Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leon
"Selamat pagi dunia."
Alesha memejamkan mata sambil menghirup udara pagi dalam-dalam, lalu membukanya perlahan.
Suasana di sekitar kontrakan masih begitu sunyi.
Bagaimana tidak, sekarang masih pukul lima pagi.
Langit bahkan belum sepenuhnya terang.
Alesha sudah rapi dan siap berangkat kerja.
Namun pagi ini, ia memutuskan mampir ke satu tempat sebelum berangkat ke kantor.
Tempat yang tak berhenti mengusik pikirannya sejak kemarin.
Alesha mulai melangkah keluar dari area kontrakan sambil mencari tukang ojek yang biasa mangkal atau melintas di sekitar jalan itu.
"Ojek, Neng," sapa seorang tukang ojek saat melihat Alesha.
Alesha mengangguk lalu menghampirinya.
"Iya, Pak."
"Mau ke mana, Neng?" tanya tukang ojek itu sambil menyerahkan sebuah helm kepada Alesha.
"Ke danau di Jalan Mawar itu, Pak," jawab Alesha.
"Siap, Neng."
Alesha mengenakan helmnya, lalu naik ke atas motor.
Tak lama kemudian, motor mulai melaju membelah jalan raya yang masih lengang di pagi hari.
Udara sejuk menerpa wajahnya.
Namun sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan.
Alesha menatap jalanan dengan perasaan campur aduk.
Ia yakin ada sesuatu di danau itu.
Sesuatu yang berkaitan dengan masa lalunya.
Potongan-potongan ingatan yang samar.
Suara anak kecil yang meringis kesakitan.
Dan rasa sesak yang selalu muncul setiap kali mengingat tempat itu.
Semua itu terus berputar di kepalanya.
Kali ini, ia ingin mencari jawabannya sendiri.
Tak selang lama, danau yang ditujunya mulai terlihat dari kejauhan.
Jantung Alesha berdegup sedikit lebih cepat.
Motor perlahan melambat sebelum akhirnya berhenti di tepi jalan.
"Sudah sampai, Neng," ucap tukang ojek itu.
Alesha tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya, Pak."
Ia turun dari motor, lalu melepas helm dan mengembalikannya kepada sang tukang ojek.
Setelah itu, Alesha menyerahkan uang ongkos.
"Makasih, Pak."
"Siap, Neng."
Alesha mengangguk pelan.
Setelah motor itu pergi meninggalkannya, ia berdiri seorang diri menatap danau yang berada tidak jauh di depannya.
Angin pagi berembus pelan, membuat permukaan air beriak tenang.
Entah kenapa, dadanya kembali terasa sesak saat berdiri di tempat itu.
Ada dorongan aneh yang membuatnya terus melangkah mendekat.
Sesuatu yang sudah lama hilang.
Alesha mulai melangkah perlahan menyusuri tepian danau.
Matanya mengamati setiap sudut.
Pohon-pohon yang berjajar.
Bangku tua di bawah rindangnya pohon.
Jalan setapak yang kemarin ia lalui bersama Leon.
Semakin jauh melangkah, dada Alesha justru semakin terasa sesak.
"Ada apa sebenarnya dengan tempat ini?" lirihnya.
Tanpa sadar, ucapan Leon kemarin kembali terngiang di telinganya.
“Apa kamu tidak mengingat sesuatu tentang danau ini?”
Alesha memegang dadanya.
Kenapa pria itu berkata seperti itu?
Kenapa Leon membawanya ke sini?
Dan kenapa tempat ini terasa begitu familiar?
Langkahnya terhenti.
Kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut.
"Sakit..."
Alesha memegangi pelipisnya.
Pandangannya mulai kabur.
Lalu...
Sebuah bayangan muncul.
Seorang anak laki-laki kecil.
Wajahnya penuh luka.
Tubuhnya kotor.
Anak itu duduk sendirian di tepi danau.
Alesha kecil menghampirinya.
"Hei, kamu kenapa?"
Anak laki-laki itu perlahan menoleh.
