NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta Sahabat Suamiku

Terbelenggu Cinta Sahabat Suamiku

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Red_Purple

‎Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.

‎Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.

‎Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.

‎"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Nara merasa napasnya terjepit, matanya menatap bibir Rendra yang sudah sangat dekat. Jantungnya berdegup kencang, sementara pikirannya bergelut antara keinginan yang dalam dan rasa bersalah yang masih mengganggunya.

‎‎"Aku..." bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar, "Tapi aku takut, Ren."

‎‎Rendra mengangguk, tidak lagi mendekatkan wajahnya. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu,"

‎‎"Kita tidak perlu memutuskan apapun untuk sekarang ini. Aku hanya ingin kamu merasa nyaman, merasa bahwa ada seseorang yang benar-benar mencintaimu, Nara." Dia kemudian menarik tangan Nara dan mencium punggung tangannya dengan lembut.

‎‎Rendra menyalakan mesin mobil, dan mobil melaju dengan tenang menuju sebuah restoran mewah yang berlokasi di pusat kota. Tidak ada obrolan selama didalam mobil, dan mereka hanya bergelut dengan pikiran masing-masing.

‎‎Saat mobil berhenti di depan restoran bertema klasik Eropa, Rendra turun terlebih dahulu dan membuka pintu untuk Nara. Udara sore yang mulai menyegarkan menyapa wajahnya, menghilangkan sebagian kegelisahan yang mengendap di dalam dadanya.

‎‎Aroma makanan lezat dan kayu wangi dari furnitur klasik langsung menyambut mereka begitu mereka masuk. Seorang pria dengan jas biru muda dan dasi bergambar geometris sudah berdiri di dekat meja yang telah disiapkan, wajahnya terpancarkan senyum ramah.

‎‎"Rendra, sudah lama tidak bertemu ya," ucap Tuan William dengan tangan terbuka, kemudian mereka saling berpelukan sebentar.

‎‎"Maaf membuat Anda menunggu, Tuan William," ucap Rendra dengan senyum meminta maaf.

‎‎"Tidak apa-apa, aku juga baru saja datang beberapa menit yang lalu," jawab William dengan ramah, kemudian matanya tertuju pada Nara. "Siapa wanita cantik yang datang bersamamu ini?"

‎‎"Oh, maaf Tuan William, saya sampai lupa memperkenalkan," ucap Rendra dengan senyum hangat, lalu menarik Nara sedikit lebih dekat. "Ini Nara, teman dekatku."

‎‎Nara tersenyum lembut, mengangguk dengan sopan. "Salam kenal, Tuan William. Senang bertemu dengan Anda."

‎‎"Senang bertemu denganmu juga, Nara."

‎‎William mengajak mereka untuk duduk. Pelayan segera menghampiri dan menyajikan hidangan yang sudah dipesan. Sementara menikmati makan, Rendra mulai membuka pembicaraan bisnis dengan William.

Disampingnya, ‎‎Nara menyantap sedikit makanan yang ada di piringnya sambil memperhatikan Rendra yang sedang berbicara dengan William. Wajah Rendra terlihat sangat fokus saat menjelaskan rencana kerja sama untuk proyek baru mereka.

‎‎Sentuhan hangat dari tangan Rendra yang tiba-tiba membuat Nara sedikit terkejut, dia menoleh ke arah Rendra dan melihat pria itu memberikan senyum lembut sebelum kembali menatap Tuan William yang sedang berbicara.

‎‎"Kamu memang bisa diandalkan seperti ayahmu, Rendra. Kerja sama ini pasti akan berhasil besar," lanjut William dengan senyum penuh keyakinan. "Ayahmu dulu juga selalu bersemangat dalam bekerja, dan kamu jelas mewarisi semangat itu darinya."

‎‎Rendra tersenyum kecil, ekspresi wajahnya menjadi sedikit hangat saat menyimak pujian itu. "Terima kasih, Tuan William. Ayah memang selalu mengajarkan aku untuk tidak pernah menyerah pada impian yang kita miliki."

‎‎Dia menoleh ke arah Nara, tangannya masih menggenggam tangan wanita itu yang ada di atas pengakuan, "Termasuk impian untuk memilikimu, Nara."

-

-

-

Acara pertemuan dengan Tuan William berakhir pukul delapan malam. Ketika mereka hendak keluar restoran, hujan sudah mulai mengguyur kota dengan deras, membuat jalanan yang biasanya ramai kini tampak sepi dan licin.

‎‎"Kita pergi ke apartemenku dulu saja ya, jaraknya lebih dekat dari sini ketimbang harus sampai ke rumahmu. Kamu pasti lelah dan butuh istirahat," ucap Rendra begitu mereka sudah masuk kedalam mobilnya yang terparkir di halaman restoran.

‎‎Nara terdiam sejenak, seolah sedang menimang-nimang tawaran yang Rendra usulkan. Setelah beberapa saat terdiam, dia akhirnya mengangguk pelan.

