King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Lampu-lampu indikator di langit-langit Stone Hospital berkedip dalam ritme yang teratur, memantulkan cahaya putih di atas lantai marmer yang berkilau bersih.
Bagi King Stone, dinding-dinding putih pualam kamar VIP nomor satu telah berubah menjadi jeruji besi yang tidak kasat mata. Dua hari penuh terkurung di atas ranjang setelah operasi perut akibat luka sayatan itu sudah cukup untuk membuat kewarasannya terkikis.
Pagi ini, menolak perintah istirahat total dari Dr. Richard, King memaksa tubuhnya untuk bangkit. Dengan setelan piyama sutra hitam longgar yang menyembunyikan lilitan perban tebal di perutnya, ia melangkah keluar dari kamar.
Tangan kanannya—yang dipenuhi rajahan tinta hitam pekat hingga ke batas leher—mendorong tiang infus beroda perak dengan gerakan konstan.
King berjalan menyusuri koridor panjang lantai khusus VIP. Langkah kakinya lambat, setiap tarikan napasnya masih membawa sengatan rasa perih di otot perut nya, namun ia mengabaikannya.
Mata elangnya bergerak tajam, mengamati lalu lalang perawat dan dokter residen yang langsung menundukkan kepala dengan hormat sekaligus tegang begitu menyadari sang pangeran sulung klan Stone sedang berkeliaran di area mereka.
Di ujung koridor dekat paviliun taman dalam ruangan, langkah King melambat ketika ia menangkap siluet yang sangat familier.
Olivier Martinez sedang berdiri di depan meja konter perawat, memegang sebuah papan dokumen medis. Wajahnya tampak serius, alisnya bertaut kecil saat mendengarkan penjelasan dari seorang perawat senior.
Sinar matahari pagi yang menembus atap kaca taman dalam memberikan semburat cahaya keemasan pada rambut cokelat gelapnya yang dicepol rapi. Keanggunannya yang dingin dan profesional selalu berhasil memisahkan dirinya dari hiruk-pikuk di sekitarnya.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Dari arah koridor barat, langkah kaki yang sengaja dihentakkan dengan keras terdengar mendekat.
Seorang wanita dengan jubah dokter yang dipotong sangat pas badan—menampilkan lekuk tubuhnya dengan sengaja—melangkah maju.
Di dadanya tersemat nametag emas: Dr. Evelyn Vance, Spesialis Bedah. Evelyn bukan sekadar dokter berbakat; dia adalah putri dari salah satu investor terbesar Stone Hospital, seorang wanita dari kalangan elite Chicago yang sejak lama mengincar posisi untuk berada di lingkaran dalam klan Stone.
Evelyn menghentikan langkahnya tepat di hadapan Olivier, bersedekap dengan pandangan mata yang dipenuhi kilat permusuhan dan keangkuhan yang tidak ditutupi.
"Dokter Martinez," panggil Evelyn, suaranya sengaja dikeraskan hingga beberapa perawat di sekitar mereka mendadak menghentikan aktivitas. "Kulihat kau baru saja menyerahkan laporan perkembangan pasien VIP kamar nomor satu ke meja Dr. Richard."
Olivier menurunkan papan dokumennya, menatap Evelyn dengan ekspresi datar tanpa riak. "Benar, Dokter Vance. Itu adalah prosedur rutin untuk pasien pasca-operasi di bawah pengawasan saya."
Evelyn mendengus sinis, sebuah senyuman meremehkan terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala.
"Prosedur rutin? Jangan berpura-pura naif, Olivier. Kita semua di departemen bedah tahu siapa dirimu. Seorang dokter residen senior yang baru kembali dari Baltimore, tiba-tiba mendapatkan hak istimewa untuk menangani kasus darurat pewaris murni klan Stone? Dr. Richard pasti sudah sangat tua hingga matanya kabur saat memilih penanggung jawab utama."
