NovelToon NovelToon
Darah Ratu 1000 Tahun

Darah Ratu 1000 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naomihanaaya

Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Rasa Penasaran

Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan tinggi yang mengelilingi desa, menciptakan suasana yang tenang namun menyimpan misteri. Arlan berdiri di depan jendela kamarnya, matanya menatap jauh ke arah hutan yang seolah tak berujung.

Sudah beberapa hari ini pikirannya tidak tenang.

Satu nama terus berputar di kepalanya—Edward.

Awalnya, Arlan tidak terlalu memperhatikan pria itu. Ia hanya mengira Edward adalah salah satu pendatang biasa yang sesekali datang ke desa untuk urusan pekerjaan atau penelitian. Namun, semakin lama, semakin banyak hal yang terasa janggal.

Terutama… kedekatannya dengan Alana.

Adiknya itu memang ramah, mudah bergaul, dan sering membantu siapa saja. Tapi ada sesuatu yang berbeda saat Alana berbicara dengan Edward. Cara mereka saling memandang, cara Edward memperhatikan setiap gerak-gerik Alana—semuanya terasa terlalu… dekat.

Dan Arlan tidak menyukai itu.

Ia menghela napas panjang, lalu berbalik dari jendela. Pikirannya terus mencoba merangkai potongan-potongan kecil yang ia lihat beberapa hari terakhir. Ia pernah melihat Edward berdiri lama di tepi hutan, seperti sedang menunggu sesuatu. Pernah juga ia melihatnya berbicara dengan Alana dengan nada serius, bukan sekadar obrolan ringan.

“Dia bukan orang biasa,” gumam Arlan pelan.

Langkah kakinya membawanya keluar kamar, menyusuri lorong rumah yang masih sepi. Dari dapur terdengar suara ayahnya yang sedang menyiapkan sesuatu. Aroma kopi yang khas langsung menyambutnya.

“Ayah sudah bangun?” tanya Arlan sambil mendekat.

Ayahnya tersenyum tipis. “Seperti biasa. Kau yang terlihat tidak biasa pagi ini.”

Arlan duduk di kursi kayu, menatap ayahnya sejenak sebelum akhirnya berkata, “Ayah… aku ingin bertanya sesuatu.”

Nada suaranya serius, membuat ayahnya berhenti sejenak dari kegiatannya.

“Tentang Edward.”

Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia menuangkan kopi ke dalam cangkir, lalu menyerahkannya kepada Arlan sebelum duduk di seberangnya.

“Apa yang ingin kau ketahui?”

Arlan mengerutkan kening. “Siapa dia sebenarnya? Aku tahu dia bukan sekadar orang biasa yang datang ke desa ini.”

Ayahnya tersenyum samar, seolah sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.

“Edward adalah seorang peneliti,” jawabnya tenang. “Dia datang dari kota untuk meneliti hutan di sekitar desa kita.”

“Peneliti?” Arlan mengulang dengan nada ragu. “Hanya itu?”

Ayahnya mengangguk. “Hutan ini menyimpan banyak hal yang belum diketahui orang luar. Tidak heran jika ada yang tertarik menelitinya.”

Arlan tidak langsung puas dengan jawaban itu.

“Lalu kenapa dia begitu dekat dengan Alana?”

Pertanyaan itu membuat suasana menjadi sedikit lebih berat. Ayahnya menatap Arlan dengan tatapan dalam, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Alana hanya membantu,” jawabnya akhirnya. “Dia mengenal hutan lebih baik dari kebanyakan orang. Wajar jika Edward sering berbicara dengannya.”

Arlan terdiam. Secara logika, jawaban itu masuk akal. Tapi perasaannya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan.

“Apakah hanya itu yang Ayah tahu?” tanyanya lagi, lebih pelan.

Ayahnya menghela napas. “Arlan… tidak semua hal perlu kau ketahui sekarang.”

Jawaban itu justru membuat kecurigaannya semakin kuat.

Arlan menggenggam cangkir kopinya erat. “Aku hanya ingin memastikan Alana tidak dalam bahaya.”

Ayahnya menatapnya lama, lalu berkata dengan nada lebih lembut, “Kau kakaknya. Wajar jika kau khawatir. Tapi percayalah… tidak semua yang terlihat mencurigakan berarti berbahaya.”

Arlan tidak menjawab. Ia tahu ayahnya menyembunyikan sesuatu, tapi memaksanya sekarang tidak akan menghasilkan apa-apa.

Ia berdiri perlahan. “Aku akan pergi ke rumah Kakek.”

Ayahnya hanya mengangguk. “Hati-hati di jalan.”

Rumah kakeknya terletak sedikit lebih jauh dari pusat desa, dekat dengan batas hutan. Jalan menuju ke sana dipenuhi pepohonan besar yang menaungi jalan setapak, menciptakan bayangan panjang di tanah.

Setiap langkah yang diambil Arlan terasa semakin berat, bukan karena lelah, tetapi karena pikirannya yang penuh pertanyaan.

