NovelToon NovelToon
KAISAR HANTU

KAISAR HANTU

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.

Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.

Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Eksekutor Pedang Darah

Langit di atas pelataran luar Sekte Pedang Surgawi yang tadinya cerah seketika berubah menjadi mendung dan dipenuhi oleh awan kelabu yang berputar liar.

Sebuah tekanan energi spiritual yang sangat masif dan tajam bagaikan ribuan pedang tak kasat mata turun dari arah puncak gunung pelataran dalam.

Tekanan itu begitu kuat hingga membuat burung-burung spiritual yang sedang terbang di udara langsung jatuh ke tanah dengan sayap yang gemetar ketakutan.

Puluhan ribu murid pelataran luar yang sedang berkumpul di lapangan utama serentak menahan napas mereka saat merasakan hawa membunuh yang sangat pekat tersebut.

Di tengah pusaran awan kelabu itu, sebuah pedang terbang raksasa berwarna merah darah membelah langit dengan kecepatan yang menyerupai kilatan petir menyilaukan.

Pedang terbang raksasa itu memiliki panjang lebih dari tiga puluh meter dan memancarkan aura kezaliman yang membuat Formasi Pelindung Seribu Pedang di bawahnya bergetar hebat.

Di atas bilah pedang raksasa itu, berdiri sepuluh sosok manusia yang mengenakan jubah merah darah dengan lambang pedang bersayap emas di dada mereka.

Mereka adalah Pasukan Eksekutor Pedang Darah, unit pembunuh elit dari pelataran dalam yang hanya diturunkan untuk mengatasi ancaman tingkat tinggi yang mengancam kehormatan sekte.

Setiap anggota pasukan ini memancarkan fluktuasi energi spiritual di puncak tahap kedelapan Alam Pengumpulan Qi, sebuah kekuatan yang bisa meratakan seluruh pelataran luar dengan mudah.

Namun, yang paling mengerikan bukanlah sepuluh eksekutor berwajah dingin tersebut, melainkan sosok pemuda yang berdiri paling depan dengan tangan terlipat di dada.

Pemuda itu mengenakan jubah biru muda yang ditenun dari sutra ulat es spiritual, memancarkan cahaya redup yang menolak segala jenis kotoran debu duniawi.

Wajahnya sangat tampan bagaikan pahatan dewa, namun sepasang matanya menyiratkan kesombongan absolut dan kekejaman yang tidak menganggap nyawa manusia berharga sedikit pun.

Ia adalah Chu Yan, sang jenius nomor satu pelataran dalam sekaligus target utama dari pembalasan dendam berdarah yang telah dijanjikan oleh Lin Ye.

Pedang raksasa itu mendarat dengan suara dentuman keras di tengah lapangan utama pelataran luar, menghempaskan debu dan meretakkan lantai batu di sekitarnya hingga membentuk jaring laba-laba.

Tetua Liu, sang penguasa pelataran luar, langsung berlari tertatih-tatih mendekati pedang raksasa itu dengan lutut yang gemetar dan keringat dingin sebesar biji jagung di dahinya.

Ia segera menjatuhkan dirinya ke tanah dan bersujud di hadapan Chu Yan dengan sangat rendah, bahkan tidak berani untuk menatap ujung sepatu bersulam emas milik pemuda arogan tersebut.

"Pelayan rendahan ini menyambut kedatangan Tuan Muda Chu Yan dan Pasukan Eksekutor Pedang Darah di pelataran luar!" seru Tetua Liu dengan suara yang bergetar hebat.

Chu Yan melangkah turun dari pedang raksasanya dengan gerakan yang sangat elegan, namun setiap langkahnya memancarkan tekanan tahap kesembilan Alam Pengumpulan Qi yang menindas.

Ia berhenti tepat di depan kepala Tetua Liu yang masih bersujud, menatap pria paruh baya itu dengan pandangan yang sama seperti saat ia melihat seekor kecoa yang menjijikkan.

"Tetua Liu, kau benar-benar telah membuat kakekku sangat kecewa dengan ketidakmampuanmu menjaga wilayah sekecil ini," ucap Chu Yan dengan nada suara yang sangat dingin dan pelan.

"Bagaimana mungkin kau membiarkan seekor tikus dari aliran iblis menyusup masuk, membunuh anjing peliharaanku, dan menuliskan namaku dengan darah kotornya?!"

Tetua Liu semakin menempelkan dahinya ke lantai batu hingga berdarah, hatinya dipenuhi oleh ketakutan bahwa kepalanya akan dipenggal saat ini juga oleh pemuda di hadapannya.

