NovelToon NovelToon
ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cinta Seiring Waktu / Romansa pedesaan
Popularitas:118.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.

Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.

Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.

Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tolong sudahi : 18

Intan memejamkan mata, tarikan napasnya terasa memberat. “Cukup! Kau sudah terlalu jauh ikut campur perihal kehidupan pribadiku. Tolong sudahi! Antara kau dan aku takkan pernah menjadi kita.”

Gadis bercelana panjang bagian bawah mengembang itu melompat turun, tak sedikitpun memalingkan wajah menatap pria mengeraskan rahang.

Anggara membiarkan Intan pergi dari sana, dia tidak mengatakan apa-apa.

Tidak berapa lama kemudian, lima buah kendaraan beroda dua tiba di gubuk. Semua pengendara berwajah ragu-ragu saat mau turun, terlebih Sarwanto.

"Arwah, kau sudah bisa masuk kuali itu. Dah macam ikan ditepungi,” ejeknya tak selaras dengan ekspresi wajah.

Sarwanto yang biasanya sedikit berani membalas, walaupun cuma lewat lirikan mata, sekarang bungkam seribu bahasa. Dapat dirasakan olehnya, aura sang juragan muda seperti di musim penghujan, dingin menusuk tulang.

"Ngapain kalian berdiri di sana, mirip orang antri sembako saja. Sini!” titahnya tegas.

Barisan depan di pimpin pria bermandikan air lumpur, paling belakang si badan kurus keberatan dosa. Katanya.

“Maaf, juragan. Kami gagal menjalankan misi,” cicit Sarwanto seraya menunduk.

Anggara mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Tak apa, permulaan yang bagus. Mulailah belajar lebih gigih, agar apabila dibutuhkan adegan seperti tadi lah mahir.”

Tas selempang teronggok di samping dinding diraih, resletingnya dibuka, dan amplop tebal dikeluarkan.

“Kalian berempat, berdiri sejajar!” Anggara menyuruh para sosok pencuri di perkebunannya.

“Ini untukmu. Bukalah usaha, berdagang dari modal paling kecil. Jangan dulu mengharapkan untung besar, asal jalan dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sudah bagus itu!” Amplop coklat polos diserahkan ke pria yang tadi pura-pura menodongkan pisau ke Intan.

Si pria berambut cepak, wajah nyaris gelap bukti perjuangannya mencari nafkah dibawah diteriknya sinar matahari, takut-takut menerimanya.

Amplop kedua juga sudah diberikan kepada pria paruh baya, kumisnya sudah putih.

“Siapa namamu!” tanyanya ke sosok paling kurus.

“Bisamsudin, Tuan.” Tangannya belum terulur, ragu mau mengambil amplop.

“Sekarang kupanggil kau Bimoli, sebab … gigimu mengkilap macam minyak goreng. Ambillah! Jangan lagi mencuri, tak berkah memberi makan keluargamu dari hasil perbuatan tak terpuji.”

“Terima kasih, Tuan.” Bimoli menarik amplop, dia menunduk dalam.

"Kau bisa pakai pemberian dari hamba Tuhan ini untuk membawa anakmu ke rumah sakit kota, biar ditangani ahli medis mumpuni.” Anggara memberikan amplop terakhir ke Syahrul.

Pria berhati lembut itu hendak mencium tangan sang penolong, tapi ditepis.

“Jangan macam itu, berasa kakek-kakek aku.” Ditariknya cepat tangannya. “Sebenarnya bisa saja aku membiayai operasi anakmu, tapi sebagai orang tua, dan kau masih sehat, memiliki akal – sudah kewajibanmu berjuang demi kesembuhannya. Jangan mau enak bergoyang mencetaknya saja, tapi bertanggung jawab enggan, setengah hati.”

“Terima kasih, Pak. Terima kasih.” Syahrul membungkuk. Kendatipun belum tahu berapa nominal pemberian, dia sangat bersyukur.

“Sana pulang! Kembalikan motor yang kalian naiki ke kawasan perumahan para petinggi. Ambil sepeda kalian di sana, sisakan satu saja!” usirnya.

