Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13: Jalan Berbahaya dan Kekuatan Bersama
Matahari sudah tinggi di langit saat Alexandria dan Leonard melangkah semakin jauh ke dalam Hutan Aethelgard.
Semakin dalam mereka berjalan, suasana hutan semakin berubah. Pohon-pohon yang tadinya tampak biasa kini tumbuh semakin rapat dan tinggi, dengan akar-akar besar yang menjalar di tanah seperti ular-ular raksasa. Cahaya matahari susah payah menembus dedaunan yang lebat, membuat suasana di bawah sana terasa remang-remang dan agak kelam.
Udara pun terasa berbeda. Di sini, udara terasa lebih berat, dan ada aroma aneh yang bercampur—aroma tanah basah, bau tumbuhan yang membusuk, dan sedikit aroma logam yang tajam. Leonard berjalan di depan, memimpin jalan dengan langkah waspada. Matanya yang keemasan terus mengamati sekeliling, telinganya menangkap setiap suara sekecil apa pun.
"Berhati-hatilah, Alexandria," bisik Leonard tanpa menoleh, tetap fokus ke depan.
"Kita sudah memasuki bagian hutan yang jarang dijamah manusia. Di sini, aturan dunia kita mulai melemah, dan pengaruh sihir mulai terasa lebih kuat. Banyak makhluk yang tinggal di sini yang tidak ramah."
Alexandria mengangguk paham, tangannya menggenggam erat tali tas yang ia pikul, dan tangan lainnya ia siapkan di dekat pinggang tempat ia menyimpan pisau kecil dan beberapa botol ramuan pertahanan.
"Aku siap, Leonard. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama."
Mereka berjalan terus selama beberapa jam tanpa henti. Hening yang mencekam menyelimuti mereka. Tidak ada suara burung berkicau, tidak ada suara hewan kecil yang berlarian. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di antara dedaunan kering dan ranting yang pecah.
Tiba-tiba, Leonard mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Alexandria berhenti dan diam. Ia berdiri tegak, mencium udara dengan tajam, dan matanya menyapu area di sekitar mereka dengan tatapan tajam.
"Ada apa?" bisik Alexandria pelan, jantungnya mulai berdegup kencang.
"Ada bau darah... dan bau musky yang tidak asing," jawab Leonard perlahan, suaranya rendah.
"Dan aku mendengar suara geraman. Bukan suara hewan biasa."
Belum habis kalimat Leonard, tiba-tiba dari balik semak-semak tebal di sebelah kiri dan kanan jalan, melompat beberapa makhluk yang menyeramkan. Mereka berukuran besar, setinggi manusia, tapi tubuh mereka tertutup bulu-bulu kasar berwarna abu-abu gelap. Wajah mereka menyeramkan, dengan taring yang panjang menjulur keluar, dan mata yang merah menyala tanpa pupil. Di tangan mereka, terdapat cakar-cakar yang panjang dan tajam, berkilauan di tengah remang-remang hutan.
Ada lima ekor makhluk dan mereka langsung mengepung Leonard dan Alexandria dengan geraman mengerikan.
"Goblin-hutan?" tebak Alexandria, teringat cerita di buku ayahnya.
Makhluk ini dikenal buas dan suka menyerang siapa saja yang masuk ke wilayah mereka.
"Bukan sekadar goblin biasa, Alexandria," kata Leonard, cepat-cepat berdiri di depan Alexandria, melindunginya.
Matanya menyala dengan sihir keemasan yang mulai bangkit. "Mereka telah dimanipulasi oleh sihir gelap. Lihat mata mereka? Mereka tidak punya akal sehat, hanya insting membunuh. Seseorang atau sesuatu telah mengirim mereka untuk menghalangi jalan kita."
"Valerius?" tanya Alexandria cepat, sambil meraih botol ramuan pedas yang ia buat dari saku bajunya.
"Mungkin. Atau mungkin antek-anteknya yang lain," jawab Leonard singkat.
"Tetap di belakangku, Alexandria. Jangan sampai mereka menyentuhmu."
Salah satu makhluk itu mengaum keras, lalu melompat ke arah Leonard dengan cakar yang siap mencabik. Leonard tidak mundur. Dengan gerakan cepat, ia menangkis serangan itu dengan lengan kanannya yang kuat. Terdengar suara benturan keras saat cakar makhluk itu bertemu dengan kulit Leonard yang kini dilapisi oleh lapisan tipis sihir pelindung yang berkilau keemasan.
