Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.Puncak Kekuasaan dan Aliansi Dua Sisi
Malam yang diguyur hujan lebat itu perlahan berlalu, meninggalkan Ibukota Imperial dalam kondisi mencekam yang tak kasat mata. Hancurnya Paviliun Giok Hitam disusul tewasnya Penatua Huo di Kediaman Agung Keluarga Lu dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam telah mengirimkan gelombang kejut yang dahsyat ke seluruh penjuru kota. Bagi masyarakat awam, runtuhnya aula megah Keluarga Lu hanyalah insiden ledakan gas biasa yang diberitakan di media sekuler. Namun bagi para penguasa di puncak hierarki, mereka tahu bahwa ada sesosok predator mengerikan yang tengah berjalan di antara mereka.
Pagi harinya, di dalam sebuah ruang rapat tersembunyi yang terletak jauh di bawah tanah markas besar militer distrik pusat, suasana tampak sangat tegang. Jenderal Tua Ye duduk di kursi roda khususnya dengan wajah yang jauh lebih segar berkat pengobatan Lin Xiu sebelumnya, didampingi oleh putranya, Jenderal Ye Jincheng. Di hadapan mereka, sebuah layar proyektor menampilkan foto-foto puing-puing aula Keluarga Lu yang meleleh seperti lilin akibat panas ekstrem yang tidak wajar.
"Ini bukan sekadar kekuatan seorang *Grandmaster*, Jincheng," bisik Jenderal Tua Ye dengan suara berat, sepasang mata tuanya memancarkan kombinasi antara rasa kagum dan ngeri. "Bahkan Penatua Huo yang menguasai ranah Setengah Dewa buatan pun musnah tanpa sempat menyisakan jasad untuk dikubur. Tuan Lin Xiu... dia telah melampaui batas manusia biasa."
*CEKLEK.*
Pintu baja ruang rapat yang dijaga ketat oleh puluhan prajurit bersenjata otomatis mendadak terbuka tanpa ada peringatan dari sistem keamanan. Langkah kaki yang santai terdengar berirama, memecah keheningan ruangan.
Lin Xiu melangkah masuk dengan tangan yang bersedekap di dada, masih mengenakan kaus hitam kasual dan celana jins pudarnya. Di bahunya, tas kain usang yang kini menyimpan buku catatan kuno Klan Naga Hitam tetap menggantung kokoh. Di belakangnya, beberapa sistem alarm keamanan elektronik tampak mati total akibat tekanan aura tak kasat mata yang dibawanya.
"Tuan Lin!" Jenderal Tua Ye langsung berusaha berdiri dari kursi rodanya untuk memberi hormat, namun Lin Xiu mengibaskan tangannya dengan malas, memberi isyarat agar pria tua itu tetap duduk.
"Tidak perlu formalitas, Jenderal Tua. Kondisi fisikmu baru pulih tiga puluh persen, jangan memaksakan diri jika tidak ingin meridian dadamu kembali tersumbat," kata Lin Xiu sembari menarik sebuah kursi besi dan duduk di seberang meja rapat dengan santai.
Ye Jincheng menelan ludah dengan susah payah, menatap pemuda yang usianya jauh di bawahnya namun memiliki otoritas yang mampu membuat seluruh divisi militernya gemetar. "Tuan Lin, kami telah membersihkan seluruh jejak pertempuran Anda di Keluarga Lu dan Paviliun Giok Hitam. Otoritas sipil tidak akan pernah tahu keterlibatan Anda. Namun... Klan Alkemis Naga Hitam pasti tidak akan tinggal diam setelah kehilangan salah satu Penatua Inti mereka."
Lin Xiu tersenyum sinis, mengeluarkan buku kuno bersampul kulit binatang hitam dari tas kainnya lalu melemparkannya ke atas meja baja hingga menimbulkan bunyi berdentang yang keras. "Klan Naga Hitam hanyalah anjing peliharaan yang bertugas menggigit di kegelapan. Musuh yang sesungguhnya sedang duduk dengan tenang di atas takhta emas mereka."
