---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Us
Seminggu sudah Hannah tinggal di Griya Asri.
Seminggu yang melelahkan, tapi juga penuh keajaiban. Jane dan Mario sudah mulai beradaptasi dengan ritme baru: bangun setiap dua jam, ganti popok, menyusui, menenangkan tangisan, dan tidur di sela-sela waktu.
Tapi adaptasi itu tidak mudah. Mata Jane masih sembab, Mario sering terlihat berjalan dengan sempoyongan, dan rumah nomor 7 mulai terlihat sedikit berantakan—tanda bahwa penghuninya terlalu lelah untuk membereskan.
Para tetangga memperhatikan.
Suatu sore, saat Jane dan Mario bergantian menenangkan Hannah yang rewel, Irene memanggil rapat darurat di rumahnya.
"Teman-teman, kita harus bantu mereka," ucap Irene tegas.
Jisoo mengangguk setuju. "Iya. Jane mulai keliatan kelelahan."
Soo Young menambahkan, "Mario juga. Tadi pagi aku lihat dia pakai kaos terbalik."
"Mereka butuh istirahat," kata Chaeyoung. "Tapi dengan bayi baru, gimana caranya?"
Leon mengangkat tangan. "We can take turns! Like we did with the emergency team, but for babysitting."
Endy tersenyum. "Leon punya ide bagus. Kita bikin jadwal jaga."
"Setuju!" seru Elgi. "Setiap hari, satu orang datang bantu. Bisa jagain Hannah sebentar, masakin, beberes, atau apa aja yang mereka butuhkan."
Mereka mulai berdiskusi serius. Irene mengambil buku catatan—lagi-lagi—dan mulai menulis.
---
Jadwal Bantuan Bergilir untuk Keluarga Nomor 7
Senin: Irene – spesialisasi: merawat bayi, masak makanan bergizi
Selasa: Soo Young – spesialisasi: masakan Korea bergizi untuk ibu menyusui
Rabu: Jisoo – spesialisasi: pengalaman ibu tunggal, tips and tricks
Kamis: Chaeyoung – spesialisasi: hiburan, cerita-cerita lucu
Jumat: Leon – spesialisasi: fotografi, belanja kebutuhan
Sabtu: Elgi & Endy – spesialisasi: support system untuk Mario
"Oke, besok Senin mulai dari aku." Irene menutup buku catatannya. "Aku akan kasih tahu Jane dan Mario."
---
Senin: Irene
Pukul 08.00, Irene sudah muncul di depan pintu rumah nomor 7 dengan membawa panci besar.
Jane membuka pintu dengan mata masih sembab. "Mba Irene? Pagi-pagi udah ke sini?"
"Ini, aku bawain bubur ayam. Buat sarapan." Irene masuk tanpa sungkan. "Hannah gimana semalem?"
Jane menghela napas. "Bangun jam 12, jam 2, jam 4, jam 6. Capek, Mba."
Irene mengangguk paham. "Sekarang lo tidur. Aku jagain Hannah."
"Mba, nggak usah repot-repot..."
"Jan, ini udah diputuskan. Kami semua bakal bergiliran bantu." Irene menjelaskan rencana jadwal jaga. "Jadi lo nggak usah sungkan. Terima aja."
Jane terharu. "Mba Irene... kalian..."
"Ssst... jangan nangis. Nanti Hannah ikut nangis. Cepet tidur."
Jane akhirnya menurut. Ia menyerahkan Hannah pada Irene—setelah memberikan instruksi singkat—lalu masuk ke kamar. Dalam hitungan menit, ia sudah tertidur pulas.
Irene menggendong Hannah dengan lembut. "Hai, Hannah. Tante Irene yang jagain hari ini. Mama lo lagi istirahat. Kita main berdua, ya."
Hannah menatap Irene dengan matanya yang bulat, lalu menguap kecil.
Irene tersenyum. "Lo juga ngantuk, ya? Yuk, tidur."
Hari itu berjalan lancar. Hannah tidur nyenyak di gendongan Irene. Irene juga sempat membereskan ruang tamu yang sedikit berantakan, mencuci piring, dan menyiapkan makan siang.
Saat Jane bangun pukul 12.00, ia menemukan rumahnya rapi, Hannah tidur di boks, dan Irene sedang membaca buku di sofa.
"Mba Irene... lo ajaib."
Irene tersenyum. "Bukan ajaib. Cuma pengalaman. Sekarang, makan siang dulu. Aku bikin tumis sayur sama ayam goreng."
Jane makan dengan lahap. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia merasa manusia lagi.
---
Selasa: Soo Young
Soo Young datang dengan membawa bahan-bahan masakan Korea. Ia langsung mengambil alih dapur, memasak makanan bergizi untuk Jane.
"Ini samgyetang, sup ayam ginseng. Bagus buat ibu menyusui," jelas Soo Young.
Jane mencicipi kuahnya. "Enak banget, Tante!"
"Soon Young tersenyum. "Nanti aku ajarin resepnya kalau mau."
Sambil memasak, Soo Young sesekali mengintip Hannah yang tidur di boks. Ia tersenyum melihat bayi mungil itu.
"Dia cantik, ya."
"Iya, Tante. Mirip siapa?"
"Mirip kalian berdua. Dapat yang terbaik dari Mama dan Papa."
Jane tersenyum. "Makasih, Tante."
---
Rabu: Jisoo
Jisoo datang dengan Amora. Amora langsung lari ke boks Hannah.
"Adek! Amo lihat adek!" bisiknya pelan, karena sudah diingatkan untuk tidak berisik.
Jisoo duduk di samping Jane. "Gimana, Jan? Masih berat?"
