NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Hari Kiamat / Fantasi Timur
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.

Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?

kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

merampok gila-gilaan

Seminggu sudah berlalu sejak Lin Yan mulai rutinitas barunya. Setiap pagi, tepat pukul 04.00, Sistem Xiyue membangunkannya dengan teriakan khas. Setiap kali, Lin Yan mengumpat, melempar bantal, dan akhirnya bangun dengan mata merah karena kesal. Tapi setiap kali juga, ia patuh.

Karena di dunia kiamat, malas sama dengan mati.

Pagi itu, Lin Yan kembali muncul di atap gedung pusat perbelanjaan terbesar di kota Plaza Kemakmuran, pusat perbelanjaan mewah yang dulu selalu ramai oleh pengunjung. Sekarang, sunyi senyap, hanya dihiasi mayat-mayat bergelimpangan dan zombie yang berkeliaran di setiap lantai.

Lin Yan melompat turun dari atap, mendarat dengan ringan di lantai tiga. Di hadapannya, dua zombie berbalik, mendekat dengan raungan serak. Dengan malas, ia menghunus pedang Jian di pinggangnya. Satu ayunan, dua kepala terbang.

"Maaf, ganggu sarapan kalian." Lin Yan berjalan melewati mayat itu, mengeluarkan rokok dari saku jaket, menyalakannya. Asap mengepul di udara dingin.

Tujuan pertamanya: toko perhiasan di lantai dua.

Sepanjang minggu itu, Lin Yan menjelajahi setiap sudut kota. Ia tidak punya misi mulia menyelamatkan orang. Tidak punya niat membantu sesama. Yang ia cari hanya satu: barang berharga menurut nya.

Di toko perhiasan, ia membersihkan etalase yang pecah, mengambil semua emas, berlian, giok, dan batu mulia lainnya. Gelang, kalung, cincin, anting dan semuanya masuk ke dalam ruang dimensi.

"Mencuri atau merampok?" gumamnya sambil memasukkan sebentuk gelang giok ke sakunya. "Di dunia kiamat, apa bedanya? Semua sudah tidak punya pemilik."

【Kau punya moral yang aneh.】

"Bukan aneh. ini namanya praktis."

Dari toko perhiasan, ia pindah ke butik mewah. Pakaian-pakaian desainer, tas branded, sepatu mahal—semuanya lenyap ke dalam dimensi. Lin Yan sesekali berganti pakaian di tengah toko, mencoba gaun-gaun mahal sambil dikelilingi mayat dan zombie yang sudah ia bersihkan.

"Yang ini bagus. Merah, warna favoritku." Ia memasukkan gaun sutra merah ke dalam tas.

【Kau sadar kau di tengah kiamat, kan? Bukan fashion show? Bukannya mencari makanan atau bahan untuk bertahan hidup, kau malah gonta-ganti pakaian】

"Di kiamat juga harus tetap gaya." Lin Yan mengisap rokok. "Nanti kalau dunia sudah aman, aku bisa jual lagi. Itu namanya Investasi."

Dari butik, ia pindah ke toko elektronik. Ponsel terbaru, laptop, tablet, kamera—semuanya masuk. Dari toko elektronik, ke toko alat musik. Gitar, piano elektrik, drum—masuk semua. Dari toko alat musik, ke toko mainan. Boneka-boneka mahal, mainan koleksi—masuk.

【...Kau seperti manusia tanpa dosa. Atau tanpa moral. Aku tidak tahu mana yang benar.】

"Bukan tanpa dosa, bukan tanpa moral." Lin Yan berhenti di depan toko alat olahraga, mengambil beberapa set panah dan busur. "Aku hanya realistis. Barang-barang ini akan rusak atau diambil orang lain. Lebih baik aku yang ambil, lagipula siapa yang mau mengambil hal seperti ini? Lebih baik bahan makanan"

【Terus kenapa kamu hanya mengambil barang-barang mewah? Biasanya di novel-novel, orang transmigrasi ngambil bahan makanan.】

"Ah, nanti aja. Di kastil udah kayak mall supermarket, banyak banget bahan-bahannya. Makanan kaleng, beras, minyak semua udah ada. Ini mah buat koleksi pribadi." Lin Yan mengedip. "Orang gila kan suka ngumpulin barang aneh."

