Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Mencurigai Sosok Kuno
Langit di atas Gunung Baiyun masih berputar perlahan ketika Patriark Tianhe akhirnya mendarat kembali di halaman aula utama.
Aura Raja Bela Diri yang baru saja ia terobos masih bergemuruh di dalam tubuhnya — hangat, penuh, dan terasa seperti sungai besar yang akhirnya menemukan muaranya. Selama puluhan tahun ia terjebak di puncak ranah Roh Bela Diri, menatap batas itu dari dekat namun tak pernah mampu melangkahinya. Kini, hanya berkat satu kitab lusuh dari tangan seorang pedagang jalanan, ia melompati batas itu seolah melangkahi genangan air.
Lompatan ikan mas melewati Gerbang Naga. Itulah yang baru saja terjadi.
"Wahai Xuanwu…" gumamnya sambil menatap langit dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. "Kau memaksaku menerima duel itu dengan percaya diri, tapi andai kau tahu bahwa aku kini telah mencapai ranah Raja Bela Diri… aku sangat penasaran seperti apa wajahmu nanti saat kita bertemu."
Di bawahnya, Mei Lian berlutut penuh hormat. "Selamat kepada Guru atas keberhasilan menerobos ke ranah Raja Bela Diri. Ini anugerah besar bagi seluruh sekte kita."
Patriark Tianhe turun dan mengangkat muridnya berdiri dengan kedua tangan, matanya memancarkan kelembutan yang jarang ia tunjukkan. "Xue'er, bangunlah. Jasamu kepada Sekte Lingxue tidak akan pernah terlupakan."
Mei Lian menunduk rendah. "Itu hanya kewajiban murid."
"Baiklah." Patriark Tianhe mengelus kitab yang kini terasa begitu berharga di tangannya. "Tadi aku terlalu sibuk hingga lupa bertanya. Ceritakan padaku — Senior Agung itu, seperti apa sosoknya?"
Mei Lian diam sejenak, mengumpulkan bayangan itu dalam ingatannya. "Dia terlihat sangat muda. Tampan, tapi bukan tampan yang mencolok. Auranya tenang — tenang sekali, seperti danau yang tidak pernah berangin. Saat itu aku belum sadar, tapi sekarang setelah kukenang kembali… setiap gerak-geriknya memancarkan kedalaman seorang Grandmaster yang telah melihat segalanya. Dia hanya duduk santai, mengelola kios kecil, dan menjual banyak sekali buku bela diri bergambar."
"Banyak buku bela diri?!" Patriark Tianhe tersentak, mulutnya terbuka lebar.
Mei Lian mengangguk.
Wajah Patriark Tianhe berubah serius. Ia menatap muridnya dengan tatapan penuh peringatan. "Xue'er, dengarkan baik-baik. Jangan pernah menilai orang ini dari penampilan atau usianya. Berdasarkan semua yang kau ceritakan… aku curiga dia bukan sekadar ahli yang menyembunyikan diri. Aku curiga dia adalah sosok yang sangat tua — makhluk yang telah hidup ribuan tahun, jauh melampaui perhitungan kita. Kultivasi orang ini… kemungkinan besar telah berada di ranah Kaisar Bela Diri."
"Kaisar… Bela Diri?!"
Mei Lian sangat paham hierarki kekuatan dunia ini. Seniman Bela Diri, Guru Bela Diri, Guru Bela Diri Agung, Roh Bela Diri, Raja Bela Diri, lalu Kaisar Bela Diri. Di atasnya masih ada tingkatan lain, namun itu hanya legenda. Sosok yang mencapai Kaisar Bela Diri ibarat naga suci — hampir tak pernah terlihat. Bahkan Pendiri Sekte Lingxue yang dulu membelah gunung dengan satu tebasan pedang pun konon hanya setingkat Kaisar Bela Diri.
"Kita harus mengunjunginya langsung," kata Patriark Tianhe dengan tekad bulat. "Bersiaplah, kau harus ikut bersamaku turun gunung."
Tubuh Mei Lian seketika membeku.
