandang ketiga tamu itu masuk tanpa ekspresi yang bisa dibaca.

Harjasa berdiri di barisan jenderal dengan postur yang lebih tegak dari biasanya.

Jenderal klan Basilisk melangkah maju satu langkah sebelum demonstrasi dimulai.

"Yang Mulia, izinkan hamba menyampaikan keberatan," ucapnya dengan nada yang tidak menyembunyikan ketidaksetujuannya.

"Memberikan kontrak pengadaan senjata istana kepada manusia murni yang bahkan belum setahun memiliki wadah induk adalah penghinaan terhadap seluruh pengrajin Dragonoid yang sudah berlatih selama ratusan tahun."

Dua belas jenderal klan lainnya, kecuali Harjasa mengangguk serentak.

Seorang anggota dewan pemerintah angkat bicara dari barisan kursinya.

"Belum ada preseden untuk ini, Yang Mulia. Teknik Arc Of Embodiment bahkan tidak tercatat di manuskrip manapun. Klaim tanpa dasar historis tidak bisa dijadikan fondasi kontrak istana."

Kaisar Maharaja Durgandha tidak menjawab. Matanya berpindah ke Dyah Ayu.

"Buktikan!"

Dyah Ayu tidak menunggu dua kali. Ia melangkah ke tengah area demonstrasi, dan berpaling ke arah jenderal klan Basilisk dengan ekspresi yang mengandung keyakinan yang tidak wajar untuk seseorang yang baru beberapa hari memiliki kemampuan ini.

"Bahan logamnya mana?"

Jenderal klan Basilisk melempar tiga ingot besi tempa berkualitas rendah ke tengah area dengan gerakan yang mengandung tantangan terbuka.

Dyah Ayu menangkap ketiganya. Kemudian menggigit salah satunya.

Keheningan absolut turun di seluruh aula.

"Arc Of Embodiment: Super Forging!"

Lingkaran formasi cahaya cokelat keemasan terbentuk di lantai panel logam aula, dan berlapis tiga dengan simbol-simbol kuno yang berputar berlawanan arah. 

Garis-garis formasi menyala semakin terang seiring energi Ether mengalir dari ujung jari Dyah Ayu, dan pola akar menjalar di lantai membentuk mahkota di sekeliling lingkaran seolah bumi sendiri yang merespons panggilannya.

Dalam empat puluh detik, tiga ingot besi tempa berkualitas rendah itu mengeras menjadi sebilah pedang besar yang memancarkan aura yang membuat seluruh aula mundur setengah langkah serentak.

“Kualitas Super Rare?!” Ketiga belas Jendral Prefektur Draconis serentak matanya membola. “I-ini tidak mungkin?! Mustahil?!”

Dari besi tempa kualitas terendah mampu membuat sebuah senjata dengan tingkat Super Rare. Itu seperti khayalan.

Jenderal klan Basilisk tidak bergerak. Dua belas jenderal lainnya tidak bersuara. Dewan pemerintah memandang pedang itu dengan ekspresi yang sudah sepenuhnya melepaskan seluruh keberatan yang mereka bawa masuk ke aula ini.

Kaisar Maharaja Durgandha mengangguk satu kali.

"Kontrak disetujui."

Dyah Ayu mengangguk puas. Kemudian matanya bergerak ke arah Brama Kumbara yang berdiri di tepi area demonstrasi dengan tangan yang memegang perutnya.

"Aku … lapar," ucap Brama Kumbara dengan nada yang tidak peduli bahwa seluruh istana sedang memandangnya.

"Baru saja makan tadi!" hardik Dyah Ayu.

"Itu … tadi. Sekarang … lapar lagi."

"Kau tidak mungkin lapar secepat itu!"

"Perutku … yang menentukan … bukan kau."

Dyah Ayu menunjuk ke arah Brama Kumbara dengan telunjuk yang terarah seperti tombak.

"Dengarkan aku, kau petani gemuk yang tidak tahu diri—"

"Aku … petani terhormat … yang … kelaparan—"

Kaisar Maharaja Durgandha mengangkat satu tangan.

Kedua orang itu tidak berhenti.

Harjasa memandang langit-langit aula dengan ekspresi yang sudah menyerah sepenuhnya. Tiga belas jenderal klan Dragonoid memandang pertengkaran itu dengan ekspresi yang tidak bisa ditentukan apakah itu terpukul atau tidak percaya.

Panel sistem melayang di hadapan Arjuna di tengah kekacauan itu.

[Misi Baru: Berikan Tanaman Herbal Pedas Berenergi jenis Ether yang tingkat Tinggi kepada Target]

[Target: Brama Kumbara]

[Batas Waktu: 1 Jam]

[Hukuman Gagal: Kematian Permanen Target]

[Hadiah: Teknik Arc Of Medicine]

Arjuna membaca baris kematian permanen itu satu kali.

Kemudian matanya merah membara memindai seluruh aula istana Prefektur Draconis dengan kalkulasi yang tidak pernah berhenti berputar. 

Pemindaian matanya mencari satu variabel yang ia butuhkan di antara semua kemegahan istana yang tidak pernah ia rencanakan untuk ia masuki malam ini.

Di sudut aula, sebuah vas kristal berisi rangkaian tanaman hias memancarkan energi Ether yang sangat tidak wajar untuk sebuah dekorasi biasa.

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!