【Terserah lah. Otak orang gila susah ditebak.】

Di luar toko, terdengar suara orang berlarian. Sekelompok penyintas yeah mungkin lima orang, dua wanita tiga pria berlari memasuki mal, dikejar puluhan zombie. Mereka terengah-engah, panik, berteriak minta tolong.

"TOLONG! ADA ORANG DI SINI?" teriak salah satu pria.

Mata mereka menangkap sosok Lin Yan yang sedang duduk di bangku dekat eskalator, merokok dengan santai, dikelilingi mayat-mayat zombie yang sudah mati.

"KAKAK! TOLONG KAMI!" teriak seorang wanita muda, berlari mendekat. "ZOMBIE DI BELAKANG!"

Lin Yan menoleh malas, melihat zombie yang mulai naik eskalator. Ia menghela napas, berdiri perlahan, menghisap rokok terakhir, lalu membuang puntungnya.

Dengan langkah santai, ia berjalan menuju eskalator. Pedang di tangannya berayun. Satu tebasan, tiga zombie tumbang. Tendangan, dua zombie jatuh. Ayunan lagi, lima zombie kehilangan kepala.

Dalam waktu kurang dari satu menit, semua zombie di eskalator mati. Lin Yan kembali ke bangkunya, duduk, mengeluarkan rokok baru, menyalakannya.

Kelima penyintas itu terpaku, mulut terbuka. Mereka tidak percaya apa yang baru saja mereka saksikan.

"K-Kakak... terima kasih!" ujar wanita itu, hampir menangis. "Kau hebat! Kau bisa bergabung dengan kami! Kita bisa bertahan bersama!"

Lin Yan menghembuskan asap, menatap mereka dengan ekspresi datar.

"Tidak."

"H-Hah?"

"Aku bilang tidak." Lin Yan berdiri, berjalan melewati mereka menuju toko di ujung lorong. "Selamat berjuang."

"TAPI KAKAK!" teriak salah satu pria. "KITA SESAMA MANUSIA! HARUS SALING TOLONG!"

Lin Yan berhenti, menoleh. "Siapa bilang? Memangnya aku manusia?"

Pria itu terdiam.

"Aku sudah menolong kalian dengan membunuh zombie itu. Itu lebih dari cukup." Lin Yan melanjutkan langkah. "Sekarang, urusan hidup mati kalian, urusan kalian sendiri. Jangan harap aku jadi babysitter."

Ia masuk ke toko, meninggalkan kelima orang itu terpaku. Beberapa saat kemudian, dari kejauhan terdengar suara zombie baru mendekat. Mereka panik, berlari mencari jalan keluar sambil berteriak.

【Kau tega meninggalkan mereka?】

Lin Yan mengangkat bahu, mengambil beberapa botol parfum mahal dari rak. "Aku sudah selamatkan mereka sekali. Dua kali? Eh Lain kali. Lagipula, lihat mereka, lari tunggang langgang, tidak punya senjata, tidak punya rencana. Mereka tidak akan bertahan lama."

【Mungkin kau bisa mengajar mereka?】

"Malas." Lin Yan memasukkan parfum ke tas. "Aku bukan guru. Aku bukan pahlawan. Aku hanya Lin Yan, gadis gila dari rumah sakit jiwa, yang sedang mengoleksi barang mewah di tengah kiamat."

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Setiap subuh, Lin Yan teleportasi ke lokasi baru. Setiap hari, ia membersihkan zombie dan mengambil barang berharga. Setiap kali bertemu penyintas, ia selalu mendapat dua respons: permohonan tolong, atau makian karena tidak mau membantu.

Di supermarket, seorang ibu dengan anak kecil memohon-mohon padanya untuk mengantar mereka ke tempat aman. Lin Yan memberi mereka dua kaleng makanan, lalu pergi tanpa menoleh.

"Jahat! Dasar tidak punya hati!" teriak ibu itu.

Di jalanan, sekelompok pria bersenjata melihatnya membawa tas besar penuh barang. Mereka mencoba merampoknya. Lin Yan membunuh tiga dari mereka, melukai dua, lalu pergi meninggalkan yang lain ketakutan.

