Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 30
Suasana ballroom berubah menjadi kacau.
Bisik-bisik para tamu memenuhi ruangan setelah fakta demi fakta terungkap tanpa ampun.
Di atas panggung, Helena masih terduduk di lantai dengan wajah pucat. Air mata bercampur dengan riasan yang mulai luntur, membuat penampilannya terlihat berantakan.
Sementara itu, Tyo berdiri mematung.
Tatapannya tertuju lurus kepada wanita yang telah menemaninya selama puluhan tahun.
Wanita yang selama ini ia percaya sepenuh hati.
Namun kini, semua kepercayaan itu hancur berkeping-keping.
Perlahan, berbagai kenangan bermunculan di benaknya.
Bagaimana Helena selalu bersikap lebih lembut kepada Ella.
Bagaimana setiap kali Alya mengeluh, Helena selalu menganggapnya berlebihan.
Bagaimana Alya sering menangis diam-diam karena merasa tidak pernah diperlakukan adil.
Dulu Tyo selalu menganggap itu hal biasa.
Ia berpikir setiap ibu memiliki cara berbeda dalam mendidik anak-anaknya.
Namun sekarang...
Semuanya terasa begitu jelas.
Begitu menyakitkan.
Tyo mengepalkan kedua tangannya.
"Aku benar-benar bodoh..." gumamnya lirih.
Suara itu nyaris tidak terdengar.
Tetapi cukup untuk membuat hati Alya ikut terasa sesak.
Selama ini bukan hanya dirinya yang dibohongi.
Ayahnya pun menjadi korban dari kebohongan yang sama.
"Papa... dengarkan Mama dulu..." suara Helena bergetar.
Wanita itu merangkak mendekati suaminya lalu bersujud di hadapannya.
"Mama mohon... tolong dengarkan penjelasanku."
Namun Tyo tidak menjawab.
Tatapannya justru beralih kepada Farid.
Pria yang selama ini ia anggap sahabat.
Sahabat sejak masa SMA.
Sahabat yang pernah ia bantu berkali-kali.
Sahabat yang ternyata menikamnya dari belakang.
Tyo tertawa pelan.
Namun tawa itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Jadi... selama ini kau pelakunya."
Farid menunduk dengan wajah malu.
Wajahnya tak lagi setenang sebelumnya.
"Kau yang menghancurkan perusahaanku waktu itu."
"Tyo, dengarkan aku dulu—"
"Diam!"
Bentakan Tyo menggema di seluruh ballroom.
Semua orang terkejut.
Karena selama mengenal Tyo, hampir tidak pernah ada yang melihat pria itu kehilangan kendali seperti sekarang.
"Aku kehilangan miliaran rupiah karena pengkhianatanmu."
"Bisnis yang kubangun bertahun-tahun hampir hancur."
"Bahkan aku hampir saja masuk penjara. "
"Aku sampai harus berjuang dari nol lagi."
Suara Tyo mulai bergetar.
"Ternyata semua itu ulahmu."
Tatapan matanya lalu beralih kepada Helena.
"Dan selama itu juga kalian berdua mempermainkanku."
Helena menangis semakin keras.
"Tidak seperti itu, Pah..."
"Bukan seperti itu?" ulang Tyo dengan senyum pahit.
"Lalu bagaimana aku harus mengartikannya?"
"Anak yang selama ini kuanggap putriku ternyata bukan darah dagingku."
"Perempuan yang kupercaya ternyata berselingkuh selama bertahun-tahun."
"Sahabat yang kuanggap saudara ternyata menghancurkan hidupku."
Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau.
Menyayat hati semua orang yang mendengarnya.
Tyo memejamkan mata sesaat.
Kemudian menggeleng pelan.
"Sekarang aku mengerti."
"Aku mengerti kenapa Alya selalu kau perlakukan berbeda."
"Aku mengerti kenapa Ella selalu menjadi prioritasmu."
"Aku mengerti kenapa wajah Ella tak pernah sedikit pun mirip denganku."
"Karena memang dia bukan anakku!"
Tangisan Helena semakin pecah.
Namun kali ini, tak ada seorang pun yang merasa iba.
Bahkan para tamu hanya memandangnya dengan tatapan dingin.
Tak lama kemudian, Alya melangkah maju.
Air mata terus mengalir membasahi pipinya.
Gadis itu berhenti tepat di depan Helena.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menatap wanita yang telah melahirkannya tanpa rasa takut.
"Kenapa, Mah?"
Suara Alya terdengar serak.
Helena menunduk.
"Alya..."
"Kenapa Mama selalu pilih kasih sama Alya?"
Tangisan Alya pecah.