Tatapan Alesha langsung jatuh pada lututnya yang terluka.
Tanpa berpikir panjang, Alesha kecil segera berlari menghampirinya.
Bayangan berikutnya muncul.
Mereka berlari bersama.
Tertawa bersama.
Duduk di bawah pohon yang sama.
Bermain di tepi danau setiap hari.
Alesha memejamkan mata erat.
Kepalanya semakin sakit.
Kenangan demi kenangan bermunculan tanpa bisa ia hentikan.
Sampai akhirnya...
Hari terakhir.
Anak laki-laki itu berdiri di hadapannya.
"Aku harus pergi."
Alesha kecil langsung menatapnya bingung.
"Pergi ke mana?"
Anak laki-laki itu menunduk sesaat sebelum menjawab.
"Orang tuaku akan pindah ke luar negeri."
Deg.
Entah kenapa, hati Alesha terasa tidak enak mendengarnya.
"Lalu... kamu akan kembali ke sini?"
Anak laki-laki itu terdiam cukup lama.
Ia menatap permukaan danau yang tenang di hadapan mereka.
"Aku tidak tahu."
Jawaban itu membuat Alesha menunduk pelan.
"Besok aku berangkat," lanjut anak laki-laki itu. "Tapi sebelum aku pergi, aku ingin bermain bersamamu besok. Apa kamu bisa?"
Alesha terdiam.
Dadanya terasa sesak, meski ia tidak benar-benar mengerti kenapa.
Namun akhirnya ia mengangguk pelan.
"Iya."
Senyum kecil pun muncul di wajah anak laki-laki itu.
Bayangan itu perlahan memudar.
Berganti dengan suasana danau yang sepi.
Alesha kecil berdiri sendirian.
Menunggu.
Menunggu.
Dan terus menunggu.
Matahari perlahan tenggelam.
Namun anak laki-laki itu tak pernah datang.
"Leon..."
Suara Alesha kecil terdengar lirih.
"Leon, kamu ke mana?"
Brugh!
Kepala Alesha terasa seperti dihantam sesuatu.
Matanya langsung membelalak.
Leon.
Anak kecil itu... adalah Leon.
Dalam sekejap, seluruh kenangan yang hilang kembali memenuhi kepalanya.
Danau.
Janji perpisahan.
Anak laki-laki yang selalu menemaninya.
Leon.
"Tuan Leon..."
Air mata langsung mengalir dari sudut matanya.
Tubuh Alesha mulai limbung.
Pandangannya berputar.
"Leon..."
lirihnya untuk terakhir kali.
Lalu tubuhnya jatuh ke tanah.
Gelap.
Semuanya kembali gelap.
——
“Lea, apa kamu melihat Alesha?”
Lea yang sedang fokus menatap layar laptop langsung menoleh. Kakaknya tiba-tiba sudah berdiri di depan mejanya tanpa ia dengar langkah kakinya.
Lea menatap sinis Leon.
“Kakak ih, kalau masuk ke ruangan orang itu ketuk pintu dulu. Privasi tahu,” gerutunya.
Namun Leon sama sekali tidak peduli.
“Lea, apa kamu melihat Alesha?” ulangnya dengan nada dingin.
Lea mengernyit lalu menggeleng.
“Tidak. Hari ini aku belum ketemu Alesha. Memangnya kenapa?”
“Alesha tidak ada di ruangannya.”
“Hah?”
Lea langsung berdiri dari kursinya.
“Mungkin lagi ke toilet?”
Leon menggeleng.
“Sudah aku cek.”
“Ke kantin?”
“Tidak ada.”
Kini Lea ikut merasa ada yang tidak beres.
“Apa dia tidak masuk kerja?”
Leon tidak menjawab.
Sejak berangkat ke kantor tadi, ada kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan.
Seolah ada sesuatu yang terjadi pada Alesha.
Teringat kemarin kondisi wanita itu juga tidak benar-benar baik setelah pingsan di danau.
Lea segera membuka pintu ruangannya.
“Aku tanya karyawan.”