Sekali lagi keempat ninja sawit itu mengucapkan terima kasih, dalam hati bertekad menggunakan pemberian sang juragan muda dengan sebaik-baiknya.

Tinggallah Sarwanto dan Anggara Pangestu. Juragan muda duduk di tepi papan, kaki tergantung. Asistennya berdiri di sampingnya, berjarak.

“Apa ada yang mau kau katakan, Sarwanto?”

Percayalah, Sarwanto lebih takut jika tuan mudanya mode serius, memanggil dengan benar namanya.

“Ada juragan. Ini tentang informasi tunangannya bu bidan Intan Rasyid. Dia keturunan Nugraha, pemilik perkebunan sawit dekat kabupaten, dan juga memiliki bisnis resort pinggir pantai.” Sarwanto membeberkan informasi yang didapatkannya dari seseorang terpercaya.

“Aku sudah tahu kalau itu. Lainnya?” ucapnya, tentu informasi perihal Kamal Nugraha, dan Intan Rasyid, didapatkan dari kakak kembarnya, Adisty.

“Dari yang saya dengar, tak lama lagi Kamal Nugraha lulus magister, setelahnya dia dan bu bidan berencana menggelar pernikahan,” rasanya nyawanya diujung tanduk saat mengatakan hal itu.

"Kau cari penyewaan alat berat sebanyak mungkin, biar ku buldozer tenda pernikahan mereka!” Anggara melompat turun, merebut kunci di tangan Sarwanto.

“Kau pulang naik motor yang kusembunyikan dibalik semak tumbuhan pakis itu!” Jemari telunjuknya terarah pada rerimbunan tanaman liar yang dapat dijadikan olahan sayur. “Sekilas, tadi kulihat ada Ular hijaunya. Siapa tahu kau dan dia bisa jadi sahabat.”

Sarwanto pasrah, berdiri diam. Pun, saat sang atasan sudah naik ke atas motornya, lalu tancap gas tanpa mengenakan baju – barulah dia menjerit sejadi-jadinya. Mengeluarkan ponsel, berniat mengadu ke tuan besar.

Sayang seribu sayang, nomornya diblokir.

“Nggak anak, bapak, sama saja. Paling suka buat orang uring-uringan.” Sarwanto mencari kayu panjang untuk dijadikan senjata perlindungan diri.

“Ya Tuhan, kok bisa motornya ditabrakkan ke semak-semak?” seraya mengambil kendaraan milik Anggara, Sarwanto terus menggerutu. Badannya mulai gatal-gatal.

***

Dua hari sudah semenjak kejadian di gubuk perkebunan kelapa sawit, Anggara tidak lagi datang ke puskesmas, ataupun tiba-tiba muncul di rumah dinas Intan Rasyid.

Intan sendiri biasa saja, menjalani hari-hari seperti sebelumnya. Bekerja, lalu pulang ke hunianya.

Selama kurun waktu itu, dia enggan menerima panggilan ponsel dari Kamal Nugraha. Belasan pesan singkat, tak ada satupun yang dibuka apalagi balas.

Ada rasa mengganjal dalam hati tentang malam dimana Lanira mengangkat panggilan telepon genggam milik Kamal Nugraha.

Ponsel Intan berdering, panggilan dari Rania, calon adik iparnya.

“Assalamualaikum Nia,” sapanya dengan nada ringan.

“Walaikumsalam. Sayang … kau kenapa? Mengapa telepon dan pesan dariku tak pernah direspon?” Kamal Nugraha meminjam ponsel adiknya untuk menghubungi sang tunangan.

“Aku sibuk. Banyak pasien di puskesmas. Apa tak ada yang mau kau jelaskan Nuha?” kalimat terakhir terucap di dalam hati.

“Benar kau sibuk, bukan sedang menyembunyikan sesuatu kan, Intan?” suaranya terdengar menaruh rasa curiga.

"Kalau kau tak percaya, bisa kau cek sendiri kesini,” jawabnya biasa saja.