"Ini semua adalah kesalahan pelayan ini, Tuan Muda Chu! Iblis itu sangat licik dan memiliki teknik menyembunyikan hawa keberadaan yang sangat sempurna!" ratap Tetua Liu membela diri.

"Kami baru saja menemukan lokasi pembantaian kedua di hutan bambu hitam, di mana Mandor Zhang Wei dan lima belas murid patroli dibantai tanpa sisa!"

Mendengar laporan tersebut, alis pedang Chu Yan berkerut tajam dan hawa membunuh di sekelilingnya seketika meledak hingga membuat beberapa murid di kejauhan memuntahkan darah.

"Bawa aku ke hutan bambu itu sekarang juga, aku ingin melihat seberapa hebatnya tikus iblis yang berani memprovokasi keluarga Chu ini," perintah Chu Yan dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Tetua Liu segera bangkit berdiri dengan susah payah dan berjalan memimpin jalan dengan tergesa-gesa menuju arah pinggiran pelataran luar.

Chu Yan dan sepuluh anggota Pasukan Eksekutor berjalan mengikutinya dari belakang, membelah kerumunan puluhan ribu murid pelataran luar yang langsung menyingkir dengan ketakutan.

Tidak ada satu pun murid yang berani bernapas dengan keras saat rombongan elit pelataran dalam itu lewat di hadapan mereka.

Beberapa saat kemudian, rombongan Chu Yan tiba di tepi hutan bambu hitam yang kini telah berubah wujud menjadi pemandangan dari dasar neraka tingkat kesembilan.

Bau anyir darah yang sangat menyengat dan membuat mual langsung menyerang indera penciuman mereka, bercampur dengan aroma busuk dari daging yang terkoyak.

Chu Yan menghentikan langkahnya dan mengibaskan lengan jubahnya di depan hidung dengan ekspresi jijik yang sangat kentara.

Sepuluh anggota Pasukan Eksekutor di belakangnya segera menghunuskan pedang panjang berwarna merah darah mereka, membentuk formasi pertahanan melingkar untuk melindungi sang tuan muda.

Pandangan Chu Yan menyapu area pembantaian tersebut, melihat potongan usus, tulang belulang yang hancur, dan genangan darah yang mewarnai tanah berlumpur.

Di tengah lautan darah itu, tergeletak tubuh tanpa jantung milik Zhang Wei yang matanya masih terbuka lebar menatap langit dengan penuh keputusasaan.

Namun, perhatian Chu Yan langsung terkunci pada sebuah batang bambu hitam raksasa yang berada tidak jauh dari mayat Zhang Wei.

Di batang bambu tersebut, terukir sebuah kalimat mengerikan yang ditulis menggunakan darah segar yang kini telah sedikit mengering.

"Pintu neraka terbuka untukmu, Chu Yan."

Chu Yan membaca pesan itu dan urat-urat biru seketika menonjol keluar di pelipis dan lehernya, menandakan amarah yang telah mencapai titik puncaknya.

Ia mengepalkan tangan kanannya hingga terdengar suara gemeretak tulang yang nyaring, sementara energi spiritual biru es meledak dari tubuhnya dan menghancurkan beberapa pohon bambu di dekatnya.

"Siapa yang sebenarnya melakukan ini?! Apakah kultivator iblis itu meninggalkan petunjuk tentang identitas aslinya?!" bentak Chu Yan kepada Tetua Liu yang gemetar di sampingnya.

Tetua Liu menelan ludah dengan susah payah dan menjawab dengan suara yang sangat ragu-ragu karena ia tahu jawaban ini terdengar sangat tidak masuk akal.

"B-berdasarkan kesaksian dari murid pelayan yang selamat melihat kejadian dari kejauhan, s-sosok pembunuh itu... terlihat sangat mirip dengan Lin Ye."

Mendengar nama itu disebutkan, Chu Yan seketika terdiam dan ekspresi wajahnya berubah dari marah menjadi kebingungan yang sangat dalam.

"Lin Ye? Maksudmu sampah dari pelataran luar yang dantiannya aku perintahkan untuk dihancurkan bulan lalu itu?" tanya Chu Yan mencoba memastikan.

"Benar, Tuan Muda. Sampah yang sama yang kemarin baru saja dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh penjaga makam," jawab Tetua Liu sambil menundukkan kepala.

Chu Yan terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menengadahkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras hingga suaranya menggema di seluruh hutan bambu.

