Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih di Balik Siasat
Pagi itu, kediaman bernuansa abu-abu terasa begitu tenang. Sinar matahari fajar menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama, menyinari seprei sutra yang agak berantakan. Neya terbangun lebih awal, duduk bersandar pada kepala ranjang sembari menatap sosok pria yang tidur terlelap di sampingnya. Aris tampak begitu damai, gurat wajahnya yang biasa tegas kini melunak dalam kelelahan yang memuaskan.
Neya menurunkan pandangannya, menatap jemarinya sendiri. Tidak ada lagi getaran ketakutan di sana. Kabut di otaknya sudah bersih sepenuhnya, namun ia berhasil mengunci rapat-rapat semua kepingan memori berdarah itu di sudut terdalam batinnya. Di hadapan dunia, ia harus tetap menjadi Neya yang rapuh, yang amnesia, dan yang sepenuhnya bergantung pada belas kasihan orang-orang di sekitarnya.
Dengan gerakan yang sangat halus agar tidak menimbulkan derit ranjang, Neya turun dari tempat tidur. Ia memakai jubah mandi satinnya, lalu melangkah menuju cermin rias yang besar. Di tatapnya pantulan dirinya sendiri. Wajah itu masih sama—cantik, polos, dengan sepasang mata bulat yang tampak tidak berdosa. Namun, jika ada yang jeli menatap lebih dalam ke sepasang manik mata itu, mereka akan menemukan kehampaan yang dingin.
Neya mengulas senyum tipis di depan cermin. Sebuah senyuman manis yang selama beberapa hari terakhir ini menjadi senjata utamanya.
Neya bertransformasi menjadi sosok istri yang luar biasa ideal, penuh perhatian, dan teramat patuh. Setiap pagi, ia akan turun ke dapur, membantu Ibu Imelda menyiapkan sarapan dengan tawa kecil yang renyah, membuat sang bunda benar-benar percaya bahwa putrinya telah menemukan kedamaian hidup yang baru setelah trauma panjangnya.
Bunda, kopi Kak Aris sudah Neya siapkan di meja," ucap Neya lembut sembari mencium pipi ibunya sekilas saat mereka berpapasan di ruang makan.
Ibu Imelda tersenyum sangat lega, matanya berkaca-kaca menatap putrinya. "Terima kasih, Sayang. Bunda bahagia sekali melihatmu seperti ini. Pilihan Bunda tidak salah, kan? Aris adalah pria terbaik untukmu."
Neya hanya mengangguk patuh dengan binar mata yang tampak tulus. Di dalam hatinya, ia membenarkan perkiraan yang kemarin sempat melintas di benaknya: bundanya melakukan semua kebohongan ini murni demi melindunginya dari ancaman keluarga kusuma . Sang ibu pasti berpikir, dengan membuat Neya memulai hidup baru bersama Aris—pria dari keluarga konglomerat lain yang mampu melindunginya—Neya akan aman dari jangkauan tangan dingin keluarga Kinan. Karena kasih sayang bundanya yang salah jalan itulah, Neya memilih untuk diam dan membiarkan ibunya tetap hidup dalam kedamaian semu itu.
Ketika Aris terbangun dan turun ke lantai bawah dengan setelan kantornya, Neya menyambutnya di ujung tangga. Ia berjalan mendekat dengan ritme langkah yang anggun, membiarkan aroma parfum vanilanya yang manis menguar, mengikat indra penciuman suaminya. Neya merapikan dasi Aris dengan jemari lentiknya, sengaja menyentuh dada bidang pria itu secara perlahan, memberikan tatapan sayu yang sarat akan damba.
"Selamat pagi, Kak," bisik Neya dengan nada suara yang sengaja direndahkan, terdengar begitu manja dan intim.
Aris seketika menahan napas, tangannya langsung bergerak posesif mendekap pinggang ramping Neya. Tatapan berapi-api langsung menyala di dalam manik mata pria itu. "Pagi, Sayang. Kamu terlihat luar biasa cantik hari ini."
Neya membalasnya dengan senyuman hangat, membiarkan Aris mengecup bibirnya berulang kali sebelum mereka duduk di meja makan. Pemenuhan hasrat biologis dan kepatuhan manis yang Neya berikan setiap malam di atas ranjang benar-benar telah mengubah Aris menjadi pria yang bertekuk lutut. Pria jantan yang biasanya dominan dan ditakuti di dunia bisnis itu kini mendadak menjelma menjadi sosok yang sangat penurut di bawah jemari halus Neya. Aris telah sepenuhnya takluk oleh pesona dan keelokan tubuh istrinya, mengira bahwa ia telah berhasil memiliki hati Neya seutuhnya.