"Apa salah Alya?"
"Alya kurang pintar?"
"Alya kurang baik?"
"Alya kurang berbakti?"
"Alya kurang cantik?"
"Atau karena Alya bukan anak yang Mama inginkan?"
Setiap pertanyaan itu membuat suasana semakin menyayat hati.
Helena tidak mampu menjawab.
Alya tertawa pahit di sela tangisnya.
"Sekarang Alya paham."
"Pantas saja sejak kecil Mama selalu membela Kak Ella."
"Pantas apa pun yang Alya lakukan selalu salah di mata Mama!"
"Pantas Mama nggak pernah benar-benar sayang sama Alya! "
Helena menutup wajahnya.
"Alya... maafkan Mama..."
Namun Alya hanya menangis.
Maaf itu datang terlalu terlambat.
Terlalu banyak luka yang telah tertinggal.
Dan terlalu banyak tahun yang telah hilang.
Helena menyadari dirinya semakin terpojok.
Tatapan para tamu.
Tatapan Alya.
Tatapan Tyo.
Semuanya membuatnya tidak lagi memiliki jalan keluar.
Perlahan wanita itu berdiri.
Air matanya masih mengalir.
Namun kali ini sorot matanya berubah.
Tak ada lagi kepura-puraan.
Tak ada lagi sandiwara.
Ia menatap Tyo lurus-lurus.
Lalu berkata dengan suara lantang.
"Benar!"
Seluruh ballroom kembali hening.
"Semua yang ada di video itu benar!"
Mata Tyo membelalak.
Alya membeku di tempat.
Helena tertawa pahit.
"Aku memang tidak pernah mencintaimu, Tyo!"
Kalimat itu menghantam seperti petir.
"Aku terpaksa menikah denganmu!"
"Aku dipaksa meninggalkan Farid!"
"Aku dipaksa melupakan pria yang kucintai!"
Helena menunjuk Farid dengan tangan gemetar.
"Dia cinta pertamaku!"
"Dia orang yang seharusnya menjadi suamiku!"
Suasana semakin ricuh.
"Aku perempuan miskin saat itu!"
"Keluargaku tidak punya apa-apa!"
"Sementara kau anak orang kaya!"
"Semua orang memaksaku untuk menerima perjodohan itu!"
Tatapan Helena dipenuhi kebencian yang selama ini ia sembunyikan.
"Aku membencimu!"
"Aku membenci keluarga yang memisahkanku dari Farid!"
"Aku membenci kehidupan yang harus kujalani bersamamu!"
Tubuh Tyo langsung berguncang.
Wajahnya memucat drastis.
Sementara Helena terus berteriak.
"Semua yang hampir kami dapatkan selama ini hancur malam ini!"
"Hampir saja semuanya berhasil!"
"Hampir saja seluruh harta itu menjadi milik kami!"
DEG!
Tyo mendadak memegang dadanya.
Napasnya menjadi berat.
Pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Tyo!" teriak beberapa orang bersamaan.
Tubuh pria itu terhuyung.
"Papa!" jerit Alya panik.
Bruk!
Tyo jatuh terduduk di lantai.
Satu tangannya mencengkeram dada dengan kuat.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Wajahnya benar-benar pucat.
"Papa! Papa!" Alya langsung berlutut di sampingnya.
Air matanya mengalir semakin deras.
"Tolong! Tolong seseorang panggil ambulans!"
Suasana ballroom langsung berubah menjadi kepanikan.
Beberapa tamu berdiri dari kursinya.
Para petugas keamanan bergerak cepat.
Sementara Max yang sejak tadi berdiri tenang akhirnya melangkah maju.
Sorot matanya berubah tajam ketika melihat kondisi Tyo.
"Alya, minggir."
Suara pria itu tetap tenang.
Namun kali ini terdengar tegas.
Max berjongkok memeriksa keadaan Tyo.
Kemudian ia mengangkat pandangannya ke arah para petugas.
"Siapkan mobil sekarang!"
"Tuan, ambulans sedang dipanggil—"
"Terlalu lama! "
Nada suara Max dingin dan tidak terbantahkan.
"Bawa ke rumah sakit sekarang juga, Cepat..! "
Alya menggenggam tangan ayahnya erat-erat.
"Papa... Bertahanlah jangan tinggalkan Alya..."
Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.
Malam yang seharusnya menjadi malam perayaan berubah menjadi malam yang penuh pengkhianatan, air mata, dan kehancuran.
Dan bagi keluarga itu...
Tidak ada satu pun yang tahu apakah setelah malam ini hidup mereka akan pernah kembali sama seperti sebelumnya.