Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
"KWEK! KWEK! KWEK! KWEK!"
Suara pekikan nyaring dan melengking itu tiba-tiba saja memotong sisa-sisa ketegangan di sudut meja mereka. Pintu kayu kecil berselot kuningan yang menghubungkan area dapur belakang dengan ruang utama kafe mendadak terbuka akibat serundukan kasar dari bawah. Seekor bebek putih berukuran besar, gemuk, dan berbulu bersih tampak berlari kencang masuk ke dalam ruangan. Bebek itu tidak lain dan tidak bukan adalah Donald. Siang ini, entah bagaimana caranya, si unggas pengacau itu berhasil meloloskan diri lagi dari pagar pembatas taman belakang yang belum selesai diperbaiki sepenuhnya oleh Liam. Donald tampaknya memiliki indra penciuman yang sangat tajam, atau mungkin dia punya radar khusus yang langsung mengenali wangi detergen dari jaket rajut krem yang dipakai oleh Jasmine. Dengan kedua sayap pendeknya yang mengepak-ngepak panik ke udara dan pantatnya yang bergoyang-goyang lucu, si bebek putih besar itu berlari lurus memotong area tengah kafe, mengabaikan tatapan melongo dari beberapa ibu-ibu kompleks di meja sebelah, dan meluncur mulus menuju ke arah meja sudut tempat Jasmine dan para abangnya berkumpul.
"Eh—eh! Demi apa itu ada angsa purba lepas?!" teriak Bryan spontan. Saking kagetnya melihat unggas putih besar yang berlari dengan kecepatan penuh ke arahnya, cowok itu refleks melompat dan langsung berdiri tegak di atas kursi kayunya. "Woi! Itu bebek atau monster minion di game sih? Gede banget, gila!"
"Bryan! Turun dari kursi, gak sopan!" tegur Kenzie dengan nada suara yang tertahan. Meskipun dia mencoba mempertahankan pembawaannya yang selalu tenang, berwibawa, dan gentleman, refleks tubuh Kenzie tidak bisa berbohong. Dia langsung menggeser kursinya mundur beberapa sentimeter hingga berdecit keras di atas lantai kayu, berusaha menjauhkan kaki celana jinsnya yang bersih dari potensi patukan si bebek.
Sementara itu, Ilias hanya bisa melongo dengan mulut sedikit terbuka. Tangannya yang baru saja mau meraih ponsel di atas meja mendadak kaku di udara, menatap pemandangan absurd yang sangat kontras dengan konsep kafe bunga yang estetis dan elegan ini. Donald sama sekali tidak memedulikan kehebohan tiga cowok asing di depannya. Targetnya sejak awal sudah sangat jelas. Bebek rusuh itu dengan entengnya menyusup di antara celah kaki-kaki kursi, lalu dengan gerakan tanpa dosa menjatuhkan paruh kuningnya yang agak basah tepat di atas permukaan sepatu kets putih milik Jasmine. Donald mendusel-duselkan kepalanya di sana dengan manja, mengeluarkan suara "kwek-kwek" pendek yang terdengar sangat senang seolah-olah baru saja menemukan pemiliknya yang hilang.
"Donald! Ih... jangan di situ, paruh kamu basah tahu!" Jasmine refleks memekik pelan. Wajahnya memerah karena malu sekaligus panik menjadi pusat perhatian seisi kafe. Kedua kakinya langsung dia angkat tinggi-tinggi ke atas dudukan kursi, membuat tubuh mungilnya kini terpaksa merapat dan meringkuk tepat di samping tubuh tegap Axel.
Axel yang merasakan pergerakan Jasmine langsung memasang mode waspada penuh. Melihat gadis yang dilindunginya selama lima tahun ini ketakutan, ia langsung berdiri tegak dari kursinya. Tubuhnya yang tinggi besar menghalangi pandangan Donald, seolah memasang tameng fisik yang kokoh antara Jasmine dan si bebek pengacau. Axel menurunkan pandangan matanya yang tajam dan sedingin es, menatap Donald dengan tatapan mengancam seolah unggas itu adalah musuh yang harus segera dieliminasi dari map pertandingan.
"Heh. Pergi kamu dari sini. Jangan dekat-dekat dia," usir Axel dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan penuh intimidasi. Tangannya mengepal di samping saku celana, bersiap menghalau Donald jika bebek itu berani bertindak lebih jauh.
"Donald! Astaga, Donald! Jangan nakal ya kamu!"
Suara bariton yang sangat familier dan penuh kepanikan tiba-tiba terdengar menggelegar dari arah meja barista. Liam yang menyadari peliharaannya kabur langsung berlari keluar dari balik konter racikan kopi. Dengan gerakan kaki yang sangat lincah khas mantan atlet, cowok jangkung itu melompati undakan kayu pembatas kafe, lalu dengan sigap membungkuk di bawah meja sudut. Hanya butuh satu detik bagi Liam untuk menguasai keadaan. Menggunakan teknik andalannya yang sudah sangat terlatih sejak kemarin, kedua tangan kokoh Liam langsung menyergap perut gendut Donald dan mengangkat tubuh si bebek besar itu ke udara dalam sekali sentakan. Liam menjepit Donald dengan erat di bawah ketiak kirinya, membuat si bebek putih itu kini hanya bisa mengepakkan sayapnya dengan pasrah sambil mengeluarkan suara "kwek" pendek yang terdengar sangat melas dan kehilangan harga diri.
