Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti Tambahan
Dalam kepanikannya, Rayyan tidak punya pilihan lain selain kembali menghubungi ibunya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menekan nomor Elly. Begitu sambungan tersambung, Rayyan langsung menumpahkan kekhawatirannya.
"Bu, gawat! Barusan aku melakukan intimidasi lagi pada Ayra lewat pesan singkat dan ia membalas pesanku. Dia bilang pesanku itu adalah bukti ancaman dan dia punya rekam medis soal kegugurannya yang disebabkan karena stres berat. Dia mengancam akan membawa ini ke jalur hukum kalau aku macam-macam," lapor Rayyan dengan nada suara yang mulai tidak stabil.
Di seberang telepon, Elly sempat terdiam sejenak. Namun, bukannya ikut panik seperti putranya, wanita itu justru terkekeh pelan. Sebuah tawa sinis yang membuat dahi Rayyan berkerut heran.
"Kamu itu terlalu lembek, Rayyan. Baru digertak soal pasal-pasal gak jelas saja sudah gemetar," ucap Elly dengan suara yang sangat tenang namun penuh kelicikan.
"Tapi Bu, kalau dia benar-benar punya bukti-bukti itu, posisi aku akan sulit di pengadilan nanti. Nama baikku di kantor juga taruhannya," keluh Rayyan lagi.
Elly mendengus.
"Sudah, jangan dipikirkan pesan konyol itu. Biarkan dia merasa menang untuk sementara. Dia pikir dia sudah memegang kartu paling kuat? Dia tidak tahu kalau Ibu punya sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rekam medis atau pesan singkat."
Rayyan tertegun. "Maksud Ibu apa?"
"Belum saatnya kamu tahu. Tapi ibu yakin ini akan membuat si Ayra menyerah."
Elly tidak membuang waktu. Setelah menutup telepon dari Rayyan, ia segera menghubungi seseorang melalui pesan singkat. Orang suruhannya yang merupakan tetangga Ayra yang sudah dia kenal lama. Elly lah yang menyuruh temannya itu untuk mengintai rumah Ayra saat suaminya pergi menemui dia tanpa mengajaknya. Dan orang suruhannya itu pula yang memotret adegan saat Herman memeluk Ayra. Hal inilah yang mengawali fitnah teror pada Herman.
"Kali ini aku mau kamu kirim foto itu pada Ayra. Sekarang juga!" perintah Elly melalui sambungan telepon dengan suara pelan karena takut ada yang mencuri dengar.
"Katakan padanya, jika dia tidak mau wajah jeleknya fyp di media sosial dengan tuduhan perselingkuhan, dia harus segera bercerai dari Rayyan tanpa menuntut apa pun. Bilang padanya, ini peringatan pertama dan terakhir," ucap Elly lantang dan tegas, meski suaranya direndahkan.
"Oke, tapi bayarannya harus lebih besar dari yang kemarin," jawab orang itu, membuat Elly memutar bola matanya, meski orang yang ditelepon tak bisa melihatnya.
"Masalah duit gak usah khawatir. Setelah pekerjaanmu selesai, aku akan segera mentransfernya ke rekeningmu."
Elly langsung memutus sambungan telepon sebelum lawan bicaranya berkata lagi. Dia tersenyum puas. Pikirnya dengan cara ini Ayra tak punya pilihan lain, selain menuruti perintahnya.
"Ayra pasti akan malu dan ketakutan jika tahu momen emosionalnya dengan Herman waktu itu disalahartikan menjadi sesuatu yang menjijikkan," kekehnya, merasa di atas angin.
***
Saat ini Ayra tengah mempelajari poin-poin yang akan dia ajukan di berkas perceraiannya. Dia juga sudah mengumpulkan bukti-bukti untuk memperkuat tuntutannya.
Tiba-tiba ponselnya di atas meja bunyi. Ayra mengalihkan tatapannya. Itu suara notifikasi pesan. Namun tak ada nama si pengirim di layar. Yang ada hanya deretan angka tertera di sana. Berarti si pengirim pesan bukan orang yang dikenalnya. Kening wanita cantik itu berkerut heran juga penasaran.
"Nomor siapa?" gumamnya sambil meraih benda pipih itu. Lalu membuka isi pesannya.
Seketika matanya terbelalak melihat foto yang dikirim orang itu. Foto dirinya dan sang mertua tengah berpelukan. Kerutan di kening Ayra semakin dalam. Dia mengingat-ingat, kapan terjadinya adegan seperti ini?
"Ini fitnah menjijikkan!" Umpatnya kesal.
Lalu Ayra membaca pesan yang menyertai foto itu.
"Wah... wah... wah... Inilah kisah mertua dan menantu yang tak punya malu dan menjijikkan! Jika perselingkuhan kalian tak ingin tersebar, cepatlah kamu bercerai dari Rayyan. Tanpa menuntut apa pun! Ingat, kamu tidak boleh menuntut apa-apa! Jika tidak, bukan hanya nama baikmu yang tercoreng. Tapi akan ada banyak hati yang tersakiti juga menanggung malu akibat perselingkuhan ini. Apalagi jika aku sampai memviralkannya di media sosial."