Di tengah-tengah sarapan mereka, Neya meletakkan cangkir tehnya perlahan, menciptakan denting halus yang memutus keheningan. Ia menatap Aris dengan pandangan memohon yang begitu polos.
"Kak Aris..." panggil Neya lirih.
"Iya, Sayang? Ada yang kamu inginkan?" jawab Aris cepat, menghentikan aktivitas memotong rotinya demi memberikan perhatian penuh pada sang istri.
Neya menggigit bibir bawahnya, berpura-pura ragu. "Neya... merasa agak bosan kalau terus-menerus di rumah setelah sembuh. Memori Neya memang belum kembali sepenuhnya, tapi Neya ingin mencoba menyibukkan diri agar otak Neya bisa bekerja lebih aktif. Boleh tidak... kalau Neya ikut bekerja di kantor?"
Aris sempat tertegun, dahinya berkerut sedikit. "Bekerja? Tapi kondisi fisikmu belum stabil benar, Neya. Kantor pusat sangat sibuk dan melelahkan untukmu."
"Neya tidak meminta bekerja di kantor pusat, Kak," sela Neya cepat. Ia menggeser kursinya mendekati Aris, meraih tangan besar suaminya lalu mengusapnya dengan lembut. "Neya tahu Kak Aris punya beberapa anak cabang perusahaan yang bergerak di bidang penyuplai logistik dan desain interior, kan? Boleh tidak kalau Neya ditempatkan di sana saja? Sebagai staf biasa juga tidak apa-apa, yang penting Neya punya kegiatan. Tolong ya, Kak... demi kesehatan mental Neya juga."
Sentuhan halus tangan Neya dan tatapan matanya yang berkaca-kaca membuat benteng pertahanan Aris runtuh dalam hitungan detik. Pria itu tidak mampu menolak apa pun jika Neya sudah memohon dengan cara seperti itu. Aris menghela napas pasrah, lalu tersenyum sembari mengacak rambut Neya dengan sayang.
"Baiklah, kalau itu memang bisa membantu proses pemulihanmu. Kebetulan, salah satu cabang perusahaan kita di sektor interior corporate sedang menangani proyek besar. Kamu bisa masuk ke sana besok sebagai asisten kepala divisi kreatif. Aku akan menyuruh sekretarisku menyiapkan semuanya."
"Terima kasih banyak, Kak Aris! Kakak adalah suami terbaik," ucap Neya kegirangan, langsung menghambur ke dalam pelukan Aris dan mengecup rahang pria itu dengan mesra.
Keesokan harinya, Neya resmi menginjakkan kakinya di gedung kantor cabang tersebut dengan penampilan yang sangat profesional namun tetap memikat. Mengenakan kemeja kerja berwarna putih bersih yang dipadukan dengan rok span hitam di atas lutut, Neya langsung menjadi pusat perhatian. Sifatnya yang ramah, sopan, dan tampak sedikit pemalu membuat semua orang di divisi kreatif langsung menyukainya dalam sekejap.
Neya duduk di kubikel kerjanya, menatap tumpukan berkas kerja sama di atas meja. Jemarinya membuka halaman pertama dokumen proyek tersebut. Di sana, tertera logo besar kusuma Corp bersebelahan dengan logo perusahaan brilian milik suaminya.
Melihat logo tersebut, sudut bibir Neya terangkat tipis.Neya meraih pulpennya, bersiap untuk mulai memeriksa laporan desain interior ruangan yang akan diserahkan ke pihak Wijaya Corp. Namun, baru saja ujung pulpennya menyentuh kertas, sebuah sensasi aneh mendadak melintasi perut bagian bawahnya.
Perut Neya mendadak bergolak hebat, terasa diaduk-aduk oleh rasa mual yang sangat pekat dan datang secara tiba-tiba tanpa peringatan.
Neya tersentak, menjatuhkan pulpennya ke atas meja. Rasa mual itu naik dengan sangat cepat ke hulu kerongkongannya, membuat air liurnya mendadak terasa pahit. Rasa pening yang luar biasa juga ikut menghantam ubun-ubunnya, membuat pandangannya berputar selama beberapa detik.
"Ugh..." Neya membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangan, wajahnya yang semula merona segar seketika berubah menjadi pucat pasi.
Rekan kerja di kubikel sebelahnya menyadari perubahan drastis itu. "Neya? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali."
