Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Influencer Gaib
Malam itu, strategi "Influencer Gaib" dimulai. Dinda menyiapkan peralatan dengan serius seolah-olah akan melakukan operasi bedah jantung. Tripod kamera, ring light, dan dua ponsel siap merekam dari sudut berbeda.
Bara, di sisi lain, merasa seperti orang yang akan dieksekusi. Ia berdiri di tengah ruang tamu, memegang sebuah pengeras suara hantu (sejenis corong plastik tua yang ia temukan di gudang) yang konon bisa memperkuat frekuensi suara gaib hingga tiga kali lipat.
"Yakin ini bakal berhasil?" tanya Bara gugup.
"Percaya sama aku," kata Dinda sambil mengecek angle kamera. "Hantu itu sama kayak selebgram. Mereka haus validasi. Kalau kita kasih mereka panggung, mereka bakal lupa kalau mereka seharusnya menakutkan."
Dinda mengambil napas dalam, lalu berteriak ke arah ventilasi udara: "MBAAAK YULIIII! ADA TAWARAN MENARIK NIH!"
Hening sejenak. Lalu, terdengar suara gesekan kuku di dinding. Srekkk... srekkk...
Dari ventilasi, muncul wajah Mbak Yuli yang penuh curiga. Bedaknya retak di pipi kiri. "Apa lagi kalian? Mau lapor Pak Broto lagi?"
"Bukan, Mbak," kata Dinda dengan senyum paling manis yang bisa ia buat. "Kami mau tawarin kolaborasi. Konten bareng. Judulnya: 'Rahasia Kecantikan Abadi ala Hantu Senior'."
Mata Mbak Yuli membesar. "Kecantikan abadi?"
"Iya. Kami akan bikin video tutorial. Mbak Yuli jadi bintang utamanya. Kami yang jadi kru. Viewers pasti jutaan. Mbak Yuli bakal jadi hantu paling terkenal di Jakarta Selatan. Bahkan mungkin diliput oleh akun gosip alam gaib!"
Mbak Yuli keluar sepenuhnya dari ventilasi, melayang rendah dengan kebaya merahnya yang berkilau (karena baru saja disetrika pakai energi panas). "Terus? Apa untungnya buat aku?"
"Followers," kata Dinda singkat. "Dan... kami akan belikanMbaku parfum Eau de Mort edisi terbatas. Yang baunya bukan bawang goreng, tapi mawar hitam."
Wajah Mbak Yuli bersinar. Parfum itu adalah barang langka di dunia hantu. Hanya hantu-hantu aristokrat zaman Belanda yang punya.
"Deal," kata Mbak Yuli cepat. "Tapi aku mau close-up. Dan jangan edit-edit wajahku pakai filter aneh-aneh. Aku mau kelihatan natural tapi angker."
"Siap, Mbak," kata Dinda. "Mulai sekarang, rekaman berjalan."
Lampu merah di kamera menyala. Dinda memberi isyarat pada Bara. Bara mengangguk, lalu mulai mengatur pencahayaan agar terlihat dramatis.
"Aksi!" bisik Dinda.
Mbak Yuli segera berpose. Ia mengangkat tangannya, membiarkan rambut panjangnya terurai, dan mengeluarkan suara lengkingan tinggi yang khas. "Huuuiiiiii... Lihatlah kecantikanku yang tak lekang oleh waktu..."
Dinda mengarahkan kamera, memberikan komentar layaknya beauty vlogger. "Wow, Mbak Yuli hari ini glowing banget ya, Guys! Kulit pucatnya alami, nggak perlu foundation. Dan lihat, auranya sangat kuat!"
Mbak Yuli tersenyum bangga, menunjukkan gigi-giginya yang agak kuning. "Terima kasih, Dinda. Rahasianya adalah rutin makan nasi bungkus sisa orang hidup. Itu mengandung banyak nutrisi emosional."
Bara menahan tawa. Ini gila. Tapi sejauh ini, rencananya berjalan lancar. Mbak Yuli terlalu sibuk dengan egonya untuk menyadari bahwa ini semua jebakan.
Tiba-tiba, pintu apartemen terbuka.
Masuklah seorang pria muda dengan jaket hoodie hitam, membawa tas ransel besar. Wajahnya datar, matanya tajam. Ia tidak melihat Dinda atau Bara. Matanya langsung tertuju pada Mbak Yuli.
"Eh, ada apa ini?" kata pria itu. Suaranya berat dan serak.