"Berat, Kak. Tapi mulai terbiasa."
Jisoo mengangguk. "Itu bagus. Aku dulu juga gitu. Tapi inget, lo harus jaga diri sendiri juga. Minum cukup, makan teratur, istirahat kalau sempat."
"Iya, Kak."
"Kalau capek, bilang. Jangan dipendam."
Jane meraih tangan Jisoo. "Kak, makasih, ya, udah selalu ada."
Jisoo tersenyum. "Lo adek aku. Masa aku nggak ada?"
Mereka berpelukan. Amora, yang melihat, ikut memeluk mereka berdua.
"Amora sayang Mama! Amora sayang Tante Jane!"
Semua tertawa. Hannah di boks terbangun, ikut menangis—entah karena lapar atau ikut-ikutan ramai.
---
Kamis: Chaeyoung
Chaeyoung datang dengan energi penuh. Ia membawa speaker kecil dan memutar musik ceria.
"Jane! Hari ini kita senam!"
Jane mengerjapkan mata. "Senam? Chaeyoung, aku baru melahirkan seminggu lalu."
"Ya udah, senam duduk aja. Angkat tangan, angkat kaki, biar badan nggak kaku."
Mereka berdua melakukan gerakan-gerakan sederhana sambil tertawa. Hannah di gendongan Chaeyoung ikut bergoyang-goyang.
"Lihat, Hannah suka!" seru Chaeyoung.
Hannah memang tidak menangis. Matanya terbuka lebar, seperti menikmati musik.
Selesai senam, Chaeyoung mengajak Jane ngobrol ringan. Bercerita tentang Leon, tentang rencana pernikahan mereka, tentang Australia. Jane tertawa lepas—untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu.
"Chaeyoung, lo obat stres yang paling manjur."
Chaeyoung tersenyum bangga. "That's me! The mood booster!"
---
Jumat: Leon
Leon datang dengan daftar belanjaan. "Jane, aku mau ke supermarket. Apa yang kamu butuhin?"
Jane memberikan daftar panjang: popok, tisu basah, susu formula cadangan, buah-buahan, sayuran. Leon mencatat dengan serius.
"Anything else?"
"Es krim."
Leon tertawa. "Es krim untuk ibu menyusui?"
"Percaya deh, Leon. Ibu menyusui butuh es krim."
Leon mengangguk patuh. "Okay. Es krim. Aku beli banyak rasa."
Saat Leon pergi, Jane tersenyum. Leon mungkin orang asing di negeri ini, tapi ia sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas mereka.
Leon kembali dengan dua troli penuh belanjaan. Jane terbelalak.
"Leon, ini kebanyakan!"
"For the whole month!" Leon membela diri. "Biar nggak bolak-balik."
Mario yang baru bangun ikut tertawa melihat gunungan belanjaan. "Leon, lo mau buka supermarket cabang?"
Leon tersenyum bangga. "Just helping!"
---
Sabtu: Elgi & Endy
Sabtu adalah hari para suami. Elgi dan Endy datang bersama, membawa kopi dan gorengan.
"Mario, lo istirahat. Kita jagain Hannah," kata Endy.
Mario awalnya ragu. "Om, dia baru seminggu, nanti..."
"Udah, udah. Percaya sama kita." Elgi mendorong Mario ke kamar. "Tidur. Nanti kita panggil kalau ada apa-apa."
Mario akhirnya menurut. Ia tidur selama tiga jam—rekor terpanjang dalam seminggu terakhir.
Elgi dan Endy bergantian menggendong Hannah. Endy, yang sudah berpengalaman, menggendong dengan tenang. Elgi masih agak kaku, tapi berusaha.
"Hannah, Om Elgi ini agak kaku, ya?" bisik Endy pada Hannah. "Tapi baik kok."
Hanya Hannah yang bisa menilai.
Saat Mario bangun, ia menemukan Hannah tidur di dada Elgi. Elgi juga tertidur, kelelahan.
Endy tersenyum melihat pemandangan itu. "Mereka akrab."
Mario mengabadikan momen itu dengan ponselnya. Foto Elgi dan Hannah tidur bersama akan menjadi kenangan berharga.
---
Minggu: Istirahat Keluarga
Minggu adalah hari khusus. Tidak ada jadwal jaga, karena semua orang ingin memberikan privasi untuk keluarga kecil itu. Tapi makanan tetap datang—Irene mengirimkan nasi kuning, Soo Young mengirimkan kue, Jisoo mengirimkan buah, Chaeyoung dan Leon mengirimkan es krim (lagi).
Jane dan Mario menikmati hari Minggu bersama Hannah. Mereka bergantian menggendong, bergantian tidur, bergantian menenangkan tangisan.
"Mas, kita beruntung banget, ya."
"Iya, Sayang."
"Punya tetangga kayak mereka... itu anugerah."
Mario mengangguk. "Iya. Mereka keluarga."
Di pangkuan Jane, Hannah terbangun. Matanya terbuka, menatap kedua orang tuanya.
"Halo, Hannah." Jane tersenyum. "Kamu tahu nggak, kamu punya banyak tante dan om yang sayang kamu? Mereka jagain Mama dan Papa, biar kita bisa istirahat."
Hannah hanya menatap, tidak mengerti. Tapi matanya yang bulat seolah berkata, "Aku tahu, Bunda. Aku lihat mereka."
Di luar, matahari mulai condong. Senja di Griya Asri selalu indah. Dan di rumah nomor 7, sebuah keluarga kecil belajar menerima cinta dari keluarga besar mereka.
Keluarga pilihan. Yang bergilir jaga, bergilir bantu, bergilir menyayangi.
---