Jenderal Tua Ye mengernyitkan alisnya, perlahan mengambil buku tersebut dan membuka halaman yang telah ditandai oleh Lin Xiu. Begitu matanya membaca baris kalimat bertinta emas yang menyebutkan nama *Istana Pangeran Long*, wajah sang jenderal veteran langsung memucat drastis. Tubuhnya yang tegap mendadak bergetar halus.
"I-Istana Pangeran Long... Keluarga Kekaisaran?!" Jenderal Tua Ye mendongak dengan pandangan yang dipenuhi horor mutlak. "Bagaimana mungkin... Pangeran Long adalah salah satu pilar tertinggi yang mengendalikan jaringan intelijen dan pasukan bayangan kekaisaran! Mengapa mereka harus mengincar sebuah panti asuhan kecil di Jiangnan tiga belas tahun yang lalu?"
"Karena apa yang dicari oleh mereka ada di sini," jawab Lin Xiu datar sembari mengetukkan jari telunjuknya ke arah dadanya sendiri—merujuk pada esensi *Kitab Rahasia Sembilan Matahari* yang telah menyatu dengan jiwanya. "Ibu panti kami mengorbankan nyawanya demi melindungi warisan ini dari tangan kotor mereka. Dan sekarang, setelah aku mengetahui siapa dalang di balik semua ini, seluruh garis keturunan Istana Pangeran Long harus membayar setiap tetes darah yang tumpah di Jiangnan."
Mendengar pernyataan perang yang begitu lugas terhadap faksi kekaisaran, Ye Jincheng langsung berdiri dengan panik. "Tuan Lin! Ini terlalu berbahaya! Istana Pangeran Long tidak hanya memiliki ribuan pasukan elite pengawal bayangan (*Shadow Guards*), tetapi mereka juga didukung oleh sisa dua Penatua Inti Klan Naga Hitam dan Ketua Klan mereka yang dirumorkan telah mencapai ranah Dewa yang sesungguhnya! Menyerang mereka secara terbuka sama saja dengan memicu perang saudara di Ibukota Imperial!"
Lin Xiu tidak bergeming. Sepasang mata emas murninya perlahan berkilat terang, memancarkan tekanan spiritual yang begitu masif hingga membuat lampu-lampu kristal di dalam ruang bawah tanah itu mulai berkedip tidak stabil.
"Keluarga Ye, aku datang ke sini bukan untuk meminta izin atau meminta bantuan militer kalian untuk bertempur," suara Lin Xiu terdengar sangat rendah namun bergetar hebat di dalam dada kedua jenderal tersebut. "Aku datang untuk memberikan kalian pilihan. Tetap berdiri di sisi kekaisaran yang korup dan membusuk ini, atau bantu aku mengisolasi pergerakan pasukan luar agar aku bisa membersihkan Istana Pangeran Long tanpa ada gangguan dari pihak ketiga."
Ruangan kembali diselimuti oleh keheningan yang mencekam. Jenderal Tua Ye menutup matanya rapat-rapat, otaknya berputar cepat menimbang risiko terbesar dalam hidupnya. Di satu sisi, kesetiaannya pada negara adalah segalanya. Namun di sisi lain, dia tahu bahwa Keluarga Kekaisaran saat ini telah banyak disusupi oleh faksi mistis sesat yang memeras kehidupan rakyat demi keabadian mereka sendiri. Terlebih lagi, Lin Xiu adalah penyelamat nyawanya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berabad-abad, Jenderal Tua Ye membuka matanya kembali. Sinar matanya kini dipenuhi oleh ketegasan seorang panglima perang yang telah mengambil keputusan mutlak.
"Jincheng, serahkan perintah mobilisasi rahasia kepada Divisi Serigala Hitam," perintah Jenderal Tua Ye dengan nada dingin. "Mulai malam ini, tutup seluruh akses jalan menuju distrik barat tempat Istana Pangeran Long berada dengan dalih latihan militer skala besar. Jangan biarkan satu pun pasukan kepolisian atau faksi luar mengintervensi wilayah tersebut."
