NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Pagi itu datang dengan cara yang terlalu tenang untuk disebut damai.

Tidak ada suara burung yang biasanya menyambut cahaya, tidak ada angin yang benar-benar lembut menyapu dedaunan, bahkan udara di sekitar pondok terasa seperti menahan napasnya sendiri, seolah hutan Aethelgard sedang menunggu sesuatu yang belum tiba.

Alexandria berdiri di ambang pintu, matanya menyapu halaman kecil di depan rumah yang dulu selalu terasa aman, tapi kini seperti ruang yang terlalu sunyi untuk dipercaya, sementara Leonard berdiri di belakangnya, diam, tapi seluruh tubuhnya tidak benar-benar diam—ada ketegangan halus di bahunya, di napasnya, di cara matanya terus bergerak mengikuti arah hutan.

“Tidak ada suara pagi ini,” gumam Alexandria pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Leonard mengangguk kecil, matanya tetap mengarah ke pepohonan yang jauh, “Bukan tidak ada suara… tapi semua suara seperti menjauh.”

Alexandria menoleh sedikit, menatapnya, “Kamu masih merasakannya?”

Leonard tidak langsung menjawab, ia menarik napas panjang, seperti sedang mencoba membaca sesuatu yang tidak terlihat, lalu perlahan mengangguk.

“Lebih dekat dari kemarin,” jawabnya singkat.

Kalimat itu cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah sedikit lebih berat.

Alexandria tidak bertanya lagi, ia sudah terbiasa dengan cara Leonard merasakan dunia sekarang, bukan hanya dengan mata atau telinga, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang masih belum sepenuhnya ia mengerti, lalu ia kembali masuk ke dalam rumah, mencoba melanjutkan hal-hal kecil yang biasanya menenangkan—merapikan meja, menyalakan api, menyentuh benda-benda yang sudah terlalu akrab untuk membuatnya merasa aman.

Leonard mengikuti dari belakang, bukan karena ia ingin, tapi karena ia tidak bisa tidak mengikuti.

Di dalam, Alexandria menata ulang beberapa botol ramuan di meja kayu, gerakannya lebih pelan dari biasanya, sementara Leonard berdiri di dekat jendela, diam lama sebelum akhirnya berkata, “Kita tidak lagi sendirian di sini.”

Alexandria berhenti bergerak, tapi tidak menoleh langsung, “Aku tahu.”

Hening sejenak jatuh di antara mereka, bukan hening yang kosong, tapi hening yang penuh dengan hal-hal yang belum mereka ucapkan.

Leonard melangkah sedikit lebih dekat, “Aku mulai merasakan sesuatu dari Eldoria… seperti tarikan, seperti suara yang tidak benar-benar suara.”

Alexandria akhirnya menoleh, “Sejak malam itu?”

Leonard mengangguk, “Semakin jelas setiap hari.”

Tangannya mengepal pelan, bukan karena marah, tapi karena ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan di dalam dirinya, sesuatu yang mulai bangkit bersama kekuatan manusianya yang semakin stabil.

Alexandria mendekat, menyentuh tangannya, “Kamu tidak harus pergi sekarang.”

Leonard menatap tangan itu, lalu ke wajahnya, “Aku tidak ingin pergi tanpa kamu.”

“Kalau begitu kita tidak akan pergi tanpa rencana,” jawab Alexandria cepat, suaranya tegas, seperti mencoba menahan sesuatu agar tidak pecah lebih cepat dari seharusnya.

Leonard tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum, “Tapi dunia tidak menunggu rencana kita.”

Kalimat itu menggantung di udara terlalu lama.

 

Siang datang tanpa perubahan yang berarti, tapi justru itu yang membuatnya terasa salah.

Alexandria mulai merasakan hal yang sama seperti Leonard, meski lebih samar—bukan suara, bukan bayangan, tapi perasaan bahwa ada sesuatu yang memperhatikan dari jauh, tidak menyerang, tidak mendekat, hanya… mengamati.

Ia berhenti di depan pintu rumah, matanya menyipit ke arah hutan.

“Leonard…” panggilnya pelan.

Leonard sudah berada di sampingnya bahkan sebelum ia selesai memanggil, “Aku tahu.”

“Ini berbeda dari sebelumnya,” lanjut Alexandria.

Leonard mengangguk, “Mereka tidak sedang mencari kita lagi.”

Alexandria menoleh cepat, “Maksudmu?”

“Mereka sudah menemukan kita,” jawab Leonard pelan, “Sekarang mereka sedang belajar tentang kita.”

