Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Target Medis dan Bau Busuk Kematian
"Lewat celah reruntuhan jalan layang ini," bisik Lin Yu Yan. Napasnya tertahan sesaat.
Sepatu laras Wan Chen menginjak aspal yang terbelah. Tidak ada bunyi sol bergesekan dengan batu. Ia sekadar mengikuti langkah wanita di depannya dengan ritme monoton.
Berkat Gift wanita itu, mereka sudah menghindari tiga titik kumpul mutan skala besar dalam dua jam terakhir.
'Lebih efisien daripada faksi militer dungu,' batin Wan Chen. 'Bawa tank ke zona merah. Berisik. Boros bensin. Ujung-ujungnya cuma jadi prasmanan berjalan.'
Ia melirik punggung Lin Yu Yan. Wanita itu berkeringat dingin. Menekan insting dasar manusia untuk lari dari tekanan aura di sekitar mereka jelas menguras tenaga mental. Apalagi berjalan di garis depan sebagai penunjuk jalan.
"Dua blok lagi," lapor Lin Yu Yan parau. Tangannya memberi isyarat maju tanpa menoleh. "Ada kelompok crawler bergerombol di stasiun bawah tanah sebelah kanan. Kita melipir ke kiri. Lewat gang sempit di antara sisa ruko."
Wan Chen mengangguk pelan. Ia tidak berniat cerewet. Mereka memutar arah, bergerak memotong jalur puing beton yang berantakan.
Fokus pria itu beralih pada tujuannya. Serum Peningkatan Sel. Jika rumor itu benar, ia akan mencetak ratusan salinannya malam ini juga. Persetan dengan inflasi pasar gelap.
Langkah mereka berhenti tepat di ujung gang berdebu.
Gedung raksasa itu akhirnya terlihat. Lebih tepatnya, sisa-sisa dari sebuah gedung.
Fasad depannya hangus menghitam. Lumut mutasi menjalar acak memakan pilar-pilar beton utama. Kaca-kaca tebal yang dulu menjadi jendela kini hancur berkeping, menyisakan bingkai besi karatan yang meliuk aneh.
Bau busuk menyengat langsung memukul rongga hidung. Sangat pekat. Bukan sekadar bau bangkai biasa. Ini aroma daging basi yang direndam dalam cairan kimia kadaluarsa.
Lin Yu Yan menutup hidungnya dengan punggung tangan. Ia terbatuk kecil.
"Fasilitas medis pra-kiamat," gumam wanita itu pelan. Matanya menyapu pelataran kotor di depan mereka. "Tepat seperti desas-desus para penjarah."
Wan Chen tidak peduli pada nilai historis bangunan cacat itu. Fokusnya tertuju pada rute masuk paling aman.
Tangan kanannya bergerak meraba lengan kemeja panjang. Gelang Elektromagnetik miliknya terpasang kokoh. Permukaan logamnya terasa dingin. Menempel layaknya lapisan kulit kedua yang mematikan.
Ia memastikan kembali saku dalam mantelnya. Puluhan inti energi hasil salinan gila-gilaan masih tersimpan aman. Pasokan amunisi yang cukup untuk meratakan satu blok rumah sakit ini jika ia terdesak.
Pisau Taktis Karbon gandaannya sudah bersandar tenang di balik sabuk pinggang.
"Kau siap?" tanya Lin Yu Yan. Matanya melirik ke arah lorong masuk utama yang gelap gulita.
"Tugasmu hanya mendeteksi letak brankas itu," balas Wan Chen datar. Ia melangkah melewati wanita tersebut. "Jangan memancing keributan yang tidak menghasilkan keuntungan."
Lin Yu Yan mendecak jengah. "Kau pikir aku amatir penarik pelatuk?"
Mereka mulai berjalan menyusuri pelataran. Menghindari bangkai mobil ambulans yang terbalik dan tumpukan brankar medis berkarat.
Namun, baru lima belas langkah mendekati pintu masuk, tubuh Lin Yu Yan mendadak kaku. Langkahnya terhenti total.
"Tunggu," desisnya cepat. Tangan kanannya merentang, menghalangi dada Wan Chen seketika.
Pria itu menautkan alis. "Ada apa?"
"Di dalam." Mulut Lin Yu Yan setengah terbuka. Pupil matanya melebar. "Ada sesuatu di lobi utama. Jumlahnya... banyak sekali."
Benar saja. Belum sempat Wan Chen memproses peringatan itu, suara benturan keras memecah kesunyian malam.
Brak. Brak.
Disusul raungan parau yang bersahutan dari balik kegelapan lobi. Suaranya serak, liar, dan penuh dahaga. Ratusan langkah kaki terdengar berebut tempat, menabrak tembok dan memecahkan sisa-sisa ubin.
Lin Yu Yan menelan ludah paksa. "Kita harus mundur. Cari jalur ventilasi di arah lain. Terlalu padat di depan sana. Kita bakal mati konyol."
