Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
"Makan lagi, Manis. Ini daging wagyu terbaik, hanya untukmu," ucap Xander sembari menyodorkan potongan daging ke arah mulut Luna.
Luna menutup mulutnya rapat-rapat hingga pipinya menggembung. Ia pun menggeleng kuat-kuat.
"Tidak mau! Luna sudah kenyang! Perut Luna sudah seperti mau meletus!" protesnya.
"Ayo, satu suapan lagi. Kau tadi bilang sangat suka daging, bukan?"
Luna mendengus kesal, ia menjauhkan piring itu dengan tangannya. "Iya, tapi Sander berikan Luna daging terus! Apa Sander pikir Luna ini binatang buas kelaparan? Luna bosan! Luna mau ke kamar, mau tidur!"
Luna beranjak dari kursinya, namun Xander dengan cepat menahan pergelangan tangannya.
"Jangan buru-buru ke kamar. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall? Aku akan membelikanmu semua baju indah dan perhiasan yang kau mau."
Luna menghentakkan kakinya ke lantai. "Tidak mau! Luna mau di kamar titik! Sapir bilang Luna harus tetap di rumah dan tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa dia. Sander membosankan! Sander berisik!"
Xander tertegun, senyum palsunya perlahan luntur.
"Membosankan? Aku memberimu segalanya, Luna. Kenapa kau lebih memilih adikku yang dingin seperti es batu itu?"
"Karena Sapir itu Sapir! Meski dia galak seperti macan lapar dan dingin seperti air pegunungan, Luna tetap suka! Sapir tidak memaksa Luna makan daging sampai mual!" seru Luna telak. Ia menyentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Xander, lalu berlari menuju lantai atas menuju kamar Xavier.
Xander terdiam di ruang makan yang mewah itu. Tangannya mengepal sangat erat hingga buku jarinya memutih.
Matanya menatap tajam ke arah tangga tempat Luna menghilang.
"Dia benar-benar sulit untuk ditaklukan!"
*
*
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Suasana di ruang kerja Xavier terasa sangat mencekam. Tumpukan berkas berserakan di atas meja besar itu. Xavier memijat pelipisnya yang berdenyut kencang, matanya yang tajam menyisir deretan angka yang tidak masuk akal.
"Siapa yang memberikan laporan keuangan sampah ini, Ger?" tanya Xavier dengan nada rendah.
Gerry yang sedang merapikan jadwal rapat segera menoleh.
"Tentu saja paman anda, Tuan Luke. Dia bilang itu laporan terbaru bulan ini."
"Apa dia sedang tidur atau mabuk saat mengerjakan laporan ini?!" Xavier membanting berkas itu ke meja.
"Maksud anda, Tuan?"
"Bagaimana bisa di bagian piutang angka sembilan tiba-tiba berubah jadi angka enam di halaman berikutnya? Dia pikir aku bodoh? Dia mencoba mencuci uang perusahaan tepat di bawah hidungku!" geram Xavier.
"Bukankah tuan Xander sudah pernah mengingatkan anda tentang kebusukan Luke? Paman anda itu memang ular yang licik," sahut Gerry tenang.
Xavier menggeram frustrasi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menahan amarah yang meledak-ledak. Pikirannya bercabang antara pengkhianatan Luke dan bayangan Luna yang ditinggal bersama Xander di rumah.
Tok tok!
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka tanpa menunggu izin. Sosok wanita dengan pakaian sangat minim dan riasan menor masuk tanpa izin.
"Xavier! Sayang!" teriak Catherine. Ia langsung berlari mendekat dan tanpa permisi memeluk Xavier dari belakang saat pria itu masih duduk di kursi kebesarannya.
"Aku merindukanmu! Lihat, aku membawakan makan siang spesial. Kau pasti belum makan, kan? Aku yang memasaknya sendiri khusus untukmu."
Xavier membeku. Tubuhnya menegang seketika. Sensasi panas menjalar dari punggungnya ke seluruh saraf pusatnya. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Xavier, dan wajahnya mendadak memucat.
Alerginya kambuh. Sentuhan Catherine terasa seperti siraman air raksa yang membakar kulitnya.
Gret!
Xavier beranjak dengan gerakan kasar hingga kursi kerjanya terguling. Dengan satu gerakan cepat yang dipicu kemarahan dan rasa sakit, ia mencengkeram leher Catherine dan memojokkannya ke dinding hingga kaki wanita itu sedikit terangkat dari lantai.
"Argh... Xavier! S–sakit!" rintih Catherine.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menyentuhku sembarangan, hah?!" desis Xavier tepat di depan wajah Catherine. Matanya yang merah menatap tajam, seolah-olah ia siap mematahkan leher wanita itu kapan saja.
"Uhuk... lepaskan! Aku... aku tidak bisa bernapas!" Catherine memukul-mukul lengan Xavier yang sekeras baja, wajahnya mulai membiru karena kekurangan oksigen.
"Kau pikir aku peduli?! Rasanya aku ingin menghabisimu sekarang juga agar tidak ada lagi lalat menjijikkan yang berani menyentuhku!" teriak Xavier murka. Aura membunuh terpancar kuat dari tubuhnya.
Catherine gemetar ketakutan. Ia baru tersadar bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal. Ia lupa bahwa Xavier benar-benar membenci sentuhan manusia, dan ia lupa bahwa pria di depannya adalah seorang monster yang tidak mengenal kata ampun, bahkan pada wanita sekalipun.
"Lepaskan, Tuan Xavier! Apa yang anda lakukan pada sepupu anda sendiri! Dia hanya ingin memberi perhatian!" teriak Hanzel yang baru saja masuk dan mencoba melerai.
Xavier tidak peduli. Ia justru semakin menguatkan cekikannya.
Gerry, yang berdiri di sudut ruangan, hanya menonton adegan itu dengan ekspresi wajah sangat santai. Ia melipat tangan di dada dan menggeleng pelan.
"Seharusnya aku membawa camilan tadi. Ini lebih seru daripada film action yang kutonton kemarin," gumam Gerry pelan sembari memperhatikan wajah Catherine yang semakin kempis kehabisan napas.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