Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Harapan Yang Mulai Tumbuh
Beberapa hari kemudian, bibit-bibit yang Mela tanam mulai tumbuh. Ia mulai memasang bambu setinggi kurang lebih 1,5 meter untuk tanaman rambat. Dan, memindah beberapa bibit yang tumbuh, ke lahan yang baru saja ia lubangi. Tidak lupa, ia kembali menyiraminya dengan rutin.
Hingga, hari demi hari berlalu, tidak terasa usia tanaman Mela sudah sebulan lebih. Namun, justru semua tidak berjalan mulus.
Daun-daun kecil yang dulu ia tanam dengan penuh harapan, satu per satu mulai layu, menguning, lalu mati.
Padahal, air sudah mengalir ke lahan Mela. Namun, itu belum cukup karena beberapa tanaman tetap tidak bertahan.
Mela berdiri di tengah lahannya. Tangannya berkacak pinggang, napasnya berat, tidak tahu harus berbuat apa.
"Kenapa bisa begini?" lirihnya. "Padahal, aku sudah berusaha menyiramnya dengan teratur. Tapi, hasilnya?"
"Mel!" Darmi menepuk pelan bahu Mela.
Mela tidak menoleh. "Apa aku gagal, mbak?" tanyanya lirih.
Darmi menghela napas. "Bukan gagal, tapi masih berproses."
"Proses gagal," jawab Mela pahit.
Yati yang datang belakangan langsung menyahut, "Kalau gagal, ya ditanam lagi. Beres, kan?"
Mela menoleh. "Sesimpel itu?"
"Ya, memang sesimpel itu," jawab Yati santai. "Kamu pikir, petani langsung berhasil sekali tanam?"
Mela terdiam. Tatapannya kembali jatuh pada tanaman di depannya.
"Padi yang petani tanam di sawah, itu juga melalui berbagai proses. Tidak bisa langsung tumbuh dan berbuah. Setelah tanah di bajak, bibit padi di tanam, di pupuk, pengairan harus sesuai, lalu membersihkan gulma, juga hama seperti ulat, belakang. Jika tidak begitu, petani bisa gagal panen," seru Yati.
"Yang di katakan Yati, itu benar, Mel," timpal Asih. "Lagian, ini pertama kalinya kamu menanam sayuran, to? Kita buang saja yang mati, terus kita tanami lagi."
Mela mengangguk pelan. Hari ini, dengan bantuan teman-temannya, ia mulai mencabut beberapa tanaman yang sudah tidak bisa diselamatkan.
Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena lelah, tapi karena berat. Ia menatap sisa lahan yang masih bertahan. Meski tidak banyak, tapi masih ada yang tersisa.
Di sisi lain kota, lampu-lampu gedung menyala terang. Namun, suasana di dalam salah satu ruang rapat terasa dingin.
"Apa? Kerja sama dibatalkan?" Rahman menghela napas, menatap layar di depannya dengan wajah gelisah. "Apa alasannya?" tanyanya singkat.
"Tentu saja karena reputasi perusahaan," jawab seseorang di seberang.
Sunyi.
Ia sangat tahu maksud ucapan itu yaitu tentang skandal perceraiannya. Dan kini, muncul berita tentang pernikahan yang baru.
"Baiklah, aku mengerti." Nada suaranya terdengar tenang namun, rahangnya mengeras.
Di ruang CEO, Camila berdiri, menunggu dengan dengan gelisah. Tidak berapa lama, Ia melihat Rahman masuk dan langsung menghampirinya.
"Gimana?" tanyanya cepat.
Rahman melonggarkan dasinya. "Seperti yang kamu lihat," jawabnya singkat.
Camila menghela napas. "Aku sudah bilang, kita harus percepat pernikahan kita."
Rahman duduk di kursinya, lalu menghela napas panjang. "Semua tidak semudah itu."
"Justru karena itu!" suara Camila sedikit meninggi. "Kita butuh citra baru."
Rahman diam. Tatapannya berubah, seolah merasa ada sesuatu yang mulai tidak nyaman.
Sementara di desa, Mela kembali menanam bibit sayuran. Kali ini, lebih hati-hati dan tidak terburu-buru.
Setiap lubang yang ia buat, ia perhatikan. Setiap bibit yang ditanam, ia jaga.
Ia belajar dari kesalahan. Mulai dari tanah, pemberian pupuk, air dan memastikan tidak ada hama.
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu. Dan perlahan, semua usahanya mulai menunjukkan hasil.
"Mel! Lihat ini!" Suara Darmi terdengar dari kejauhan.
Mela yang sedang membawa air, langsung menoleh, melihat Darmi yang menunjuk salah satu bedengan.
Karena penasaran, Mela akhirnya mendekat. Ia terdiam, melihat daun kecil itu tumbuh hijau dan segar.
"Tanaman-tanaman yang dulu mati, tumbuh dengan baik?" suaranya hampir tidak terdengar.
Yati tersenyum lebar. "Iya, tidak lagi layu atau menguning. Lihat!" Yati menunjuk tanaman lainnya. "Yang dulu hidup, sekarang mulai berbuah."
Mela menatap tanaman itu lama, lalu mengikuti arah telunjuk Yati. Dan, tanpa sadar ia tersenyum.
"Benar," gumamnya senang.
***
Tiba hari panen pertama. Meski tidak besar, dan tidak melimpah namun, cukup memuaskan bagi Mela.
Ia berdiri di tengah lahannya, memegang hasil pertama di tangannya.
Ada beberapa daun hijau seperti sawi, kangkung dan salada yang memang lebih dulu bisa di panen. Sedangkan, cabai dan tomat, sudah mulai berbuah, dan masih ada beberapa tanaman lainnya.
"Meski tidak seberapa tapi, ini milikku sendiri. Hasil usahaku," gumam Mela, terharu.
"Wah, ada yang sudah panen, nih," goda Yati tiba-tiba.
Darmi tertawa. Ia baru saja datang dengan yang lainnya. "Bikin mie rebus campur sawi hijau dan telur, pasti mantap."
Mela ikut tertawa kecil. Matanya sedikit berkaca. Bukan karena sedih, tapi, karena akhirnya ia bisa menikmati hasil panennya.
"Boleh juga," seru Mela. "Nanti malam, kita masak mie di rumahku."
"Setuju!" sahut Darmi dan yang lain.
Sore itu, matahari perlahan turun. Angin berhembus pelan, menggerakkan daun-daun kecil yang kini mulai memenuhi lahannya.
Mela menggenggam hasil panennya sedikit lebih erat. Dulu, ia kehilangan segalanya, sekarang ia mulai mendapatkan sesuatu yang berharga untuk hidupnya
Tanah yang dulu dianggap gagal, kini mulai hidup. Dan bersama itu, Mela pun ikut tumbuh.
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??