Namun Wan Chen tidak bergeming. Sepatunya tetap terpaku di atas aspal. Matanya justru tertuju pada reruntuhan pilar beton miring yang terletak tepat di sebelah pintu kaca utama yang hancur.
"Kita lihat dulu," ucap Wan Chen singkat.
"Kau gila?" protes Lin Yu Yan setengah berbisik. Tangannya menarik lengan mantel pria itu cukup kuat. "Kau sendiri yang bilang jangan memancing keributan!"
"Aku bilang kita lihat. Bukan ikut campur." Wan Chen melepaskan cengkeraman wanita itu santai.
Ia melangkah ringan meninggalkan Lin Yu Yan yang merutuk tertahan. Memanfaatkan sisa pijakan puing, Wan Chen memanjat pilar miring tersebut dengan presisi tenang. Gerakannya nyaris tanpa suara. Instingnya berteriak ada yang aneh. Monster biasa tidak akan berkumpul dan bertarung di satu titik kecuali ada mangsa hidup segar yang memancing mereka.
Sesampainya di sudut pandang atas yang agak tersembunyi, pemandangan di lobi utama membuat mata Wan Chen menyipit tajam.
Ruangan lobi itu sangat luas. Namun, lantai pualamnya nyaris tidak terlihat lagi, sepenuhnya tertutup cairan kental kehitaman.
Di tengah lautan puluhan zombie mutasi yang merangsek maju, ada satu titik pusat kekacauan.
Seorang pria berdiri di sana. Hunter. Pakaian tempur miliknya sudah robek compang-camping tidak berbentuk. Namun tak ada bekas cakar sama sekali di tubuhnya, cuma bekas darah yang terlihat jelas saja.
Pria itu mengayunkan tongkat besi berlapis paduan baja. Menghancurkan tengkorak monster terdekat hingga penyok. Darah muncrat mengotori sebagian wajahnya.
"Mundur! Cepat lari ke lorong darurat!" teriak pria itu lantang. Suaranya serak nyaris putus, mengalahkan geraman para monster.
Wan Chen menggeser pandangannya ke arah belakang punggung pria tersebut.
Ada sekelompok orang berseragam lusuh dan kotor. Survivor rendahan. Mereka menangis panik. Saling tabrak. Merangkak putus asa menuju celah pintu keluar kecil di ujung sayap lobi.
Muka pria yang bertarung itu tidak asing. Yang Luo. Wan Chen pernah membaca ringkasan profilnya di papan misi buruan faksi sesekali. Hunter garis keras kelas menengah yang punya reputasi sebagai orang lurus.
Satu zombie mutan melompat dari arah pilar atas yang rapuh. Makhluk itu mendarat dan langsung menggigit pundak Yang Luo dengan taring busuknya.
Pria itu mengerang sangat keras. Namun ia tidak mundur selangkah pun. Ia justru membuang senjatanya sesaat, mencengkeram rahang monster itu dengan tangan kosong, lalu menghantamkannya ke lututnya sendiri hingga terdengar bunyi tulang leher patah.
'Sinting,' batin Wan Chen.
Ia terus mengamati pertunjukan pembantaian sepihak itu dari atas pilar layaknya menonton teater komedi terburuk.
Membuang nyawa demi sekelompok beban tidak berguna yang bahkan tidak punya nilai tukar. Membiarkan tubuh sendiri dikoyak hanya untuk menambah waktu pelarian beberapa detik bagi orang-orang asing yang besok lusa mungkin akan mati juga karena kelaparan.
'Sungguh tindakan sia-sia,' pikir Wan Chen.
Tapi ada yang janggal, ia tidak terluka sama sekali.
Ayunan tongkatnya tetap sama, namun ia sudah mulai dikuasai oleh kerumunan. Hanya saja, ia sama sekali tak bergeming.
Cakaran dihantamkan, asam mutasi diluncurkan. Tetap saja, ia tidak terluka.
Lin Yu Yan akhirnya menyusul naik, berjongkok tepat di sebelah Wan Chen. Napas wanita itu tertahan di kerongkongan melihat pemandangan brutal di bawah sana.
"Dia... dia menahan mereka sendirian," gumam Lin Yu Yan.
Wan Chen tidak langsung merespons. Tangannya bertumpu pasrah pada pinggiran pilar.
Bohong jika ia tidak menganggap itu aksi heroik basi yang mengundang maut. Sangat tidak rasional.
Namun, matanya tak bisa lepas menatap kegigihan itu. Menatap keteguhan idiot yang sama sekali tidak memedulikan batas rasional seorang manusia biasa. Karena bukan itu yang mengambil alih perhatiannya.
'Ia... Punya Gift.'
Wan Chen menghela napas panjang. Ia mengusap pelan tengkuknya sendiri.
"Benar-benar pemandangan yang merepotkan."