NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Brama naik 11 lapis ranah, Lapar Adalah Kata pertamanya

Arjuna tidak memberi Brama Kumbara kesempatan untuk menarik nafas.

Tangannya bergerak ke arah vas kristal di sudut aula dengan langkah yang sangat tenang di tengah pertengkaran Dyah Ayu, dan Brama yang masih berlangsung tanpa tanda-tanda akan berhenti. 

Jari-jarinya mencabut tanaman berbentuk jahe berwarna emas kemerahan itu dari dalam vas dengan satu gerakan presisi.

“Ini adalah Dahana Wreksa,” gumam Arjuna, matanya melebar.

Tanaman dengan rank SSS yang selama ini tidak disadari oleh siapapun di dalam istana. Bahwa tanaman Dahana Wreksa bukan sekedar dekorasi.

Arjuna berbalik, dan melangkah ke arah Brama Kumbara yang masih menunjuk-nunjuk ke arah Dyah Ayu dengan jari gemuknya.

"Kamu petani terhormat katamu …. Aku belum pernah melihat petani terhormat yang tubuhnya sebesar—"

Arjuna memasukkan Dahana Wreksa langsung ke dalam mulut Brama Kumbara.

Brama Kumbara membeku seketika. Dyah Ayu juga membeku seketika. Begitu pula semua Dragonoid, termasuk Kaisar Maharaja Durghanda juga membeku seketika.

Brama Kumbara mengunyah satu kali dengan ekspresi yang tidak bisa ditentukan. Kemudian dua kali. 

Setelah itu wajahnya yang putih seperti kertas berubah menjadi merah menyala dari ujung telinga hingga ke leher dalam waktu kurang dari tiga detik.

"Pa— panas— ini— sangat …. Panas!"

Cahaya merah membara meledak dari seluruh tubuh Brama Kumbara dengan intensitas yang membuat tiga belas jenderal klan Dragonoid serentak melangkah mundur. 

Lantai panel logam aula retak membentuk pola api yang menjalar ke segala arah. Suhu seluruh ruangan naik drastis, hingga embun kristal di dinding aula menguap dalam hitungan detik.

Brama Kumbara tidak pingsan.

Ia berdiri dengan kedua kaki yang gemetar, tangan yang mencengkram udara, dan mata yang melotot seolah mencari sesuatu untuk dipegang namun tidak menemukan apapun.

"Masih … panas … masih … sangat panas … huff … huff—"

Yang ia rasakan serentak adalah lautan api yang membersihkan, sebelas dentuman dari dalam dada, panas yang mempertebal seluruh tubuhnya, aroma tanah terbakar bercampur manis, dan sebelas gelombang pedas yang menembus, hingga inti dantiannya.

"Manusia murni ini bukan sekadar variabel yang menarik," gumam Kaisar Maharaja Durgandha.

"Ini tidak masuk akal," desah jenderal klan Basilisk.

"Mustahil?!" ucap jenderal klan Wyvern.

"Dari bahan apa tanaman itu?" bisik seorang anggota dewan.

"Sebelas lapisan sekaligus?!" gumam anggota dewan yang lain.

Dyah Ayu tidak bersuara. Mulutnya masih terbuka.

Harjasa memandang Arjuna. Namun tidak ada kata yang keluar.

Panel sistem melayang di hadapan Arjuna.

[Misi Selesai]

[Brama Kumbara: Naik 11 Lapisan — Spirit Awakening Realm: Celestial Star]

[Hadiah: Teknik Arc Of Medicine telah ditransfer ke inventaris sistem]

Cahaya merah membara dari tubuh Brama Kumbara perlahan mereda.

Ia berdiri dengan nafas yang tersengal jauh lebih keras dari biasanya. Namun aura yang memancar dari tubuhnya sudah tidak sama dengan sebelumnya. Spirit Awakening Realm: Celestial Star memancarkan tekanan yang membuat udara di sekitarnya bergetar tipis.

Brama Kumbara memandang kedua tangannya. Kemudian perutnya berbunyi.

"Lapar," ucapnya dengan nada yang sama sekali tidak mencerminkan fakta bahwa ia baru saja naik sebelas lapisan ranah dalam waktu kurang dari satu menit.

Harjasa memejamkan mata.

Kaisar Maharaja Durgandha memandang Arjuna dengan sorot yang semakin dalam dari sebelumnya. 

Sesuatu yang tidak bisa disebut selain rasa ingin tahu yang sudah melampaui batas kalkulasi seorang penguasa yang sudah hidup tiga ribu tahun.

***

Di istana Prefektur Ethereal, tidak ada cahaya yang menyala.

Bukan karena pemadaman. Bukan karena kerusakan. Melainkan karena Kaisar Indrawarman memerintahkan seluruh panel penerangan dipadamkan. Sejak berita kematian Wiryo sampai ke tangannya tiga jam yang lalu, dan tidak ada satupun pelayan istana yang berani menyalakan kembali tanpa perintah.