Kata-kata itu membuat jantung Alexandria sedikit menegang, tapi ia tidak mundur, justru melangkah keluar, berdiri di teras, menatap hutan yang tampak sama seperti biasanya, tapi terasa seperti sesuatu yang asing.

“Kalau mereka sudah tahu kita di sini… kenapa belum menyerang?” tanyanya.

Leonard tidak langsung menjawab, matanya tetap tajam, “Karena mereka ingin sesuatu yang lebih pasti dari sekadar keberadaan kita.”

Alexandria mengerti maksudnya tanpa perlu dijelaskan lebih jauh. Mereka tidak sedang diburu secara acak. Mereka sedang dipetakan.

 

Sore itu, Leonard mulai berjalan mengelilingi pondok lebih sering dari biasanya, gerakannya tidak lagi santai, tapi seperti predator yang sedang memastikan wilayahnya masih miliknya, sementara Alexandria mengikutinya dari belakang, membawa botol-botol kecil ramuan yang sudah ia siapkan sejak pagi tanpa benar-benar tahu kenapa ia merasa perlu melakukannya.

Hutan terasa lebih rapat saat mereka berjalan, seolah jarak antara pohon-pohon semakin sempit, dan setiap langkah meninggalkan jejak yang terlalu jelas untuk sesuatu yang tidak ingin ditemukan.

Lalu Leonard berhenti.

Tiba-tiba, tanpa peringatan.

Alexandria hampir menabraknya, tapi Leonard mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat diam.

“Ada sesuatu,” gumamnya.

Alexandria langsung menegang, “Di mana?”

Leonard tidak menjawab, ia hanya menatap tanah di depan pondok, di sisi yang tidak terlalu sering mereka lewati, lalu perlahan berjongkok.

Ada jejak.

Bukan jejak kaki biasa seperti sebelumnya.

Ini lebih rapi.

Lebih disengaja.

Dan di antara tanah yang sedikit terganggu itu, ada tanda kecil—bukan sekadar bekas langkah, tapi simbol yang tidak familiar, seperti ukiran sihir yang terlalu halus untuk dibuat secara kasar.

Alexandria mendekat perlahan, “Ini bukan jejak pemburu biasa…”

Leonard menggeleng, matanya semakin tajam, “Ini tanda pengenal.”

Alexandria menelan napasnya, “Mereka menandai kita.”

Leonard berdiri perlahan, dan saat itu juga udara di sekelilingnya terasa berubah, lebih berat, lebih dingin, seperti sesuatu di dalam dirinya ikut bereaksi terhadap tanda itu.

“Mereka sudah belajar terlalu dekat,” gumam Leonard.

 

Malam datang lebih cepat dari biasanya.

Dan kali ini, tidak ada yang bisa menyebutnya tenang.

Alexandria duduk di dekat perapian, tapi matanya tidak fokus pada api, sementara Leonard berdiri di dekat pintu, tidak duduk, tidak berbaring, hanya berdiri seperti seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak lengah sedetik pun.

“Leonard,” suara Alexandria pelan, “kalau ini terus berlanjut… kita harus pergi lebih cepat.”

Leonard menoleh, “Ke Eldoria.”

Alexandria mengangguk, “Atau ke mana pun itu membawa kita.”

Leonard berjalan mendekat, lalu berlutut di depannya, “Aku tidak akan memaksamu ikut.”

Alexandria langsung menggeleng, bahkan sebelum ia selesai bicara, “Kamu masih belum mengerti ya?”

Ia memegang wajah Leonard, “Aku bukan ikut kamu, Leonard. Aku sudah bagian dari kamu.”

Hening.

Leonard menutup mata sebentar, seperti mencoba menahan sesuatu yang terlalu dalam, lalu membuka lagi dengan tatapan yang lebih lembut.

“Kalau begitu kita akan pergi bersama,” katanya akhirnya.

Alexandria tersenyum kecil, “Selalu.”

 

Tapi malam itu, sesuatu berubah. Di luar rumah, hutan yang tadi hanya terasa mengamati… mulai bergerak. Tidak ada suara keras. Tidak ada serangan. Hanya perubahan kecil di udara.

Dan Leonard langsung merasakannya. Matanya menajam, tubuhnya menegang, dan tanpa berkata apa-apa ia berdiri di depan Alexandria.

“Jangan keluar,” katanya pelan tapi tegas.

Alexandria langsung berdiri juga, “Apa itu?”

Leonard menatap ke arah gelap di luar jendela, “Mereka… mencoba membuka sesuatu.”

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka kembali ke pondok ini, Alexandria melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di wajah Leonard—bukan hanya waspada. Tapi juga… kesiapan perang yang tidak lagi bisa ditunda.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!