NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 di Alun-Alun Kota

...

Fajar kembali menyapa. Udara dingin menerpa. Di dalam kontrakan petaknya yang sempit, rutinitas Tania dimulai dalam kesunyian yang mekanis. Hidup sebagai pelarian dengan nama samaran tidak mengubah disiplin tubuhnya yang telah ditempa bertahun-tahun di dunia bawah tanah Seoul.

Tania menyalakan kompor gas satu tungku yang berkarat, lalu meletakkan selembar roti tawar di atas wajan teflon tanpa mentega. Setelah kedua sisinya agak kecokelatan, dia mengoleskan selai kacang merah, satu-satunya selai dengan rasa Asia Timur yang bisa dia temukan di rak minimarket lokal.

Sambil menunggu rotinya agak mendingin, dia melangkah ke kamar mandi. Tania mandi dengan air dingin yang mengguyur tubuh kurus namun padat, sengaja tidak membasahi rambut cokelat pendek sebahunya agar menghemat waktu pengeringan. Terakhir, dia mencuci wajahnya menggunakan sabun pembersih muka lokal beraroma lemon yang dibelinya di Indomarket dekat gang. Di depan cermin kecil yang buram, dia menatap pantulan dirinya, seorang Marysa yang kini bersembunyi di balik sapuan arang tipis di pipi dan selembar masker kain.

Setelah mengenakan seragam oranye kebersihannya, Tania bersiap berangkat. Dia melangkah keluar, berjalan kaki membelah gang kumuh menuju pos penjagaan sektor kebersihan sambil tangan kanannya memegang sisa roti panggang selai kacang merah yang belum sempat dihabiskannya tadi. Bagi seorang mantan ratu mafia, makan sambil berjalan di pinggir gang bukanlah sesuatu yang memalukan, itu hanyalah pemenuhan kebutuhan energi saja.

Begitu tiba di pos penjagaan, Tania langsung bertemu dengan Bu Yuni dan Rangga yang sudah datang lebih awal. Namun, ada yang aneh dengan atmosfer pagi ini.

Rangga yang biasanya langsung menyapa dengan suara medoknya, kini justru berdiri mematung di samping sepedanya. Begitu matanya yang sipit menangkap kehadiran Tania, pria jangkung itu mendadak melemparkan senyum malu-malu yang terlihat sangat canggung. Wajahnya yang kecokelatan merona merah samar di bawah sinar matahari pagi. Sangat tidak biasa.

Dengan gerakan yang agak ragu, Rangga melangkah mendekat, menyodorkan sebuah kantong plastik kecil ke hadapan Tania. "N-Neng Tania... ini, buat kamu. Tadi pas berangkat, aku lihat ada yang jualan di pinggir jalan. Tak belikan susu kotak original sama nasi bakar bungkus ayam suwir."

Bu Yuni yang sedang mengikat tali bakul jalannya di dekat mereka hanya bisa tersenyum simpul, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Rangga. Ada-ada saja anak muda zaman sekarang, batin Bu Yuni geli, tahu betul bahwa singa Playboy yang biasanya liar itu kini telah benar-benar takluk oleh pesona kaku sang gadis asing.

Tania menatap bungkusan itu selama satu detik, lalu menerimanya tanpa ragu. "Terima kasih," ucapnya kaku.

Tanpa ada rasa gengsi, malu-malu kucing, atau jengah seperti gadis-gadis pada umumnya yang sengaja menjaga imej di depan pria, Tania langsung merobek bungkus daun pisang nasi bakar tersebut. Dia menggigitnya dengan tenang, mengunyah kombinasi nasi gurih dan suwiran ayam pedas itu bersama sisa roti selai kacang merah di tangan kirinya. Keluguan yang kaku dan kepolosan pragmatis itu justru membuat penampilannya terlihat sangat unik di mata orang di sekitarnya. Makan tanpa sendok yang biasanya orang kalau makan nasi bakar memakai sendok. Sedangkan Tania tanpa menggunakan alat.

