NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13: Kesepakatan Pernikahan

Setelah badai kekerasan itu diredam oleh kedatangan Tuan Surya dan Nyonya Sofia, paviliun belakang yang sempit itu berubah menjadi ruang pengadilan yang pengap. Bau alkohol yang menguap dari napas Danu bercampur dengan aroma melati dari minyak wangi Nyonya Sofia, menciptakan kontras yang memuakkan.

Nara masih terduduk di tepi ranjang, tangannya meremas syal sutra yang menutupi bahunya yang koyak. Ia tidak lagi menangis. Matanya hanya menatap kosong ke arah lantai semen yang retak, seolah jiwanya telah terbang meninggalkan raga yang baru saja dihinakan.

"Bawa dia ke rumah utama," perintah Tuan Surya dengan nada dingin kepada dua pengawalnya.

"Dan Danu... jangan coba-coba melarikan diri. Jika kamu melangkah satu inci pun keluar dari gerbang ini, aku sendiri yang akan menelepon Kepala Polisi."

Danu berdiri dengan kaki gemetar. Tamparan ayahnya masih menyisakan rona merah di pipinya, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan hantaman realitas yang kini menjepitnya. Ia melirik Nara wanita yang beberapa menit lalu hampir ia hancurkan dan merasakan mual yang luar biasa. Bukan mual karena alkohol, melainkan karena ia melihat pantulan monster di dalam dirinya sendiri.

Di ruang tengah mansion yang megah, suasana begitu kontras. Lampu kristal berpijar, namun hawa di sana lebih dingin daripada di dalam lemari es. Tuan Surya duduk di kursi kebesarannya, sementara Nyonya Sofia duduk di samping Nara yang tampak sangat kecil di sofa beludru raksasa.

"Danu," Nyonya Sofia membuka suara. Suaranya tenang, namun mengandung otoritas yang bisa meruntuhkan gunung.

"Keluarga Setiawan dibangun di atas pilar kehormatan. Apa yang kamu lakukan malam ini bukan hanya kejahatan hukum, tapi noda yang tidak akan pernah bisa dihapus dari sejarah keluarga kita."

Danu menunduk, tangannya mengepal di samping paha. "Aku... aku tidak sadar, Ma. Aku sedang stres, dan..."

"Jangan gunakan alasan 'tidak sadar' untuk menutupi kebejatanmu!" potong Tuan Surya keras.

"Lelaki sejati diukur dari bagaimana dia mengendalikan nafsunya, bukan bagaimana dia menyerah padanya."

Nyonya Sofia menghela napas panjang, lalu menatap Nara dengan pandangan iba yang sangat dalam. Ia kemudian kembali menatap putranya.

"Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan dirimu dari penjara, dan menyelamatkan nama baik gadis ini dari gunjingan orang. Kamu harus menikahi Nara. Pekan depan. Secara sah dan terhormat."

Kata "menikah" meledak seperti bom di tengah ruangan. Danu mendongak dengan mata terbelalak, wajahnya yang pucat mendadak memerah karena protes.

"Menikah?! Mama gila?!" teriak Danu, mengabaikan sopan santun. "Aku punya Vanya, Ma! Kami sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Keluarganya adalah mitra bisnis terbesar kita! Bagaimana aku menjelaskan ini pada Vanya? Bagaimana aku bisa menikahi dia?!"

"Vanya adalah kekasihmu, tapi Nara adalah korbanmu!" balas Nyonya Sofia tajam.

"Kamu pikir Vanya akan tetap mau bersamamu jika dia tahu calon suaminya adalah seorang predator yang menyerang perempuan di rumahnya sendiri? Kamu pikir mitra bisnis kita akan tetap bekerja sama dengan seorang kriminal?"

"Aku bisa membayar ganti rugi!" Danu mulai panik.

"Aku akan berikan dia sepuluh miliar, dua puluh miliar! Aku akan biayai ayahnya di rumah sakit terbaik di dunia sampai sembuh total! Tapi jangan paksa aku menikahinya. Menikah dengannya berarti menghancurkan masa depanku di lingkaran sosial kita!"

Danu menunjuk Nara dengan jari gemetar. "Dia bukan levelku, Ma! Dia hanya... dia hanya gadis miskin yang masuk ke sini untuk uang!"

"Cukup."

Satu kata itu keluar dari bibir Nara. Lemah, namun sanggup menghentikan perdebatan keluarga konglomerat itu. Nara perlahan berdiri. Syal mahal Nyonya Sofia merosot sedikit dari bahunya, namun ia tidak peduli. Ia menatap Danu, bukan dengan kebencian, melainkan dengan rasa jijik yang murni.

"Jangan pernah berpikir saya menginginkan pernikahan ini," ucap Nara, suaranya kini stabil meski parau.

"Bapak bilang saya bukan level Bapak? Bapak benar. Saya tidak berada di level di mana manusia memperlakukan manusia lain seperti barang dagangan. Saya tidak berada di level di mana kehormatan bisa dibeli dengan lembaran uang."