Makhluk itu terkejut, seolah tidak menyangka serangannya bisa ditangkis dengan mudah. Leonard memanfaatkan momen itu, memukul perut makhluk itu dengan pukulan cepat dan kuat. Makhluk itu terlempar mundur beberapa meter, menabrak batang pohon besar dan jatuh tak bergerak.
Tapi empat makhluk lainnya tidak takut. Mereka menyerang bersamaan, dua di antaranya mengincar Leonard, dan dua lainnya mencoba memutar jalan untuk menyerang Alexandria yang berada di belakang.
"Jangan harap!" seru Leonard, tapi ia terhalang oleh dua lawan di depannya.
Ia tidak bisa mencapai Alexandria dalam sekejap.
Namun, Alexandria bukanlah wanita yang lemah dan hanya bisa diam. Saat dua makhluk itu mendekat dengan geraman lapar, Alexandria tidak lari. Ia berdiri tegak, dan dengan sigap, ia melempar botol-botol ramuannya tepat ke wajah makhluk-makhluk itu.
Brak! Brak!
Dua botol itu pecah tepat di depan wajah mereka. Cairan pedas dan menyengat itu langsung mengenai mata dan hidung makhluk-makhluk itu.
"Aarrghh!" jerit mereka serentak, matanya perih dan tidak bisa melihat.
Mereka mundur ke belakang, mengibas-ngibaskan wajah mereka dengan cakarnya, panik dan kesakitan.
"Bagus, Alexandria! Serangan yang hebat!" seru Leonard dari samping, yang sedang sibuk bertarung dengan dua lawannya. Mendengar suara Alexandria dan melihat keberanian wanitanya, semangat Leonard semakin membara.
Leonard mengeluarkan serangkaian pukulan dan tendangan yang cepat dan mematikan. Ia bergerak seperti angin, menghindari cakar lawan dengan lincah, lalu membalas dengan serangan yang tepat sasaran. Sihir keemasannya mengalir di setiap gerakannya, membuat setiap pukulannya memiliki kekuatan yang dahsyat.
Dalam waktu singkat, dua makhluk yang melawannya pun sudah terbaring kalah, meringis kesakitan dan tidak sanggup bangun lagi.
Kini, hanya tersisa dua makhluk yang terkena ramuan Alexandria. Mereka masih buta dan kesakitan, bergerak-gerak acak dengan cakar mereka, mencoba mencari target.
Leonard berjalan mendekati mereka dengan langkah tenang namun mengintimidasi. Alexandria berjalan di sampingnya, siap dengan ramuan lain jika diperlukan.
"Mereka sudah tidak berbahaya lagi," kata Alexandria pelan. "Kita biarkan saja mereka?"
Leonard menatap makhluk-makhluk yang menderita itu, lalu menggeleng.
"Mereka dikendalikan oleh sihir gelap, Alexandria. Jika kita biarkan begitu saja, nanti mereka akan sembuh dan mengejar kita lagi, atau menyakiti makhluk lain. Aku harus memutuskan kendali sihir itu dari mereka."
Leonard mengangkat tangannya ke depan. Dari telapak tangannya, memancarkan cahaya keemasan yang lembut namun kuat. Cahaya itu mengelilingi kedua makhluk itu. Awalnya mereka meronta dan mengerang, tapi perlahan-lahan, cahaya itu menembus ke dalam tubuh mereka. Mata merah mereka perlahan meredup, dan tubuh mereka mulai mengecil sedikit, bulu-bulu kasar mereka menjadi lebih halus.
Akhirnya, kedua makhluk itu jatuh berlutut, napas mereka terengah-engah. Mata mereka kini tidak lagi merah, melainkan berwarna cokelat biasa, penuh kebingungan dan ketakutan, tapi tidak lagi buas. Mereka menatap Leonard dan Alexandria, lalu seolah menyadari apa yang telah terjadi, mereka menundukkan kepala mereka tanda terima kasih dan hormat, sebelum akhirnya berbalik dan berlari masuk ke dalam hutan, menghilang di antara pepohonan.
Leonard menurunkan tangannya, napasnya sedikit memburu, dan keringat menetes di pelipisnya. Menggunakan sihir penyembuh sekaligus pemutus kendali gelap itu cukup menguras tenaganya.