Olivier tidak berkedip. Ketegasan di wajahnya tidak goyah sedikit pun oleh provokasi tersebut. "Dr. Richard memilih saya berdasarkan kompetensi medis dan fakta bahwa saya berada di IGD saat pasien masuk dalam kondisi kritis malam itu. Jika Anda memiliki keberatan mengenai keputusan kepala departemen, silakan ajukan keluhan resmi di rapat pleno besok pagi, Dokter Vance."
"Kompetensi?" Evelyn melangkah satu blok lebih dekat, mempersempit jarak hingga aroma parfum mahalnya yang menyengat menusuk indra penciuman.
"Jangan membuatku tertawa. Kau pikir aku tidak tahu taktik wanita sepertimu? Menangani King Stone adalah tiket emas untuk naik kasta, bukan? Kau sengaja memanfaatkan momen ini agar bisa sering masuk ke kamar rawatnya, memasang wajah penuh simpati, dan berharap sang pangeran Stone akan melirikmu. Tapi biar kuingatkan satu hal, Martinez—King Stone adalah pria yang berada di liga yang sama sekali berbeda denganmu. Pesona playboy-nya mungkin melegenda, tapi dia tidak pernah melihat wanita rendahan dari kelas bawah seperti kita melihat manusia. Kau hanya akan menjadi mainan satu malam jika kau mencoba merayunya."
Mendengar kata 'merayu' dan tuduhan murahan yang dilayangkan padanya, kilat dingin di mata Olivier semakin memekat. Ia tidak membalas dengan teriakan, melainkan dengan intonasi suara yang begitu rendah namun sangat menekan.
"Dokter Vance, tidak semua orang di dunia ini memiliki isi kepala yang dangkal dan terobsesi dengan status sosial seperti Anda," ucap Olivier, kata-katanya tenang namun tajam bak pisau bedah.
"Di dalam ruang operasi dan di koridor rumah sakit ini, King Stone tidak lebih dari seonggok daging dengan organ yang terluka yang harus saya selamatkan jahitannya agar tidak mati. Jika Anda menganggap merawat pasien kritis sebagai sebuah ajang pencarian jodoh atau pansos, kurasa jubah dokter Anda itu sudah kehilangan fungsinya."
"Kau—!" Wajah Evelyn memerah padam karena murka. Tangannya mengepal kuat, merasa harga dirinya diinjak-injak di depan para perawat junior yang kini mulai berbisik-bisik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sudut koridor yang agak gelap, King Stone memperhatikan seluruh interaksi itu dengan mata menyipit. Aura berbahaya mulai menguar dari tubuhnya.
Ketika melihat Evelyn mengangkat tangannya seolah ingin menunjuk wajah Olivier dengan kasar, King mendorong tiang infusnya maju. Bunyi roda besi yang bergesekan dengan lantai marmer terdengar nyaring, menginterupsi ketegangan di antara kedua wanita tersebut.
"Ada masalah apa di sini?"
Suara bariton King yang berat, dingin, dan penuh otoritas mutlak menggema di sepanjang koridor paviliun.
Evelyn Vance tersentak, langsung menurunkan tangannya dan berbalik dengan ekspresi yang berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap.
Wajahnya yang semula penuh amarah kini dihiasi oleh senyuman manis yang dipaksakan, lengkap dengan binar mata yang tampak penuh perhatian.
"Tuan Stone!" Evelyn melangkah mendekati King dengan gerakan yang sengaja dibuat gemulai, mengabaikan fakta bahwa King sedang menatapnya dengan pandangan elang yang mematikan.
"Astaga, mengapa Anda sudah berjalan-jalan di koridor? Luka Anda baru saja dijahit semalam. Sebagai dokter spesialis, saya sangat menyarankan Anda untuk kembali ke kamar. Dokter residen di sini tampaknya terlalu lalai hingga membiarkan pasien VIP berkeliaran dalam kondisi seperti ini." Evelyn melirik Olivier dengan tatapan menyalahkan.
