Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kebangkitan Sang Penulis Gagal dan Kartu Hitam Tanpa Batas
Kesadaran itu datang perlahan, seperti tinta yang merembes di atas kertas buram. Hal terakhir yang diingat Rizky Adhitya adalah tumpukan surat penolakan dari berbagai penerbit yang berserakan di meja reyotnya. Sebagai seorang penulis novel yang selalu gagal terbit, hidupnya di dunia nyata hanyalah rangkaian kesialan yang dibalut kemiskinan. Ia terbiasa tidur dengan perut keroncongan, bermimpi suatu hari nanti karyanya akan dipajang di rak buku toko terkemuka.
Namun, saat ia membuka mata, yang ia lihat bukanlah langit-langit kamar kosnya yang berjamur. Sebaliknya, ia menatap langit-langit setinggi empat meter dengan ukiran emas gaya Barok yang sangat rumit. Bau harum lavender dan kayu cendana mahal menusuk penciumannya, jauh berbeda dari aroma mi instan kadaluwarsa yang biasanya memenuhi ruangannya.
"Di mana ini?" gumamnya. Suaranya terdengar berbeda—lebih berat, lebih jernih, dan terdengar sangat... berwibawa.
Rizky bangkit dari tempat tidur yang begitu empuk hingga ia merasa seperti tenggelam di awan. Ia melangkah menuju cermin besar berbingkai perak di sudut ruangan. Detak jantungnya berhenti seketika saat melihat pantulan dirinya. Di sana berdiri seorang pria muda dengan wajah yang luar biasa tampan namun memiliki tatapan yang sangat dingin dan tajam. Rambutnya hitam legam tertata rapi, dan aura yang terpancar darinya seolah-olah bisa membekukan ruangan tersebut.
"Ini... Rizky Adhitya?" bisiknya. Bukan Rizky si penulis miskin, melainkan Rizky Adhitya sang Antagonis utama dari novel yang pernah ia baca—dan ironisnya, karakter ini memiliki nama yang sama dengannya.
Dalam alur asli novel tersebut, Rizky adalah putra mahkota dari Adhitya Group, konglomerat yang menguasai sektor properti hingga media. Ia adalah pria yang dingin, kejam, dan jahat, yang menghabiskan hidupnya terobsesi mengejar tunangannya, Aprillia Rahma, hanya untuk berakhir tragis dan mati mengenaskan di tangan protagonis pria, Rama Wijaya.
"Tunggu, kalau aku masuk ke tubuh ini, berarti aku akan mati?" Rizky merinding. Sebagai mantan penulis yang hidupnya sudah cukup pahit, ia tidak punya niat sedikit pun untuk mati demi cinta yang tidak terbalas di dunia novel ini. "Persetan dengan alur cerita! Persetan dengan mengejar heroine! Kalau aku punya uang sebanyak ini, lebih baik aku bersenang-senang!".
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di dalam kepalanya, disertai dengan layar holografis biru yang muncul entah dari mana.
[Ding! Sistem Menghamburkan Uang (Money Squandering System) Berhasil Diaktifkan!] [Mengikat Inang: Rizky Adhitya] [Status Inang: Antagonis Kaya Raya yang Bosan]
Rizky terbelalak. "Sistem? Jadi ini nyata?"
[Misi Utama: Nikmati kehidupan mewah Anda sepenuhnya. Setiap sen yang Anda hamburkan untuk kesenangan pribadi atau untuk mengacaukan alur asli akan dikonversi menjadi poin hadiah dan peningkatan atribut tubuh.] [Peringatan: Jika Inang mencoba menjadi pahlawan yang hemat\, Sistem akan memberikan hukuman 'Kemiskinan Abadi'.]
Rizky tertawa kecil. Sebagai orang yang seumur hidupnya harus menghitung recehan hanya untuk membeli kopi, misi ini terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. "Menghamburkan uang? Itu adalah keahlian yang belum pernah aku latih, tapi aku yakin aku adalah bakat alami di bidang ini!".
[Hadiah Pendatang Baru Diberikan: Kartu Hitam Tanpa Batas (Unlimited Black Card).] [Deskripsi: Kartu ini tidak memiliki batas saldo dan tidak terhubung dengan rekening keluarga Adhitya. Gunakan sesuka Anda tanpa perlu melapor pada siapa pun.].
Sebuah kartu berwarna hitam pekat dengan pinggiran emas muncul di tangannya. Kartu itu terasa dingin dan berat, memberikan sensasi kekuasaan yang nyata. Rizky kini benar-benar mandiri dari kekuasaan ayahnya, Rizal Adhitya, yang dikenal sangat tegas dan dingin.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar yang besar itu terbuka. Seorang pria muda dengan setelan jas rapi dan kacamata masuk dengan kepala tertunduk, tampak gemetar. Ia adalah Rafa Ariyanto, asisten pribadi sekaligus sahabat setia Rizky di dunia ini.
"Tu-Tuan Muda... Anda sudah bangun?" suara Rafa bergetar. Ia terbiasa menghadapi Rizky yang dingin dan bisa meledak marah kapan saja hanya karena masalah sepele. "Nona Aprillia sudah menunggu di bawah. Beliau... beliau ingin membahas pembatalan pertunangan lagi."
Rizky menatap Rafa. Dalam ingatan aslinya, Rizky yang dulu akan langsung mengamuk, menghancurkan barang, dan menyeret April agar tidak pergi. Tapi Rizky yang sekarang berbeda. Ia adalah pria periang yang baru saja mendapatkan kartu ajaib.
"Rafa!" Rizky berseru dengan nada sangat ramah, hampir bersenandung.