Melihat cara makan Tania yang simple itu, Bu Yuni tertawa renyah. Rasa sayang yang tulus dari seorang ibu mendadak bangkit. Wanita paruh baya itu melangkah mendekat, lalu dengan sangat lembut mengusap pucuk kepala Tania yang berambut cokelat pendek. "Pinter... makan yang banyak ya, Neng, biar tenaganya kuat buat nyapu jalanan seharian nanti."

Tania sempat menegang sesaat ketika tangan hangat Bu Yuni menyentuh kepalanya sebuah refleks pertahanan mafianya namun dia segera memaksa otot-ototnya untuk rileks kembali.

Rangga yang melihat itu hanya bisa mengulum senyumnya dalam-dalam, menahan debaran jantungnya yang kembali berpacu liar. Memori semalam di taman rooftop rumah sakit, saat jemari ramping Tania menyentuh sudut bibirnya untuk mengambil sebutir nasi, kembali berputar seperti film berulang di kepalanya. Dia beneran cantik... dan manis banget kalau lagi makan begini, pikir Rangga.

Dengan pasokan tenaga dan motivasi yang mendadak terisi penuh hingga seratus persen hanya karena melihat Tania, Rangga langsung menyambar sapu lidi panjangnya dengan penuh semangat. "Ayo, Bu Yuni, kita duluan mulai kerja! Hari ini bersihkan area perempatan sampai mengkilap!" serunya berapi-api sebelum mulai mengayunkan sapunya ke aspal.

...

Menjelang pukul sembilan pagi, rombongan pekerja kebersihan itu sudah bergeser mendekati area pinggiran alun-alun kota yang cukup luas. Di sana, suasana mendadak menjadi sangat ramai. Ratusan warga mulai berkerumun, dan dari pengeras suara terdengar pengumuman bahwa pihak berwenang setempat sedang mengadakan acara sosialisasi bimbingan masyarakat terkait tertib hukum dan keamanan wilayah.

Tania dan Rangga sedang asyik dengan dunia mereka sendiri di sudut trotoar, beberapa meter dari kerumunan. Rangga sibuk mengumpulkan daun-daun kering ke dalam pengki, sesekali mencoba melemparkan tebakan lucu pada satpam yang kebetulan menjaga pintu masuk bank. Sedangkan Tania hanya berdehem pendek dengan tatapan datar.

Meskipun tanggapan dari satpamnya kaku, Rangga sudah merasa sangat bahagia, yang penting bisa berada dalam radius sedekat itu dengan Tania.

Sementara itu, Bu Yuni yang menyapu agak jauh di depan mereka sesekali menghentikan gerakannya. Wanita tua itu menyeka keringatnya sambil mengamati gerombolan orang di tengah alun-alun dengan rasa penasaran khas orang awam.

Namun, di tengah-tengah kerumunan penonton bimbingan masyarakat itu, ada sepasang manusia yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.

Kapten Herry berdiri tegak di bawah keteduhan pohon palem di tepi alun-alun, mengenakan kemeja taktis hitam formalnya yang rapi tanpa cela. Di sebelah kanannya, Jessica Hwang Won berdiri anggun mengenakan kacamata hitam besar bermerek desainer terkenal, tangannya sesekali mengipas-ngipas lehernya yang mulus akibat cuaca Jakarta yang kian menyengat.

Mereka berdua baru saja selesai sarapan bubur ayam di sebuah kedai kaki lima yang direkomendasikan oleh pemandu VIP mereka dekat sini, dan kini Jessica meminta untuk berhenti sebentar, mengamati bagaimana otoritas lokal melakukan pendekatan sosial pada masyarakat sebagai bahan studinya.

Sepasang mata jelaga Herry bergerak asal, menyapu kerumunan manusia di depannya dengan tatapan yang sedingin es dan penuh emosi tertahan. Pikirannya masih tersesat, dilingkupi keresahan yang mendalam tentang bayangan-bayangan semu Marysa yang terus menghantuinya sejak tiba di kota ini.

Tanpa disadari oleh kedua belah pihak, di bawah terik matahari pagi yang mulai membakar aspal alun-alun, jarak di antara sang Kapten Polisi dan mantan Ratu Mafia itu kini kembali menyusut, hanya terpisahkan oleh beberapa puluh kepala manusia yang sedang bersorak mendengarkan pidato di panggung terbuka.

...

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!