JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
seretak porselen
Pranggg!
Suara hant𝘢𝘮𝘢n porselen mahal yang hancur berkeping-keping menggema di sepanjang koridor lantai utama mansion Moretti. Di atas lantai marmer yang mengilap, sebuah vas bunga kuno berwarna putih gading kini telah menjadi serpihan tak berbentuk.
Nayara berdiri mematung. Tubuhnya bergetar hebat dengan kemoceng yang terlepas dari tangan kirinya. Wajahnya seketika pucat pasi bagai mayat saat menyadari kecerobohannya. Gaun pelayan hitam pendeknya yang ketat terasa makin mencekik pasokan oksigennya.
"Apa yang kamu lakukan, Pelayan Sialan?!"
Sebuah suara bariton yang berat, menggelegar, dan sarat akan otoritas mutlak meluncur dari ujung koridor. Don Lorenzo Moretti berjalan tergesa dengan jubah beludru hitamnya yang melambai. Di belakangnya, Dante melangkah keluar dari ruang kerja dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Tatapan elang Dante langsung mengunci pecahan vas tersebut, dan senyuman miring yang dingin perlahan terukir di bibirnya. Rencananya berjalan jauh lebih cepat dari dugaan.
"V-vas ini..." Lorenzo ambruk berlutut di depan pecahan porselen tersebut. Pria tua yang ditakuti seluruh dunia bawah itu tampak hancur. Tangannya yang gemetar memungut satu pecahan besar yang menyisakan ukiran nama kecil yang samar: Emily.
Vas itu adalah satu-satunya peninggalan masa lalu yang berharga di mansion ini. Mahakarya yang sengaja diukir oleh tangan Emily sendiri saat wanita itu masih terikat hubungan dekat dengannya, jauh sebelum Emily memilih si sialan Hardian.
"Bajingan!" Lorenzo bangkit berdiri dengan mata yang menyalang merah, dipenuhi murka yang tak terkendali. Rahangnya mengeras murni karena rasa kehilangan. Tanpa peringatan, tangan kanannya bergerak cepat ke balik jubah, menarik sebuah pistol emas bertabur berlian dan mengarahkannya tepat ke kening Nayara. "Kamu menghancurkannya! Kamu harus mati hari ini juga!"
Klik. Pelatuk pistol itu ditarik.
"Maaf... saya mohon maaf, Tuan... saya tidak sengaja," isak Nayara spontan. Ketakutan yang teramat sangat membuatnya reflek mendongak, menatap langsung ke dalam netra pria tua yang ingin menghabisinya. Air matanya meluncur deras, membasahi pipinya yang mulus. "Saya mohon... ampuni saya... maaf..."
Detik itu juga, gerakan tangan Lorenzo terkunci di udara. Jantung sang Don seolah berhenti berdetak sesaat. Pandangan matanya yang murka mendadak lumpuh total begitu bertatapan langsung dengan wajah Nayara yang sedang menangis.
Alis itu, hidung itu, dan sepasang mata bulat yang kini basah oleh air mata ketakutan...
Emily.
Lorenzo mengerjapkan matanya berulang kali. Napasnya mendadak putus-putus. Pistol di tangannya bergetar hebat, nyaris terlepas dari genggamannya. "E-Emily...?" bisik Lorenzo dengan suara yang mendadak parau dan kehilangan semua kekuatannya. Syok yang luar biasa meremukkan kesadarannya. Bagaimana mungkin wanita yang dirindukannya siang dan malam selama puluhan tahun kini berdiri di hadapannya dengan seragam pelayan seksi?
Dante yang menyaksikan pemandangan itu dari jarak beberapa langkah melipat tangan di dada. Kepuasan iblis membakar jiwanya. Melihat ayahnya yang tangguh mendadak rapuh dan linglung hanya karena satu wajah wanita adalah pemandangan paling indah bagi dendamnya.
"Dia bukan Emily, Ayah," sahut Dante dengan suara baritonnya yang tenang namun mematikan. Dia melangkah maju, berdiri di samping Nayara yang masih menangis ketakutan. "Dia hanya pelayan baru yang kupungut dari jalanan kemarin malam. Kebetulan yang luar biasa, bukan?"
Lorenzo tidak mendengarkan ucapan Dante. Matanya masih terpaku pada wajah Nayara yang gemetar.