King Stone berhenti tepat di tengah-tengah mereka. Ia sama sekali tidak menatap Evelyn; mata elangnya terkunci mutlak pada Olivier yang kini berdiri tegak dengan tatapan kosong, seolah keberadaan King di sana sama sekali tidak memengaruhi dirinya.
King menggeser tubuhnya sedikit, memposisikan dirinya sebagai tameng tak kasat mata di depan Olivier, sebuah gestur instingtif yang membuat Evelyn menahan napas karena terkejut.
"Dokter Martinez tidak lalai, Dokter Vance," ucap King dengan nada suara yang sangat tenang namun membawa tekanan intimidasi yang membuat atmosfer di koridor tersebut mendadak turun beberapa derajat.
Tangannya yang bertato mencengkeram tiang infus dengan kuat. "Aku yang memaksa keluar karena udara di kamarku terlalu membosankan. Dan mengenai kompetensi... kurasa aku tidak butuh saran dari dokter bedah yang menghabiskan waktu shift-nya untuk bergosip dan membuat keributan di koridor umum."
Evelyn membeku di tempatnya. Senyuman di wajahnya runtuh seketika, menyisakan rasa malu yang luar biasa karena ditegur langsung secara telak oleh pria yang ingin ia pikat di depan semua staf medis.
"T-Tuan Stone, saya tidak bermaksud..." Evelyn tergagap, mencoba membela diri.
"Kembali ke departemenmu sekarang, Dokter Vance," potong King tanpa kompromi, suaranya datar namun tidak menerima bantahan apa pun. "Atau aku sendiri yang akan memastikan ayahmu menarik seluruh sahamnya dari rumah sakit ini sebelum matahari terbenam."
Ancaman finansial dan kekuasaan mutlak dari klan Stone itu membuat Evelyn tidak memiliki pilihan lain. Dengan wajah yang pucat pasi dan menahan malu yang teramat sangat, ia memberikan anggukan kecil yang kaku, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor dengan langkah kaki yang tergesa-gesa.
Setelah kepergian Evelyn, suasana di konter perawat menjadi sangat sunyi.
Para perawat junior segera menundukkan kepala dan berpura-pura sibuk dengan komputer mereka, tidak berani mencampuri urusan sang penguasa Chicago.
Olivier Martinez mengembuskan napas pendek. Ia merapikan letak papan dokumennya, lalu menatap King Stone dengan pandangan yang sama sekali tidak menunjukkan rasa terima kasih.
"Saya tidak butuh pembelaan dari Anda, Tuan Stone," ucap Olivier dingin, suaranya kembali formal bak pembatas dinding es yang tebal.
"Saya bisa menangani konflik internal departemen saya sendiri tanpa perlu campur tangan kekuasaan klan Anda."
King menatap wajah Olivier dari jarak dekat. Di bawah pencahayaan koridor yang terang, ia bisa melihat gurat kelelahan yang samar di bawah kantung mata wanita itu—sebuah indikasi bahwa Olivier mungkin tidak tidur dengan nyenyak semalam, sama seperti dirinya.
"Aku tidak sedang membelamu, Dokter Martinez," King mengeluarkan taktik bahasanya yang penuh kendali, menyunggingkan senyuman tipis yang sinis.
"Aku hanya tidak suka ketenanganku diganggu oleh suara bising wanita yang tidak tahu tempat. Lagi pula, sebagai pasien penanggung jawabmu, bukankah kau seharusnya mengawal jalannya peninjauan medisku di luar kamar?"
Olivier menatap tiang infus King, lalu beralih pada wajah pria itu. "Jika Anda ingin berjalan-jalan untuk menguji kekuatan jahitan Anda, silakan. Tapi batas area jalan Anda hanya sampai di ujung taman dalam ini. Setelah itu, Anda harus kembali ke kamar untuk jadwal pemberian antibiotik dosis kedua."
Olivier berbalik, melangkah lambat menuju area taman dalam ruangan yang dipenuhi oleh tanaman hijau tropis dan gemercik air mancur buatan yang tenang.
King Stone mengikuti dari belakang, menyamakan ritme langkah kakinya yang lambat dengan langkah Olivier.
