"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan
“Detak jantung Nona Mika sudah stabil, Tuan.”
Arlan langsung masuk ke dalam mobil tanpa membuang waktu. Pintu ditutup keras, seolah menyalurkan sisa emosi yang belum padam. Mobil melaju cepat menuju rumah sakit.
“Tuan, bukannya Anda masih marah pada Nona Mika?” tanya asisten yang duduk di kursi kemudi.
Arlan terdiam. Rahangnya mengeras. Memang benar, ia marah pada gadis itu.
Di pikirannya, Mika sama saja dengan wanita lain. Lemah, merepotkan, dan penuh masalah.
Namun, ingatan itu tiba-tiba muncul begitu saja. Ketika Tristan mencium Mika. Jari Arlan mengepal tanpa sadar.
“Gimana soal kecelakaannya? udah ada informasi?” tanyanya, berusaha mengalihkan pikirannya sendiri.
“Seharusnya udah ada, Tuan. Nanti saya cek,” jawab asistennya sigap.
Mobil berhenti di depan rumah sakit. Arlan keluar lebih dulu, langkahnya panjang dan cepat. Aura dingin yang dibawanya membuat orang-orang di sekitar refleks menyingkir.
Begitu sampai di kamar rawat, ia langsung membuka pintu tanpa mengetuk.
Saat itu, Mika sedang diperiksa. Begitu melihat Arlan, ekspresi Mika langsung berubah.
“Ngapain ke sini?” tanyanya ketus. “Dari mana kamu tau aku di sini?!”
Arlan tidak menjawab. Ia hanya berjalan masuk, duduk di sofa, lalu menyilangkan kaki. Tatapan dingin dan memusuk mengarah lurus ke Mika.
Perawat yang sedang memeriksa Mika merasa tidak nyaman. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan buru-buru keluar.
Ruangan itu pun menjadi sunyi dan tentunya tegang. Arlan bangkit dan melangkah mendekat.
Mika tanpa bicara langsung mengeluarkan sebuah kartu dari tasnya, yaitu ATM platinum milik Arlan.
“Nih, aku kembalikan. Aku pakai sedikit buat kontrakan. Sisanya ... anggap aja utang,” katanya.
Arlan menerima kartu itu tanpa ekspresi. Lalu, ia menarik kursi lipat dan duduk tepat di samping ranjang.
“Kamu lebih suka laki-laki itu?” tanyanya datar.
Mika mengernyit. “Siapa?”
Ia berpikir sejenak, lalu matanya melebar.
“Tristan?”
Arlan tidak menjawab. Tapi diamnya justru terasa seperti tuduhan.
Mika mendengus kesal. “Yang benar aja! Kalian itu sama aja, ya. Suka menindas yang lemah! Buat apa aku suka sama dia? Nggak ada untungnya! Lagian dia—”
“Menciummu,” potong Arlan tajam.
Suasana langsung membeku.
“Ciuman itu kamu nikmati juga, ‘kan?” lanjutnya tanpa ragu. “Kalau kamu nggak menikmati, tubuhmu pasti menolak.”
Mika terpaku. Lalu, dalam hitungan detik, emosinya meledak.
“Heh, Arlan yang terhormat!” bentaknya. “Kamu pikir aku ini apa?! Bahkan untuk tidur sama cowok aja ... a—aku cuma ... sama kamu—”
Ia terdiam sejenak, ragu. Namun, kemarahannya lebih besar dari rasa malunya.
“Gimana bisa kamu bilang aku menikmatinya?! Tubuhku ditahan! Kamu pikir aku bisa berontak?!” Suaranya meninggi.
Arlan tetap tenang. Ia hanya memutar rokok di jarinya yang belum dinyalakan.
“Lalu, bagaimana kamu mau bayar utang?” tanyanya santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
Mika terdiam. “Kalau soal itu,” ucapnya pelan. “Aku cari kerja dulu.”
Namun, di dalam hatinya. “Kerja di mana?!”
Wajahnya mulai panik, meski berusaha menutupinya. Belum sempat percakapan berlanjut, pintu terbuka.
“Ah, akhirnya ketemu juga!”
Seorang pria paruh baya masuk sambil membawa buah dan bunga.
Mika langsung menegang.
“Pak Kamil?” Suaranya berubah gugup.
“Maaf, baru sempat datang,” katanya tulus.
Tiba-tiba Kamil mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Itu adalah obat alerginya, Epipen.
“Terima kasih untuk—”
“Eh! Tunggu dulu!” potong Arlan dingin. “Siapa yang izinkan kamu masuk?”
Kamil terkejut. Baru menyadari kehadiran Arlan.
“Astaga, Tuan Arlan?”
Ia tampak ragu. “Apa kalian ini?”
Arlan berdiri. Mendekat perlahan. Aura tekanan yang ia bawa membuat suasana semakin mencekam.
“Kamu utang nyawa sama dia,” bisiknya pelan.
Deg!
Jantung Kamil terasa berhenti sesaat. Ia tahu itu benar.
Saat kejadian alergi udang itu, ia hampir kehilangan nyawa. Mika diam-diam menyelamatkannya. Kamil menelan ludah.
“Ya, Tuan Arlan. Saya paham,” jawabnya pelan.
Lalu, Kamil mendekat ke Mika, menjabat tangannya erat.
“Terima kasih.”
Mika tersenyum tipis. “Nggak usah begitu, Pak. Ini udah sewajarnya.”