‎‎"Baiklah, Ren."

‎‎Rendra tersenyum, lalu menyalakan mesin dan melajukan mobilnya menuju ke arah gedung apartemennya. Setelah sepuluh menit berkendara dengan melewati jalanan yang licin akibat hujan, mereka akhirnya tiba di sebuah bangunan gedung apartemen elit.

‎‎Rendra membuka pintu mobil dan mengajak Nara untuk turun, lalu menggandeng tangan wanita itu dan membawanya memasuki lift yang langsung membawa mereka ke unit apartemen yang Rendra tempati.

‎‎"Rambutmu sedikit basah. Kamu pakai kamar mandiku saja dulu ya, aku akan siapkan pakaian ganti dan buatkan minuman hangat untuk kamu," ucap Rendra, lalu menarik tangan Nara menuju kamar tidurnya untuk mengambil baju bersih.

‎‎Pandangan Nara menyapu setiap sudut kamar milik Rendra, dari jendela kamar yang menghadap ke luar hingga ranjang besar dengan seprai putih bersih dan bantal empuk yang tersusun rapi diatasnya. Di sisi ranjang terdapat meja kecil dengan lampu hias yang menyala lembut, dan sebuah foto terbingkai yang membuat kening Nara sedikit mengerut. Itu adalah foto dirinya. Tapi... bagaimana Rendra bisa menyimpannya disana?

‎‎"Pakailah ini untuk mengganti pakaianmu yang basah," ucap Rendra, menyodorkan setelan piyama berwarna biru navy miliknya dan handuk bersih.

‎‎"Terimakasih," Nara menerima setelan piyama dan handuk itu dari tangan Rendra.

‎‎Setelah Nara masuk ke kamar mandi dan terdengar suara keran air yang mengalir, Rendra membuka jasnya dan menggulung bagian lengan kemejanya sampai ke siku, dia bergegas keluar dari kamar dan melangkah menuju ke arah dapur untuk membuatkan minuman.

Setelah menyiapkan secangkir coklat hangat, dia duduk di sofa panjang dan mengambil bungkus rokoknya diatas meja. ‎‎Rendra menyalakan sebatang rokok, lalu menghembuskan asapnya perlahan ke udara. Matanya menerawang jauh, menatap pintu kamar tidur yang tertutup rapat. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, akhirnya malam ini Nara ada di tempatnya, di apartemennya.

‎‎Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Nara keluar dengan mengenakan piyama biru navy milik Rendra yang terlihat sedikit longgar di tubuhnya. Rambut hitam panjangnya masih terlihat sedikit lembap. Saat tatapannya bertemu dengan mata Rendra, seketika ruangan yang luas itu terasa semakin sempit karena intensitas pandangan di antara keduanya. Waktu seolah berhenti berputar, menghapus segala suara bising hujan di luar jendela.

‎‎"Kamu merokok?" tanya Nara. Suaranya terdengar pelan namun jelas, memecahkan keheningan yang sempat tercipta.

‎‎Rendra tersentak sedikit, seolah baru tersadar akan keberadaan wanita itu di sana. Dia buru-buru mematikan sisa rokoknya di asbak dengan gerakan cepat.

‎‎"Iya..." jawabnya terbata, lalu segera berdiri, "Tapi aku bukan perokok berat, aku hanya merokok saat merasa gugup dan banyak pikiran saja."

‎‎"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanyanya lagi, suaranya terdengar sedikit cemas, matanya menatap Nara lekat-lekat seolah menanti penilaian.

‎‎"Bukan begitu," Nara menggeleng pelan, lalu berjalan mendekat dan duduk di ujung sofa. "Aku cuma kaget saja kok,"

‎‎Rendra menghela napas panjang, merasa sedikit lega karena Nara tidak marah. Dia kembali duduk di sofa, disamping Nara.

‎‎"Minum coklatnya dulu selagi masih hangat. Nanti setelah hujannya reda, aku akan mengantarmu pulang,"

‎‎Nara menatap cangkir berisi cairan cokelat kental yang mengepulkan asap tipis di hadapannya. Aroma manis dan hangat langsung tercium, membuat perasaannya sedikit lebih tenang.

‎‎"Tapi hujannya kelihatannya makin deras di luar," ucap Nara pelan, matanya melirik sekilas ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota yang tertutup tirai air. "Mas Arga pasti sudah pulang. Aku sampai lupa belum mengabarinya kalau aku akan pulang terlambat,"

‎‎Nara segera merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Baru saja dia hendak menyalakan layar, alat komunikasi itu justru berdering nyaring, menampilkan nama Arga dilayar ponselnya.

"Mas Arga menelpon, bagaimana ini Ren?"

‎Suara Nara terdengar panik, dia segera berdiri sambil matanya tetap menatap layar ponselnya yang sedang berdering. Belum sempat Nara melangkah pergi, tangan Rendra bergerak cepat dan menarik kuat pergelangan tangan wanita itu.