"Monster! Kau monster!" teriak mereka.

Di mal lain, seorang gadis remaja seusia Lin Feng memohon padanya untuk diajak bergabung. "Aku bisa masak! Aku bisa bersih-bersih! Aku tidak merepotkan!"

Lin Yan menatapnya lama, lalu berkata, "Kau bisa lari? Kau bisa bertarung? Kau bisa bertahan sendiri?"

Gadis itu terdiam. "T-Tidak... tapi—"

"Maka kau akan mati." Lin Yan berbalik pergi. "Belajar dulu, baru minta bergabung."

【Kau sadar kau sangat kejam, kan?】

Lin Yan menghentikan langkah, menghela napas. "Sistem, ini dunia kiamat. Yang lemah mati, yang kuat bertahan. Aku bisa saja bantu mereka semua, tapi kemudian aku akan sibuk melindungi mereka, dan akhirnya kita semua mati."

【Tapi—】

"Aku bukan dewa. Aku bukan penyelamat." Lin Yan melanjutkan langkah. "Aku hanya Lin Yan. Dan prioritas utamaku adalah melindungi adikku. Semua yang lain, nomor sekian."

Satu minggu berlalu. Ruang dimensi Lin Yan kini penuh dengan harta karun. Emas, perak, berlian, giok, permata yang cukup untuk membuatnya jadi konglomerat di dunia lama. Pakaian mewah, tas branded, sepatu mahal yang cukup untuk fashion show selama setahun. Elektronik canggih, peralatan mahal, mainan koleksi—semuanya ada.

Di hari ketujuh, Lin Yan duduk di atap gedung tertinggi di kota, menikmati matahari terbenam. Asap rokok mengepul di udara jingga. Di bawah, kota hancur, zombie berkeliaran, manusia bertahan hidup sebisanya.

【 sudah Puas?】

"Puas tentu saja puas." Lin Yan tersenyum kecil. "Besok pulang. Lihat adik tampan ku."

【Kau tidak ambil makanan? Atau obat? Atau barang berguna lainnya? Hanya barang mewah?】

"Makanan sudah punya banyak. Obat juga. Yang aku butuhkan sekarang adalah alasan untuk tetap waras." Lin Yan mengisap rokok. "Barang-barang mewah ini mengingatkanku bahwa dunia tidak selalu kotor dan hancur. Bahwa ada keindahan yang layak diperjuangkan."

【...Kadang kau bicara seperti filsuf kayak orang bener aja.】

"Aku kan gila." Lin Yan tertawa. "Orang gila kadang paling bijak."

Ia berdiri, mematikan rokok, dan bersiap teleportasi pulang. Satu minggu di luar, satu minggu menjelajah, satu minggu mengambil tanpa rasa bersalah.

Mencuri atau merampok? Di dunia yang sudah tidak punya aturan, apa bedanya?

Kembali di kastil, Lin Feng sedang beristirahat setelah menyelesaikan latihan harian. Tubuhnya kini berotot, wajahnya lebih matang, matanya lebih tajam. Latihan iblis part 2 hampir selesai.

Tiba-tiba, Lin Yan muncul di ruang tamu dengan suara "pop" halus. Jaket hitamnya kusut, rambut putihnya sedikit berantakan, tapi senyumnya lebar.

"Feng'er! Kakak pulang!"

Lin Feng berlari memeluknya erat. "JIE! Aku kangen!"

"Sudah, sudah." Lin Yan mengusap kepala adiknya, merasakan rambut hitam yang lembut. "Gimana latihannya?"

"Tinggal dua hari lagi selesai, Jie!" Lin Feng melepas pelukan, menunjukkan otot lengannya dengan bangga. "Lihat! Aku kuat sekarang! Push up 1000 kali sehari, lari 20 putaran, panjat pohon—semua aku jalani!"

Lin Yan tersenyum bangga—salah satu senyum langka yang tidak menyeramkan. "Bagus. Besok Jie lihat langsung. Kalau benar, Jie kasih hadiah spesial."

Lin Feng menatap kakaknya, lalu melihat tas besar di tangannya. "Jie, itu apa?"