"Aduh, maaf ya semuanya. Benar-benar mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap Liam sambil mengatur napasnya yang agak memburu, senyuman ramah dan penuh penyesalan terukir di wajah tampannya yang bersih. Dia mengangguk sopan kepada Ilias dan Kenzie, lalu pandangannya beralih menatap Bryan yang sampai detik ini masih setia berdiri di atas kursi kayu sambil memegang kamera ponselnya dengan mata berbinar-binar.
"Donald ini memang agak ajaib kelakuannya. Dia punya radar khusus yang sangat sensitif kalau mendeteksi keberadaan perempuan cantik di sekitarnya. Suka langsung lepas kendali dan pengin dipeluk," lanjut Liam dengan nada suara yang sengaja dilembutkan saat matanya beralih menatap Jasmine yang masih meringkuk canggung di atas kursi dengan kaki terangkat. "Kamu gak apa-apa kan, Jasmine? Donald enggak gigit kok, sumpah. Dia cuma mau menyapa tetangga kesayangan aku saja."
Mendengar kata 'tetangga kesayangan aku' keluar dengan begitu santai dan kasual dari mulut Liam, suhu di sekitar meja sudut itu mendadak drop sampai ke titik beku. Aura protektif Axel langsung menyala di level maksimal. Cowok itu mengambil satu langkah maju yang sangat tegas, mempersempit jarak berdirinya dengan Liam hingga dada mereka kini hampir bersentuhan. Axel yang mengenakan jersi hitam tim tampak sangat kontras dengan Liam yang mengenakan kemeja putih bersih dengan apron kanvas hitamnya. Dua pasang mata dengan karakter yang bertolak belakang itu kembali saling mengunci di udara.
"Tolong hewan peliharaan mas ini dijaga dan dikurung dengan baik kalau mas memang niat mau membuka usaha kuliner yang layak," kata Axel dengan nada suara yang luar biasa tajam, menusuk, dan penuh penekanan di setiap suku katanya. Matanya memicing, menatap Liam dari jarak dekat tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Jangan sampai kelalaian konyol seperti ini membuat pelanggan lain, terutama Jasmine, merasa terganggu, tidak nyaman, dan ketakutan di dalam kafe mas."
Liam menatap balik netra hitam milik Axel yang penuh kilat amarah dan kecemburuan tersebut. Bukannya merasa terintimidasi, mundur, atau meminta maaf dengan ketakutan, pria itu justru mempertahankan senyuman tipisnya yang sangat tenang dan santai. Sebagai seorang lulusan psikologi yang matang, Liam tahu persis bagaimana cara membaca dan mengelola ego seorang anak muda yang sedang bergejolak karena insting melindungi yang berlebihan. Liam justru menganggap reaksi keras Axel sebagai konfirmasi menarik tentang seberapa berartinya Jasmine di dalam kehidupan tim game tersebut.
"Iya, saya mengerti, Mas Kapten. Ini murni kelalaian dari pihak kami karena pintu dapur belakang tadi lupa dikunci rapat oleh karyawan baru setelah mengantar pasokan bunga mawar," jawab Liam dengan nada suara yang sangat halus, sopan, namun tetap terdengar berwibawa tanpa ada satu pun nada gentar di dalamnya. Pembawaannya yang sangat dewasa membuat teguran keras Axel justru terdengar agak kekanak-kanakan di udara.
Liam kemudian mengalihkan sedikit pandangannya ke arah Jasmine yang perlahan-lahan mulai menurunkan kedua kakinya kembali ke atas lantai kafe, meskipun wajah cewek itu masih merah padam karena menahan malu yang luar biasa akibat tingkah absurd Donald dan kehebohan abang-abangnya.
"Jasmine, minuman Chamomile Milkyway khusus untuk kamu dan pesanan teman-teman kamu sudah selesai diracik di atas meja konter. Biar setelah ini aku sendiri yang akan mengantarkannya langsung ke meja kalian, ya. Takut kalau pelayan lain yang antar, minumannya malah tidak sengaja terkena bulu halus Donald yang beterbangan tadi," ujar Liam lembut, memberikan perhatian penuh yang mengabaikan tatapan membunuh dari Axel yang masih berdiri kaku di depannya.
Sebelum melangkah pergi kembali ke area belakang untuk mengurung si bebek pengacau, Liam sempat melemparkan sebuah kerlingan mata yang sangat iseng dan jahil ke arah Jasmine, seolah-olah mereka berdua memiliki rahasia kecil yang tidak diketahui oleh keempat cowok jagoan game yang sedang mengawalnya siang ini. Tindakan spontan itu sukses membuat jantung Jasmine berdegup kencang dengan cara yang sangat aneh, menyisakan kerutan sebal di dahinya sekaligus rasa penasaran yang semakin mendalam tentang siapa sebenarnya sosok asli di balik senyuman menenangkan milik Liam ini.
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏
Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁
Terima Kasih 🙏🙏🙏