"Guru… saya… saya tidak berani."
"Ada apa?"
"Saya… khawatir telah menyinggung perasaan Senior itu." Suaranya pecah pelan. Rasa cemas yang selama ini ia pendam akhirnya meluap. Dengan gugup dan terbata-bata, ia menceritakan semua yang terjadi — cara ia memandang rendah Lin Qian, nada bicaranya yang dingin, dan cara ia melempar satu keping emas seolah memberi sedekah kepada pengemis.
Wajah Patriark Tianhe merah padam.
"Guru… murid bersalah!" Mei Lian membenturkan kepalanya ke lantai berulang kali, air mata mengalir tanpa ia sadari. "Saat itu aku sungguh bodoh! Aku mengiranya hanya manusia biasa!"
"Kau…" Patriark Tianhe menunjuk ke arahnya, napasnya memburu menahan amarah sekaligus kepanikan. "Bahkan jika dia benar-benar manusia biasa, dasar budi pekertimu itu sangat kurang! Apalagi kini kita tahu sosok itu bisa meratakan sekte ini hanya dengan satu jentikan jari! Kau melempar satu keping emas?! Kau sungguh beruntung masih bisa berdiri di sini dengan utuh!"
"Saya… pikiran saya sedang kacau karena memikirkan duel Guru. Dan saya hanya membawa satu keping emas saat itu…"
Patriark Tianhe terdiam panjang. Napasnya berat.
"Untungnya adikku, Xiao Rui, ada di sana," lanjut Mei Lian pelan, mencari secercah harapan. "Senior itu tidak marah. Dia malah tersenyum dan memberikan buku kepada Xiao Rui secara cuma-cuma. Mungkin… mungkin karena adikku terlihat polos, itulah yang menyelamatkan aku dan seluruh sekte ini."
Patriark Tianhe menghela napas lega, namun wajahnya tetap tegas. "Justru karena itulah kau wajib ikut. Kau harus meminta maaf secara langsung."
"Tapi bagaimana jika kehadiran saya malah membangkitkan amarahnya?"
"Kau pikir dengan bersembunyi, dia tidak akan tahu kau muridku?" Patriark Tianhe mendengus. "Dengan wawasan Senior itu, dia sudah tahu segalanya sejak awal. Dia membiarkanmu pergi berarti dia tidak menganggapnya penting. Justru jika kita berpura-pura tidak tahu, itulah yang akan membuatnya benar-benar jijik."
Mei Lian akhirnya menguatkan hatinya. "Baiklah, Guru. Apa pun keputusan Senior itu nanti, murid siap menerimanya."
Patriark Tianhe mengangguk. Keduanya berubah menjadi dua garis cahaya yang melesat menuju Kota Yunzhou.
Sementara itu, di jalanan Kota Yunzhou yang ramai seperti biasa, Lin Qian berjalan santai sambil menenteng labu anggur besar.
"Han Yu, latih terus gerakan pukulanmu. Guru mau beli anggur sebentar," pesannya tadi sebelum keluar, meninggalkan muridnya yang rajin berlatih di dalam kios.
Sepanjang jalan, hampir semua orang yang berpapasan menyapanya hangat. Lin Qian membalas dengan senyum santai — ia sudah seperti bagian dari jalanan itu sendiri. Bahkan beberapa wanita di lantai atas kedai minuman memanggilnya riang, mengajaknya minum gratis. Lin Qian hanya tertawa canggung dan melanjutkan langkahnya.
Namun baru beberapa langkah, keributan besar pecah di tengah jalan.
Para pedagang dan warga berlarian sambil membawa galah dan tongkat panjang, berteriak-teriak bersemangat mengejar sesuatu.
"Tuan Lin! Cepat ke sini! Ada anjing gila aneh yang muncul entah dari mana! Dagingnya pasti empuk, pas sekali untuk teman minum anggurmu!"
Lin Qian mengintip penasaran. Di tengah kerumunan, sesosok makhluk berbulu abu-abu berlari kian kemari dengan panik, raungannya terdengar menyedihkan.
