Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 006 : Nafas Mayat
Terlelap adalah jalan bagi Farah masuk ke alam sebelah. Itulah mengapa dia begitu ingin memejamkan matanya secepat mungkin setelah dirinya mengetahui fakta.
Datangnya dia kemari adalah ingin menyampaikan perihal apa yang sudah dia dapatkan di alam nyata. Di sinilah dia berada. Kegelapan yang lebih gelap dari lampu matinya dunia nyata.
Penerangan bahkan tak ada. Tak ada angin ataupun suara apapun kecuali langkah kakinya sendiri nanti ketika memijaki tanah ini. Tanah, jiwa-jiwa orang mati berkelana.
Farah mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Pandangannya disambut oleh langit malam yang selalu gelap.
Farah yang masih terbujur di atas rerumputan serta dedaunan kering yang mati itu pun memilih duduk. Dia melihat sekeliling. Hawanya hampa bak kedap suara.
"Bagus, aku sudah masuk sekarang!" ujar Farah seraya memperhatikan sekitar. Hanya belantara dan ilalang tinggi serta pepohonan besar yang terkadang rapat terkadang berjarak.
Farah berjalan menelusuri belantara yang selalu sama. Tidak ada yang berubah sama sekali di dalam belantara ini. Semuanya masih sama.
Suara-suara binatang kecil yang biasanya ada di hutan juga tidak terdengar. Tetapi hari ini ada yang beda. Farah hanya berjalan biasa di tengah hutan itu. Dia tidak melakukan aktivitas berat.
Namun rasanya tubuhnya seperti sedang ditimpuk oleh sesuatu. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Dan dia berjalan sambil memeluk dirinya sendiri.
"Huh... Huhh..." lirih Farah.
Nafasnya berat terengah-engah. Tapi dia tetap melangkah menuju ke satu tempat berkumpulnya dirinya dan ke empat bocah yang dia temui di mimpi.
Tempat yang selalu menjadi titik kumpul mereka berlima. Menyaksikan hal yang berulang kali terjadi. Menyaksikan wanita terbakar di depan mereka.
Kresekkk
Kresekkk
"Huh!" pekik Farah.
Dia berhenti ketika mendengar suara dari arah kanan jalannya. Di mana di sana nampak sebuah rerumputan tinggi.
Sangat tinggi, apa kalian tahu tanaman jagung? Ya, setinggi itu rumputnya hingga mungkin jika ada manusia di balik sana. Maka tidak akan terlihat kecuali manusianya muncul.
"Bohong kalau aku bilang gak takut sekarang!" pekik Farah lirih. Farah memilih diam di sana walaupun takut. Dia penasaran.
Farah melihat ke arah itu. Tidak ada siapapun di sana. Bahkan rerumputan tinggi itu sama sekali tidak bergoyang. Lantas jika itu tidak bergerak lalu dari mana asalnya suara itu?
Fokus Farah sama sekali tidak teralihkan dari rerumputan tinggi itu. Sedang di salah dahan besar di antara pohon itu.
Sesosok wanita berkebaya sedang memperhatikannya. Sosok itu diam di atas sana. Sosok itu tersenyum lebar sekali senyumannya. Bibirnya elastis layaknya perut ular.
Di sampingnya nampak seorang lelaki datang. Dia berpakaian khas jawara Jawa. Kedua matanya memerah. Perlu kalian ketahui bahwa kulit mereka hitam pekat.
"Hmmm..." geram keduanya sambil menatap ke arah Farah yang sama sekali tidak tau akan kehadiran mereka.
Beberapa detik setelah menggeram maka kedua sosok itu hilang dari salah satu dahan itu. Sosok itu turun ke bawah.
Tiap kali mereka berpijak berhenti di satu tempat maka kedua telapak kaki itu meninggalkan jejak kaki berwarna hitamnya.
Tetapi telapak kaki itu tidak sepasang hanya satu. Farah terkejut bukan main ketika merasakan hembusan nafas seseorang di dekat daun telinganya.
"Fuhhhhh.." suara deru nafas berhenti tepat di belakangnya Farah.
"Huh!" pekik Farah terkejut bukan main rasanya.
Jangan melihat ke belakang, Farah!. Batin Farah dalam hatinya.
Sungguh dia teramat sangat ketakutan sekarang. Akibatnya Farah pun memilih untuk memejamkan kedua matanya. Dia tidak ingin melihat sosok yang datang saat ini di belakangnya.
Sosok yang datang di belakangnya tawanya semakin melebar ketika merasakan aura tubuh Farah yang diliputi ketakutan.
Tetapi mereka tidak bisa menyentuh Farah. Mereka kembali mengeram penuh dengan kebencian nadanya.
