NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Menghuni penjara kelas kakap bukanlah hal tersulit bagi Marysa. Yang benar-benar menghancurkannya adalah kenyataan bahwa pria yang memborgol tangannya adalah Herry, cinta masa lalunya yang kini menjabat sebagai kapten polisi dan ironisnya, Herry sama sekali tidak mengingatnya. dan bahkan terdengar jika Herry akan segera menikah.

​Memilih mati daripada terus tersiksa oleh ingatan, sang Ratu Mafia mengatur pelarian besar dari Negara aslinya Korea menuju ke negara tropis, Indonesia. Rambut panjangnya dipangkas pendek, kemewahannya ditanggalkan, dan kini ia menyamar sebagai Tania, seorang tukang sapu jalanan yang tak kasatmata.

​Namun, kedamaian barunya terusik ketika jalanan mempertemukannya dengan Rangga. Pria playboy yang terbiasa berganti-ganti Wanita itu mendadak penasaran setengah mati pada sosok Tania, yang dingin.

Akankah samaran Marysa terbongkar saat seorang playboy itu mulai tulus mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Cola Karamel

...

Pagi hari di Bandara Internasional Soekarno-Hatta selalu diawali dengan kesibukan yang bising dan steril. Di salah satu gerbang keberangkatan internasional, rombongan VIP dari Seoul bersiap untuk kembali ke negaranya setelah menyelesaikan seluruh rangkaian survei lokasi pernikahan yang melelahkan.

Kapten Herry berdiri tegak dengan setelan jas hitamnya yang rapi, sementara Jessica Hwang Won sibuk merapikan syal sutranya di samping Wakil Komisaris Jenderal Han. Nesya, wanita lokal yang menjadi teman dekat sekaligus penghubung Jessica selama di Jakarta, ikut mengantarkan mereka hingga ke batas pemeriksaan dokumen.

"Terima kasih banyak atas bantuannya selama di sini, Nesya. Rekomendasi tempat darimu sangat memuaskan," ucap Jessica dalam bahasa Inggris yang fasih, memberikan pelukan formal perpisahan.

Nesya tersenyum ramah. "Sama-sama, Jess. Semoga persiapan selanjutnya di Seoul berjalan lancar."

Herry hanya mengangguk pendek sebagai formalitas perpisahan. Sepasang mata jelaganya tetap dingin, menyembunyikan kekosongan emosional yang masih mengendap di kepalanya sejak insiden di alun-alun. Sifat diktator dan tegasnya sebagai perwira polisi kembali mengunci rapat segala keresahan hatinya seiring langkah mereka memasuki lorong menuju kabin pesawat.

Setelah melepas rombongan Jessica, Nesya melangkah keluar dari area bandara menuju mobilnya. Hari masih cukup pagi, dan dia berencana untuk kembali ke kantornya di kawasan Jakarta Pusat. Namun, di tengah perjalanan menembus kemacetan, Nesya memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke sebuah butik pakaian eksklusif yang terletak tidak jauh dari kawasan alun-alun kota untuk mengambil pesanan gaunnya.

Begitu turun dari mobil dan berjalan melintasi trotoar dekat area pertokoan alun-alun, nasib buruk menimpanya dalam sekejap mata.

Seorang pria yang mengenakan jaket lusuh mendadak memepet posisinya dari arah belakang. Dengan satu sentakan kasar, pria itu menyambar tas jinjing mewah bermerek desainer Eropa yang tergantung di pundak Nesya.

"Cariii! Copet! Tolong, tas saya dicopet!" jerit Nesya histeris, suaranya melengking memecah ketenangan pagi di area pertokoan tersebut. Pria itu langsung memacu langkah seribunya, berlari kencang membelah gang di antara sela-sela ruko.