‎‎Dengan satu tarikan, tubuh Nara terhempas dan jatuh terduduk tepat di pangkuan Rendra. Nara tersentak kaget, matanya melebar. Jarak mereka kini begitu dekat, hidung mereka hampir bersentuhan. Dia bisa merasakan hangatnya tubuh pria itu dan detak jantung yang berirama di balik kemeja yang dikenakan oleh Rendra.

‎"Tenang..." ucap Rendra pelan, suaranya terdengar dalam dan menenangkan, namun ada aura dominan yang terpancar dari tatapannya. "Angkat saja teleponnya. Sekarang... di hadapanku,"

-

-

-

Bersambung...

1
Farida Dalle
Nah lho... hmn Nara, sekarang kamu bilng benci pd Rendra, pdhl kalian sdh saling berbagi peluh... itulh kamu tetlalu yakin dg Rendra, nyesal jg kan??? iya psti nyesal lh, masak nggak🤣
Farida Dalle
Ayo Zoya, kamu hrs menceritakan semua yg km dengar... semoga ada peluang utk kamu dan Rendra
Farida Dalle
Kamu tdk mau baikan lg sm Arga krn km sdh
terpuaskan dg "barang " yg ada pd Rendra
🤭
Farida Dalle
Bongkar sekalian kebusujan Nara di depan orang tuanya, biar semua tahu bukan hanya Arga yg busuk
tp Nara jg...
Farida Dalle
Kamu yg lbh berengsek, Rendra... km tega menghancurkan rumah tangga sahabatmu😡
Farida Dalle
Kamu yg lbh berengsek, Rendra... km tega menghancurkan rumah tangga sahabatmu😡
Farida Dalle
Knp yah dlm novel ini semua tokoh2nya tdk ada yg akhlaknya baik... heran
Farida Dalle
Dasar si Nara,sama yg halal tdk mau tp giliran sm si Rendra dg suka rela ngangkang,dasar....
😡
Farida Dalle
lakukanlh Arga sesukamu, dia itu msh istrimu, yg tdk sah sj bisa dg bebas keluar masuk tanpa hambatan apalgi km yg msh berstatus suami... puaskan si gatal itu biar tdk mencari barang yg lain garuk smpe puas, wkwk
Farida Dalle
Rendra.... plis deh kamu itu sakit jiwa, tdk ada seorng sahabat yg menusuk sahabatnya dg pisau berkarat... kewarasan km benar2 dipertanyakan, mmngnya tdk ada wanita lain, sehingga hrs mengganggu istri orng, ini jg si Nara moralnya sdh rusak, mau2 aja dipeluk2dan dibawa tidur sm laki2 sementara msh jd istri, hadeuhhhh 🤭🤮🙏🙏
Farida Dalle
Kamu curhat pd orng yang salah Ga, dia itu bukan sahabatnu, tp dia adlh iblis... boleh gak thor klu aq nampar si Rendra, biar puas hati ini, sumpah thor aq sebel sampe ubun2😡😡😡
🔥Violetta🔥: Tampar aja kak 🤣🤣🤣✌️✌️
total 1 replies
Farida Dalle
pusing aq tuh.... jd nda bisa ngomong, kedua2nya bikin sebel, iya gak sih.... 🤭🤮
Farida Dalle
Jadi penasaran thor, gmn reaksi Arga klu Nara tiba2 hamil??? 🤔
Farida Dalle
Memangnya Arga ank kcl yg bisa dibohongi, klu itu adlh digigit binatang, Arga jg pengalaman keles🤭🤣
Farida Dalle
Hubungan yg sangat menjijikkan, Rendra adalh iblis berkedok sahabat😡
Farida Dalle
Mending kamu sm Zoya aja tuh Ren, jangan ganggu rumah tangga sahabatmu
Farida Dalle
Nara sdh tdk mau memperbaiki hubungannya dgnmu Arga, krn sdh candu dg yg lbh hot dn lbh beeeesaaaar🤣🤣🤣
Farida Dalle
Thor, biasanya klu tokoh utama itu sifat dn prilakunya baik, tp ini koq sangat2 menyebalkan yah... maaf🙏
🔥Violetta🔥: Yang ini emng dibuat agak laen kak 🤭🤭✌️✌️🤣🤣
total 1 replies
Farida Dalle
Seharudnya klu mmng Rendra sangat mr cintai Nara, dia tdk akan tega melakukan semua itu ke Nara, Rendra tega merisak rumah tangga sahabatnya dg dalih cinta... yuhhhh gak banged deh, dan dg seenak2nya menikmati tubuh si Nara... itukh yg disebut cinta? atau perusak???
Farida Dalle
Gak banged deh ini Rendra, egois ... trus si Nara nya jg, mau2 sj ditidurin sm si Rendra, klu mmng lbh suka ke Rendra, mending minta cerai dulu lah, setelhnya teserah.... mau tidur, mau tengkurap, atau apa aja serah deh..... 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!