Rafa tersentak, bahunya berjingkat. "I-Iya, Tuan Muda? Mohon jangan pukul saya, saya hanya menyampaikan pesan!"
Rizky menghampiri Rafa dan merangkul bahunya dengan akrab. "Pukul? Kenapa aku harus memukul asistenku yang tampan ini? Ayo, angkat kepalamu! Hari ini cuaca sangat cerah, kenapa wajahmu mendung begitu?".
Rafa membeku. Matanya membelalak di balik kacamata. Siapa orang ini? Di mana Tuan Muda saya yang kejam? Apakah dia kerasukan setan periang? batin Rafa dengan panik.
"Dengar, Rafa. Bilang pada April, eh, maksudku Nona Aprillia, aku akan turun setelah aku mandi," kata Rizky sambil tersenyum lebar. "Oh, dan satu lagi. Pesan sepuluh unit mobil mewah tipe terbaru pagi ini juga. Aku ingin memberikan masing-masing satu untuk para pelayan di rumah ini sebagai bonus karena sudah menyapu lantai dengan bersih."
"A-Apa?" Rafa hampir jatuh tersungkur. "Tuan Muda, itu akan menghabiskan puluhan miliar! Tuan Besar Rizal pasti akan marah besar—"
Rizky mengeluarkan Kartu Hitam pemberian Sistem dan menggoyangkannya di depan hidung Rafa. "Jangan pakai uang ayahku. Pakai kartu ini. Ini adalah kartu 'Kesenangan Rizky'. Dan jangan tanya dari mana asalnya, asumsikan saja aku menemukan harta karun di bawah tempat tidur.".
Rizky kemudian melangkah masuk ke kamar mandi mewah yang luasnya hampir sama dengan seluruh rumah kos lamanya. Di bawah guyuran air hangat, ia mulai merenung. Sebagai seorang penulis gagal, ia tahu betul alur novel ini. Rama Wijaya, si protagonis yang munafik itu, saat ini sedang mencoba membangun citra sebagai pahlawan di media milik ibu Rizky, Yeti Adhitya.
"Rama ingin menjadi pahlawan yang dicintai publik menggunakan kebaikan palsunya?" Rizky menyeringai saat ia mengeringkan rambutnya. "Mari kita lihat apakah dia masih bisa menjadi pahlawan jika aku membeli seluruh 'panggung' yang ingin ia gunakan.".
Setelah berpakaian dengan setelan jas seharga ratusan juta yang terasa sangat nyaman di kulitnya, Rizky turun ke lantai bawah. Di ruang tamu yang megah, Aprillia Rahma duduk dengan wajah yang penuh kebencian dan ketegangan. Ia sudah siap untuk menghadapi teriakan atau kemarahan Rizky saat ia menuntut pembatalan pertunangan.
Namun, yang ia lihat adalah Rizky yang turun sambil bersiul kecil, mengenakan kacamata hitam, dan memegang secangkir kopi mahal dengan santai.
"Halo, April! Wah, pagi-pagi sudah cantik sekali," sapa Rizky dengan nada ceria yang sangat asing bagi telinga April.
April berdiri, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Rizky, jangan mulai lagi. Aku datang ke sini bukan untuk basa-basi. Aku ingin kita mengakhiri—"
"Oh, soal pertunangan itu?" potong Rizky sambil duduk di sofa seberang April, menyilangkan kakinya dengan gaya sultan. "Tentu saja. Kalau kamu ingin batal, ayo batal sekarang juga. Aku tidak ingin menghambat kebahagiaanmu. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengejar orang yang tidak mau dikejar.".
Keheningan seketika menyelimuti ruangan tersebut. April terpaku. Kalimat makian yang sudah ia siapkan di ujung lidahnya mendadak hilang. Ia menatap Rizky seolah-olah pria itu baru saja menumbuhkan kepala kedua. Rizky Adhitya yang obsesif dan dingin, baru saja setuju untuk melepaskannya dengan senyuman?.
"Kamu... kamu serius?" suara April melemah karena bingung.
"Seratus persen serius!" Rizky meminum kopinya. "Malah, sebagai tanda perpisahan yang baik, Rafa! Berikan Nona April cek kosong. Biarkan dia menulis angka berapa pun yang dia mau untuk modal usahanya. Anggap saja itu biaya kompensasi karena aku sudah mengganggunya selama ini.".
Rafa yang berdiri di belakang sofa hanya bisa memegang kepalanya yang mulai berdenyut. "Tuan Muda... Anda benar-benar sudah tidak waras," bisiknya pelan, namun ia tetap menjalankan perintah bosnya.
Rizky hanya tertawa. Di sudut matanya, layar Sistem muncul kembali.
[Ding! Menghamburkan 10 Miliar untuk bonus pelayan dan menawarkan cek kosong pada Heroine!] [Tingkat Kepuasan: Tinggi!] [Hadiah: Peningkatan Atribut 'Karisma Antagonis' dan Poin Keberuntungan +50!] [Saldo Kartu Hitam: Tak Terbatas (Tetap).]
Rizky menyandarkan tubuhnya, merasa sangat puas. Baginya, ini bukan sekadar bertahan hidup; ini adalah balas dendam terhadap nasibnya yang malang di masa lalu. Rama Wijaya boleh memiliki gelar 'Protagonis', tapi Rizky Adhitya memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat di dunia novel mana pun: Kekuatan uang yang tidak masuk akal dan pengetahuan tentang masa depan.
"Selamat datang di duniaku yang baru, Rama," batin Rizky sambil menatap ke luar jendela besar rumahnya. "Mari kita lihat berapa lama topeng pahlawanmu itu bisa bertahan saat aku mulai membeli takdirmu.".