Tawanya terdengar penuh dengan ejekan dan penghinaan yang sangat merendahkan akal sehat siapa pun yang mendengarnya.

"Hahaha! Tetua Liu, apakah usia tua telah membuat otakmu membusuk?! Bagaimana mungkin seorang sampah tanpa dantian bisa membantai puluhan kultivator dan menantangku?!"

"Ini pasti adalah taktik murahan dari sekte iblis yang sengaja menggunakan nama orang mati untuk menebarkan teror dan kebingungan di dalam sekte kita!"

Chu Yan menghentikan tawanya dan matanya menyipit tajam, memancarkan kilatan pembunuh yang sangat dingin ke arah bayang-bayang hutan bambu.

"Tidak peduli siapa yang bersembunyi di balik nama sampah itu, aku akan mencabut jantungnya dan menjadikannya pakan anjingku hari ini juga."

Tanpa disadari oleh Chu Yan dan seluruh Pasukan Eksekutor, sosok yang mereka bicarakan sedang duduk bersila dengan sangat santai di atas dahan pohon bambu tertinggi tepat di atas kepala mereka.

Lin Ye menatap ke bawah ke arah rombongan arogan itu melalui celah dedaunan dengan menggunakan Langkah Hantu Bayangan yang menyembunyikan hawa keberadaannya secara mutlak.

Jubah abu-abunya menyatu dengan sempurna di antara bayang-bayang dedaunan, sementara matanya yang sedingin es mengunci setiap pergerakan mangsa utamanya.

Layar panel biru transparan dari Sistem Pengendali Hantu berkedip pelan di sudut pandangannya, memberikan analisis kekuatan musuh secara terperinci.

"Mendeteksi sebelas target di bawah inang."

"Satu target di Tahap Kesembilan Alam Pengumpulan Qi, sepuluh target di puncak Tahap Kedelapan Alam Pengumpulan Qi."

"Peringatan: Konfrontasi fisik secara langsung di siang hari dengan sebelas kultivator tingkat tinggi akan sangat merugikan posisi inang saat ini."

Lin Ye mendengus pelan di dalam hatinya saat membaca peringatan dari sistem yang selalu bertindak berdasarkan kalkulasi matematis yang kaku.

"Aku adalah seorang kaisar kegelapan, sistem. Kapan aku pernah bertarung secara adil dan terbuka seperti kultivator lurus yang bodoh itu?" balas Lin Ye melalui komunikasi mental.

Ia mengalihkan pandangannya ke arah Chu Yan yang sedang memberikan perintah dengan suara lantang kepada Pasukan Eksekutor Pedang Darah.

"Kalian sepuluh orang, menyebar ke seluruh penjuru hutan bambu ini! Gunakan Formasi Pencari Darah untuk mendeteksi sisa energi iblis!"

"Jangan biarkan satu sudut pun terlewatkan! Jika kalian menemukan tikus itu, lumpuhkan dia dan bawa ke hadapanku hidup-hidup agar aku bisa menyiksanya secara pribadi!" teriak Chu Yan dengan sangat angkuh.

"Siap, Tuan Muda Chu!" jawab sepuluh eksekutor itu serentak dengan suara menggelegar.

Kesepuluh eksekutor itu segera melesat ke sepuluh arah yang berbeda, meninggalkan Chu Yan yang berdiri sendirian di tengah lautan darah bersama Tetua Liu yang masih gemetar.

Ujung bibir Lin Ye langsung melengkung ke atas membentuk seringai iblis yang sangat mengerikan saat melihat kebodohan yang baru saja dilakukan oleh Chu Yan.

Membagi kekuatan di dalam wilayah perburuan seorang ahli seni kematian adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak akan bisa diperbaiki lagi.

"Kesombongan adalah racun paling mematikan bagi akal sehat," gumam Lin Ye tanpa mengeluarkan suara.

Ia mengangkat tangan kanannya perlahan dan membentuk sebuah segel tangan rumit yang memancarkan energi Yin purba berwarna hitam legam.

"Jenderal Wu An, aktifkan Domain Kabut Penelan Jiwa di seluruh area hutan bambu ini," perintah Lin Ye dengan otoritas mutlak.

1
rizky r
cerita menarik, balas dendam hantu
Lamia Dante
manarik
Lamia Dante
bagus ceritanya menarik, tidak berbelit belit, ayo balas demdam
Kalong Super
💪💪🤭
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
🥛
Lucy Sandy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!