Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MURKA HITAM DARI PERUT BUMI
Hujan gerimis yang membasahi gang buntu itu mendadak terasa menguap sebelum menyentuh tanah, terusir oleh hawa panas yang memancar dari tubuh Zei. Aura Qi bumi hitam kecokelatan berputar liar, meremukkan sisa-sisa lantai batu di sekeliling kakinya menjadi debu halus. Ketiga pembunuh Sekte Taring Besi, yang beberapa detik lalu tertawa puas di atas penderitaan A-Lang, kini membeku. Insting bertahan hidup mereka menjeritkan satu pesan yang sama: Lari.
Namun, ruang gerak di gang buntu itu sudah terkunci oleh gravitasi masif Zei.
"M-monster macam apa ini?!" teriak murid bergada besar, mencoba mengusir rasa takutnya. Dengan raungan panik, ia mengayunkan gada besi berdurinya sekencang mungkin, mengarah lurus ke pelipis Zei.
Zei tidak menghindar. Ia bahkan tidak mengangkat kedua lengannya untuk memasang kuda-kuda. Ketika gada besi itu berada satu jengkal dari wajahnya, tangan kanan Zei melesat maju seperti bayangan kilat yang gelap.
PRAKKKK!
Tangan kosong Zei mencengkeram ujung gada besi berdurinya secara langsung. Benturan itu memicu gelombang getaran hitam yang hebat. Gada baja yang tebal itu mendadak retak, lalu hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam di dalam genggaman Zei. Tanpa memberi jeda untuk rasa terkejut lawan, Zei melangkah maju, menghantamkan tangan kirinya yang dilapisi energi bumi hitam pekat tepat ke dada sang murid inti.
GEBUMMM!
Pukulan Tinju Pembongkar Bumi versi liar itu menembus zirah pelindung dan meremukkan seluruh tulang dada lawan hingga melesat amblas ke dalam. Tubuh pembunuh bergada itu terlempar horizontal, menghantam dinding batu gang hingga runtuh total, menguburnya dalam kondisi tewas seketika.
Dua pembunuh bertopeng besi yang tersisa langsung kehilangan seluruh keberanian mereka. Mereka berbalik untuk melompat ke atas atap, namun gravitasi hitam di sekitar Zei mendadak berlipat ganda, menarik tubuh mereka kembali jatuh menghantam tanah dengan keras.
Zei bergerak seperti hantu kelam di bawah guyuran hujan. Dalam dua gerakan yang brutal dan presisi, ia mematahkan kaki dan memutar leher kedua pembunuh tersebut tanpa ampun. Jeritan kesakitan mereka terputus dalam hitungan detik, digantikan oleh suara deru hujan yang kembali mendominasi keheningan malam yang pekat. Gang sempit itu kini telah berubah menjadi kuburan massal yang hancur berantakan.
Begitu musuh terakhir tumbang, pancaran aura hitam di sekeliling tubuh Zei mendadak meredup secara drastis. Warna merah-emas di matanya memudar, kembali menjadi hitam kelam.
"Ugh..." Zei berlutut, memuntahkan seteguk darah hitam yang kental ke atas tanah.
Dampak dari memaksa dantian meledakkan energi saat meridiannya belum pulih total dari pembekuan es Qian Yue'er terasa sangat menyiksa. Sekujur tubuhnya serasa ditusuk oleh ribuan jarum berkarat, dan energinya langsung merosot drastis hingga ke titik nadir.
WUSH!
Sosok Tetua Gu mendarat di dalam gang dari balik bayangan atap rumah. Jubah tuanya tampak robek di beberapa tempat dengan noda darah segar yang bukan miliknya—tanda bahwa ia baru saja menyelesaikan sisa pembunuh di lorong bawah tanah. Pria tua itu tertegun sejenak, menatap kehancuran gang dan tiga jasad pembunuh Taring Besi sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah Zei.
"Kau benar-benar anak gila, Bocah," bisik Tetua Gu, nadanya bercampur antara takjub dan cemas. Ia segera memeriksa denyut nadi Zei, lalu beralih cepat ke arah A-Lang yang masih terbaring lemah di sudut gang dengan napas yang terputus-putus.
"Kita tidak punya waktu lagi. Master Sekte Taring Besi sudah gila. Dia mengerahkan seluruh muridnya untuk menutup semua gerbang utama Kota Kecamatan. Kota ini sudah menjadi sangkar maut bagi kita," ucap Tetua Gu sembari membopong tubuh ringkih A-Lang ke atas punggungnya, lalu menarik lengan Zei yang melemah agar berdiri.
