Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamilnya Sintia
Hooeekk Hhoeeekk Hhooeekk
Pagi‑pagi Sintia terbangun dan dia berlari masuk ke kamar mandi. Dia mual serta muntah‑muntah, sudah beberapa hari ini Sintia merasa ada yang tidak beres dengan lambungnya.
Sintia keluar dari kamar mandi dengan lemas dan wajah yang pucat.
" Ada apa dengan perutku? Kenapa mual terus dari dua hari yang lalu. Padahal aku juga sudah mengurangi makanan pedas, tapi asam lambung masih saja tinggi."Ucap Sintia duduk di pinggiran ranjangnya sambil mengusap perut yang masih terasa mual.
Sintia keluar kamar untuk meminta ibu mertuanya membuatkan teh hangat. Siapa tahu dengan minum teh hangat mualnya sedikit berkurang.
" Bu, buatin teh hangat dong. Perut Sintia mual banget bu, tadi muntah juga."Ucap Sintia menjatuhkan bobot tubuhnya di samping ibu Sundari yang sedang menonton televisi.
Bukannya memasak untuk sarapan, ibu Sundari justru duduk manis minum teh sambil menonton acara gosip pagi.
" Minta buatin saja pembantu itu, ibu lagi tanggung nih sebentar lagi selesai acaranya."Jawab ibu Sundari bicara tanpa melihat lawan bicaranya.
" Ribet bu, aku lagi malas ribut sama Hana. Pasti dia marah kalau aku menyuruh pembantunya itu. Sintia mual, muntah sudah beberapa hari ini bu. Makan pun malas banget bu."Seru Sintia dengan suara yang lemah.
Ibu Sundari pun memalingkan wajahnya ke arah Sintia, dia melihat wajah Sintia yang pucat pasi.
" Kamu hamil?."Seru ibu Sundari langsung menebak jika Sintia saat ini sedang hamil.
Hamil ?
Sintia pun langsung menegakkan tubuhnya.
Hamil ? Apa benar dia saat ini sedang hamil ?
Sintia mengingat‑ingat kapan terakhir dia datang bulan. Sintia pun ingat, dia terakhir kedatangan tamu bulannya tepatnya saat Bayu sudah 3 minggu kembali di tempat kerjanya. Jika pun dia hamil, anak itu bukan anak Bayu melainkan anak Dimas.
Aku ingat betul, 3 minggu setelah mas Bayu pergi aku dapat tamu bulanan. Dan saat selesai aku melakukannya dengan Dimas saat Dimas pulang kerja. Dan aku pun sudah 1 bulan tidak suntik KB. Bagaimana ini? Apa mas Bayu akan curiga, sebab dia sudah 2 bulan ini tidak pulang.*Gumam Sintia dalam hatinya.
" Sintia, kok diam saja? Apa kamu hamil?."Tanya ibu Lastri lagi.
" Bisa jadi bu. Aku juga sudah telat datang bulan."Jawab Sintia.
" Biar yakin, kamu harus periksa. Apa kamu punya alat tes kehamilan? Kalau tidak punya nanti ibu belikan di apotik depan, mudah‑mudahan kamu beneran hamil. Ibu sudah tidak sabar ingin cepat‑cepat menggendong cucu. Ibu yakin kamu ini pasti hamil "Seru Ibu Sundari terlihat bahagia.
" Mbak Sintia hamil ?." Tanya Dimas yang baru saja pulang dari lari pagi.
Dimas menatap lurus ke arah Sintia. Apakah benar Sintia hamil? Dan anak siapakah yang dikandungnya? Jantung Dimas berdebar‑debar tidak menentu, jika itu anaknya dia harus bagaimana?.
" Iya Dimas, sepertinya aku hamil."Jawab Sintia dengan suara manja.
" Aku mau ke kamar dulu ya bu, mau tes pakai alat kehamilan. Kebetulan aku punya kok."Seru Sintia tiba‑tiba rasa lemas di badannya sudah tidak terasa lagi. Itu semua karena kehadiran Dimas.
Ibu Sundari ikut mengantarkan Sintia ke kamarnya untuk melakukan tes kehamilan. Sementara itu, Dimas masih diam mematung di tempatnya. Apa yang akan dia katakan kepada Hana dan Bayu, jika benar anak yang di kandung Sintia adalah anaknya.
" Ibu garis dua bu, Sintia hamil bu."Seru Sintia dengan kencang sehingga semua orang rumah mendengarnya.
" Dimas aku hamil, mas."Seru Sintia memanggil Dimas lalu mendekati Dimas. Bahkan Sintia meninggalkan ibu mertuanya yang berdiri di depan kamarnya.
Iya mbak, selamat ya. Jangan lupa kabari mas Bayu, agar dia tahu mbak hamil dan semakin semangat kerjanya."Ucap Dimas meminta Sintia untuk mengabari Bayu soal kehamilannya.
Tapi Dim, ini anak..."
Sintia tidak melanjutkan ucapannya, sebab di sana juga ada ibu Sundari. Tidak mungkin dia bicara jujur soal anak itu anak Dimas, yang ada dia akan dicaci maki ibu mertuanya.