Di saat yang bersamaan, Rangga kebetulan sedang berada di daerah situ. Pria jangkung itu baru saja selesai mengosongkan tempat sampah didaerah ruko dan sedang memanggul sapu lidinya. Begitu mendengar jeritan Nesya dan melihat seorang pria berlari kencang membawa tas wanita, naluri jalanan Rangga langsung bergejolak.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rangga melemparkan sapu lidinya ke aspal. Dengan gerakan kakinya yang cepat, lincah, dan terlihat sangat keren, dia melesat mengejar si pencuri. Rangga memotong jalur melalui sela-sela lapak pedagang kaki lima dengan presisi seorang pria yang sudah menghafal setiap jengkal seluk-beluk jalanan kota sejak kecil.

Jarak di antara mereka menyusut tajam saat memasuki ujung gang buntu. Melihat si pencuri hendak melompati pagar pembatas beton, Rangga menyambar sebuah balok kayu bekas penyangga semen yang tergeletak di dekat kakinya. Dengan satu ayunan lengan kirinya yang kuat, dia melemparkan benda padat itu dengan akurasi yang tepat.

Brak!

Balok kayu itu menghantam telak bagian belakang betis si pencuri, membuatnya kehilangan keseimbangan seketika dan jatuh tersungkur di atas tumpukan kerikil jalanan. Tas mewah milik Nesya terlempar ke udara sebelum akhirnya ditangkap dengan cekatan oleh tangan kanan Rangga.

Rangga melangkah mendekat, mencengkeram kerah jaket si pencuri yang mengerang kesakitan. Mereka sempat terlibat cekcok mulut yang cukup sengit. Si pencuri mencoba melawan, namun tatapan mata sipit Rangga mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh emosi yang mengintimidasi, membuat nyali copet itu ciut seketika. Tak butuh waktu lama bagi Rangga untuk menyeret pria itu ke pos keamanan terdekat dan segera melaporkannya ke pihak berwajib yang sedang berpatroli di sekitar alun-alun.

Nesya berlari kecil mendekati pos dengan napas terengah-engah. Begitu melihat tasnya kembali dalam keadaan utuh tanpa ada yang cacat, wajah cantiknya dipenuhi rasa lega yang teramat sangat.

"Ini tasnya, Mbak. Lain kali kalau jalan di daerah sini lebih hati-hati, ya. Banyak mata lapar," ucap Rangga, mengembalikan tas tersebut sembari menyeka keringat di dahinya dengan ujung kaos oranyenya, memamerkan senyuman ramah yang kasual.

Nesya menatap Rangga dengan pandangan mata yang berbinar penuh rasa terima kasih yang mendalam, sekaligus kekaguman yang tidak bisa disembunyikan. Di matanya, pria asing berpakaian seragam oranye ini terlihat sangat manis dengan senyumannya yang jujur dan pembawaannya yang berani.

"Terima kasih banyak... benar-benar terima kasih," ujar Nesya tulus. Dia merogoh tasnya, mengeluarkan selembar kartu nama eksklusif berlogo perusahaan multinasional, lalu menyodorkannya pada Rangga. "Nama saya Nesya. Ini kartu nama saya. Kalau kamu butuh bantuan apa pun di kota ini, tolong hubungi saya ya. Saya berhutang budi besar padamu."

Rangga menerima kartu nama tipis itu dengan sikapnya yang ramah seperti biasa, tanpa ada rasa canggung. Dia membacanya sekilas sebelum memasukkannya ke dalam saku celana kerjanya. "Saya Rangga, Mbak. Sudah tugas saya membantu kalau ada yang kesusahan di jalan. Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Mbak, harus kembali bekerja."

Rangga memberikan anggukan sopan, lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan Nesya yang masih berdiri memandangi punggung jangkungnya dengan senyuman tipis yang tertinggal di bibir.

...

Waktu kembali bergulir. Malam pun tiba membungkus kota Jakarta dengan kegelapan yang pekat dan gerah.

Di kamar perawatan VIP rumah sakit, Tania kembali datang berkunjung. Rutinitas barunya ini terasa jauh lebih menenangkan dibandingkan malam-malam sepi di dalam kontrakan. Dia berdiri diam di samping ranjang besi, sepasang mata kelamnya terdiam memandangi wajah ringkih ayah Rangga yang bernapas lambat di bawah temaram lampu tidur. Ada kesunyian yang tebal di dalam ruangan itu, mencerminkan kesepian jiwanya yang belum juga menemukan ujung dari pelariannya.