Sosoknya melayang di atas singgasana dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya putih murni yang memancar dari matanya sendiri.

"Wiryo," ucapnya dengan suara yang bergema seperti angin melewati lorong kosong yang sangat panjang, "Tiga ratus tahun aku membesarkanmu. Satu manusia murni mengakhirinya dalam satu malam."

Tidak ada yang menjawab.

Seorang menteri memberanikan diri melangkah masuk dengan kepala yang tertunduk jauh sebelum kakinya melewati ambang pintu.

"Yang Mulia, dekrit perburuan Arjuna Sasrabahu telah resmi ditingkatkan ke level SS oleh Alliance. Namun hingga saat ini target masih belum tertangkap dan belum—"

"Aku tahu," potong Kaisar Indrawarman dengan nada yang tidak mengandung kemarahan namun justru karena itulah terasa jauh lebih menakutkan, "Manusia murni itu kini berada di bawah perlindungan Kaisar Maharaja Durgandha di Prefektur Draconis."

Menteri itu tidak berani mengangkat kepalanya.

"Phantom gagal. Alliance bergerak terlalu lambat. Klan Wyvern menghancurkan diri mereka sendiri." Kaisar Indrawarman menurunkan satu tangan dari posisi meditasinya, dan jari-jarinya bergerak di udara menggambar sesuatu yang tidak kasat mata, "Saatnya menggunakan aset yang berbeda."

"Yang Mulia maksudnya—"

"Panggil Kalawidya."

Menteri itu mengangkat kepalanya untuk pertama kalinya sejak masuk. Matanya melebar dengan ekspresi yang tidak bisa ia kendalikan.

"Loathsome Emperor? Yang Mulia, penggunaan Sepuluh Raja Undead di wilayah prefektur lain akan dianggap sebagai deklarasi perang oleh—"

"Aku tidak memintamu berpendapat," ucap Kaisar Indrawarman dengan nada yang sama dinginnya, "Panggil Kalawidya."

Kalawidya datang tanpa suara.

Sosoknya muncul di hadapan singgasana Kaisar Indrawarman seperti bayangan yang memutuskan untuk mengambil bentuk, tinggi kurus berbalut jubah hitam compang-camping yang memancarkan aura pembusukan. 

Wajahnya tersembunyi di balik topeng tulang dengan retakan yang memancarkan cahaya ungu gelap. Jari-jarinya yang panjang melampaui lutut berakhir pada cakar tulang hitam yang menggores lantai kristal istana dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri.

Ia berlutut tanpa diperintah.

"Yang Mulia memanggil hamba."

Suaranya seperti suara sesuatu yang membusuk, tetapi dipaksa untuk berbicara.

Kaisar Indrawarman memandangnya dari atas dengan mata putih murni yang tidak berkedip.

"Arjuna Sasrabahu. Prefektur Draconis. Bawa kepalanya!”

Kalawidya tidak menjawab dengan kata-kata. Topeng tulangnya terangkat sangat tipis, dan dari celah retakan yang memancarkan cahaya ungu gelap itu, sesuatu yang menyerupai senyuman terbentuk.

---

Perbatasan Prefektur Draconis tidak pernah sesepi malam itu.

Prajurit penjaga perbatasan berdiri dalam formasi standar dengan panel sensor aktif di setiap titik pengawasan. 

Langit di atas mereka masih menyisakan retakan tipis bekas tujuh Calamity Tribulation Catastrophe yang belum sepenuhnya menutup.

Kemudian sensor di seluruh titik pengawasan berbunyi serentak.

Ribuan sinyal merah memenuhi seluruh panel hologram di setiap pos penjagaan perbatasan dalam waktu yang bersamaan.

Komandan penjaga perbatasan memandang panel hologramnya dengan mata yang melebar.

"Ini … ini tidak mungkin," desahnya dengan suara yang kehilangan seluruh komposurnya, "Berapa banyak—"

Jawabannya datang bukan dari panel hologram.

Melainkan dari suara yang datang dari balik cakrawala perbatasan.

Suara ribuan kaki yang tidak berdetak dengan ritme makhluk hidup, suara daging yang membusuk dan logam yang bergesekan, dan suara yang tidak pernah terdengar di perbatasan Prefektur Draconis dalam sejarah tiga ribu tahun berdirinya prefektur ini.

Kalawidya berdiri di garis paling depan pasukan mayat dagingnya dengan jubah hitam yang berkibar diterpa angin perbatasan.

Kemudian topeng tulangnya retak dari dalam, dan wujud sesungguhnya mulai terbentuk di baliknya.

Raksasa mayat daging berbalut armor yang menjulang melampaui tinggi menara penjagaan perbatasan.  

Mata ungu gelap yang memancarkan cahaya yang membakar langit malam menjadi warna yang tidak pernah ada dalam spektrum warna manapun di Benua Sangakama.

“Arjuna Sasrabahu ….”

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!