Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab7.30 detik
"Sombong! Habisi dia!" teriak Garreth marah.
Tiga bilah pedang besi melesat membelah kabut dari tiga arah berbeda. Garreth memimpin dari depan dengan tebasan vertikal yang dilapisi Mana elemen tanah, membuat bobot serangannya meningkat dua kali lipat. Di saat yang sama, dua senior di sisi kiri dan kanan melepaskan tebasan melintang berelemen angin untuk mengunci ruang gerak Ren.
Itu adalah kombinasi taktis tingkat dua yang seharusnya mustahil dihindari oleh seorang murid baru.
Namun, di mata Ren, koordinasi serangan mereka berantakan. Otak cerdasnya langsung memproses lintasan angin dan distribusi berat badan ketiga senior tersebut dalam hitungan milidetik.
*Dug!*
Jantung Ren berdenyut sekali secara konseptual. Teknik *Blood Circulation* memicu akselerasi instan pada otot-otot kakinya. Menggunakan variasi *Blood-Stride* yang disamarkan, tubuh Ren seolah menghilang dari titik fokus serangan.
*BOOOM!*
Tebasan Garreth menghantam tanah kosong hingga retak, sementara dua tebasan angin dari samping saling berbenturan satu sama lain, menciptakan gelombang kejut yang mengacaukan pandangan mereka sendiri.
"Hah?! Dia menghilang?!" Garreth terbelalak, memandang tanah yang kosong di depannya.
"Kau melihat ke arah yang salah, Senior," sebuah suara berbisik dingin tepat di balik tengkuk Garreth.
Sejak kapan?! Garreth bahkan tidak mendengar derap langkah kaki. Bulu kuduknya berdiri tegang. Sebelum ia sempat membalikkan badan, Ren melayangkan satu tendangan melingkar yang presisi ke arah rusuk samping Garreth.
*BRRAKK!*
"Ughaaa!" Garreth terlempar sejauh tiga meter, menghantam pohon besar hingga jubahnya robek. Bobot tendangan fisik Ren yang murni dari kekuatan predator vampir jauh lebih keras daripada hantaman gada besi.
Dua senior lainnya panik. Mereka memutar balik pedang mereka dan menebas secara membabi buta ke arah Ren.
*TAK! T-TAAK!*
Ren bahkan tidak perlu menarik pedangnya dari sarung. Menggunakan sarung pedang kayu besi yang masih tertutup, ia menangkis dua mata pedang tajam itu dengan gerakan memutar yang sangat efisien. Setiap ketukan sarung pedang Ren tepat mengenai titik lemah di dekat *hilt* (gagang) pedang lawan, menetralisir seluruh daya Mana angin mereka dalam sekejap.
**"Kiri terbuka lebar, Bocah! Hantam rahangnya!"** Crimson berseru riang di dalam kepala Ren.
Ren menggeser langkahnya setengah sentimeter ke kiri. Dengan gerakan mengalir ala *Blood-Forged Style* yang diperhalus agar tampak seperti bela diri jarak dekat biasa, Ren mengayunkan ujung sarung pedangnya ke atas.
*Prak!*
Satu hantaman telak mengenai rahang senior di sebelah kiri, membuatnya langsung ambruk tak sadarkan diri dengan mata mendelik ke atas. Di detik yang sama, Ren memutar poros tubuhnya 180 derajat, memanfaatkan momentum putaran itu untuk menyabet kaki senior terakhir hingga kehilangan keseimbangan.
*Bruk!*
Senior ketiga jatuh terlentang. Sebelum ia sempat bangkit, ujung sarung pedang Ren sudah berada tepat satu milimeter di depan bola matanya. Kilatan dingin dari sepasang mata crimson milik Ren membuat senior itu membeku, napasnya tertahan karena ketakutan yang teramat sangat.
Ren melirik jam saku perak yang ia ambil dari asrama. "Tiga puluh detik. Ternyata lebih lama dari perkiraanku."
Ren dengan santai merogoh saku jubah milik ketiga senior yang terkapar, mengambil tanda pengenal poin ujian milik mereka, lalu menjatuhkannya ke dalam kantungnya sendiri. Seringai tipis penuh kemenangan menghiasi wajahnya.
"Sampaikan pada Julian van Asche," ucap Ren dingin sambil menatap senior yang masih tersisa. "Kalau dia mau mengirim anjing peliharaan lagi, pastikan yang bisa menggigit. Bukan yang cuma bisa menggonggong."
Tanpa menunggu jawaban, Ren berbalik dan berjalan santai menembus kabut hutan simulasi, meninggalkan mangsanya yang gemetaran di atas tanah.
### Frustrasi di Balik Layar
Di tepi hutan simulasi, batu kristal papan skor akademi tiba-tiba berkedip. Nama **Ren** melesat naik ke peringkat sepuluh besar dalam waktu kurang dari satu jam sejak ujian dimulai.
Julian van Asche yang menyaksikan perubahan papan skor itu dari tenda pengawas langsung melempar cangkir tehnya hingga pecah berkeping-keping. Wajahnya merah padam oleh kombinasi rasa tidak percaya dan murka yang luar biasa.
"Bagaimana bisa?! Garreth dan yang lainnya adalah murid tingkat dua!" pekik Julian, giginya gemeretak.
Di sudut bayangan tenda, Lyra yang sedang menyamar sebagai petugas pencatat poin tersenyum sinis di balik syal abu-abunya. *'Kau salah memilih lawan, Tuan Bangsawan. Anak itu... adalah monster yang sedang kelaparan.'*