“Maaf sayang, akhir-akhir ini aku juga sibuk menyelesaikan tugas akhir. Ada beberapa kendala kala menyusun tesis.”

“Tak mengapa, aku paham. Dahulukan lah kepentinganmu disana, tak perlu memikirkan hal yang menurutmu bukan prioritas,” sindirnya untuk pertama kalinya.

“Nuha, aku akhiri panggilan ini ya. Ada pasien datang. Assalamualaikum,” tanpa menunggu sahutan, dia mematikan sambungan ponsel.

Intan mengusap wajahnya, menghela napas panjang.

“Maaf kalau semisal dikira lancang, bu bidan.” Irda berdiri di samping meja kerja ruangan periksa, sedari tadi dia mendengar percakapan sepihak itu. Bukan maksud menguping, tapi sedang mengerjakan sesuatu, mengepalkan kapas lalu dicelupkan ke cairan antiseptik.

Intan sedikit terkejut, tidak sadar kalau tidak sendirian di ruangan ini. “Kenapa, suster Irda?”

“Apa tak sebaiknya bu bidan pergi ke kota? Cari tahu ada apa sebenarnya, biar hati bu Intan lega,” usulnya hati-hati.

Intan sedikit risih, selama ini selalu memendam masalahnya sendiri. Tak memiliki sahabat dekat diluar lingkup keluarga.

“Bu, terkadang yang terlihat sempurna di depan mata, biasanya dia yang paling banyak menyembunyikan sesuatu demi menutupi hal tak ingin diketahui oleh orang lain. Maaf, bukan bermaksud menuduh, cuma sedikit menaruh curiga saja,” sambung Irda.

“Irda, siapa yang menemani pasien ibu hamil hendak dirujuk ke rumah sakit kota?”

.

.

Bersambung.

1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kasihan nanti ortu mereka masing" karna pasti akan menjadi renggang walau sementara karna permasalahan Nuha,Lanira,dan Intan tp ini hrs di luruskan biar tdk berlarut" 😏😏
Dcy Sukma
pengen lihat tindakan juragan.../Slight/
Mah_Rika
jgn malu dgn keluarga besar, kalian utarakan perasaan kalian masing-masing Nuha .
.
Mah_Rika
nah betul. Masik tidak berselingkuh, tapi sebenarnya kalian sdg meresapi perasaan kalian masing²
Nartyfauzi ruliyadi
kak cubliiikkk 😭😭😭😭
kenapa di potong😭😭😭 pas lagi sedih dn berurai air mata😭😭😭
Y.S Meliana
aamiin... poko'y dukung kak cublik dlm setiap part yg up 😎😎
Y.S Meliana
juragan byakta ini pasti 😎 si ayah tua
Y.S Meliana
iyaaaa, ini jg bikin mewek 😭 kasian intan
Y.S Meliana
y allah, biya.... intan sholehah'y ayah ikram 😭😭
aliifa afida
Alhamdulillah... selamat y kak cublik😍😍😍
Nabila hasir
akhirnya pecah sdah masalah di antara mereka intan dan Kamal serta lanira
Y.S Meliana
yessss 😎😎😎 rasain kalian semua 😤😤😤
Mimma💕
tak sabar menunggu lanjutannya thor...
makasih sdh up, dirunggu kelanjutannya,
dan selamat menikmati buat kamal
nunik rahyuni
💪💪🫶🫶⚘️⚘️
Eli Rahma
semangat sukses teruuusss kak cublik..🥰🥰
nunik rahyuni
alhamdulliah👏👏👏ikut senang aq kk cublik...sehat sehat ya teruslh berkarya..⚘️⚘️
Eli Rahma
Alhamdulillah...
Eli Rahma
siap² kau kamaludin..Lanira..otw sidang kekuarga...siapkan alasan yg jelas yahhh
nunik rahyuni
akhirnya smua sdh sampai....saat nya sidang dimulai apamah kamal akan tetap dg perasaan pahlawanya 😡😡sabar ayah tua jgn jantungan meliat didikanmu gagal..karena dia memiliki darah asil
Eli Rahma
sungguh dewasa kau Biyaaa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!