Tidak punya pilihan lain selain menikahkan Aruna dan Arka. karena sang calon pengantin wanita yang bernama Elia kabur di hari pernikahannya.
pernikahan itu hanya untuk dua tahun saja, itulah yang di katakan Arka di awal mereka setelah menjadi sepasang suami istri. tapi bagaimana kalau Arka beda pemikiran setelah tinggal satu atap yang sama dengan Aruna? dan bagaimana dengan Elia? apa sebtulnya alasan wanita itu kabur di hari pernikahannya?
cekidottt cerita keduaku. beri dukungan ya teman-teman❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Aruna dan Rio pun berakhir di lantai tiga tempat mereka belanja. Mereka pun memilih untuk memesan menu indo yaitu 'ayam geprek' dengan beberapa makanan indonesia lainnya. Tentu saja banyak pilihan, mulai dari sushi (makanan jepang) ramyun, tteoboeki (makanan korea) sampai menu ala ke barat-baratan dan Aruna mau memakan makanan indonesia saja, hingga Rio pun mengikuti menu yang Aruna pesan, yaitu ayam geprek.
“Lo, suka pedes ya, Run?.“Tanya Rio sambil tersenyum tipis, matanya berbinar dan terlihat sekali sedang kagum dengan Aruna yang terlihat begitu menikmati makanannya__Aruna begitu lahap sekali memakan ayam geprek dengan tingkat kepedesan level 2, meski beberapa kali tangannya mengusap keringat di kening, serta kedua telinganya memerah. Namun wanita itu sama sekali tak menghentikan suapannya.
“Heuuhhhh.. iya su..ka ba..nget.“Timpalnya, Aruna yang semakin merasakan lidahnya panas karena cabe setan yang menjadi sambal ayam geprek pun akhirnya mengambil secangkir air mineral di depannya lalu meminumnya hingga menyisakan setengah.
“Jangan keseringan, Run. Gak baik.“Tukas Rio terdrngar perhatian, Aruna terkekeuh.
“Dari kecil udah di ajarin makan pedes, sih. Rio. Jangan khawatir, udah biasa juga. Malah agak sedikit hambar kalau gak makan pedes.“
Rio berdecak pelan, walau begitu senyum tipis di bibirnya masihlah terlihat.
“Oalah, pantes aja sih. Tapi bener lho Run, gak baik makan pedes terus-terusan.“
“Iya, Ri iya. Makasih lho udah ingetin.“Timpalnya dengan kedua bola mata memutar ke atas__sebetulnya bukan hanya Rio saja tapi beberapa teman Aruna mengingat hal yang sama. Dan sejujurnya Aruna cukup muak sekali, padahal selama ini Aruna pun baik-baik saja tuh, malah aneh gak makan cabe sehari saja, terasa ada yang kurang.
“Hahaha.. gak usah ngambek lah, Run. Cantiknya nanti berkurang lho.“Guraunya, Aruna memicing ke arah Rio.
“Alah, gombal-gembel!.“
“Tapi beneran Run, kalau kamu gak galak. Aura cantiknya nambah lho.“Puji Rio dengan penuh kesungguhan dan respon Aruna hanya mendengus kasar__Aruna sengaja melakukan hal itu dan masih pura-pura tidak tahu tentang perasaan Rio kepadanya. Selain karena Aruna tidak punya perasaan yang sama, Aruna pun malas saja harus terlibat asmara di tempat kerja. Apalagi Aruna sudah menikah, meski pernikahannyq di rahasiakan.
“Btw, kamu belanja banyak banget lho Run. Keperluan rumah segitu?.“
“Hm.. i..ya Ri, nyetok. Gue di suruh belanja..hehe.“
“Kamu sendiri Ri, kok mau-maunya belanja, padahal kan lo itu cowok.“Ujar Aruna sambil menatap Rio lurus. Wanita itu begitu penasaran mengenai Rio yang mau-maunya belanja perlengkapan rumah, sendiri pula. Biasanya kan pria itu paling ogah kalau di suruh harus belanja.
“Emang kenapa? Harusnya sebagai cewek seneng dong. Ngeliat masih ada cowok yang mau belanja.“
Iya juga sih, tapi ya. Mau bagaimana lagi, Aruna tidak menyukai Rio. Mohon maaf!
“Sebenernya sih di suruh kakak gue.“Rio bercerita dan Aruna memilih untuk menghargainya dengan mendengar cerita Rio dengan seksama.
****
Sesi makan siang pun selesai dan Aruna memilih untuk bergegas keluar dari mall dan menuju tempat parkiran motor__tadi Rio sempat menawarkan untuk mrmbantu membawa sebagian barang belanjaannya, akan tetapi Aruna menolak dan mengatakan dengan mryakinkan kalau ia sendiri pun bisa. Walau pada kenyataannya cukup sulit, mengingat stok belanjaannya cukup banyak juga.
Langkah kakinya terhenti tatkala ekor matanya menatap sosok tubuh kekar dan tinggi milik sang suami yang datang bersama seorang pria__pun dengan pria di hadapannya yang sama-sama berhenti melangkah, kedua netranya terpaku pada sosok Aruna yang berjalan berdampingan dengan seorang pria.
Ok, ini seharusnya bukan menjadi urusan Arka ya. Akan tetapi entah kenapa hatinya seolah tak terima, apalagi pria itu menatap Aruna penuh binar kecintaan.
