NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Mendengar pernyataan Alden bahwa gadis di dalam ruang ICU adalah istri Athur, Mama Amelia mematung. Dunianya seolah berputar. Di kepalanya berkecamuk rasa syok yang luar biasa. Bagaimana bisa anak sulungnya yang megah dan menguasai separuh roda bisnis kota menikahi seorang gadis yatim piatu dari kontrakan tripleks?

Namun, saat ia melihat noda darah kental di baju Evan dan menyaksikan Nina yang masih remaja menangis ketakutan di sudut koridor, keangkuhan kelas atas di hati Amelia runtuh seketika. Rasa kemanusiaan dan naluri keibuannya mengambil alih. Ia menyadari, di balik kemiskinan itu, ada ketulusan besar yang membuat Athur rela menyerahkan hidupnya.

Beberapa jam berlalu dalam ketegangan yang menyiksa, hingga lampu merah di atas pintu ICU lantai tiga Rumah Sakit Medika Utama akhirnya padam. Pintu steril itu terbuka, menampilkan sosok dokter bedah utama yang melangkah keluar dengan wajah lelah yang teramat sangat.

Mama Amelia langsung bangkit berdiri dengan tubuh gemetar, menghadang langkah sang dokter.

"Bagaimana keadaan anak dan menantu kami, Dok? Tolong katakan... mereka baik-baik saja, kan?!" tanya Amelia dengan suara parau yang menahan tangis.

Dokter itu menghela napas panjang, menatap satu per satu anggota keluarga Ganesha serta Fino dan Nina. "Operasi berjalan sangat kritis, Bu. Luka tusuk di pinggang Tuan Athur menancap sangat dalam dan sempat mengenai jalur pembuluh darah utama, yang menyebabkan detak jantung Tuan Athur sempat berhenti di atas meja operasi selama hampir dua menit."

Deg.

Mama Amelia hampir saja limbung jika tidak segera ditangkap oleh Tuan Ganesha.

"Tapi bersyukur, tim medis berhasil melakukan resusitasi jantung dan menghentikan pendarahan dalamnya tepat waktu," lanjut dokter tersebut, meredakan kepanikan masal di koridor.

 "Kondisi Tuan Athur saat ini sudah berhasil ditangani dan dalam masa pemulihan, namun beliau masih belum sadarkan diri akibat pengaruh obat bius total dan trauma fisik. Begitu pula dengan Nyonya Rara. Luka robek di kedua telapak tangannya sudah dijahit dengan rapi, namun karena kehabisan terlalu banyak darah, beliau juga masih belum sadar. Kita harus menunggu masa kritis mereka dalam dua puluh empat jam ke depan."

Sesuai perintah mutlak dan kekuasaan Tuan Ganesha, Athur dan Rara langsung dipindahkan ke dalam satu ruangan VIP besar yang sama agar mereka bisa dipantau bersamaan. Dua ranjang pasien diletakkan berdampingan di tengah ruangan yang sunyi dan sejuk itu.

Fino dan Nina melangkah masuk dengan dada yang sesak. Begitu mendekati ranjang Rara, tangis Nina kembali pecah seketika. Ia melihat kedua telapak tangan kakak perempuan tertuanya kini sudah terbebat perban putih tebal yang sangat besar. Di tepi ranjang, Nina hanya bisa menangis sesenggukan sambil menggenggam ujung selimut Rara, sementara Gino berdiri di sampingnya, meremas bahu Nina kuat-kuat untuk menenangkan kembarannya meski matanya sendiri sudah berkaca-kaca menahan kepedihan.

Sret.

Pintu kamar VIP bergeser perlahan. Alden melangkah masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah kaki yang terasa sangat berat. Matanya menatap nanar ke arah ranjang Rara. Rasa patah hati terbesarnya kini bercampur aduk dengan rasa ngeri yang mendalam saat melihat kondisi fisik Rara yang mengenaskan. Rambut panjang hitam kesayangan Rara yang dulu selalu dikuncir rapi—rambut yang sering Alden pandangi dari kejauhan di sekolah—kini sudah terpotong berantakan hanya sebatas bahu akibat kegilaan Jesika. Belum lagi pipi mulus Rara yang tampak sedikit lebam keunguan akibat bekas tamparan keras yang membekas jelas.