Ye Jincheng terkejut, namun dia segera memberi hormat militer yang sempurna. "Siap, Ayah! Perintah akan segera dilaksanakan!"
Lin Xiu menyunggingkan senyum tipis, merasa puas dengan pilihan yang diambil oleh Keluarga Ye. Dia berdiri dari kursinya, mengambil kembali buku kuno dari atas meja, lalu menyimpannya ke dalam tas usangnya. "Pilihan yang bijaksana, Jenderal Tua. Setidaknya kau telah menyelamatkan seluruh garis keturunan Keluarga Ye dari badai yang akan datang."
Tepat ketika Lin Xiu hendak melangkah menuju pintu keluar, ponsel di dalam saku celananya mendadak bergetar hebat. Dia meraba saku dan melihat sebuah nomor tidak dikenal dari wilayah Jiangnan berkedip di layar. Perasaan tidak enak mendadak menyelimuti batin sang Dokter Surgawi.
Lin Xiu menggeser layar dan mengangkat panggilan tersebut. Belum sempat dia bersuara, suara tangisan yang teramat panik dari seberang telepon langsung menusuk indra pendengarannya.
"Kakak... Kakak Lin Xiu! Tolong kami!" itu adalah suara Xiao Tong, adik perempuannya di Jiangnan. "Ada sekelompok orang berpakaian jubah hitam yang menerobos masuk ke panti asuhan baru kami... Mereka sangat kuat... Paman Qin dan para penjaga sudah terluka parah... Mereka mencari Kakak, dan sekarang mereka membawa pergi Xiao Mei!"
*BZZZTTT!!!*
Mendengar kata-kata itu, seluruh aura di dalam ruang bawah tanah militer mendadak meledak tanpa kendali. Meja baja tebal di depan Lin Xiu langsung hancur terbelah menjadi dua bagian akibat hantaman tekanan energi yang teramat dahsyat. Dinding beton ruangan retak parah, dan sepasang mata Lin Xiu sepenuhnya berubah menjadi emas murni yang menyala-nyala bagai matahari yang murka.
"Siapa yang membawa Xiao Mei?" suara Lin Xiu terdengar sangat rendah, namun mengandung niat membunuh yang begitu pekat hingga membuat Jenderal Tua Ye dan putranya langsung jatuh terduduk di lantai karena tidak kuat menahan tekanan mental.
Dari seberang telepon, sebuah suara pria paruh baya yang serak dan penuh keangkuhan mengambil alih panggilan. "Lin Xiu... Jika kau ingin adik perempuanmu tetap bernyawa dan konstitusi tubuhnya tidak dijadikan bahan tungku alkemi kami, datanglah sendirian ke **Lembah Kematian Naga Hitam** di pinggiran utara Ibukota sebelum matahari terbenam esok hari. Ketua Klan kami telah menunggumu untuk menyerahkan esensi Sembilan Matahari milikmu. Jika kau membawa satu saja prajurit militer... kau hanya akan pulang membawa potongan tubuh adikmu!"
*PIP.*
Panggilan diputus secara sepihak. Lin Xiu perlahan menurunkan ponselnya, ekspresi wajah tampannya kini benar-benar membeku bagai es abadi dari kutub terdalam. Niat membunuh yang tadinya tertahan kini meluap sepenuhnya, memenuhi setiap sudut markas militer tersebut dengan hawa dingin yang mencekam.
Rencana untuk mendatangi Istana Pangeran Long terpaksa dia tunda. Klan Alkemis Naga Hitam telah menyentuh batas suci yang paling tabu dalam hidup Lin Xiu: keselamatan adik-adiknya.
"Tuan Lin... apa yang terjadi?" tanya Jenderal Tua Ye dengan sisa kekuatannya, menatap Lin Xiu dengan tubuh yang gemetar.
Lin Xiu membalikkan badannya, berjalan cepat keluar dari ruangan tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya bergema di sepanjang koridor baja, sedingin lonceng kematian dari akhir zaman.
"Klan Alkemis Naga Hitam... besok malam, nama mereka akan dihapus untuk selamanya dari sejarah klan naga"