Setelah cukup berada di sekitar Farah sosok itu pun kembali menjelajahi belantara seram itu.
Merasa yakin bahwa sosok dibelakangnya sudah pergi. Farah pun membuka kembali kedua matanya. Pemandangan yang didapat masihlah sama. Kegelapan hutan yang tak pernah terang.
Farah menundukkan kepalanya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat jejak kaki hitam yang sedang dia pijaki. Sontak Farah pun memundurkan tubuhnya.
Saat itu juga Haikal datang dari rerumputan tinggi di kanan jalan tempat Farah berdiri. Haikal memperhatikan Farah yang nampak syok ketakutan di sana.
"Farah!" panggil Haikal pada Farah.
Suara Haikal langsung saja membuat Farah menoleh.
"Kamu sudah datang?" tanya Fara padanya.
Haikal menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menunjuk ke arah jejak kaki hitam yang ada di depan Farah.
"Aku mengikutinya! Sepertinya mereka yang terhubung di mimpi ini juga sama mengikutinya. Lebih baik kita ikuti jejaknya!" ujar Haikal pada Farah.
Farah menganggukkan kepalanya. Bersama dengan Haikal. Mereka berdua pun berjalan mengikuti jejak kaki hitam yang tersebar di dalam hutan.
Setapak demi setapak mereka habiskan berdua dalam dekapan kesunyian. Sepertinya ini sudah hampir lima belas menit langkah mereka ditemani suara rerumputan dan daun kering yang mereka injak.
Dalam perjalanan itu sebetulnya Farah mengingat sesuatu. Perihal apa yang menerornya tadi. Suara dan deru nafas di balik tubuhnya.
Serta sebuah jejak langkah kaki yang mendadak ada di bawahnya dan sekarang jejaknya tersebar.
"Apa kamu tidak diteror tadi?" tanya Farah kini memecah kesunyian yang ada di antara dirinya dan Haikal. Haikal menoleh ke arah Farah. Dia kemudian menggeleng.
"Tidak!" jawab Haikal singkat. Farah yang menatapnya itu pun kembali berpaling ke depan sambil menganggukkan kepalanya.
"Kenapa cuma aku, ya?" lirih Farah. Suaranya yang lirih menyita perhatian Haikal. Dirinya memang tuli dan hanya mengandalkan alat bantu dengar.
Haikal memperhatikan wajah Farah yang cemas serta ketakutan itu. Entah, naluri darimana datangnya itu. Dirinya tersenyum lalu menepuk bahu Farah yang ada di sampingnya.
"Hei!" sapa Haikal padanya. Farah menoleh ke arahnya. Sungguh, baru kali ini Farah melihat Haikal tersenyum padanya.
"Ya?" tanya Farah padanya. Sejenak Haikal memperhatikannya kemudian terkekeh.
"Dilihat dari perilaku serta wajahmu ini! Sepertinya kamu lebih muda dari aku, ya, Farah?" tanya Haikal padanya riang. Farah menaikkan salah satu alisnya.
"Memangnya berapa usiamu?" tanya Farah pada Haikal.
"Tahun ini, aku dua puluh lima tahun, Farah!" jawab Haikal. Dia kembali menatap ke depan. Farah terkejut mendengar itu.
Rupanya jarak usia mereka terpaut tiga tahun dan selama ini dia hanya menyebut Haikal dengan nama saja tanpa embel-embel kakak atau Mas atau Kang.
Merasa tidak sopannya dirinya sekarang hingga menunduk serta mengigit bibir bawahnya sendiri.
Tak sengaja Haikal memperhatikan itu. Hal yang cukup lucu rasanya. Reaksi Farah membuktikan bahwa Farah masih lebih muda darinya.
"Tidak apa!" ujar Haikal mencoba menenangkan. Sembari berjalan, tatapannya ke depan begitu tenang. Farah menoleh ke arahnya.
"Maafkan aku, ya!" ujar Farah menyesali segala perilaku tak sopannya selama ini.
"Adik kecil, kalau kamu ketakutan. Kamu bisa pegang tanganku! Lagi pula, ini hanya mimpi. Dan kamu dan aku gak sendirian. Bukankah kita terperangkap di sini berlima? Jadi jangan khawatir!" usul Haikal berujar dengan nada santai.
Farah tersenyum mendengar itu. Sifat Haikal yang selalu tenang ini sungguh positif. Farah yang memang selalu ketakutan tiap kali berada di sini pun seketika tenang ketika mendengar ucapan Haikal.
Bersama, mereka berdua mulai memangkas jarak demi jarak ke arah tempat di mana mereka berkumpul.
_____
ternyata dia lebih tua dari aku🤣