Begitulah isi ancaman itu. Sesaat membuat aliran darah di tubuh Ayra membeku. Ini bukan ancaman main-main. Orang awam pasti akan berasumsi pada hal-hal jelek seperti yang disebutkan si peneror.
Ayra masih menatap layar ponselnya dengan jemari yang terasa dingin. Ia membaca ulang kalimat demi kalimat ancaman itu.
“Tanpa menuntut apa pun!” Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Ayra bangkit dari duduknya. Dia melangkah mondar-mandir memilirkan, siapa yang kira-kira punya kans besar untuk melakukan perbuatan keji ini.
Ayra mencoba menelepon nomor itu. Tapi seperti yang sudah ia duga, ponselnya sudah tidak aktif.
Tapi iseng-iseng Ayra mencoba membalas pesan itu.
"Terima kasih sudah memberikan bukti tambahan. Aku sudah melakukan tangkap layar pada pesan ancaman tadi. Kamu juga harus siap diseret ke pengadilan!"
Dan perlahan ketakutan itu mulai berganti dengan kejernihan berpikir. Sebagai mahasiswi hukum yang sudah melewati banyak ujian logika, Ayra mulai menemukan kejanggalan yang sangat mencolok.
"Kalau memang tujuannya hanya untuk mempermalukan aku karena perselingkuhan, kenapa dia begitu memaksa agar aku tidak menuntut harta gono-gini?" bisik Ayra pada dirinya sendiri.
Pikirannya sedikit demi sedikit mulai terbuka. Ia sadar, tidak mungkin orang asing yang sekadar "peduli moral" akan ikut campur sampai ke urusan pembagian aset perceraian. Pesan ini sangat spesifik mengamankan posisi finansial Rayyan.
Ayra kembali memperhatikan foto itu. Sudut pengambilannya sangat rendah, seolah si pemotret sedang bersembunyi di balik pagar atau tanaman di samping rumahnya.
"Hanya orang yang tahu kapan Bapak datang ke sini yang bisa mengambil momen ini," batin Ayra.
Ayra meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar, namun matanya memancarkan ketajaman berpikir. Ia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam ketakutan. Sebagai orang yang mempelajari hukum, ia mulai membedah siapa saja yang paling diuntungkan jika ia mundur tanpa menuntut harta.
"Ada tiga kemungkinan," gumam Ayra sambil berjalan mondar-mandir di ruang tamu.
Pertama, Rayyan. Dia baru saja menelepon dengan nada ketakutan setelah Ayra mengancam akan membawa bukti rekam medis ke jalur hukum. Bisa jadi ini adalah serangan balik yang ia susun secara instan untuk membungkam Ayra agar tidak berani macam-macam di pengadilan.
Kedua, Liztha. Wanita itu kebetulan ada di rumahnya saat Bapak datang. Dia juga sangat terobsesi untuk menggantikan posisinya dan pasti ingin menguasai seluruh harta Rayyan tanpa harus berbagi dengan mantan istri. Liztha punya motif besar untuk menyingkirkannya dengan cara yang paling kotor sekalipun.
Ketiga, Ibu Elly. Sejak awal, Ibu mertuanya itu tidak pernah menyukainya dan selalu menganggap Ayra sebagai beban finansial bagi putranya.
"Tapi siapa pun dalangnya, orang ini punya akses untuk memantau rumah ini," pikir Ayra.
Ia menatap ke arah jendela. Kecurigaannya kini melebar ke lingkungan sekitarnya. Foto itu diambil dari samping rumah, sebuah sudut yang hanya bisa diakses oleh orang yang tinggal sangat dekat atau seseorang yang sudah mengintai cukup lama.
Ayra sadar, nomor asing ini adalah kunci. Si pengirim sangat bodoh karena mencampuradukkan fitnah perselingkuhan dengan urusan harta gono-gini.
"Jika ini murni dendam karena perselingkuhan, mereka akan menyebarkannya tanpa syarat. Tapi ini? Mereka justru menjadikannya alat tawar-menawar agar aku melepaskan hak hartaku. Ini bukan moralitas, ini murni perampokan yang dibungkus fitnah," batin Ayra.
Ayra mulai menyunggingkan senyuman. Ia tahu pengirimnya sedang membayangkan dirinya yang histeris. Ia duduk kembali di meja kerjanya, membuka laptop, dan mulai mencatat kronologi kedatangan Bapak mertuanya hari itu. Ia harus memastikan punya saksi atau bukti pendukung bahwa saat itu Herman datang sebagai orang tua yang prihatin, bukan hal menjijikkan seperti yang dituduhkan.
"Kalian bertiga, Rayyan, Liztha, atau Ibu, siapa pun yang bermain di belakang ini, kalian sudah melakukan kesalahan besar dengan menyenggol kehormatan Bapak," ucap Ayra pelan dengan nada yang sangat dingin.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"