Dante melirik ke arah Nayara dengan tatapan dingin tanpa ampun. "Kenapa masih diam di sana? Bersihkan kekacauan yang kamu buat. Sekarang."
Nayara yang masih syok karena nyaris ditembak langsung mengangguk panik. "I-iya, Tuan... saya bersihkan sekarang," ucapnya terbata-bata. Dia hendak berbalik mencari sapu di sudut koridor, namun suara Dante kembali menghentikannya.
"Siapa yang menyuruhmu memakai sapu?" potong Dante kejam, matanya berkilat penuh intimidasi yang mutlak. "Gunakan tanganmu. Ambil setiap kepingan kecil porselen itu sampai bersih tanpa sisa. Jangan ada yang tertinggal di lantai rumahku."
"Dante! Apa yang kamu—" Lorenzo mencoba memotong, namun lidahnya masih terlalu kaku karena syok yang belum mereda.
Nayara tidak punya pilihan. Ancaman Dante tentang keselamatan ayahnya tadi malam kembali terngiang di kepalanya. Dengan tubuh yang gemetar, dia berlutut di atas marmer dingin. Jari-jarinya yang halus mulai memungut pecahan porselen yang tajam satu demi satu.
Sret!
"Aw..." rintih Nayara lirih. Pinggiran porselen yang runcing langsung mengiris ujung jari telunjuknya. Cairan merah pekat segar mulai merembes keluar, menetes di atas marmer putih. Nayara menggigit bibir bawahnya menahan perih, namun dia tidak berani berhenti. Dia terus memungut pecahan lain, membuat telapak tangannya makin teriris dan berdarah.
Dante menatap pemandangan itu dengan senyuman miring yang makin melebar. Rasa puas yang gelap mengalir di dadanya. Penderitaan gadis ini adalah obat bagi luka masa lalu ibunya.
Di sisi lain, Lorenzo yang masih dalam kondisi syok berat merasa dadanya seperti diremas kuat. Melihat tangan gadis yang sangat mirip dengan Emily itu berdarah dan terluka, Lorenzo merasakan rasa sakit yang aneh di hatinya. Rasa tidak tega dan bersalah mendadak menggerogoti jiwanya. Dia seolah melihat Emily-nya yang sedang disiksa.
Tanpa sadar, Lorenzo melangkah maju dan membungkuk, mengulurkan tangan𝘯𝘺𝘢 untuk membantu atau mungkin menghentikan Nayara. "Hentikan... biar aku—"
"JANGAN SENTUH DIA, AYAH!"
Bentakan Dante yang menggelegar dan sarat akan ancaman berbahaya seketika memotong kalimat Lorenzo. Suara bariton Dante begitu keras dan tajam hingga menggema di seluruh penjuru koridor, membuat Lorenzo tersentak kaget dan menarik kembali tangannya dengan cepat.
Dante menatap ayahnya dengan sepasang mata elang yang berkilat penuh kebencian dan dominasi. "Dia adalah milikku. Hakku untuk menghukum atau menghancurkannya. Jangan pernah lancang mencampuri urusanku di rumah ini," desis Dante dengan nada dingin yang menusuk tulang, mempertegas batas kekuasaannya.
Lorenzo terdiam kaku. Matanya bergerak bergantian menatap Dante yang penuh dendam, lalu beralih ke arah Nayara yang kini menunduk dalam-dalam sambil mendekap tangannya yang berlumuran darah ke dada.
Dante mengalihkan pandangannya pada Nayara, lalu mengibaskan tangannya dengan gestur mengusir yang kasar. "Pergi dari hadapanku. Bawa semua pecahan itu dan obati tangan sialanmu sebelum darahmu mengotori karpet kamarku!"
"B-baik, Tuan... terima kasih," bisik Nayara dengan suara parau. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia mengumpulkan pecahan vas di dalam celemek pelayannya, lalu bangkit berdiri dengan tergesa dan berlari meninggalkan koridor dengan air mata yang terus mengalir deras.
Di koridor yang kini kembali sunyi, Lorenzo masih terpaku menatap tetesan darah Nayara di atas lantai marmer. Di depannya, Dante berdiri tegak dengan senyuman kemenangan yang sangat tipis, tahu bahwa permainan balas dendamnya baru saja dimulai dengan sangat sempurna.