Kakeknya bukan orang biasa.

Selama ini, Arlan selalu merasa bahwa kakeknya mengetahui lebih banyak tentang desa ini—tentang hutan, tentang masa lalu, dan mungkin… tentang Edward.

Sesampainya di rumah itu, Arlan mengetuk pintu kayu yang sudah tua.

“Masuk saja,” terdengar suara kakeknya dari dalam.

Arlan membuka pintu dan mendapati kakeknya sedang duduk di kursi rotan, membaca sebuah buku tua. Cahaya matahari yang masuk dari jendela membuat ruangan itu terlihat hangat.

“Kakek,” sapa Arlan.

Kakeknya mengangkat pandangannya, lalu tersenyum. “Kau datang lebih pagi dari biasanya.”

Arlan tidak langsung duduk. Ia berdiri beberapa langkah dari kakeknya, mencoba menahan gejolak di dalam dirinya.

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

Kakeknya menutup bukunya perlahan. “Tentang apa?”

“Edward.”

Senyum di wajah kakeknya tidak langsung hilang, tapi matanya berubah sedikit lebih tajam.

“Apa yang ingin kau ketahui tentangnya?”

Arlan menarik napas dalam. “Siapa dia sebenarnya?”

Kakeknya tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursinya, berjalan perlahan ke arah jendela, lalu menatap ke arah hutan.

“Kenapa kau menanyakan itu?” tanyanya balik.

“Karena dia terlalu mencurigakan,” jawab Arlan jujur. “Dan dia terlalu dekat dengan Alana.”

Kakeknya terdiam cukup lama.

“Tidak semua hal yang mencurigakan itu buruk,” katanya akhirnya.

Arlan mengerutkan kening. “Itu bukan jawaban.”

Kakeknya tersenyum tipis. “Dan tidak semua pertanyaan harus dijawab sekarang.”

Arlan mulai kehilangan kesabaran. “Kakek tahu sesuatu, bukan?”

Kakeknya menoleh, menatap Arlan dengan tatapan yang sulit ditebak.

“Edward datang ke desa ini dengan tujuan yang jelas,” katanya pelan. “Dan tujuan itu tidak berbahaya bagi keluarga kita.”

“Lalu kenapa Kakek tidak mau menjelaskan?”

“Karena ada hal-hal yang harus tetap menjadi rahasia.”

Jawaban itu membuat suasana semakin tegang.

Arlan melangkah lebih dekat. “Aku bukan anak kecil lagi, Kek. Aku berhak tahu.”

Kakeknya menghela napas panjang. “Justru karena kau sudah cukup dewasa, kau harus belajar bahwa tidak semua kebenaran bisa dibuka begitu saja.”

Arlan terdiam. Kata-kata itu terasa seperti tembok yang tidak bisa ia tembus.

“Tapi ini tentang Alana,” katanya pelan, hampir seperti memohon.

Kakeknya menatapnya lama, lalu berkata, “Alana tidak dalam bahaya.”

“Bagaimana Kakek bisa yakin?”

Karena aku tahu siapa Edward.

Kalimat itu hampir saja keluar, tapi kakeknya menahannya.

Sebaliknya, ia berkata, “Percayalah padaku.”

Arlan menggeleng pelan. “Aku ingin mempercayai Kakek. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan apa yang kulihat.”

Kakeknya tidak membalas. Ia hanya kembali duduk, mengambil bukunya, seolah pembicaraan itu sudah selesai.

Namun bagi Arlan, ini belum selesai.

Ia mengepalkan tangannya. “Kalau Kakek tidak mau memberitahuku… aku akan mencari tahu sendiri.”

Kakeknya tidak terkejut mendengar itu. Bahkan, ada sedikit senyum di sudut bibirnya.

“Itu hakmu,” katanya tenang.

Jawaban itu justru membuat Arlan semakin yakin—bahwa apa yang ia cari memang sesuatu yang besar.

Ia menatap kakeknya sekali lagi, mencoba membaca ekspresi pria tua itu, tapi tidak menemukan apa-apa selain ketenangan yang misterius.

Tanpa berkata lagi, Arlan berbalik dan berjalan keluar.

Angin siang mulai berhembus saat Arlan melangkah menjauh dari rumah kakeknya. Pikirannya penuh, namun satu hal kini menjadi jelas.

Ia tidak akan mendapatkan jawaban dari orang lain.

Ia harus mencarinya sendiri.

Dan satu-satunya cara adalah… menemui Edward secara langsung.

Arlan berhenti sejenak di tepi jalan, menatap ke arah hutan.

Di sanalah Edward sering terlihat.

“Kalau dia benar hanya seorang peneliti,” gumam Arlan, “maka dia tidak akan keberatan menjawab pertanyaanku.”

Namun di dalam hatinya, Arlan tahu… ini bukan sekadar pertemuan biasa.

Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.

Ia melangkah maju tanpa ragu.

Menuju hutan.

Menuju Edward.

Dan menuju kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

1
Naomi🌸
😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!