"Leonard!" Alexandria segera menghampirinya, meraih tangannya dan memeriksa apakah ada luka di tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa? Kamu terlihat lelah."
Leonard tersenyum lemah, lalu mengusap kepala Alexandria.
"Aku baik-baik saja, cintaku. Hanya sedikit kelelahan. Tapi itu sepadan. Aku tidak bisa membiarkan makhluk-makhluk itu terus menderita dan menjadi alat kejahatan."
Alexandria tersenyum bangga. "Kamu benar-benar hebat, Leonard. Kamu tidak hanya kuat bertarung, tapi kamu juga punya hati yang lembut bahkan pada musuh."
"Itu karena aku belajar dari kamu, Alexandria," balas Leonard, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukan singkatnya untuk mengisi kembali semangatnya.
"Cintamu membuatku ingin menjadi pribadi yang lebih baik."
Setelah memastikan area itu aman dan makhluk-makhluk lain tidak ada yang berani mendekat, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Namun, peristiwa tadi menjadi pelajaran penting bagi mereka. Mereka menyadari bahwa ancaman tidak hanya datang dari orang-orang suruhan Valerius yang manusia, tapi juga dari makhluk-makhluk hutan yang telah dikorupsi oleh kekuatan gelap.
Perjalanan mereka selanjutnya menjadi lebih hati-hati. Leonard semakin waspada, dan Alexandria juga semakin siap dengan ramuan-ramuannya. Mereka belajar untuk saling melengkapi—Leonard dengan kekuatan fisik dan sihirnya, Alexandria dengan kecerdikannya, pengetahuannya tentang tanaman dan obat-obatan, serta keberaniannya yang tak tergoyahkan.
Sore itu, mereka berhenti di tepi sebuah sungai kecil yang airnya jernih untuk beristirahat sejenak dan mengisi perut. Sambil duduk di atas batu besar di tepi sungai, Alexandria menatap wajah Leonard yang masih terlihat sedikit lelah.
"Leonard," panggilnya pelan.
"Tadi... saat kamu bilang bahwa makhluk-makhluk itu dikendalikan oleh sihir gelap. Apakah itu artinya Valerius sudah tahu kita sedang berjalan menuju gerbang?"
Leonard mengunyah sepotong buah kering yang ia ambil dari bekal, lalu menatap Alexandria dengan wajah serius.
"Kemungkinan besar ya, Alexandria. Valerius memiliki mata dan telinga di mana-mana, terutama di area perbatasan antara dua dunia. Dia pasti tahu aku sudah bangkit dan sudah memiliki kekuatan lagi. Dan dia pasti tahu bahwa tujuanku adalah kembali ke Eldoria untuk merebut kembali takhtaku."
Leonard menggenggam tangan Alexandria di atas batu itu.
"Dia akan mencoba segalanya untuk menghentikanku. Dia akan mengirim lebih banyak makhluk, lebih banyak pasukan. Tapi..." Leonard menatap mata Alexandria dalam-dalam.
"Dia tidak memperhitungkan satu hal. Dia tidak tahu bahwa aku tidak sendirian lagi. Dia tidak tahu bahwa aku memiliki kamu di sisiku—seorang pejuang yang hebat, dan sumber kekuatanku yang terbesar."
Alexandria tersenyum, merasakan kehangatan dan keyakinan mengalir dari genggaman tangan Leonard.
"Dia akan sangat terkejut saat tahu itu, kan?"
Leonard tertawa pelan, suara tawanya yang hangat memecah keheningan hutan. "Ya. Dia akan sangat menyesal karena telah menentang kita berdua."
Setelah beristirahat cukup dan memulihkan tenaga, mereka pun bangkit kembali. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit di atas kanopi hutan dengan warna oranye dan ungu. Malam akan segera tiba, dan hutan di malam hari jauh lebih berbahaya daripada di siang hari. Tapi mereka tidak takut.
Mereka berjalan beriringan, tangan mereka saling menggenggam erat, siap menghadapi apa pun yang ada di depan. Jalan menuju gerbang Eldoria masih panjang, dan bahaya pasti masih akan terus menghadang.
Tapi mereka tahu, selama mereka bersama, selama cinta mereka menyatukan mereka, tidak ada rintangan yang terlalu besar untuk mereka taklukkan.