Leon mengikuti dari belakang.
Lea menghampiri salah satu karyawan.
“Apa Alesha masuk hari ini?”
Karyawan itu terlihat berpikir sesaat sebelum menggeleng.
“Tidak, Nona. Hari ini Kak Alesha tidak masuk dan tidak ada keterangan apa pun.”
Deg.
Lea langsung menoleh ke arah Leon.
Wajah kakaknya berubah semakin dingin.
“Aneh,” gumam Lea. “Alesha bukan orang yang bolos tanpa kabar.”
Leon mengepalkan tangannya.
Dadanya makin terasa sesak oleh firasat buruk.
“Aku ke kontrakannya.”
“Kak?”
Namun Leon sudah berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
——
Saat Leon melewati lobi perusahaan, suasana mendadak berubah sunyi.
Para karyawan otomatis menyingkir dari jalurnya.
Aura pria itu benar-benar mengerikan.
Bahkan Lea yang mengikuti dari belakang ikut merinding.
Kevin yang kebetulan baru datang mengernyit.
“Ada apa?”
Lea menatap punggung Leon yang semakin menjauh.
“Kak Leon lagi cari Alesha.”
Melihat wajah Leon, Kevin tak perlu bertanya lagi. Ia langsung mengerti.
—
Leon masuk ke mobilnya lalu menyalakan mesin.
Brumm!
Mobil melesat keluar dari area perusahaan.
Sepanjang perjalanan, nama Alesha tak pernah lepas dari pikirannya.
Kenapa dia tidak masuk kerja?
Kenapa tidak memberi kabar?
Apa dia sakit?
Atau... terjadi sesuatu?
Tangannya mencengkeram setir semakin erat.
Ia bahkan tidak peduli dengan kendaraan lain yang membunyikan klakson.
Yang ada di kepalanya hanya satu.
Alesha.
Beberapa menit kemudian, mobilnya berhenti di depan kontrakan Alesha.
Leon langsung turun.
“Alesha!”
Tak ada jawaban.
“Alesha!”
Tetap sunyi.
Beberapa tetangga mulai menoleh ke arahnya.
Leon kembali mengetuk pintu kontrakan itu.
Tok! Tok! Tok!
“Alesha!”
Masih tidak ada sahutan.
Seorang ibu-ibu akhirnya mendekat.
“Tuan cari Alesha?”
Leon langsung menoleh.
“Iya. Ibu melihatnya?”
“Iya, Tuan. Tadi pagi sekali dia sudah berangkat.”
Leon mengernyit.
“Dia tidak masuk kerja.”
“Hah?”
Ibu itu terlihat terkejut.
Tak lama, seorang pria yang sedang duduk di depan rumah ikut mendekat.
“Kalau mau tahu, coba tanya tukang ojek di pangkalan depan, Tuan. Tadi saya lihat Alesha berangkat naik ojek.”
Leon mengangguk singkat.
Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari menuju pangkalan ojek.
“Siapa yang mengantar Alesha pagi ini?”
Salah satu tukang ojek mengangkat tangan.
“Saya, Tuan.”
“Ke mana kamu mengantarnya?”
“Ke danau di Jalan Mawar.”
Wajah Leon langsung berubah.
Danau.
Kenapa Alesha pergi ke sana sendirian?
Tanpa berkata apa-apa lagi, Leon berbalik dan berlari menuju mobilnya.
Firasat buruk itu semakin menghimpit dadanya.
Seolah sesuatu benar-benar telah terjadi.
Mobilnya kembali melaju kencang membelah jalan.
Hanya butuh beberapa menit hingga akhirnya ia sampai di danau itu.
Leon langsung turun dari mobil.
Matanya menyapu seluruh area.
“Alesha!”
Tak ada jawaban.
“Alesha!”
Ia berjalan semakin cepat menyusuri tepian danau.
Sampai akhirnya langkahnya terhenti.
Mata Leon membelalak.
Tak jauh dari sana, tubuh Alesha terbaring tak sadarkan diri di atas rerumputan.
“ALESHA!”
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