" Tidak jadi."Ucap Sintia pelan dan hanya bisa didengar oleh Dimas.
Dimas hanya mengangguk pelan, lalu dia berjalan menuju kamarnya. Baru juga hendak membuka pintu, Hana sudah lebih dulu membuka pintu. Wajah Hana terlihat sedih, seperti orang yang habis menangis.
" Kamu kenapa, Han?."Tanya Dimas lalu tangannya terulur hendak membelai pipi Hana.
Pllaakkk
Dengan kasar Hana menyingkirkan tangan Dimas, dia tidak sudi di pegang oleh Dimas. Kabar kehamilan Sintia terdengar di telinga Hana, meskipun sudah mencoba untuk kuat Hana tetaplah seorang wanita yang bisa sakit hati dan sedih. Perselingkuhan Dimas dan Sintia sudah cukup menyiksanya, tapi kabar kehamilan Sintia semakin menambah rasa sakit hatinya.
" Kamu ini kenapa? Kasar banget jadi istri."Seru Dimas terlihat kesal dengan kelakuan Hana.
Air mata Hana tidak bisa dibendung lagi, air mata itu membasahi pipinya. Melihat Hana yang menangis membuat Dimas heran, apa gerangan yang sedang di tangisi Hana?.
" Kamu menangis Han? Ada apa?."Tanya Dimas pelan.
" Maaf mas. Tolong jangan dekat‑dekat, aku jijik di pegang tangan kotormu itu." Seru Hana bicara dengan ketus.
" Sok bersih kamu, Han. Padahal aku loh cuma lari pagi, memang sih belum mandi tapi bukan berarti tangan ku ini kotor dan menjijikan."Ucap Dimas tidak terima Hana mengatainya jijik dan kotor.
Dimas salah mengira, yang Hana maksud jijik dan kotor karena tangan itu sudah sering Dimas pakai untuk menggerayangi tubuh Sintia, bahkan untuk memainkan area sensitif bawahnya.
" Dimas, cepat mandi sana setelah itu tolong antar mbak mu ke rumah sakit untuk periksa kandungan."Ucap ibu Sundari.
" Kok Dimas sih bu, Dimas mau kerja bu. Sama ibu saja kalau tidak sama Lastri."Tolak Dimas.
" Tidak bisa Dimas, Sintia maunya diantar kamu. Ayolah Dim, sebentar saja jangan buat mbak mu bersedih. Itu semua juga bukan mau dia, tapi permintaan bayinya."Ucap ibu Sundari tetap memaksa Dimas untuk mengantatkan Sintia.
Hhhuuufffff
Dimas tidak bisa menolak lagi, mau tidak mau dia harus mengantarkan Sintia dan izin masuk kantor telat. Ibu Sundari pun kembali ke kamar Sintia, dia semakin menyayangi dan memanjakan Sintia. Akhirnya keinginannya untuk segera mempunyai cucu akan segera terwujud.
" Jangan‑jangan itu anak kamu, Mas. Makanya dia mau nya pergi sama kamu."Seru Hana membuat tubuh Dimas langsung menegang.
" Emm.. ma.. maksud kamu apa? Jangan fitnah kamu, Hana. Kalau di dengar mas Bayu bisa beda urusannya."Ucap Dimas terbata‑bata.
Siap‑siap kamu angkat kaki dari rumah ku, mas. Aku sudah pernah bilang, kesalahan yang tidak akan aku maafkan itu perselingkuhan dan penghianatan. Jangan menutupi nya lagi mas, aku sudah tahu jika kamu dan mbak Sintia itu ada hubungan selain ipar."Ucap Hana akhirnya dia membongkar aib Dimas dan Sintia.
Hana !! Jangan fitnah kamu !! Mana buktinya jika aku dan mbak Sintia berselingkuh? Tidak ada kan?."Seru Dimas membentak Hana.
Untuk saat ini Hana belum mau menunjukan bukti perselingkuhan Dimas dan Sintia. Akan tetapi bukti itu akan dia bawa ke pengadilan untuk memperlancar gugatan cerai Hana. Dan ada cara lain lagi untuk mempermalukan sepasang selingkuhan tidak tahu malu itu.
Hana meninggalkan Dimas, tidak menunggu lama Hana pun masuk mobil hendak berangkat ke kantor.
Brraak brraakk brrakk
Belum juga mesin mobil di hidupkan, pintu mobil sudah digedor‑ gedor oleh ibu mertuanya. Hana menurunkan kaca mobilnya, agar bisa mendengar yang di ucapkan ibu mertuanya.
" Kamu jangan pakai mobil. Sintia mau ke rumah sakit dan dia minta naik mobil, wanita hamil tidak boleh naik motor."Seru ibu Sundari seenaknya.
" Bukan urusanku. Ini mobil ku, jika dia mau pakai mobil suruh saja selingkuhannya itu untuk membelikannya. Sudah lah, bye..." Seru Hana ketus.
Perkataan Hana barusan membuat ibu Sundari bingung. Selingkuhan ? Siapa yang selingkuh ? Ibu Sundari terlihat kesal saat mobil Hana melaju meninggalkan pekarangan rumah