Dengan sisa kesadaran yang menipis, Zei memaksa kakinya bergerak mengikuti langkah Tetua Gu. Mereka menyusuri jalan-jalan tikus yang paling gelap di kota, menghindari patroli obor para murid sekte kota yang mulai berteriak-teriak mencari keberadaan mereka.
Tiba-tiba, suara ledakan beruntun terdengar dari sisi barat kota, memicu kobaran api raksasa yang mewarnai langit malam menjadi merah jingga.
"Itu kedai-kedai logistik milik Sekte Taring Besi. Aku sudah memasang formasi peledak sebelum ke mari untuk memecah konsentrasi mereka," ujar Tetua Gu dengan seringai tipis. "Sekarang, lewat sini!"
Pria tua itu membawa mereka menuju gerbang air bawah tanah—sebuah terowongan sempit tempat pembuangan limpahan air hujan kota yang langsung bermuara ke arah hutan liar di kaki Gunung Kuarsa. Mereka merangkak keluar menembus jeruji besi yang sudah digergaji oleh Tetua Gu sebelumnya, meninggalkan gemuruh kekacauan Kota Kecamatan di belakang mereka.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur ketika mereka berhasil mencapai puncak perbukitan di luar batas wilayah administrasi Kota Kecamatan. Sinar matahari pagi yang hangat mulai mengusir sisa-sisa hawa dingin malam, menyinari hamparan kabut yang menyelimuti hutan lebat di bawah mereka. From kejauhan, Kota Kecamatan yang megah dengan Stadion Kuarsa Putihnya kini tampak seperti kotak batu kecil yang dipenuhi kepulan asap hitam akibat konspirasi dan dendam semalam.
Zei duduk bersandar pada batang pohon besar, napasnya mulai teratur meski tubuhnya masih terasa sangat lelah. Di tangannya, ia menggenggam erat selendang sutra putih milik Qian Yue’er. Selendang yang semula murni itu kini telah ternoda oleh beberapa cipratan darah hitam milik para pembunuh di gang sempit tadi—sebuah simbol yang kontras antara kesucian langit dan realitas bumi yang kotor.
A-Lang terbaring di sampingnya, terbungkus jubah luar milik Tetua Gu. Napasnya masih lemah, namun detak jantungnya sudah stabil berkat pil penyembuh darurat yang dijejalkan oleh Tetua Gu ke dalam mulutnya selama perjalanan tadi.
Tetua Gu berdiri di tepi tebing, menatap bentangan jalur hutan liar yang luas di depan mereka dengan pandangan mata yang menerawang jauh.
"Kota Kecamatan sudah mati bagi kita, Zei. Kau tidak akan bisa kembali ke sana lagi," ucap Tetua Gu tanpa menoleh, suaranya terdengar berat dan serius di bawah embusan angin pagi. "Satu-satunya cara agar kau bisa bertahan hidup, membalas perbuatan mereka, dan menyembuhkan luka dalam anak ini secara total adalah dengan pergi ke Sekte Pusat yang berada di Ibu Kota Wilayah."
Zei mengangkat wajahnya yang penuh coretan debu dan darah kering, menatap punggung gurunya. "Sekte Pusat?"
"Ya. Di sana adalah tempat para monster kultivasi yang sesungguhnya berkumpul. Tempat di mana hukum rimba berlaku lebih mutlak, namun juga tempat di mana kau bisa menemukan sumber daya untuk menjadi tak tertandingi," Tetua Gu memutar tubuhnya, menatap lurus ke sepasang mata Zei. "Tapi perjalanan menembus Hutan Kematian untuk menuju ke sana tidak akan mudah. Banyak kultivator tingkat tinggi yang tewas menjadi santapan binatang buas di dalam sana."
Zei menunduk, menatap selendang sutra putih bernoda darah di tangannya, lalu beralih menatap wajah pucat A-Lang yang telah mengorbankan nyawanya demi melindunginya. Ketakutan di dalam dirinya telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh tekad baru yang sedalam inti bumi.
Ia mengepalkan tinjunya erat-erat hingga getaran Qi tanah murninya kembali berdenyut samar. "Aku tidak peduli seberapa berbahaya hutan itu, Tua Bangka. Aku akan meratakan jalan menembusnya."
Matahari pagi naik lebih tinggi, menyinari awal dari perjalanan baru sang petani dari desa lumpur. Turnamen kecil di kota kecamatan telah berakhir, namun panggung dunia kultivasi yang sesungguhnya—yang jauh lebih luas, kejam, dan megah—baru saja membentangkan jalurnya di depan mata Zei.