Mbak Yuli berhenti berpose. "Siapa kamu? Ini syuting privat!"
Pria itu tersenyum tipis. Ia membuka tas ranselnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah alat berbentuk kotak dengan antena berputar. Alat itu berbunyi bip-bip-bip cepat saat diarahkan ke Mbak Yuli.
"Detektor Ektoplasma Tipe-X," kata pria itu. "Saya dari Dinas Penertiban Energi Gaib Ilegal. Ada laporan tentang aktivitas paranormal tidak berizin di blok ini."
Mbak Yuli panik. "Apa?! Saya punya izin! Izin saya dari Ketua RT Alam Gaib!"
"Izin lokal tidak berlaku untuk siaran publik," kata pria itu dingin. "Anda melanggar Pasal 5 UU No. 666 Tahun 1998 tentang Larangan Eksploitasi Komersial Terhadap Entitas Non-Fisik Tanpa Pajak Hiburan."
Dinda dan Bara saling pandang. Siapa ini? pikir Bara. Ini bukan bagian dari skenario!
Pria itu menekan sebuah tombol di alatnya. Tiba-tiba, tubuh Mbak Yuli bergetar hebat. Ia menjerit kesakitan. "Aduh! Sakit! Energiku tersedot!"
"Hentikan!" teriak Dinda. "Itu teman saya!"
Pria itu menoleh pada Dinda. "Maaf, Nona. Ini prosedur. Kami harus menyita entitas ini untuk diinterogasi. Silakan mundur."
Bara merasa ada yang tidak beres. Pria itu terlalu profesional. Terlalu dingin. Dan alat itu... Bara mengenali simbol kecil di sisi alat itu. Simbol segitiga terbalik dengan mata di tengahnya.
Itu bukan Dinas Penertiban. Itu adalah The Order of Silence, kelompok pemburu hantu radikal yang percaya bahwa semua hantu harus dimusnahkan, bukan diatur.
"Mbak Yuli, lari!" teriak Bara.
Mbak Yuli mencoba melayang cepat ke arah ventilasi, tapi alat itu menariknya seperti magnet. Ia terjebak di udara, tubuhnya semakin memudar.
"Tolong!" jerit Mbak Yuli, kali ini dengan ketakutan asli. Bukan akting.
Dinda melihat kepanikan di wajah Mbak Yuli. Ia tahu ini nyata. Ia melempar tripod kameranya ke arah pria itu. Brakk! Alat detektor itu jatuh, sambungan listriknya putus.
Mbak Yuli terlepas. Ia terbang kencang, menabrak langit-langit, lalu menghilang masuk ke dalam dinding dengan kecepatan cahaya.
Pria itu mendengus kesal. Ia memungut alatnya, lalu menatap Dinda dan Bara dengan tatapan dingin.
"Kalian melindungi kriminal gaib," katanya. "Ini akan dilaporkan. Siapkan diri kalian untuk audit yang lebih keras."
Ia berbalik dan keluar dari apartemen, meninggalkan keheningan yang mencekam.
Bara gemetar. "Dia... dia dari The Order of Silence. Mereka berbahaya, Din. Mereka nggak main-main soal aturan. Mereka bisa menghapus eksistensi hantu secara permanen."
Dinda menatap pintu yang tertutup. Wajahnya pucat. "Kita baru saja membuat musuh baru. Dan Mbak Yuli pasti menyalahkan kita karena hampir ditangkap."
Bara mengangguk lesu. "Dan Pak Broto besok malam ingin melihat teriakan histeris. Sekarang kita punya masalah keamanan, masalah hubungan dengan tetangga hantu, dan masalah atasan yang galak."
Dinda duduk di sofa, memegangi kepalanya. "Aku butuh kopi. Kopi yang kuat. Sangat kuat."
Bara melayang di sampingnya. "Aku juga. Tapi aku nggak bisa minum kopi."
"Diamlah, Bara. Kamu sudah cukup menyusahkan hari ini."
Mereka duduk dalam diam. Di luar, hujan mulai turun deras, seolah langit turut menangisi nasib mereka yang semakin rumit.
Besok malam adalah hari penentuan. Dan mereka belum memiliki rencana apa-apa selain kepanikan.
Tapi di sudut ruangan, kamera masih merekam. Lampu merahnya tetap menyala, menangkap setiap detik kecemasan mereka. Mungkin, justru rekaman inilah yang akan menjadi kunci penyelamatan mereka. Atau justru bukti kesalahan terbesar mereka.
Hanya waktu yang akan menjawab.