"Oleh-oleh." Lin Yan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas, membukanya. Di dalamnya, sebuah jam tangan mewah berkilau—Rolex edisi terbatas, dengan tali kulit hitam dan lingkaran emas. "Untukmu. Rolex asli, edisi terbatas. Dulu harganya ratusan juta. Mungkin miliaran."

Mata Lin Feng membelalak. "JIE! KAU MERAMPOK?!"

"Bukan merampok." Lin Yan tersenyum misterius. "Mengambil. Di toko perhiasan di mal. Pemiliknya sudah jadi zombie, jadi barangnya tidak ada yang punya. Anggap saja barang temuan."

Lin Feng menggeleng, tapi tangannya tetap menerima jam itu dengan hati-hati. Ia memakainya, tersenyum lebar seperti anak kecil dapat mainan baru.

"Makasih, Jie! Keren banget!"

"Sama-sama." Lin Yan mengacak rambutnya lagi. "Sekarang, ceritakan apa yang terjadi selama seminggu ini. Jangan bohong, ya."

Mereka duduk di sofa mewah ruang tamu. Lin Feng mulai bercerita dengan semangat—tentang latihannya yang hampir membunuhnya, tentang Baihu dan Lang Shen yang sesekali muncul mengawasi, tentang sistem pembersih otomatis yang error dan membuat kandang hewan kebanjiran, tentang kesepiannya selama ditinggal. Lin Yan mendengarkan dengan senyum kecil, sesekali mengangguk.

Di luar, malam turun perlahan. Lampu-lampu taman menyala otomatis, menerangi bunga mawar hitam dan merah. Kastil megah itu berdiri kokoh, dikelilingi tembok tinggi dan sistem keamanan canggih.

【Senang bisa pulang?】

"Iya. Aneh ya, padahal baru seminggu, tapi kangen banget."

【Itu namanya rumah.】

"Jadi ini namanya rumah, aku baru tau arti kata rumah sebenarnya"

Lin Yan merebahkan tubuh di sofa, menatap langit-langit. Lin Feng masih asyik bercerita, matanya berbinar.

Dua bersaudara—satu gila, satu polos—menikmati malam bersama, bersiap menghadapi hari-hari berikutnya.

Kiamat masih panjang. Tapi setidaknya, mereka punya satu sama lain.

Dan banyak, banyak barang mewah.

1
azka Heebat
double up thorr masih kurang /Sob/
nana
rekomendasi banget untuk peminat cerita kiamat, seru banget pokonya. soalnya si Lin yan ini kayak gila tapi sadar gimana ya dan ceritanya juga gak mudah di tebak, bagus pokoknya 🫶😍
nana
ceritanya bagus banget kak😍😍, maaf ya aku masih akun baru jadi gak bisa kasih gift 😭😭
Ellasama
up lagi dong, yg banyak y kak💪/Determined/
Weeks
thor jangan lupa update yaa 🤭
Weeks
Aku bakal rajin nunggu eps baru nya thor 🤭 semangat thor 💪
Weeks
seru banget cerita ny, wajib baca novel ini masa enggk baca padahal bagus loh 🤭
Ellasama
alurnya still good n selalu semangat buat karya dengan tema seperti ini👍🏻/Determined/
Ellasama
bagus👍🏻
Ellasama
makasih Thor udah up tetap semangat 💪/Determined/
Ellasama
kak kapan update lagi? dah gak sabar ni
Ellasama
semangat up ny jgn patah semangat pembaca setiamu ini akan selalu menanti dan terus mendukung dengan like Koment dan Gift 💪/Determined/
Ellasama
padahal novel ny sebagus ini tp kok gak ada yg baca y?/NosePick/
azka Heebat: iya bagus
total 1 replies
Ellasama
makin penasaran siapa yg jadi pasangan nya si Lin yan/NosePick/
Ellasama
yang s mangat💪
Ellasama
logika lurus yg patut dipertahankan di banyak novel bertema kan akhir dunia/Determined/
Ellasama
lanjut 💪 makin dibaca makin seru gila💪😊
Ellasama
seruu banget, yg belum baca diwajibkan baca seru banget alurnya beda dari kebanyakan novel bertema Apocalypse 💪😘
Ellasama
lanjut thor💪
Ellasama
semangat up ny💪😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!