“Ehmm..“Ari berdehm dan sanggup membuat atensi Arka sepenuhnya teralih padanya.
“Ar, siapa?.“Tanyanya penasaran dan Arka sendiri terlihat salah tingkah untuk beberapa detik, sampai beberapa detik kemudian pria itu bisa mengendalikan ekspresinya dan pria itu mrnjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
“Bukan siapa-siapa kok. Yuk. Santi sudah nungguin.“Tukasnya pada Ari. Ari mengangguk lalu begitu saja Arka dan Ari melewati tubuh Aruna yang masih berdiri dengan tatapan lurus__wanita itu bahkan mendengus kasar dengan sorot mata yang terlihat kecewa. Bisa-bisanya Arka mengatakan kalau dia bukan siapa-siapa. Heyyy, Aruna ini istrinya! Dan tunggu.. Aruna sampai bingung sendiri, kenapa dia mau di akui sebagai istri Arka? Cih menjijikan sekali.
“Lo kenal sama pria, tadi?.“Kini yang bertanya adalah Rio, terlihat pria itu penasaran setelah melihat ekspresi Aruna yang terlihat terkejut dan menatap pria di hadapan mereka cukup dalam.
“Bukan siapa-siapa kok”Tukas Aruna mengikuti ucapan Arka. Bukan hanya Arka yang bisa mengatakan kalau Aruna bukan siapa-siapa, Aruna pun bisa.
“Oh ya, beneran gak mau gue anterin belanjaan lo, Run?.“
“Nggak usah, Ri. Gue bisa kok sendirian.“
*****
Malam minggu menurut Aruna sama saja. Tidak ada yang special, karena dirinya sudah terlalu biasa dengan status jomblo dari lahirnya__ya, Aruna jomblo dari lahir dan alasannya bukan karena Aruna tidak laku. Buktinya, Rio. Pria itu terus saja berusaha menarik perhatian Aruna dan memberikan kode-kode kalau dia tertarik pada Aruna, sayang sekali. Pria itu kurang beruntung, sebab sejak sekolah dasar, Aruna menerapkan prinsip untuk tidak pacaran, ia hanya ingin langsung menikah saja.
Menurutnya pacaran tidaklah penting. Buat apa? Hanya akan merugikan dirinya sendiri, memikirkan dan menjaga pria yang belum tentu menjadi jodohnya, bodoh sekali. Mending Aruna melakukan hal-hal yang bermanfaat lainnya__contohnya menonton drama korea dan mulai merancang bisnisnya sendiri, karena tidak mungkin juga terus-terusan Aruna bekerja untuk orang lain.
Tapi sayang, status jomblo itu harus ternoda dengan statusnya yang berubah langsung jadi istri orang. Aruna sendiri pun bingung, apakah do'anya langsung terkabul? Tapi kalau iya terkabul, kenapa harus dengan Arka? Dari sekian banyaknya pria di muka bumi ini__dia pria menyebalkan. Ya, walau tak di pungkiri kalau beberapa waktu yang lalu pria itu cukup baik, tapi keseluruhan dia menyebalkan sekali!
“Ngapain gue mikiran dia? Buang-buang waktu aja, mending nonton drakor.“Monolognya, lalu Aruna pun mulai mempersiapkan segalanya. Mulai dari stok camilan yang ada di nakasnya, air mineral dan juga media yang akan di gunakan pastinya.
Aruna memilih menonton drama jadul ysng berjudul “BBF” Drama yang tayang di tahun 2009 dan entah sudah berapa ratus kali Aruna menontonnya, namun Aruna tak pernah bosan. Terlebih, Lee Min Hoo di drama ini sangatlah tampan dan mempesona..hehe
“Heuhh Gu Jun Pyo gue, rambutnya lucu banget sih. Mana tubuhnya tinggi begitu lagi, duhhh jadi nau di gendong deh..hehehe.“Ucap Aruna sambil memakan taro dengan rasa rumput laut. Matanya terfokus pada layar di depannya lalu
TOK TOK TOK
Pintu kamarnya di ketuk dan membuat Aruna langsung tersedak, wanita itu buru-buru meminum air yang masih tersisa setengah. Setelah menatap nyalang pada pintu kamar yang terketuk dari luar, tentu saja siapa lagi pelaku ga kalau bukan pria itu. Mengingat di rumah ini hanya ada dirinya dan juga Arka.
“Ada apa sih? Ganggu aja!.“Ujarnya bersungut-sungut, meski begitu. Aruna pun memilih berjalan dan membuka pintu kamarnya.
“Ada apa?.“Tanyanya terdengar malas. Melihat ekspresi menyebalkan di wajah Aruna, membuat Arka berdecak.
“Lagi apa? Saya ganggu?.“
Menurut ngana? Ingin rasanya Aruna berkata demikian, namun Aruna sangat sadar diri sekali, apalagi mengingat dirinya di rumah ini hanya menumpang.
“Ada apa?.“Ulang Aruna yang sepertinya tidak berniat menjawab pertanyaan Arka.
“Di ruang tamu ada mama dan papa.“
Dan ucapan Arka mampu membuat tubuh Aruna tak bergeming di tempat dengan kedua pupil membesar dan mulut menganga lebar.
Mama mertua dan papa mertua. Untuk apa mereka ke rumah ini?