NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Pagi di kediaman Lumiere dimulai dengan sunyi yang menindas. Salene berdiri di depan cermin setinggi langit-langit, membiarkan pelayan merapikan detail pada baju kodok (overall) denim putih premium yang ia kenakan.

Pilihan busana yang sangat tidak biasa bagi seorang Lumiere; biasanya ia dibalut gaun-gaun struktur kaku yang membatasi gerak. Namun hari ini, atas izin Madame, ia harus "menyesuaikan diri" dengan transportasi kelas pekerja milik keluarga Martinez.

Di luar gerbang besi yang menjulang, suara mesin terdengar. Namun, itu bukan raungan Triumph Scrambler yang garang atau dentum mesin yang memekakkan telinga. Suaranya lebih mirip ketukan ritmis yang ringan dan ramah.

Nikolas Martinez duduk di atas sebuah Honda Cross Cub 110. Motor itu terlihat mungil, bergaya petualang ringan dengan lampu depan bulat yang dilindungi kerangka besi—seperti mainan mahal yang fungsional. Nik telah memikirkannya matang-matang semalam.

Jika ia membawa motor besarnya, Salene mungkin akan pingsan karena syok atau menolak naik. Untuk menghadapi gadis porselen yang tidak pernah menyentuh jok motor seumur hidupnya, Cross Cub adalah jembatan yang paling aman.

Salene melangkah keluar dari gerbang dengan dagu terangkat, tas kamera Leica tersampir di bahunya. Matanya menyipit melihat kendaraan di depan Nik.

"Nah, ini baru cocok untukku," ucap Salene dengan nada angkuh yang masih kental. "Setidaknya ini tidak terlihat seperti mesin pemotong rumput yang meledak."

Nik terkekeh, turun dari motor dengan gerakan luwes. Ia mengambil helm retro berwarna putih mutiara dari box belakang. "Pilihan yang bijak, Tuan Putri. Ini namanya Cross Cub. Kecil, tangguh, dan tidak akan menelanmu hidup-hidup."

Nik melangkah mendekat, masuk ke ruang pribadi Salene untuk memakaikan helm itu. Tangan kasar yang biasanya berlumur oli itu kini bergerak sangat hati-hati di bawah dagu Salene, mengancingkan pengait helm dengan bunyi klik yang mantap. Jarak mereka begitu dekat hingga Nik bisa mencium aroma mawar dari kulit Salene.

"Apa kau tidak ingin mengikat rambutmu?" tanya Nik, menatap rambut pirang madu Salene yang tergerai sempurna. "Angin London tidak akan ramah pada tatanan rambut seharga ribuan poundsterling itu."

Salene menepis tangan Nik pelan, meski jantungnya berdesir aneh karena kedekatan itu.

"Tidak. Aku ingin rambutku merasakan angin. Aku bosan dengan sanggul yang ditarik terlalu kencang setiap hari."

Nik mengangkat alis, sedikit terkejut dengan kejujuran kecil itu. Ia naik kembali ke atas motor dan menepuk jok belakang yang empuk.

"Naiklah. Pegangan yang kuat."

Salene naik dengan ragu, duduk menyamping pada awalnya sebelum Nik memprotes. Setelah posisi duduknya benar, Salene meraba-raba sisi motor dengan bingung.

"Nik... di mana sabuk pengamannya?" tanya Salene dengan nada polos yang sangat kontras dengan wajah angkuhnya.

Nik menoleh ke belakang, menyeringai jahil.

"Sabuk pengaman? Di motor ini, akulah sabuk pengamannya. Pegang pinggangku kalau kau tidak mau terbang saat aku mengoper gigi."

Salene mendengus, namun akhirnya melingkarkan jarinya yang lentur pada jaket kulit Nik, memegang ujungnya dengan sangat hati-hati seolah jaket itu beracun.

.

Motor Cross Cub itu melaju membelah jalanan London yang mulai ramai. Awalnya, Salene duduk dengan kaku, punggungnya tidak menyentuh punggung Nik sama sekali. Namun, saat mereka memasuki kawasan jalanan berbatu di dekat Southbank, guncangan ringan mulai terasa.

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari balik punggung Nik. Suara itu tipis, namun penuh dengan nada yang belum pernah didengar Nik sebelumnya.

"Wah... ini perjalanan yang sangat menyenangkan!"

Nik terkesiap. Ia hampir saja salah menginjak rem. Itu bukan suara Salene yang judes.

Bukan suara dingin yang meremehkan orang di parkiran sekolah. Itu adalah suara yang hangat, ceria, dan penuh rasa ingin tahu—seperti suara seorang anak kecil yang baru pertama kali melihat kembang api.

Apa ini kau yang sebenarnya, hm? batin Nik. Ia melirik dari spion, melihat rambut Salene terbang berantakan tertiup angin. Gadis itu tidak peduli lagi dengan kesempurnaannya. Matanya berbinar melihat jembatan London dari sudut pandang yang berbeda.

"Nik! Nik... berhenti! Berhenti sebentar!" teriak Salene sambil menepuk bahu Nik dengan semangat.

Nik menepikan motornya di dekat sebuah dinding bata tua yang dipenuhi tanaman rambat musim semi yang sedang berbunga. Belum sempat standar motor turun dengan sempurna, Salene sudah melompat turun.

"Aku ingin berfoto! Lihat warnanya, Nik! Indah sekali!"

Nik terdiam di atas motornya, terpaku melihat pemandangan di depannya. Salene Lumiere, si gadis porselen yang angkuh, kini berlari-lari kecil menuju dinding bunga. Ia mengeluarkan ponselnya, mengambil beberapa selfie dengan berbagai gaya—mulai dari memiringkan kepala hingga berpose v-sign yang sangat kekanakan.

Tingkahnya benar-benar seperti remaja usia 12 tahun yang baru diajak berlibur. Wajahnya yang biasanya kaku karena aturan Madame, kini melunak. Pipi porselennya merona kemerahan karena terpaan angin dan kegembiraan yang meluap.

"Aku akan berfoto di sini, Nik! Wah, benar-benar indah!" serunya lagi sambil berputar, membiarkan baju kodok putihnya sedikit kotor terkena dedaunan.

Nik menyandarkan kepalanya di setang motor, menonton dari kejauhan dengan senyum yang tidak bisa ia tahan.

Di matanya, Salene saat ini jauh lebih cantik daripada saat ia berdiri di depan butik mewahnya. Kesempurnaan yang ia agungkan selama ini ternyata hanyalah topeng yang menutupi jiwa yang sangat haus akan kebebasan.

"Kau tahu," teriak Nik dari kejauhan, "Rambutmu berantakan seperti sarang burung, Lumiere!"

Salene menoleh, menjulurkan lidahnya ke arah Nik.

Sebuah tindakan yang sangat tidak pantas bagi seorang bangsawan tapi sangat manusiawi bagi seorang gadis. "Biarkan saja! Aku suka sarang burung ini!"

Nik tertawa lepas.

Hari Minggu ini baru saja dimulai, dan ia sudah berhasil melihat retakan terbesar pada porselen itu—retakan yang mengeluarkan cahaya yang sangat terang.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!