Neya tidak bisa menjawab. Rasa mual yang mendesak di dadanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangkit berdiri dari kursinya setengah berlari menuju toilet kantor yang berada di ujung koridor, meninggalkan rekan-rekannya yang menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya. Di dalam bilik toilet yang sunyi, Neya bertumpu pada wastafel, membiarkan tubuhnya terguncang oleh rasa mual yang menyiksa, sementara sebuah ketakutan baru yang misterius mulai merayap naik di dalam benaknya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada tubuhnya di tengah-tengah intrik balas dendam ini.
Neya membasuh mulut dan wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari kran, berusaha meredakan denyut di pelipisnya serta rasa mual yang perlahan mulai menyurut. Setelah merasa sanggup berdiri tegak, ia merapikan kembali riasan tipisnya di depan cermin, menarik napas dalam-dalam untuk mengembalikan ketenangannya sebelum melangkah keluar dari toilet wanita.
Namun, baru dua langkah Neya melewati pintu toilet dan menyusuri koridor korporat yang sunyi, langkah kakinya mendadak terkunci di atas lantai marmer. Seluruh persendiannya seolah mati rasa.
Di ujung koridor yang berjarak hanya beberapa meter darinya, tampak rombongan pria berjas rapi baru saja keluar dari lift eksekutif, dikawal langsung oleh kepala divisi cabang perusahaan Aris. Dan di tengah-tengah kawalan ketat itu, berdiri seorang pria dengan postur tubuh tegap, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat mahal. Garis rahangnya yang tegas, sorot matanya yang dingin namun menyimpan badai, serta aroma maskulin familier yang langsung menguar membelah udara koridor—tidak salah lagi, itu Kinan
Seolah ada ikatan batin yang tak kasat mata, Kinan yang sedang mendengarkan penjelasan staf di sebelahnya mendadak menghentikan langkah. Kepala pria itu menoleh, dan pada detik itu juga, sepasang manik mata Kinan yang tajam langsung bertubrukan dengan sepasang mata bulat milik Neya yang sedang berdiri mematung.
Seolah ada benang tak kasat mata yang menarik mereka, Kinan mendadak menghentikan langkah dan pembicaraannya dengan staf di sebelah. Kepala pria itu menoleh, dan pada detik itu juga, sepasang manik mata Kinan yang tajam langsung bertubrukan dengan sepasang mata bulat milik Neya.
Kinan ingin sekali berlari, merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, dan menangis meluapkan segala penderitaannya. Namun, akal sehat dan rasa takutnya jauh lebih besar. Kinan tahu para serigala pengawas dari keluarganya bisa ada di mana saja. Lagipula, setahu Kinan, Neya telah hilang ingatan total akibat tragedi penembakan itu. Kinan tidak ingin melukai Neya lagi; ia tidak ingin kehadiran fisiknya memicu bahaya baru bagi nyawa gadis yang teramat dicintainya itu. Dengan kepedihan yang luar biasa, Kinan terpaksa mengepalkan tangannya di dalam saku jas, menahan seluruh gejolak rindu itu, dan memaksa matanya kembali menatap Neya dengan tatapan "asing" yang dingin dan tak mengenal.
Melihat tatapan tertahan Kinan, Neya langsung membaca situasi dengan jenius. Ia tidak menangis histeris atau memanggil nama Kinan. Sebaliknya, Neya memosisikan dirinya dengan sempurna sebagai staf biasa yang bingung sekaligus terpesona melihat kedatangan sang petinggi kusuma Corp. Neya sedikit membungkukkan badannya dengan sopan, memberikan senyuman canggung yang tampak polos dan murni—layaknya seorang wanita amnesia yang memang tidak mengenali siapa pria di hadapannya.
Kinan yang melihat "keterasingan" di mata Neya hanya bisa membalas anggukan itu dengan dada yang terasa seperti dihantam godam, lalu melangkah pergi melewati Neya bersama rombongannya dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Neya perlahan menegakkan tubuhnya kembali setelah rombongan Kinan menjauh masuk ke ruang rapat utama. Senyum canggung di wajah cantiknya seketika lenyap, digantikan oleh kilat mata yang teramat dingin, tajam, dan penuh kendali.
Neya mengusap perutnya yang tadi sempat mual, lalu menatap pintu ruang rapat yang tertutup rapat dengan seringai misterius. Kamu berpura-pura tidak kenal demi melindungiku, Kinan? batin Neya dengan sangat tenang. Bagus. Tetaplah berakting seperti itu di depan dunia. Karena dari balik bayang-bayang ini, aku yang akan menggerakkan bidak caturnya
lalu Kinan ?