Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 Ibu Wei Emosi!
Wei Ying menghentikan langkahnya, telinganya tertarik dengan sebuah keributan di sudut desa. Orang-orang berkerumun dan terlihat beberapa karavan kuda yang besar.
Wei Ying berbelok arah untuk ikut melihat keributan apa, dan saat sudah dekat terlihatlah jejeran barang-barang yang asing di matanya. Tapi beberapa juga terlihat familiar.
"Wah, aku tak menyangka akan melihat benda-benda antik yang hanya bisa di lihat di museum nasional!" seru Wei Ying.
Puas melihat-lihat, Wei Ying melirik ke sana kemari. Lalu pandangannya terkunci pada seorang pria paruh baya yang duduk santai tak jauh karavan.
"Permisi..." sapa Wei Ying. "Apa anda orang yang memiliki karavan ini?"
Pria itu menatap Wei Ying dari atas sampai bawah, seolah sedang menilainya. Wei Ying sedikit merasa tak nyaman dengan pandangan pria itu yang seolah melihatnya sampai ke tulang.
"Iya, ada perlu apa?" tanya pria itu.
"Jika boleh tau, tujuan anda selanjutnya ke mana?"
Pria itu mengangkat sebelah alisnya, merasa curiga dengan pertanyaan itu.
"Apa tujuanmu menanyakan itu padaku?"
Wei Ying yang sadar jika pertanyaannya sangat rentan, segera memperbaikinya. "Saya tidak punya maksud jahat, hanya saja jika tujuan anda ke Ibu kota.. bolehkah saya ikut dalam rombongan. Seperti yang anda lihat saya seorang wanita dan juga membawa tiga anak." ujarnya menjelaskan.
Pria itu terlihat berpikir sejenak, "Hm, boleh saja. Tapi ada biaya yang harus kau bayar."
"Berapa?"
"200 Keping emas perorang."
Matanya melotot mendengar nominal yang di sebutkan pria itu, lalu tanpa menjawab sepatah katapun Wei Ying berbalik dan melangkah pergi. Wei Ying pergi dengan langkah yang di hentakan dengan emosi tertahan.
"Dasar lintah darat!" gerutunya dengan pelan, "Bisa-bisanya mematok harga setinggi itu pada single mom seperti ku!"
Lu Shu dan dua adiknya tak bisa berkata-kata, mereka hanya mengekor ke mana Ibu tiri mereka pergi, seperti anak bebek.
"Ibu..." panggil Lu Shu. Namun Wei Ying tak mendengar suaranya, ia sedang emosi.
Lu Shu yang teringat dengan Wei Lu di masa lalu, segera menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan saat Lu Xue hendak ikut memanggilnya, Lu Shu langsung memberinya kode untuk diam.
"Ya! Memangnya kenapa! Aku bisa jalan sendiri, aku tak takut!" ujar Wei Ying.
Akhirnya Wei Ying kembali melanjutkan perjalanan hanya bersama tiga anaknya.
.
.
Suara nyala api yang melahap kayu bakar terdengarnya seperti ASMR, ketiga anaknya langsung tertidur begitu tenda berdiri dan api unggun menyala.
"Ini salahku!" ucap Wei Ying dengan begitu bersalah. "Aku terlalu emosi pada pak tua itu, sampai berjalan tanpa menghiraukan mereka. Padahal mereka masih kecil... Maafkan aku anak-anak.." ratap Wei Ying.
Setelah ia pergi meninggalkan pemilik karavan dagang itu, ia langsung melanjutkan perjalanannya. Ia berjalan tanpa istirahat dan hasilnya mereka berjalan cukup jauh, dua kali lipat dari jarak perjalanan mereka sebelumnya.
"Mereka bahkan belum makan..."
Wei Ying menatap makanan yang masih utuh, Lu Shu, Lu Bao dan Lu Xue begitu lelah sampai lupa untuk makan malam. Mereka tidur dengan lelap.
"Mereka pasti takut, aku begitu emosi..."
Malam ini Wei Ying duduk sendirian di depan api unggun, ia berulang kali menghela nafas. Namun, saat tenggelam dalam pikirannya sendiri, semak-semak di sekitar bergoyang pelan.
Wei Ying mulai bersiaga, ia mengangkat semprotan serangga yang selalu ia bawa. Selain beracun, itu ampuh pada untuk membunuh tanpa mengeluarkan darah.
"Apa itu..." bisik Wei Ying.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