Sialan! jerit batin makhluk itu. Aku ini Serigala Iblis Pemakan Surga yang agung! Makhluk yang ditakuti seluruh dunia iblis! Kenapa aku malah dikejar manusia-manusia rendahan ini seperti anjing kampung?! Kalau tenagaku tidak tersegel habis, sudah kujadikan abu kota ini!
Serigala iblis itu panik mencari celah kabur. Matanya menemukan jalan kosong — hanya ada satu pemuda santai berdiri di sana dengan labu anggur di tangan.
Itu dia jalan keluarku. Manusia biasa yang lemah itu tidak akan berani menghalangi. Aku masih punya sisa sedikit tenaga iblis — cukup untuk menyingkirkan satu manusia fana ini.
Serigala itu menundukkan kepala, energi samar bersinar di dahinya, lalu melesat bagai anak panah tepat ke arah Lin Qian.
"Eh, nekat juga ya," gumam Lin Qian santai.
Ia mengangkat satu kaki dengan tenang. Jurus paling dasar yang pernah ada — Kaki Shaolin, yang telah ia latih hingga puncak tertinggi yang bisa dicapai manusia.
DUAR!
Satu benturan keras.
Ekspresi angkuh di wajah serigala itu membeku seketika. Rasanya seperti menabrak gunung baja. Pusing menyergap, dan yang paling mengerikan — sisa tenaga iblis terakhirnya lenyap begitu menyentuh telapak kaki pemuda itu. Seperti nyala lilin yang ditiup badai.
Mengapa…?!
Itu pikiran terakhirnya sebelum tubuh besar itu terlempar, berputar dua kali di udara, lalu jatuh diam tak bergerak.
"Wah, hebat Tuan Lin! Sekali tendang langsung beres!" sorak para warga.
"Hahaha, keberuntungan saja." Lin Qian mengangkat ekor serigala itu dengan satu tangan, menentengnya santai. Tangan kirinya masih memegang labu anggur. "Kalau begitu aku terima hadiahnya ya! Ada daging, ada anggur — enak sekali malam ini!"
Sambil tertawa, ia melanjutkan langkahnya menjauh.
Tak lama setelah kepergiannya, dua sosok melayang turun perlahan di ujung jalan yang lain.
"Di sinilah tempatnya, Guru," bisik Mei Lian dengan suara bergetar, menunjuk kios sederhana di depannya.
Patriark Tianhe mengangkat kepala, menatap bangunan kecil itu. Biasa saja — meja kayu tua, tumpukan buku, dan sebuah plakat kayu di atas pintu bertuliskan satu kata: BELA DIRI.
Begitu pandangannya jatuh pada tulisan itu, napasnya seakan berhenti.
Karakter itu seolah hidup. Berubah menjadi kepalan tangan raksasa yang menyimpan kekuatan langit dan bumi, menghantam langsung ke arah kesadarannya.
"Ugh!"
Patriark Tianhe mundur terhuyung beberapa langkah, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi punggung jubahnya.
"Guru!" Mei Lian buru-buru menopangnya. "Ada apa?!"
"Saya tidak apa-apa…" Patriark Tianhe menghela napas panjang, matanya menatap plakat itu dengan kekaguman dan ketakutan yang bercampur aduk. "Xue'er… tulisan itu saja sudah mengandung Niat Bela Diri yang murni dan dahsyat. Cukup untuk menghancurkan roh jiwa seorang ahli sepertiku jika aku lengah sedikit saja."
Ia menelan ludah.
"Tadi aku mengira dia setingkat Kaisar Bela Diri… tapi sekarang aku sadar betapa buta perkiraanku itu. Di hadapan sosok ini, Kaisar Bela Diri pun tidak lebih dari anak kecil yang sedang bermain lumpur."
Mei Lian menatap plakat kayu itu, lalu menatap gurunya. Hatinya bergetar.
Betapa kecil dan sempitnya dunia yang selama ini mereka anggap luas.
-----Bersambung bab 4 -----