Nara beralih menatap Nyonya Sofia. "Nyonya, saya berterima kasih atas pembelaan Anda. Tapi pernikahan bukan obat untuk luka seperti ini. Pernikahan dengan pria ini... bagi saya, itu adalah penjara yang lebih mengerikan daripada kematian."

Nara menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang ingin mendobrak pelupuk matanya. "Saya hanya ingin satu hal. Bebaskan saya. Biarkan saya pergi dari rumah ini, bawa ayah saya keluar dari pengaruh keluarga Setiawan, dan biarkan kami hidup dalam kemiskinan kami yang tenang. Saya tidak butuh harta kalian. Saya hanya butuh martabat dan kebebasan saya kembali."

Tuan Surya berdiri, berjalan perlahan mendekati Nara. "Nak Nara, aku mengerti harga dirimu terluka. Tapi dunia ini kejam. Jika kamu keluar dari sini sekarang, tanpa perlindungan hukum dari kami, Danu bisa saja menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkanmu di luar sana agar kamu bungkam. Dengan menjadi bagian dari keluarga ini, kamu punya kendali. Kamu punya perlindungan."

"Dan untukmu, Danu," Tuan Surya berbalik pada putranya dengan tatapan maut.

"Jika kamu menolak, besok pagi semua asetmu akan aku bekukan. Jabatanmu sebagai CEO akan aku cabut. Dan Vanya... aku sendiri yang akan menemuinya untuk memberikan rekaman CCTV malam ini. Pilih: Menjadi suami yang bertanggung jawab, atau menjadi gembel yang membusuk di sel besi?"

Danu terdiam. Seluruh dunianya seolah sedang diruntuhkan oleh ayahnya sendiri. Bayangan kehilangan Vanya, kehilangan kemewahan, dan mengenakan baju tahanan oranye membuat nyalinya menciut. Namun, membayangkan harus hidup setiap hari dengan Nara—wanita yang kini menjadi pengingat hidup atas dosanya terasa seperti siksaan yang tak berujung.

"Aku tidak mencintainya," bisik Danu lemah.

"Cinta adalah kemewahan yang baru saja kamu buang ke tempat sampah, Danu," sahut Nyonya Sofia dingin.

Nara merasa seperti sedang dilelang. "Kalian tidak mendengar saya? Saya tidak mau! Saya tidak akan menjual hidup saya demi menebus kesalahan anak kalian!"

"Bagaimana dengan ayahmu, Nara?" tanya Tuan Surya lembut namun menusuk. "Beliau sedang di meja operasi saat ini. Jika kamu pergi sekarang, siapa yang akan menjamin keselamatannya? Siapa yang akan membayar biaya pasca-operasinya yang mencapai miliaran? Apakah kamu tega melihatnya meninggal hanya karena ego?"

Nara tertegun. Nama ayahnya adalah rantai yang paling berat di kakinya. Ia menatap langit-langit mansion, merasa seolah Tuhan sedang mengujinya hingga ke batas akhir.

"Jika saya setuju..." suara Nara bergetar, "saya ingin perjanjian hitam di atas putih. Pernikahan ini hanya status. Dia tidak boleh menyentuh saya. Dia tidak boleh mengatur hidup saya. Dan setelah ayah saya sembuh total, saya berhak pergi kapan pun saya mau."

Danu mendongak, tertawa pahit. "Hah! Jadi akhirnya kamu bicara soal syarat dan harga juga, kan? Ternyata semua orang punya harga, bahkan guru suci sepertimu."

Nara menatap Danu dengan tajam. "Harganya adalah kebebasan saya, Pak Danu. Sesuatu yang bahkan tidak bisa Anda pahami karena Anda tidak pernah memilikinya."

Malam itu, di ruang tengah yang saksi atas segala intrik, dua manusia yang saling membenci itu dipaksa untuk bersekutu dalam sebuah ikatan suci yang terasa sangat kotor.

Danu memikirkan Vanya dan bagaimana cara menyembunyikan skandal ini, sementara hatinya mulai merencanakan cara untuk membuat Nara menderita dalam pernikahan mereka. Bagi

Danu, Nara adalah pengganggu yang menghancurkan rencananya bersama Vanya.

Nara memikirkan ayahnya, dan bagaimana ia harus bertahan hidup di dalam sarang serigala ini tanpa kehilangan jiwanya. Ia tahu, mulai besok, ia bukan lagi Nara sang guru yang ceria. Ia adalah tawanan dalam sangkar emas bernama Setiawan.

"Baik," ucap Danu akhirnya, suaranya penuh dengan dendam yang tertahan. "Aku akan menikahinya. Tapi jangan harap aku akan memperlakukannya sebagai istri."

"Dan jangan harap saya akan membiarkan Anda menyentuh ujung kuku saya sekalipun," balas Nara dingin.

Tuan Surya dan Nyonya Sofia saling berpandangan. Mereka tahu ini bukan solusi yang sempurna, namun bagi mereka, ini adalah cara satu-satunya untuk menjaga agar pilar keluarga Setiawan tidak runtuh berserakan.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!