“Nggak bisa begitu!” bantah Kamil.
Ia langsung mengeluarkan kartu ATM dan menyodorkannya.
“Ambil berapa pun yang kamu mau.”
Mika langsung menggeleng. “Nggak, Pak. Lebih baik kasih ke orang yang lebih butuh. Saya masih bisa kerja.”
Kamil terdiam, kagum. “Orang tua kamu pasti bangga punya anak seperti kamu,” katanya tulus.
Senyum Mika perlahan memudar. “Sayangnya ... itu nggak pernah terjadi, Pak,” ucapnya pelan.
Ruangan mendadak sunyi.
“Sebelum dan sesudah diserahkan ke orang besar pun ... hidup saya tetap sama.”
Kamil mengernyit. “Kenapa?”
Mika menarik napas. “Singkatnya ... demi melunasi utang, mereka rela menjual anaknya ke orang yang nggak punya perasaan.”
Tatapan tajamnya langsung mengarah ke Arlan.
Sementara Kamil langsung mengepalkan tangan.
“Orang tua macam apa itu?!” geramnya. “Lalu, orang yang nggak punya perasaan itu siapa?!”
Mika menatap Arlan dari ujung kepala sampai kaki.
“Gampang, Pak,” katanya santai. “Orangnya sangat kaya. Punya segalanya.”
Arlan mengangkat alis sedikit.
“Tinggi dan badannya bagus,” lanjut Mika.
Asisten di pojok mulai menahan tawa.
“Dia banyak tato. Tatapannya dingin dan nggak pernah ramah ke siapa pun.”
Krek! Krek!
Suara kepalan tangan Kamil terdengar jelas.
“Kalau dia berani macam-macam sama kamu, hubungi saya!” tegasnya.
Lalu, ia menoleh ke Arlan.
“Gimana Tuan Arlan? Orang seperti itu harus diselidiki, ‘kan?”
Arlan yang sedang minum air, langsung tersedak.
“Kh—khuk!”
Asistennya buru-buru menunduk, bahunya bergetar menahan tawa.
“Ehm ... iya,” jawab Arlan, untuk pertama kalinya terdengar tidak tenang. “Harus—”
Mika menyeringai tipis.
Sementara itu, dalam pikirannya berkecamuk tidak karuan.
“Kadang baik, kadang kayak iblis—” Ia menghela napas. “Ini orang sebenarnya apa, sih?!”
Matanya melirik Arlan yang masih berusaha menjaga wibawa setelah tersedak.
“Serius, kayaknya dia butuh psikolog.”
Di sudut ruangan, asistennya akhirnya tidak tahan. Ia pura-pura batuk untuk menutupi tawa.
Suasana yang tadinya tegang, berubah aneh. Campuran antara ancaman, sindiran dan kekonyolan yang tidak bisa dijelaskan.
Di tengah semua itu. Arlan dan Mika masih saling menatap. Dengan emosi yang sama-sama belum selesai.
“Tunggu saja tanggal mainnya!” batin Arlan.
Setelah perbincangan panjang yang penuh sindiran halus itu, akhirnya Kamil pamit pulang. Pria itu sempat menatap Mika dengan penuh kekhawatiran, lalu melirik Arlan dengan tatapan waspada, seolah sedang menghafal wajah musuh.
Begitu pintu tertutup. Suasana langsung berubah. Hangat yang tadi sempat muncul, lenyap tanpa sisa. Kini hanya tersisa dua orang di dalam ruangan.
Arlan memberi kode singkat pada asistennya.
Sang asisten langsung paham. Ia menunduk sedikit, lalu keluar tanpa suara, menutup pintu perlahan di belakangnya.
Mika dan Arlan kini saling berhadapan. Tatapan mereka bertemu dan tidak ada satu pun yang mau mengalah.
“Kamu tau nggak,” ucap Arlan, suara khasnya masih tajam, “posisi kamu sekarang ini ... sama sekali nggak menguntungkan.”
Mika menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering seketika. Jantungnya berdetak kencang.
Tadi, saat ada Kamil, ia bisa bicara seenaknya. Bahkan berani menyindir terang-terangan.
Tapi sekarang, ia kembali menjadi dirinya yang sebenarnya. Kelinci kecil yang terpojok.
“Kenapa diam?” lanjut Arlan. “Takut?”
Ia tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip ancaman.
“Bukannya tadi kamu berani? Atau gadis lugu ini ternyata udah nggak lugu lagi?”
Mika menggigit bibirnya. Tangannya refleks menyilangkan di depan dada, seperti berusaha melindungi diri.
Duk! Duk!
Langkah kaki Arlan terdengar jelas. Hingga akhirnya, jarak mereka hanya tinggal beberapa sentimeter.
Mika menahan napas.
Aroma parfum Arlan yang tajam bercampur dengan aura dinginnya membuatnya sulit berpikir jernih.
Namun, sebelum ia sempat bereaksi, tangan Arlan sudah lebih dulu bergerak.
Ia mencengkeram dagu Mika. Memaksanya menatap lurus ke arahnya.
Kepala Mika digerakkan ke kanan lalu ke kiri, seperti sedang menilai barang.
“Wajah nggak cantik,” ucap Arlan dingin. “Kok sok cantik.”
Mika terdiam.
“Badan nggak istimewa, kok sok sempurna.” Nada suaranya semakin merendahkan. “Hidupmu cuma bisa cari pria kaya, lalu dibuang.”