Fino yang sedang menenangkan Nina langsung menoleh. Ia melihat Alden diam membeku di dekat pintu dengan tatapan mata yang kosong dan hancur. Mengingat sumpah kedewasaannya tadi siang, Fino tidak lagi melayangkan pukulan atau membentak kasar. Ia menegakkan tubuhnya, menatap lurus senior kelas 3-nya itu dengan pandangan yang sangat dingin namun dewasa.

"Jika lu ingin melihatnya, masuklah... disana juga ada Abang lu, tapi jaga batasanmu, Alden," ucap Gino dengan suara berat yang menekan ego remajanya.

 "Aku juga baru mengetahui fakta dari Abang iparku beberapa jam lalu kalau ternyata lu adalah adik kandungnya sendiri."

Fino melangkah satu senti mendekat, mengunci pandangan Alden dengan sorot mata yang penuh ancaman serius. "Tapi ingat satu hal. Jika setelah hari ini lu masih berani menuduh Kak Rara yang bukan-bukan, atau mengatai keluarga gue dengan kalimat sampah seperti pagi tadi di depan mading... gue pastikan, biarpun lu adik dari ipar gue sendiri, gue nggak akan tinggal diam untuk membuat perhitungan mati-matian sama lu. Paham?"

Alden hanya terdiam membeku, menerima setiap kata peringatan dari Fino dengan hati yang semakin remuk. Ia menatap Rara untuk terakhir kalinya, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengunci seluruh rahasia cintanya di dalam ruangan VIP yang sunyi itu tanpa ada satu orang pun yang tahu.

Di balik pintu kamar VIP yang sedikit terbuka, Amelia mendengar dengan sangat jelas bagaimana Fino mengucapkan kalimat pembelaan yang begitu dewasa untuk menjaga kehormatan kakaknya di hadapan Alden. Air mata Amelia kembali menetes, namun kali ini bukan hanya karena sedih, melainkan karena rasa haru yang teramat sangat. Di tengah kemiskinan dan usia mereka yang masih sangat muda, anak-anak ini memiliki hati yang begitu murni dan saling melindungi.

Tuan Ganesha yang berdiri di samping istrinya mengangguk perlahan, memberikan izin bisu. Amelia kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan. Tanpa memedulikan status sosialnya sebagai nyonya besar, ia langsung mendekat dan memeluk erat tubuh Fino dan Nina sekaligus ke dalam dekapannya.

"Maafkan Mama... Maaf karena Mama baru tahu perjuangan kalian dan Kak Rara selama ini," isak Amelia dengan suara parau sembari mengusap punggung Nina yang kembali bergetar.

Alden yang berdiri di dekat pintu hanya bisa menyaksikan adegan emosional itu dengan tatapan mata yang semakin meredup. Hatinya terasa begitu perih, melihat sang Mama kini telah menerima keluarga Rara sepenuhnya, sementara dirinya sendiri harus mengubur cinta pertamanya dalam-dalam.

Tak lama kemudian, Bagas dan Evan kembali ke ruangan setelah berganti pakaian yang bersih. Tuan Ganesha langsung menugaskan kedua pria kepercayaannya itu untuk menjaga ketat ruangan VIP karena hari sudah mulai larut malam.

Melihat jarum jam sudah menunjukkan waktu istirahat, Tuan Ganesha mendekati kedua anak kembar itu.

"Fino, Nina... malam ini sebaiknya kalian pulang dulu ke rumah baru untuk beristirahat. Biar Bagas dan Evan yang menjaga kakak kalian di sini."

Namun, Fino dan Nina kompak menggelengkan kepala dengan tegas. "Nggak, Om. Kami mau tetap di sini sampai Kak Rara dan Bang Athur sadar," tolak Fino dengan pandangan mata yang tidak bisa dibantah.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: Hai kak yu baca juga di novel baruku
"Salah Kamar, Salah Istri" 🤭
total 2 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!