Di antara mereka tidak ada obrolan hangat, tidak ada pembahasan tentang masa lalu yang menyakitkan di apartemen lantai enam belas, yang ada hanyalah ketegangan masa kini yang berjalan beriringan di atas lantai marmer.
Taman dalam ruangan itu cukup sepi pagi ini, hanya ada beberapa pasien lansia yang sedang duduk di bangku taman di sudut lain. Olivier berhenti di dekat pagar pembatas kaca yang menampilkan pemandangan luar kota Chicago yang sibuk dengan gedung-gedung pencakar langitnya.
"Mengapa kau kembali ke Chicago, Olivier?" tanya King tiba-tiba, menyingkirkan sejenak topeng keangkuhannya.
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya, dipicu oleh rasa penasaran yang teramat dalam.
Olivier tidak menoleh ke arah King. Matanya menatap lurus ke arah jalanan raya di bawah sana. "Chicago adalah kota dengan pusat pelatihan medis terbaik untuk spesialisasi bedah trauma. Saya kembali untuk karier saya, Tuan Stone. Tidak ada alasan lain."
"Hanya untuk karier?" King menyipitkan matanya, mencoba mencari celah kebohongan dari ekspresi wajah samping Olivier yang tampak kokoh bak pahatan patung.
"Klan Stone memiliki mata di setiap sudut kota ini, Olivier. Jika kau kembali hanya untuk mencari masalah dengan masa lalu, kau berada di tempat yang salah."
Olivier akhirnya menoleh, menatap King dengan senyuman sinis yang sangat dingin—sebuah tatapan yang menunjukkan bahwa Olivier Martinez yang sekarang bukan lagi gadis remaja yang bisa diintimidasi dengan nama besar keluarganya.
"Masa lalu kita sudah mati dan membusuk sepuluh tahun yang lalu, King," ucap Olivier, dengan nada penuh penekanan yang sarat akan jarak.
"Jangan terlalu percaya diri mengira bahwa setiap langkah hidupku berputar di sekitarmu. Bagiku, kau hanyalah masa lalu yang tidak sengaja saya selamatkan nyawanya di meja operasi semalam. Fokus saya saat ini adalah menyelesaikan masa residensi saya dengan tenang, merawat pasien-pasien saya, dan... pulang ke rumah."
Kata 'pulang ke rumah' diucapkan Olivier dengan binar mata yang mendadak melunak selama satu detik—sebuah kilasan kehangatan yang terpancar saat ia memikirkan putri kecilnya, Nora Amelie, yang sedang menunggunya di apartemen Lincoln Park.
King menangkap perubahan ekspresi yang sangat singkat itu. Naluri tajamnya menangkap ada sesuatu yang disembunyikan di balik kata 'rumah' tersebut, namun sebelum ia sempat menggali lebih dalam, bunyi pager di saku jubah putih Olivier mendadak berbunyi dengan nyaring.
Olivier memeriksa layar tabletnya, lalu menatap King dengan tatapan profesionalnya yang formal kembali. "Panggilan darurat dari ruang IGD. Waktu jalan-jalan Anda habis, Tuan Stone. Perawat akan segera mengantarkan obat Anda ke kamar. Permisi."
Tanpa menunggu respons dari King, Olivier membalikkan tubuhnya dengan cepat dan melangkah tergesa-gesa meninggalkan area taman dalam, jubah putihnya berkibar ditiup angin dari sistem ventilasi rumah sakit.
King Stone tetap berdiri di dekat pagar pembatas kaca, menatap punggung Olivier yang perlahan menghilang di belokan koridor barat. Tangannya yang bertato meraba pangkal lehernya sendiri, di mana guratan tinta hitam pekat menyembunyikan memori masa lalu mereka dengan rapat.
Ada sebuah permainan takdir yang baru saja bergulir di koridor rumah sakit ini pagi ini.
Dengan perlahan, King memutar tiang infusnya dan berjalan kembali menuju kamarnya sendiri.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