Sementara itu, Rangga baru saja menyelesaikan urusannya di luar. Sebelum ke rumah sakit, dia sempat berjanji pada Tania lewat pesan singkat bahwa dia akan datang sedikit terlambat. Rangga harus mampir terlebih dahulu ke sebuah pedagang kaki lima untuk membelikan titipan teman-teman tongkrongannya di pos ronda yang meminta dibelikan gorengan hangat dan kacang tanah rebus. Tentu saja, Rangga membelinya menggunakan uang milik temannya yang sudah dititipkan sejak pagi tadi.

Cklek.

Pintu kamar rawat terbuka pelan. Rangga melangkah masuk. Matanya seketika menghangat melihat sosok Tania yang berdiri diam dalam balutan kaos longgarnya, setia menemani sang ayah dalam keheningan malam.

Rangga berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di kursi plastik di samping Tania. "Neng... maaf ya agak telat. Tadi harus nyari kacang rebus dulu buat anak-anak di pos," ucap Rangga lembut, suaranya merendahkan intonasi agar tidak memecah istirahat ayahnya. "Kamu... sudah makan malam? Mau tak belikan makanan?"

Tania menoleh perlahan, menatap mata sipit Rangga selama beberapa detik sebelum menggelengkan kepalanya kaku. "Tidak. Saya tidak lapar."

Tania terdiam sejenak, mengalihkan pandangannya ke arah meja nakas tempat sisa kaleng minuman kemarin berada. "Aku... hanya sedang ingin minum soda lemon atau cola karamel. Kurasa, aku jadi menyukai rasa manis dan asam dari Cola karamel."

Mendengar pengakuan jujur yang polos dari bibir Tania, memori tentang insiden ciuman tidak langsung melalui kaleng minuman yang tertukar semalam di rooftop mendadak melompat kembali ke dalam kepala Rangga.

Rangga seketika tersipu. Semburat warna merah muda yang manis menjalar cepat membakar kedua pipinya. Pria jangkung itu buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, membetulkan letak kerah bajunya dengan salah tingkah demi menyembunyikan debaran jantungnya yang kembali berdegup kencang karena rasa bahagia yang kekanak-kanakan. "Ah... iya, Neng. Nanti... nanti tak belikan sekeranjang penuh kalau kamu mau," gumam Rangga pelan dengan senyum yang tertahan di sudut bibirnya.

...

Jauh di atas ketinggian ribuan kaki dari permukaan laut, sebuah pesawat jet komersial mewah membelah gumpalan awan hitam menuju wilayah utara Asia Timur.

Di dalam kabin kelas satu yang sunyi dan dingin, Kapten Herry duduk menyandar di dekat jendela kecil pesawat. Pandangan matanya menembus kegelapan malam di luar sana, menatap hamparan awan yang diterangi sinar bulan samar. Di sampingnya, Jessica sudah terlelap dengan penutup mata sutranya.

...

Thanks you for reading ....😘

Jangan lupa semangatin aku...

like commentnya 😇

1
falea sezi
kenapa alurnya lambat thor
kikyoooo: Alurnya emang sengaja dibikin slow burn, biar pondasi karakter sama dunia-nya mateng dulu. Nanti pas konflik gede masuk, impact-nya baru kerasa. Sabar ya...


tapi kalau memang ganggu next bikin yang penting penting aja....😌😇😇
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 rangga pasti kepikiran anu nya buat gantiin rokok🤣🤣
falea sezi
🤣🤣 tania oh tania 🤣 lu uda gk di harepin ma cowok. matre itu kapten sombong😒 uda lupain. masih aja. lu. penasaran lu itu g di ingat sekali. lagi jasa lu g di ingat amnesia lah konon tp ma cwek kaya dia nikahin kan bangke
falea sezi
🤣🤣 tania lu cocok ma rangga deh dripada kapten g tau diri yg matre itu🤣
falea sezi
kenapa muter doank sih thor
kikyoooo: mutèr gimana kak? maaf
total 1 replies
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!